Cari Blog Ini

Rabu, 26 Juni 2013

The Grand Divine Mossaic

“Duduk aku tak berani, berdiri pun aku tak berani. Sungguh, diri yang Kau berikan ini bukan lagi milikku. Melainkan milik-Mu yang berharga. Aku tak berani meletakkannya sembarangan.”
Sepenggal bait doa seorang imam di pembukaan sebuah seminar ini menarik perhatianku. Doa ini cukup puitis, apalagi ketika dibacakan dalam seminar, di depan banyak orang. Tapi, yang menarik perhatianku adalah isinya. Diriku yang Kauberikan ini bukan milikku, melainkan milik-Mu yang berharga. Awalnya, aku merasa doa ini sedikit terlalu pede, dengan menganggap diri berharga. Setelah dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya sih. Kalau kita tidak berharga di mata Tuhan, untuk apa Ia membiarkan manusia durhaka ini tetap ada? Sejentik jari saja cukup untuk memusnahkan seluruh umat manusia. Tapi, apakah benar aku sungguh berharga di mata-Nya?
Aku bukan orang kudus, seperti Agnes Bojaxhiu yang mencintai Kristus sedari umur belasan tahun hingga mengantarnya menjadi Beata Teresa dari Kalkutta. Aku juga bukan St. Theresa Lisieux yang mempersembahkan setiap jengkal kecil karyanya untuk Kristus. 

Aku penuh kemalasan dan kesombongan. Makan saja tidak cukup sepiring, mana bisa disuruh mati raga seperti St. Dominic? Kadang aku bertanya, kenapa Tuhan nggak memberikan karunia seperti yang Ia berikan pada para kudus? Kenapa mereka bisa begitu heroik dalam mencintai Tuhan, bahkan beberapa sedari kecil? Sedangkan aku, untuk menahan emosi saja bisa menghabiskan tenaga untuk satu hari.

Tapi, diri ini adalah pemberian Tuhan. Walaupun aku merusaknya dengan setiap keburukanku, ternyata Tuhan masih mau menerimaku apa adanya. Aku lalu ingat cuplikan sebuah lagu misa di benua seberang ketika aku masih belum Katolik, yang entah kenapa aku masih ingat. Lirik yang mengena waktu itu adalah,”I love you as you are”. Aku yakin Kristus berbicara padaku melalui lagu itu. Cukup menghibur, Tuhanku. Tapi, aku masih heran kenapa Kau mau aku, yang tidak ada bedanya dengan koin 5 sen yang sudah bocel di sana-sini?

Seminar ditutup dengan misa di kapel, misa yang memberi jawaban-Nya padaku. Kapel ini memiliki kaca-kaca jendela berbentuk mosaik. Suatu bentuk seni yang lazim ditemui dalam gedung gereja Katolik. Mosaik itu tersusun dari potongan kaca yang berbeda-beda. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang merah, ada yang biru. Ada yang beraturan, ada yang tidak beraturan bentuknya. Ada yang tajam tepinya, ada yang mulus. Kalau warnanya sama semua, gambar itu akan membosankan. Kalau bentuknya kotak yang identik semua, ya tidak ada gambar yang terlihat. Tiap-tiap kaca memiliki peran penting untuk melengkapi gambar tersebut. Hilang satu potong saja, entah potongan yang manapun itu, gambar itu tidak akan lengkap lagi. Tidak penuh.

Mungkin, itulah sebabnya manusia adalah karya Allah yang luar biasa : karena manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling menyusun membentuk satu gambar nyata, yakni Allah. 

Kemuliaan Allah memang tidak akan berkurang ketika aku hilang. Tapi, sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bila potongan mosaik buram yang sebetulnya tidak berharga ini diperkenankanNya turut menyusun gambar Allah yang mulia. I am something for Him, even when I don’t realize it. 

Ternyata, cukuplah kasih karunia-Mu untukku (2 Kor 12:9), sekeping di antara jutaan keping mosaik yang besar kecil dan warna warni.

Allah menciptakanku menjadi kepingan mosaik yang indah. Mungkin, aku belum melihat secara penuh karya Allah dalam diriku. Namun, setelah melewati kobaran api, kepingan ini akan bening kembali sehingga sinar Ilahi akan menembus diriku dan memancarkan kehangatan-Nya. 

Bila gulali semua bentuknya sama, akan membosankan. Bila gulali semua warnanya sama, tidak lagi menarik. Eh, kalau bikin mosaik Yesus dari gulali, mungkin menarik juga ya (dan manis sekali pastinya)..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar