Cari Blog Ini

Jumat, 07 Juni 2013

HIDUP DOA DAN MATIRAGA

23Ada seorang bapak yang sangat saleh, namun kini jatuh sakit. Ia sakit stroke, dan sakitnya itu sudah berlangsung 4 tahun ini. Bapak itu lumpuh dan sehari-hari dilayani istri dan anaknya. 

Tetapi bapak itu selalu tampak ceria ketika dikunjungi teman, tetangga atau siapapun. Ketika ada yang bertanya dengan hati-hati tentang penderitaan sakitnya, bapak itu berkata: “Sakit itu tentu tidak enak. Tetapi ketika saya persembahkan sakit ini kepada Tuhan, rasanya saya boleh ambil bagian dalam penderitaan Tuhan Yesus di salib dahulu. Lalu….kok jadi lebih dapat pasrah dan ringan ya”.

Sadar atau tidak sadar bapak itu telah melaksanakan ajaran Gereja melalui Konstitusi Liturgi artikel 12 yang menyebutkan: “Rasul Paulus mengajar, supaya kita selalu membawa kematian Yesus dalam tubuh kita, supaya hidup Yesus pun menjadi nyata dalam daging kita yang fana. Maka dari itu dalam kurban Misa kita memohon kepada Tuhan, supaya dengan menerima persembahan kurban rohani, Ia menyempurnakan kita sendiri menjadi kurban abadi bagi diri-Nya”. 

Ketika kita merayakan Ekaristi, kita ambil bagian dalam peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan yang kita kenangkan dalam Doa Syukur Agung dan kita sambut dalam rupa roti suci melalui komuni kudus. Dan pada saat kita pulang dari Misa dan kembali ke rumah, kita sebenarnya membawa Kristus dalam diri kita. Membawa Kristus berarti berani menghayati segala suka duka, beban berat dan kesulitan hidup ini sebagai persembahan hidup kita bagi Tuhan.

Bagaimana supaya kita kuat untuk menanggung beban hidup kita? Dengan “berkanjang dalam doa” (SC 12). Melalui liturgi kita memperoleh sumber kekuatan. Sedangkan melalui doa dan matiraga, yakni saat kita menghayati penderitaan hidup ini, kita sedang ambil bagian dalam kurban persembahan Tuhan Yesus Kristus kepada Allah Bapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar