Kamis, 22 Juni 2017

Apakah Anda Seorang ?Calon? Pemenang?

Apakah Anda Seorang ?Calon? Pemenang? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dalam kesuksesan, ada empat tingkatan pencapaian, yang pertama ialah pemenang saat ini, yaitu mereka yang telah mengetahui apa yang mereka inginkan, dan mengambil tindakan secara fokus untuk menggapai tujuan mereka.

Tingkat yang terakhir tingkatan pencapaian ialah mereka yang belum menyadari potensi mereka.

Diantara kedua tingkatan di atas ialah tingkatan calon pemenang, mereka yang telah menentukan tujuan mereka dan mulai fokus dalam tindakan mereka.

Tingkat yang lainnya ialah tingkat calon harapan pemenang, mereka yang belum sepenuhnya untuk menggapai kesuksesan. Mereka mungkin telah melalui perjalanan yang berat dan menyimpang dari tujuannya. Mungkin juga mereka yang memiliki konsep diri yang perlu diperbaiki.

Apakah Anda seorang calon pemenang? Anda akan mengetahuinya jika Anda adalah seorang calon pemenang. Anda akan merasakan gairah yang luar biasa untuk mengejar apa yang Anda inginkan. Satu hal yang dapat menghentikan Anda hanyalah apa yang Anda percaya.

Mungkin Anda juga
... baca selengkapnya di Apakah Anda Seorang ?Calon? Pemenang? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 22 Mei 2017

Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede

Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

"Nyi Retno, kau tidak boleh membunuh Patih Wira Bumi!" "Kau membelanya. Apa dia sahabatmu?!" "Tidak." "Lalu mengapa aku tidak boleh membunuh manusia jahat itu?!""Karena dia adalah suamimu." Jawab Wiro. "Dia adalah ayah dari putrimu yang bernama Ken Permata. Yang saat ini sudah berusia satu tahun." Nyi Retno hentikan lari. "Aku tidak pernah punya suami yang namanya Wira Bumi. Aku tidak pemah punya anak bernama Ken Permata! Wiro, kalau aku punya anak aku ingin ayahnya adalah kau! Aku suka padamu! Kemuning suka padamu!"

DEBUR ombak laut selatan yang menghantam lamping batu di malam gelap tanpa bintang tiada bulan terdengar menggidikkan. Angin bertiup kencang, sesekali menderu menimbulkan suara seperti suling yang ditiup setan. Dalam keadaan seperti itu, satu pemandangan mencekam terlihat di kejauhan. Di tengah laut dari arah selatan tampak meluncur membelah gulungan ombak bes
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jumat, 12 Mei 2017

Kuihat Lirihan Suara

Kuihat Lirihan Suara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Diandra. Di tengah lesung pipit manismu yang teraba, mendamaikan setiap senyap yang merambati dinding-dinding hati. Di sisi maya aku bisa melihat, meski hanya mimpi yang takkan pernah menjadi nyata. Berteman dan bernyanyi dengan angin malam tanpa merasa takut kehilangan. Di sini terngiang sejuta kata hibur, meski tak pernah terasa mudah sejak aku lahir.

Tangis untuk pertama di dunia merekah, ditempa bumi yang terasa mengerikan. Riuh ucap syukur terdengar di tengah gelap yang meraba asaku. Terasa gelap meski aku belum mengenal apa itu cahaya. Adzan dengan indah terkumandang di telingaku, sejak itulah kukenal Tuhanku.

Matahari yang tak pernah bersinar. Tapi keindahannya berkilauan dalam anganku. Dialah matahari, orang paling baik di dunia yang kupanggil ‘ibu’. Dengan sabar dia merawat dan menjagaku. Kecantikannya melebihi apapun di dunia. Meski tak pernah kutahu bagaimana wajahnya, tapi keindahan suaranya berhasil melelapkan tiap tidurku. Namun sayang, matahariku hanya hadir untuk waktu yang berjarak kilatan guntur dalam hujan deras.


... baca selengkapnya di Kuihat Lirihan Suara Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 11 Mei 2017

Amankah Jatah Bulanan Anda?

Amankah Jatah Bulanan Anda? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dalam beberapa kali menjalani usaha, saya selalu menghadapi kendala. Bukan satu dua, banyak malah. Tapi, dari semua kendala itu, justru saya belajar banyak hal. Salah satu adalah soal jatah bulanan. Lo kok, ada jatah bulanan? Emang pengusaha juga orang gajian?

