Cari Blog Ini

Jumat, 30 Agustus 2013

BERLUTUT - KE ARAH ALTAR DAN TABERNAKEL ?

Jika di panti imam ada Altar dan Tabernakel yang didalamnya disemayamkan Sakramen Mahakudus, atau jika di dekat Altar ada Tabernakel yang kelihatan dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya: Umat berlutut dengan satu kaki (kaki kanan menyentuh tanah) ketika melewati Altar/Tabernakel. Tidak perlu dua kali jika Altar/Tabernakel agak terpisah. Juga ketika hendak duduk, ini kebiasaan yang baik.

Jika tidak ada Tabernakel di panti imam (hanya ada Altar), umat membungkuk dalam ke arah Altar ketika melewati Altar, juga ketika hendak duduk.
Jika hanya ada Tabernakel, umat berlutut satu kaki.
Jika Sakramen ditahtakan dalam Monstrans atau Pixis, umat berlutut. Aturan pasca Konsili Vatikan II tidak secara spesifik memberi perbedaan dengan dua lutut menyentuh tanah atau satu lutut kanan saja. Keduanya boleh dilakukan. Aturan sebelum Konsili Vatikan II mewajibkan berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah (double genuflection).

Petugas Liturgi yang melayani dalam Misa diwajibkan untuk berlutut ke arah Altar jika ada Tabernakel dengan Sakramen di dalamnya, hanya pada dua kesempatan: sebelum naik ke panti imam dan setelah perayan selesai. Tidak perlu berlutut setiap kali lewat. Jika tidak ada Sakramen, membungkuk yang dalam ke arah Altar.

Pada Jumat   Agung ada kekhususan, selain terhadap Sakramen Mahakudus, umat juga berlutut ke arah Salib. Umumnya Salib utama pada perayaan Jumat Agung.

BENDA LITURGI (2)

SIBORI
Berasal dari bahasa Latin “cyborium” yang berarti “piala dari logam”,adalah bejana serupa piala, tetapi dengan tutup di atasnya. Siboriadalah wadah untuk roti-roti kecil yang akan dibagikan dalam Komunikepada umat beriman. Sibori dibuat dari logam mulia, bagian dalamnyabiasa dibuat dari emas atau disepuh emas.


PIKSIS
berasal dari bahasa Latin “pyx” yang berarti “kotak”, adalah sebuahwadah kecil berbentuk bundar dengan engsel penutup, serupa wadah jamkuno. Piksis biasanya dibuat dari emas. Piksis dipergunakan untukmenyimpan Sakramen Mahakudus, yang akan dihantarkan kepada mereka yangsakit, atau yang akan ditahtakan dalam kebaktian kepada Sakramen Mahakudus.

MONSTRANS
Berasal dari bahasa Latin “monstrans, monstrare” yang berarti“mempertontonkan”, adalah bejana suci tempat Sakramen Mahakudusditahtakan atau dibawa dalam prosesi.

Ampul
adalah dua bejana yang dibuat dari kaca atau logam, bentuknya seperti buyung kecil dengan tutup di atasnya. Ampul adalah bejana-bejana darimana imam atau diakon menuangkan air dan anggur ke dalam piala. Selaluada dua ampul di atas meja kredens dalam setiap Misa.

Jumat, 23 Agustus 2013

Renungan Mingguan : “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu”

Hari Minggu Biasa ke XXI /Tahun C
Oleh P. Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 13:22-30

Pernah saya menguping percakapan sekelompok anak muda di pendopo gereja. Mereka berdebat tentang dimana jiwa mantan presiden Suharto kini berada. Ada yang dengan spontan mengatakan bahwa ia kini berada di neraka. Yang lain menimpalinya, bahwa Suharto pada dasarnya adalah orang baik, pemimpin yang baik, dan bahkan sekarang ini banyak orang mengimpikan kembali sosok pemimpin seperti mendiang Presiden Suharto. Orang itu kemudian menambahkan, bahwa pasti Tuhan menyelamatkan orang yang demikian. Ketika saya menghampiri kelompok tersebut, mereka berbalik kepada saya dan menanyakan pendapat saya. Saya hanya mengatakan: saya tidak tahu.

Seandainya Yesus hidup di zaman kita, bagaimana kira-kira Yesus akan menjawab pertanyaan tersebut? Saya menduga, Yesus hanya akan memandang orang yang bertanya kepada-Nya dan berkata: “Berusahalah dan selamatkanlah jiwamu sendiri selama engkau masih memiliki kemungkinan untuk itu.” 

Hal inilah yang persis terjadi di dalam kutipan injil hari ini. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Seseorang mencegat-Nya dalam perjalanan-Nya itu dengan pertanyaan, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk 13:33). Apa jawab Yesus? “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu; Sebab Aku berkata kepadamu, banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (ay. 24). Lihatlah, Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan orang itu: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Sebaliknya ia memberikan jawaban atas pertanyaan yang agak sedikit berbeda, namun lebih penting, “Bagaimana saya dapat diselamatkan?” 

Menyangkut keselamatan kita, ada dua jenis pertanyaan yang dapat kita ajukan. Kita dapat melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu, yang bertujuan untuk memperoleh informasi, fakta-fakta dan gambaran-gambaran, tetapi yang sama sekali tidak berdampak pada keselamatan kita. Atau kita dapat melontarkan pertanyaan yang penting, sebagai suatu ungkapan pencaharian yang tulus akan kebenaran yang akan menuntun kita kepada keselamatan. Dalam Kitab Suci sangat tampak bahwa Yesus tidak mau membuang waktu untuk melayani pertanyaan-pertanyaan yang sekedar ingin memuaskan rasa ingin tahu. Bilamana orang mengajukan pertanyaan demikian, Ia tidak menjawabnya, tetapi Ia menggunakan kesempatan itu untuk menjawab pertanyaan yang lebih relevan , yang seharusnya orang tanyakan. “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” merupakan salah satu dari pertanyaan sekedar ingin tahu itu. Bila orang mengetahui jawabannya, apakah gunanya itu untuk keselamatannya? Maka Yesus memberikan jawaban yang lebih relevan untuk keselamatan orang yang bertanya tersebut, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!” 

Pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu akan sangat menarik bagi media massa dan bagi imaginasi publik. Kapan dunia akan berakhir? Kapan hari kiamat akan tiba? Siapa yang dimaksud dengan Antikristus? Apa itu 666, tanda dari Antikristus? Apa yang akan memberikan kebahagiaan kepada manusia? Ini semua pertanyaan informatif, dan hanya bermaksud untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Yesus tidak menjawab pertanyaan itu. Sesaat sebelum terangkat-Nya ke surga, Yesus ditanya oleh para murid-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Apa jawab Yesus? “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:6-8).

Kini tampaklah bahwa tidak ada gunanya bertanya, “di mana kini jiwa dari mendiang mantan presiden Suharto berada”. Itulah contoh yang tepat untuk pertanyaan yang sekedar ingin tahu. Lebih baik kita bertanya tentang hal yang penting untuk diri kita seperti, “apa yang harus kuperbuat agar aku dapat diselamatkan? Bagaimana aku dapat melayani Tuhan lebih baik di dalam situasi harianku? Bagaimana aku dapat memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan kepadaku di sini saat ini untuk keselamatan kekal? Marilah kita sejenak mengambil waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri kita.

PENGUMUMAN PERKAWINAN (24-25 Agustus 2013)

 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

*  Arman Kumala & Zendy Tanamal (Peng II )

* Christopfer Ricky Desman & Angeline Indriani Wijaya (Peng II )

* Alex Budianto & Wira Adri ( Peng I)

* Yoseph Robert Adigomulya & Stephanie (Peng I )

*  Michael Devin Prayogo & Natalia Ingrid Boksman ( Peng I )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Mangkok Tanpa AlaS

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?"
Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba." Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"
Maka menjawablah sang pengemis, "Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa."
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja > yang paling berkuasa dan kaya-raya."
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, "Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan."
Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan' pengemis di hadapannya.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. 
Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?"
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keing inan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu".
Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan..
Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan: power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak. Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"
"Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah hikmat padamu," ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang

Blackberry dan Bela Rasa

Akhir-akhir ini, saya didesak untuk memiliki Blackberry. Saya memang percaya bahwa Blackberry mampu membantu saya untuk cepat memeriksa email dan mengetahui berita penting, sehingga saya pun dapat menjawabnya dari mana saja saya berada. Sedangkan saat ini, saya hanya bisa memeriksa email kalau sudah di rumah, di kantor, atau terpaksa meminjam akses internet milik teman. 
Bila memiliki Blackberry, saya tidak akan ketinggalan berita. Lewat BBM yang beranggotakan sanak saudara, saya juga bisa mengetahui apa yang terjadi dengan mereka. Seorang teman mengungkapkan, betapa relasi antara kakak dan adik menjadi semakin baik karena BBM grup keluarga. Melalui grup itu, dia langsung tahu mengenai keadaan orangtuanya di Medan yang sedang sakit, dan adiknya di Surabaya yang akan ujian. Jadi, karena tidak mempunyai Blackberry, saya tidak bisa langsung tahu apa yang terjadi dengan anggota keluarga, padahal mereka juga memakai Blackberry. Saya jadi yakin, Blackberry memang berguna.
Lantas, bagaimana dengan Twitter dan Facebook? Katanya, Twitter penting untuk mereka yang kegiatannya ingin disimak follower. Sedangkan Facebook penting untuk menyambung relasi dengan banyak orang termasuk teman-teman lama. Saya juga mendengar bagaimana Twitter, Facebook, dan Blackberry dipakai untuk menggerakkan banyak orang agar lebih peduli terhadap penderitaan, bahkan untuk mendukung calon dalam pilkada entah di Amerika Serikat atau di Jakarta.
Lantas, mengapa sampai saat ini saya belum mempunyai Blackberry, Twitter, dan Facebook? Barangkali karena saya takut belum cukup mempunyai bela rasa. Dulu saya pernah mempunyai web blog untuk mengumumkan siapa saya dan apa yang saya lakukan. Lama-lama, saya merasa hanya promosi diri sendiri. Saya juga sempat mempunyai akun Facebook namun saya tutup karena saya tidak sanggup meng-update data saya dan menanggapi update teman-teman.
Sempat saya iyakan saja semua yang mau jadi relasi hingga jumlahnya agak banyak. Lama-lama saya merasa tidak adil kalau saya tidak aktif menanggapi. Saya tidak ingin Facebook saya diisi cuma sebagai sarana mempromosikan diri sendiri, sementara saya tidak mempunyai cukup bela rasa untuk menanggapi masalah-masalah orang lain yang saya akui sebagai teman dan relasi.
Saya juga takut kalau mempunyai Blackberry, hanya memakainya untuk menyampaikan masalah-masalah pribadi. Saya takut kalau malahan saya yang tidak mempunyai cukup bela rasa ketika terjadi sesuatu dengan teman saya. Jangan sampai teman saya menulis status sedang sakit disertai emoticon sakit dan saya diam saja seolah tidak peduli.
Saya kira semua media sosial seperti Twitter, Facebook, web blog, milis, dan Blackberry, sebaiknya dipakai dengan menggunakan semangat bela rasa yang terarah kepada orang lain, bukan sebagai media promosi diri sendiri. Kalau ada yang sakit dan berduka, apakah kita tergerak dan bergerak? Kalau ada ketidakadilan, apakah kita semua tersentuh dan mencari jalan keluar bersama-sama?
Semoga semua media sosial juga dipakai untuk menggerakkan kepedulian sosial, serta menggerakkan orang agar terlibat masalah-masalah yang terkait kepentingan publik. Saat ini ada berbagai masalah sosial yang kita hadapi sebagai bangsa dan Gereja. Misalnya saja masalah lingkungan hidup, pendidikan nilai, korupsi, kekerasan, dan sebagainya. Mungkinkah menggunakan semua media sosial untuk menggerakkan orang agar mempunyai bela rasa dan berjuang bersama untuk membangun dunia yang lebih baik?

oleh: Ferry Sutrisna Wijaya, Pr
Sumber:www.hidupkatolik.com/

HARGA SEBUAH KEAJAIBAN

Tess baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Andrew. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yg bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Andrew, tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Tess mendengar ayahnya berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang." Tess pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat. Dengan membawa uang tersebut, Tess menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di dekat rumah. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian, tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Tess berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!
"Apa yang kamu perlukan?" Tanya apoteker tersebut dengan suara marah.
"Adikku sakit, aku ingin membeli keajaiban."
"Apa kamu bilang?" Tanya si apoteker lagi.
"Ayahku bilang hanya sebuah keajaiban yang dapat menyelamatkan adikku sekarang. Jadi berapa harga sebuah keajaiban?"
"Kita tidak menjual keajaiban di sini, nak. Aku tidak bisa menolongmu."
"Dengar, aku mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya." Ia memaksa.
Kemudian seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, "Keajaiban seperti apa yang dibutuhkan oleh adikmu, nak?"
"Aku tidak tahu," Jawab Tess. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku hanya tahu bahwa ia sakit parah dan ibu berkata ia membutuhkan operasi. Tetapi orang tuaku tidak mampu."
"Berapa uang yang kamu punya?" Tanya si pria lagi.
"Satu dolar sebelas sen," Ia menjawab dengan bangga. "Dan itu adalah semua uang yang aku punya."
"Wah, kebetulan sekali," Si pria tersenyum. "Satu dolar sebelas sen. Harga yang tepat untuk membeli sebuah keajaiban yang bisa menolong adikmu." Si pria mengambil duit Tess dan memegang tangannya dan berkata, "Bawa aku ke adikmu, aku ingin bertemu dia dan orang tuamu."
Lelaki itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal.
Operasi itu dilangsungkan tanpa biaya dan tak lama kemudian Andrew kembali ke rumah. Orang tua Tess sangat bahagia melihat keajaiban itu.
"Operasi ini seperti sebuah keajaiban, aku tak bisa membayangkan berapa biayanya," ibunya berbisik.
Tess tersenyum. Ia tahu persis berapa harganya. Satu dolar sebelas sen plus keyakinannya.

Kita Harus Berjuang

Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga bukanlah suatu hal yang mudah, butuh suatu perjuangan! Ada saja orang Kristen yang beranggapan bahwa setelah ia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi dan menerima anugerah keselamatan, ia bisa hidup dengan bebas merdeka. Akibatnya banyak yang menyalahgunakan kebebasan atas anugerah keselamatan yang telah diterima itu dengan hidup semaunya sendiri, toh nanti pasti selamat (pikirnya). Ingat, hidup kekristenan kita menjadi sia-sia bila tidak ada usaha untuk mengisi keselamatan yang telah diberikan Tuhan selama hidup di dunia ini.
Ayat nas di atas mengingatkan bahwa ada suatu yang harus dilakukan oleh orang percaya yaitu harus terus berjuang mengerjakan keselamatan tersebut. Ini juga disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi, “karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” (Filipi 2:12b). Kata ‘berjuang’ mengindikasikan suatu kegiatan yang secara terus menerus harus diupayakan dan dikerjakan tanpa kenal lelah. ‘Berjuanglah’ di sini memiliki beberapa arti penting yaitu:
1. Berusaha mencapai sasaran. 
Seperti seorang atlet yang berusaha semaksimal mungkin untuk meraih mahkota kemenangan. “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.”                             (1 Korintus 9:26).
2. Merebut. 
Kita ini berada dalam pertandingan iman dan harus merebut hidup yang kekal                                                                   (baca 1 Timotius 6:12).
3. Bergumul. 
Kita harus terus berkaya bagi Tuhan selama masih nafas. “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” (Kolose 1:29). Anugerah keselamatan yaitu hidup yang kekal pasti kita terima setelah kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi, sadarilah bahwa di dalam anugerah itu terkandung makna perjuangan yang harus kita upayakan dan kerjakan setiap hari.
Jangan sia-siakan keselamatan yang telah kita terima dan teruslah berjuang.
Sumber: http://saatteduh.wordpress.com/

Santo Musa Hitam, Pengaku Iman

Musa berasal dari Etiopia. Ia bekerja pada seorang majikan kaya raya, namun kemudian dipecat karena melakukan banyak kesalahan dalam tugasnya. Lalu ia menjadi pemimpin suatu kawanan perampok yang merajalela di Mesir. 

Oleh sentuhan rahmat Tuhan, ia sekonyong-konyong bertobat dan menjadi biarawan yang saleh sehingga dianggap layak untuk ditabhiskan menjadi imam. Ketika ia mengenakan jubah putih untuk merayakan misa pertama, Uskup berseru: “Lihatlah, orang hitam ini kini telah menjadi putih bersih!” Musa menjawab: “Itu bagian luarnya saja! Tuhan lebih tahu, bahwa hatiku masih hitam seperti kulitku”.

Pada waktu suku Berber mengobrak-abrik biaranya, ia tidak melawan sedikitpun dan membiarkan diri dibunuh. Di biaranya-Dair al-Baramus di Wadi Natrun-hingga kini para biarawan masih terus mendendangkan madah pujian kepada Tuhan dan berdoa dengan perantaraannya. Ia meninggal pada tahun 395.

KENAPA SELALU ADA 2 LILIN MENYALA DI MEJA ALTAR?

PUMR 117.
Altar harus ditutup dengan sekurang-kurangnya satu helai kain altar berwarna putih. Pada altar atau di dekatnya dipasang sekurang-kurangnya dua lilin bernyala; tetapi boleh juga empat, bahkan enam, khususnya pada hari Minggu dan hari raya wajib. Bila uskup diosesan memimpin Misa di keuskupannya, dipasang tujuh lilin. Di samping itu, hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya. Boleh juga lilin dan salib yang dihias dengan sosok Kristus tersalib itu dibawa dalam perarakan masuk. Kitab Injil (Evangeliarium ), bukan Buku Bacaan Misa ( Lectionarium ), dapat diletakkan pada altar, kecuali kalau kitab itu dibawa dalam perarakan masuk. 
PUMR 307.
Lilin diperlukan dalam setiap perayaan liturgi untuk menciptakan suasana khidmat dan untuk menunjukkan tingkat kemeriahan perayaan (bdk.no.117). Lilin itu seyogyanya ditaruh di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam. Semuanya harus ditata secara serasi, dan tidak boleh menghalangi pandangan umat, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di altar atau yang diletakkan di atasnya.

Kamis, 15 Agustus 2013

Yesus teladan beriman kita

Hari Minggu Biasa XX/ Tahun C
17-18 Agustus 2013
Oleh P. Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari :Ibrani 12:1-4

Yesus, perintis iman kita. 
„Percaya berarti: yakin karena menganggap benar, apa yang Allah telah wahyukan dan ajarkan kepada kita melalui gereja-Nya.” Demikianlah yang tercantun dalam katekismus. Iman yang demikian tentu sangat berarti. Ketika saya masih kecil, bahkan pernah saya mendengar: „Kita hanya perlu menelan saja. Pertanyaan adalah keraguan akan iman, dan keraguan akan iman adalah dosa besar. Jadi tidak boleh mempertanyakan iman. Kita hanya perlu menelan saja. Namun orang boleh saja merenungkan imannya.” 