Yang saya maksud dengan jatah bulanan sebenarnya adalah istilah saya untuk mengamankan keperluan bulanan (baca: harian). Sebab, jika kita tak waspada, usaha yang kita jalankan ketika mengalami penurunan, jatah untuk hidup sehari-hari bisa terganggu. Dan, akibat terganggunya arus kas harian ini, buntutnya bisa panjang lo… Otak panas, kebingungan menentukan arah, pikiran kalut, dan yang pasti, semua hal itu akan mengganggu kita dalam menjalankan usaha.

Sebagai pengusaha, tentu kita selalu mengharapkan untung. Dan, jika yang didapat untung besar, pastilah hal ini akan sangat membantu pengembangan usaha kita. Karena itu, tak jarang, kita selalu berusaha mendapat dan mencari “ikan-ikan besar” demi memperoleh orderan besar.

Tentu, hal tersebut tak salah. Sebab, adanya orderan besar pasti akan jadi darah segar bagi sebuah usaha kita. Tapi, yang jadi masalah biasanya orderan besar ini selalu banyak pemain yang berebut di dalamnya. Ibarat ladang emas, yang berusaha menguasainya pastilah banyak pihak. Akibatnya, order besar ini biasanya lebih sulit memperjuangkannya. Kalau pun dapat, kadang memerlukan banyak pengorbanan, dan ba
... baca selengkapnya di Amankah Jatah Bulanan Anda? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 30 April 2017

Perampok

Perampok Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Shiciri Kojun adalah seorang perajin tenun sutra. kata orang, ia bukan hanya sebagai seorang pengrajin kain ? tetapi lebih dari pada itu, ia adalah seniman kain. Motif-motif kain sutra rajutannya sangat indah, sehingga tidak heran jika ia menjadi sangat terkenal karena karya-karyanya.

Pada suatu senja, saat Shiciri Kojun sedang merajut sutra, datanglah seorang perampok memasuki rumahnya. Perampok itu membawa sebilah pedang, yang langsung ditempelkannya ke leher Shiciri Kojun.. ?Serahkan semua uangmu !? kata perampok itu.

Dengan tenang Shiciri berkata, ?Semua uangku ada di laci itu, tapi jangan ganggu saya, karena saya sedang berkonsentrasi mengerjakan tenunan sutra ini..? Pencuri itu pun segera melepaskan pedang yang ditempelkannya di leher Shiciri, lalu berjalan dan bergegas membuka sebuah laci lemari yang ditunjukkan Shiciri.

Ketika perampok itu sedang memasukkan uang-uang itu di tasnya, tiba-tiba Shiciri berkata, ?Jangan ambil semuanya, saya masih butuh seperempat dari uang itu untuk membayar pajak besok pagi.?

Entah mengapa, perampok itu menuruti kata-kata Shiciri. Ia pun hanya mengambil tiga per empat uang di laci itu. Setelah memastikan uang-uang tersebut telah tertata di tasnya, perampok itu segera berjalan menuju pintu keluar.

Saat perampok itu
... baca selengkapnya di Perampok Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 30 Maret 2017

Learn, Unlearn, Relearn!

Learn, Unlearn, Relearn! Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Menyambut Kompas-Gramedia Fair di Balikpapan yang berlangsung Jumat 24 Juli sampai Rabu, 29 Juli, kemudian di Samarinda mulai Rabo 5 Agustus sampai Senin 10 Agustus, 2009, setiap hari saya menulis artikel pendek di Tribun Kaltim. Andrias Harefa membujuk saya untuk menampilkannya di pembelajar.com. Saya enggan, tapi saya tak tahan denger diminta teman, padahal dia sebenarnya kan memberi kesempatan.

Kali ini saya kemukakan gagasan beberapa pemikir dunia mengenai ciri utama yang menandai abad ke-21. Ini penting, karena pengetahuan kita mengenai penanda utama suatu zaman akan memberi kita kearifan untuk menghadapi zaman tersebut. Untuk itu ada sarana yang bisa amat membantu, yaitu sebuah buku suntingan Rowan Gibson. Judulnya Rethinking The Future. Buku itu terbit setahun sebelum tutup abad ke-20, jadi sudah berumur satu dasawarsa, tetapi banyak hal yang masih amat relevan.

Kita akan menemukan tema yang amat inspiratif bagi kita sebagai individu, maupun sebagai representasi dari suatu lembaga, entah bisnis, kemasyarakatan, maupun pemerintahan. Di situ ada tokoh seperti Charles Handy dan Stephen Covey yang memikirkan kembali mengenai prinsip-prinsip dasar kita. Ada pula Michael Porter, CK Prahalad, Gary Hamel yang memikirkan ulang mengenai kompetisi. Ada Michael Hammer, Eli Goldblatt dan Pe
... baca selengkapnya di Learn, Unlearn, Relearn! Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 23 Maret 2017

Kok, Takut Berbuat Salah?

Kok, Takut Berbuat Salah? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tanggapilah dengan pandai bahkan terhadap perlakuan tidak pandai sekalipun. - Lao Tsu -

Dalam sebuah wawancara, seorang reporter menanyakan rahasia dibalik sukses seorang direktur utama bank.

“Dua kata”, jawabnya. “Apa saja?”, kejar sang reporter. “Keputusan jitu.” “Bagaimana membuat keputusan yang jitu?” “Satu kata.” “Apa itu?” “Pengalaman.” “Bagaimana Anda menimba pengalaman?” “Lima kata.” “Apa saja?” “Dengan membuat keputusan yang salah.”

Sering kali kita menghindari kesalahan atau kegagalan. Kita tidak ingin terlihat bodoh, malu, atau dipecundangi oleh orang lain. Dalam setiap penampilan kita, ketika bergaul dengan orang lain, kita selalu ingin terlihat sempurna. Bahkan, terdapat sebuah pemikiran yang berkembang, bahwa kalau kita berbuat kesalahan, maka kita tidak saja membuat malu diri kita, tapi juga orang tua kita. Kenapa? Karena orang tua kita telah salah mendidik kita. Begitulah yang sering dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Agar kita tidak membuat malu o
... baca selengkapnya di Kok, Takut Berbuat Salah? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 02 Maret 2017

Sabda Adalah Karunia. Orang Lain Adalah Karunia

PESAN PAUS FRANSISKUS 

UNTUK MASA PRAPASKAH 2017


saudara dan saudari terkasih,

Masa Prapaskah adalah suatu permulaan baru, suatu jalan menghantar ke tujuan pasti dari Paskah, kemenangan Kristus atas maut. Masa Prapaskah ini secara mendesak memanggil kita untuk bertobat. Umat kristiani diminta untuk kembali kepada Allah "dengan segenap hati mereka" (Yoel 2:12), menolak tetap biasa-biasa saja dan tumbuh dalam persahabatan dengan Tuhan. Yesus adalah sahabat yang setia yang tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan ketika kita berbuat dosa, Ia dengan sabar menanti kepulangan kita; dengan pengharapan yang sabar itu, Ia menunjukkan kepada kita kesiapsediaan-Nya untuk mengampuni (bdk. Homili, 8 Januari 2016).


Masa Prapaskah adalah masa yang menguntungkan untuk memperdalam kehidupan rohani kita melalui sarana pengudusan yang ditawarkan kepada kita oleh Gereja : puasa, doa dan sedekah. Dasar dari segalanya adalah sabda Allah, yang selama Masa Prapaskah ini kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkannya secara lebih mendalam. Sekarang saya ingin meninjau perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus (bdk. Luk 16:19-31). Marilah kita menemukan ilham dalam kisah yang bermakna ini, karena kisah tersebut memberi kunci untuk memahami apa yang kita perlu perbuat guna mencapai kebahagiaan sejati dan kehidupan kekal. Perumpamaan tersebut mendorong kita kepada pertobatan yang tulus.

1.    Orang lain adalah karunia

Perumpamaan dimulai dengan menghadirkan dua tokoh utamanya. Si miskin dilukiskan secara lebih rinci : ia malang dan tidak memiliki kekuatan bahkan untuk berdiri sekalipun. Terbaring di depan pintu orang kaya, ia makan remah-remah yang jatuh dari meja orang kaya tersebut. Tubuhnya penuh dengan borok dan anjing-anjing datang menjilati luka-lukanya (bdk. ayat 20-21). Gambaran tersebut adalah gambaran penderitaan yang besar; ia menggambarkan seorang manusia yang ternoda dan memilukan.