Yesus – seorang beriman?
Mungkin kita keberatan atau sulit untuk menerima pertanyaan ini. Apakah Yesus adalah seorang beriman? Ia toh tidak perlu percaya. Ia adalah Putera Allah, dan tentu Mahatahu. Ia telah mewahyukan kepada kita, apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Ia tidak perlu percaya seperti kita percaya. Namun di dalam bacaan hari ini kita telah dengar: „Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Ungkapan „memimpin kita dalam iman” dapat juga diartikan: mendahului kita beriman. Memimpin artinya Dia berada di depan, pada jalan yang sama dengan kita. Ia menunjukkan jalan. Tetapi ia sendiri harus melalui jalan ini: Yesus sedang berada bersama dengan kita di dalam perjalanan sebagai orang beriman. 
Dan bila kita membaca kisah dari zaman kanak-kanak Yesus di dalam kitab suci, Yesus juga pernah persis seperti kita. Ia sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa (bdk. Doa Syukur Agung 4), jadi sama dalam iman kita, di dalam hal belajar, di dalam hal mencintai. Yesus adalah salah seorang yang telah belajar beriman. Dengan pemahaman ini kita dapat membaca kitab suci secara baru. Yesus belajar dari situasi manusia, dari iman mereka, dari permohonan mereka, dari penderitaan mereka, juga senantiasa belajar, apa yang menjadi kehendak Allah. Ia juga senantiasa harus bertanya, ke mana Allah menuntun Dia. 
Injil hari ini juga berceritera kepada kita tentang perjuangan dan jalan iman Yesus yang dipenuhi ketakutan, yang meskipun segala tantangan tetap dilaluinya dengan penuh kepercayaan. „Aku datang membawa api ke dunia dan betapa ingin Aku agar api itu menyala. Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hatiKu sebelum hal itu berlangsung!” Pembaptisan ini adalah jalan-Nya menuju salib. Ia mesti selalu belajar baru untuk percaya, berpegang teguh padanya, juga di dalam penderitaan-Nya sampai pada salib. Di dalam surat Ibrani dikatakan:  „Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya” (Ibr 5:7-8). Yesus melalui penderitaan-Nya telah belajar menjadi percaya, bahwa Allah selalu dekat dengan-Nya, juga ketika orang tidak merasakannya. Yesus mengalami hal ini sampai pada seruan yang memilukan dalam kesendirian: Allah-Ku ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Yesus bahkan boleh mengeluh dan bertanya kepada Allah. 
Kitab Ibrani berkata: „Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (4:15). Itulah pemimpin dan pembuka jalan kepercayaan kita. Ia dapat bersama kita ikut merasakan penderitaan, ikut merasakan iman kita, juga ikut mempertanyakan Allah, akan keterasingan-Nya dan akan keunikan-Nya, akan kegelapan dan ketersembunyian-Nya. 

Yesus – penyempurna iman kita 
Yesus juga dengan segala perjuangannya telah belajar percaya, tetapi Ia telah melalui jalan iman ini dengan sangat konsekuen. Ia bukan hanya pendahulu dan pemimpin kita, tetapi juga sekaligus menjadi penyempurna iman kita. Ia mengundang kita untuk menyatukan diri kita dengan-Nya. Bila kita memandang-Nya, kita tidak akan letih lesu dan tidak akan kehilangan keberanian. 
Saya pernah mengalami hal ini pada seorang ibu yang sudah tak berdaya. Sekalipun semua anaknya sudah tidak mengimani Kristus, ia tetap teguh dalam imannya. Ia selalu berkata, setiap kali saya menerima komuni kudus, saya menjadi kuat. Dan setiap kali saya memandang salib, saya merasa saya tidak sendiri. Doakan saya agar aku senantiasa kuat. Dan bila saya mati, tolong doakan saya dan kuburkan saya secara katolik, agar aku tetap bersatu dengan Kristus yang kupercayai”. Lalu ia menambahkan: „Hanya itulah harapanku selama ini”. 
Kita masih sedang dalam perjalanan, masih sedang berjuang melawan dosa, sebagaimana bacaan kita hari ini mengungkapkannya. Namun pandangan kepada Yesus, pemimpin dan penyempurna iman kita, dan pandangan kepada para saksi iman yang kita kenal, dapat meneguhkan kita, membuat kita pasrah dan sekaligus aktif, penuh kepercayaan juga ditengah berbagai macam pertanyaan dan keluhan. Sekalipun kita tidak seutuhnya dapat mengenal Allah, tetapi kita dapat hidup, mati dan bangkit bersama Allah yang kita percayai ini. 