Adegan ini bahkan lebih dramatis jika kita memperhatikan bahwa orang miskin tersebut bernama Lazarus sebuah nama penuh janji, yang secara harfiah berarti "Allah menolong". Tokoh ini bukan tanpa nama. Ciri-cirinya dengan jelas dilukiskan dan ia muncul sebagai pribadi dengan kisahnya sendiri. Seraya hampir-hampir tak kasat mata pada orang kaya, kita melihat dan mengenalnya sebagai seseorang yang dikenalIa menjadi wajah, dan dengan demikian, karunia, harta tak ternilai, seorang manusia yang dikasihi dan dipedulikan Allah, meskipun keadaan nyatanya sebagai orang yang terusir dari masyarakat (bdk. Homili, 8 Januari 2016).

Lazarus mengajarkan kita bahwa orang lain adalah karunia. Hubungan yang benar dengan orang-orang terkandung dalam rasa syukur mengakui nilai mereka. Bahkan orang miskin di pintu orang kaya bukanlah sesuatu yang mengganggu, tetapi surat panggilan kepada pertobatan dan berubah. Perumpamaan pertama-tama mengajak kita untuk membuka pintu hati kita kepada orang lain karena setiap orang adalah karunia, entah itu sesama kita ataupun fakir miskin yang tak dikenal. Masa Prapaskah adalah masa yang menguntungkan untuk membuka pintu bagi semua orang yang berkekurangan dan mengenali di dalam diri mereka wajah Kristus. Kita masing-masing bertemu orang-orang seperti ini setiap hari. Masing-masing kehidupan yang kita jumpai adalah karunia yang layak mendapatkan penerimaan, hormat dan cinta. Sabda Allah membantu kita untuk membuka mata kita guna menyambut dan mengasihi kehidupan, terutama ketika kehidupan itu lemah dan rentan. Tetapi untuk melakukan hal ini, kita harus menganggap serius apa yang diceritakan Injil kepada kita tentang orang kaya tersebut.

2.    Dosa membutakan kita

Perumpamaan ini tak tanggung-tanggung dalam penggambaran pertentangan-pertentangannya terkait dengan orang kaya tersebut (bdk. ayat 19). Tidak seperti Lazarus yang miskin, ia tidak memiliki nama; ia hanya disebut "orang kaya".Kemewahannya terlihat dalam pakaiannya yang mewah dan mahalPakaian ungu tersebut bahkan lebih berharga ketimbang emas dan perak, dan dengan demikian disediakan untuk para dewa (bdk. Yer 10:9) dan para raja (bdk. Hak 8:26), sementara lenan halus memberikannya tokoh yang hampir-hampir suci. Orang tersebut jelas memamerkan kekayaannya, dan biasa mempertontonkannya setiap hari : "Setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan" (ayat 19). Di dalam dirinya kita dapat melihat kilasan dramatis pengrusakan dosa, yang berlangsung dalam tiga tahap berturut-turut : cinta uang, kesombongan dan kebanggaan (bdk. Homili, 20 September 2013).

Rasul Paulus mengatakan kepada bahwa "akar segala kejahatan ialah cinta " (1 Tim 6:10). Itulah penyebab utama pengrusakan dan sumber kedengkian, perselisihan dan prasangka. Uang bisa datang untuk menguasai kita, bahkan sampai menjadi idola yang bengis (bdk. Evangelii Gaudium, 55). Alih-alih menjadi alat pada pelayanan kita untuk berbuat baik dan menunjukkan kesetiakawanan terhadap orang lain, uang dapat menambat kita dan seluruh dunia kepada logika yang cinta diri yang tidak meninggalkan ruang untuk kasih dan menghalangi perdamaian.

Perumpamaan tersebut kemudian menunjukkan bahwa keserakahan orang kaya itu menjadikannya sia-sia. Kepribadiannya menemukan ungkapan dalam penampilan, dalam menunjukkan kepada orang lain apa yang bisa dilakukannya. Tetapi penampilannya berkedok kekosongan batin. Kehidupannya tertawan penampilan lahiriah, segi keberadaan yang paling dangkal dan sekejab (bdk. Evangelii Gaudium, 62).