Kebebasan dan Keterikatan

Tanggal 17 Agustus 2013 bangsa Indonesia memperingati dan merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-68. Tujuan kemerdekaan bagi negara kita ialah untuk menjadi satu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur dan sejahtera. 
Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, perlu kita harus berjuang lebih keras lagi untuk mewujudkan cita-cita pendahulu kita yaitu cita-cita sebagai satu bangsa dan negara. Kita harus berani menjadi pendorong perubahan dalam masyarakat kita. Kita harus aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu. Sebagai warga negara kita harus terlibat berjuang dalam mewujudkan tujuan kita bersama. Sesuai dengan bakat, talenta dan kemampuan kita masing-masing memberikan untuk mendukung terciptanya suatu tatanan yang lebih adil dan sejahtera bagi semua lapisan masyarakat.
Di dalam Injil Matius 22:21 Yesus mengatakan :” Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Kita diberi kebebasan oleh Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Kita tidak boleh menyalahgunakan kebebasan dan kemerdekaan kita. Kita harus hidup sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! (Bdk 1Ptr 2:16-17)
Kita harus melawan yang menjadi ketidakadilan, perbuatan yang semena-mena yang menjelma dalam berbagai bentuknya. Contohnya ialah masih ada keluarga miskin yang tidak mampu membiayai dan mendidik anak-anaknya padahal anak itu pandai. Sebaliknya orang yang korupsi menghambur-hamburkan uang negara untuk kesenangan sendiri dengan berpesta pora yang berlebihan, pemborosan, dsb. Sedangkan masih banyak anak-anak yang masih kekurangan gizi, infrastruktur yang rusak, perbaikan irigasi yang dapat menunjang pertanian dsb yang masih harus diperhatikan dan dibutuhkan/ditunjang.
Di dunia ini ada 2 (dua) dimensi antara yang positif dan negatif, ada yang baik dan yang buruk. Demikian pula dalam hal masalah kebebasan ada keterbatasannya. Manusia mendalilkan mempergunakan haknya secara semena-mena karena dengan alasan mempergunakan hak kebebasan tadi namun dia lupa akan kepentingan dan kemanfaatan penggunaan kebebasan tadi dapat merugikan hak kebebasan orang lain. Maka hak kebebasan tadi perlu ada suatu norma hidup yang mengikat agar setiap hak kebebasan orang tadi terikat oleh norma-norma hidup untuk melindungi dan menghormati hak dan kebebasan orang lain. Dengan kata lain hak-hak manusia harus diikuti pula dengan kewajiban setiap manusia. Jadi antara hak dan kewajiban harus dijalankan secara selaras. Contohnya jika kita memiliki sebuah radio itulah hak milik kita yang dilindungi oleh undang-undang namun kita dilarang oleh undang-undang untuk menyalakan radio itu dengan sekeras-kerasnya apalagi di tengah malam hari yang dapat mengganggu ketenangan tetangga/ orang lain.
Hak  Allah adalah anugerah yang diberikan kepada manusia. Seperti contoh dalam Injil Matius hak dan kebebasan yang kita terima dari Allah diberikan kepada Allah dalam wujud mematuhi perintah-perintah Tuhan antara lain kasih kepada sesamanya. Yang kita berikan kepada pemerintah berikan kembali kepada pemerintah dalam bentuk menjadi warga yang baik dengan mentaati segala peraturan perundang-undangan misalnya tidak melakukan tindakan kriminil, membayar pajak, mentaati lalu-lintas dll.
Mudah-mudahan bangsa Indonesia mematuhi segala perintah Allah dan peraturan pemerintah sehingga dapat menjadi negara dan bangsa yang makmur, sentosa, damai sejahtera. Ada pepatah : “Hak milik adalah fungsi sosial.”Dirgahayu Indonesia!   (Nanny Tjahjadi)