Anak tangga terendah dari penurunan moral ini adalah kebanggaan. Orang kaya berpakaian seperti seorang raja dan bertindak seperti seorang dewa, lupa bahwa ia fana belaka. Bagi mereka yang dirusak oleh cinta kekayaan, tak ada satupun selain cinta diri mereka sendiri. Orang-orang di sekitar mereka tidak tiba ke dalam garis pandang mereka. Akibat kelekatan terhadap uang adalah semacam kebutaan. Orang kaya tidak melihat orang miskin yang sedang kelaparan, terluka, terbaring di pintunya.

Memandang tokoh ini, kita dapat memahami mengapa Injil begitu berterus terang mengutuk cinta akan uang : "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat 6:24).

3.    Sabda adalah karunia

Injil tentang orang kaya dan Lazarus membantu kita membuat sebuah persiapan yang baik menjelang Paskah. Liturgi Rabu Abu mengundang kita kepada pengalaman yang cukup mirip dengan pengalaman orang kaya. Ketika imam mengenakan abu di kepala kita, ia mengulangi kata-kata : "Ingatlah engkau, bahwa engkau berasal dari debu, dan engkau akan kembali menjadi debu". Ternyata, orang kaya dan orang miskin keduanya meninggal, dan sebagian besar perumpamaan berlangsung dalam kehidupan sesudah kematian. Dua tokoh itu tiba-tiba menemukan bahwa “kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar” (1 Tim 6:7).

Kita juga melihat apa yang terjadi dalam kehidupan sesudah kematian. Di sana orang kaya berbicara panjang lebar dengan Abraham, dengan menyebutnya “Bapa” (Luk 16,24,27), sebagai tanda bahwa ia milik umat Allah. Rincian ini membuat kehidupannya menampakkan seluruhnya semakin bertentangan, karena hingga saat ini, tidak dikatakan apa-apa tentang hubungannya dengan Allah. Kenyataannya, tidak ada tempat bagi Allah dalam kehidupannya. Allah satu-satunya adalah dirinya sendiri.

Orang kaya mengenali Lazarus hanya di tengah-tengah siksaan kehidupan sesusah kematian. Ia ingin orang miskin tersebut meringankan penderitaannya dengan setetes air. Apa yang ia minta dari Lazarus mirip dengan apa yang ia bisa perbuat tetapi tidak pernah diperbuatnya. Abraham mengatakan kepadanya : “Engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita” (ayat 25). Dalam kehidupan sesudah kematian, semacam kewajaran dipulihkan dan kejahatan kehidupan diselaraskan oleh kebaikan.

Perumpamaan tersebut melanjutkan dengan menawarkan pesan untuk seluruhumat kristiani. Orang kaya meminta Abraham menyuruh Lazarus untuk memperingatkan saudara-saudaranya, yang masih hidup. Tetapi Abraham menjawab Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu” (ayat 29). Terhadap keberatan orang kaya itu, ia menambahkan : "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (ayat 31).

Dengan demikian masalah yang sesungguhnya dari orang kaya tersebut menjadi mencuatAkar seluruh penyakitnya adalah kegagalan mengindahkan sabda Allah. Akibatnya, ia tidak lagi mengasihi Allah dan tumbuh membenci sesamanya. Sabda Allah hidup dan berkuasa, mampu mengubah hati dan menuntunnyakembali kepada  Allah. Ketika kita menutup hati kita terhadap karunia sabda Allah, kita akhirnya menutup hati kita terhadap karunia saudara dan saudari kita.

Sahabat-sahabat yang terkasih, Masa Prapaskah adalah masa yang menguntungkan untuk memperbaharui perjumpaan kita dengan Kristus, yang tinggal dalam sabda, dalam sakramen-sakramen dan dalam diri sesama kita. Tuhan, yang mengatasi tipu daya Sang Penggoda selama empat puluh hari di padang gurun, menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Semoga Roh Kudus menuntun kita pada perjalanan pertobatan sejati, sehingga kita dapat menemukan kembali karunia sabda Allah, dimurnikan dari dosa yang membutakan kita, dan melayani Kristus yang hadir dalam diri saudara dan saudari kita yang berkekurangan. Saya mendorong seluruh umat beriman untuk mengungkapkan pembaruan rohani ini juga dengan ambil bagian dalam penggalakkan Masa Prapaskah yang digagas oleh banyak organisasi gerejani di berbagai belahan dunia, dan dengan demikian mendukung budaya perjumpaan dalam satu keluarga umat manusia kita. Marilah kita saling mendoakan sehingga, dengan ambil bagian dalam kemenangan Kristus, kita dapat membuka pintu kita untuk orang-orang yang lemah dan miskin. Dan karenanya kita akan dapat mengalami dan mengambil bagian kepenuhan sukacita Paskah.

Dari Vatikan, 18 Oktober 2016
Pesta Santo Lukas, Penginjil

FRANSISKUS

KELUARGA BERWAWASAN EKOLOGIS

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2017
KEUSKUPAN ANGUNG MAKASSAR



Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat Katolik Keuskupan Agung Makassar: salam sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala sesuatu yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu” (Kol. 1:15-16a). Lingkaran 3-tahunan gerakan APP Nasional 2017-2019 mengangkat tema besar “Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan demi Kesejahteraan Hidup Bersama”. Subtema pertama pada tahun 2017 ini berjudul “Keluarga Berwawasan Ekologis”. Marilah kita merenungkan topik ini bertitiktolak dari Kitab Suci, sabda Allah.

Indah Rencana Tuhan)
Kitab Kejadian menampilkan dua model penciptaan manusia oleh Allah. Model yang disebut pertama, ialah melalui Sabda atau Firman. “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya …; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:26-27). Menurut para ahli, model ini bersumber dari tradisi P (Priestercodex, dari masa sesudah pembuangan: sejak akhir abad ke-6 B.C). Sedangkan model kedua menggambarkan Tuhan Allah bagai pematung, yang “membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7). Model ini, menurut para ahli, sumbernya adalah tradisi Y (Yahwis), yang sesungguhnya jauh lebih tua dari tradisi P, karena berasal dari sekitar abad ke-10 B.C.

            Pertanyaan yang penting diajukan, ialah: untuk apa Tuhan Allah menciptakan manusia? Pastilah bukan untuk kepentingan-Nya sendiri. Mengapa? Karena Allah itu Mahasempurna, tidak ada satu pun kekurangan dalam Diri-Nya. Maka Ia tidak memerlukan apa pun dari luar Diri-Nya. Jadi apa sesungguhnya tujuan Tuhan Allah menciptakan manusia? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam kisah taman Eden (Kej. 2:8-25): “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (2:8-9). Di situ ada sungai yang mengalir untuk membasahi taman itu (2:10-14). Di taman Eden itu juga Tuhan Allah membentuk dari tanah segala ternak (2:20), binatang hutan dan burung-burung di udara (2:19.20).

            Di taman Eden itu pulalah Tuhan Allah menjadikan penolong bagi manusia itu, yang sepadan dengan dia: “Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak … Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya … Dan dari rusuk … itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki’. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (2:21-24). Jadi lembaga keluarga sebagai ikatan cinta kasih suci antara suami-isteri sudah ditegakkan Allah sendiri sejak awal mula. Di atas kita sudah melihat, bahwa juga dalam model penciptaan melalui Sabda ditegaskan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Berdasarkan ketetapan sejak semula ini, Yesus Kristus kemudian menegaskan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:6; Mrk. 10:9).

            Adapun keluarga manusia pertama itu hidup berbahagia di taman Eden, dalam lingkungan yang harmonis, segala kebutuhan terpenuhi, dan mereka berada dalam relasi akrab dengan Tuhan Allah. Tuhan Allah digambarkan sering “berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (3:8). Sebagai gambar dan rupa Allah, tentu saja manusia tidak dapat hanya duduk bermalas-malas di taman Eden. Sebagaimana Allah sendiri terus berkarya, manusia juga harus terus bekerja “mengusahakan dan memelihara taman itu” (2:15).

(2. Dirusak oleh Dosa)
            Akibat dosa, kebahagiaan keluarga manusia pertama, yang disimbolkan dengan taman Eden, hilang. Apa sesungguhnya hakekat dosa manusia/keluarga pertama itu? Mereka diciptakan “menurut gambar (selem) dan rupa (demût) Allah”. Kata Ibrani selem berarti copy yang persis sama dengan aslinya, reproduksi; sedangkan demût berarti serupa, mirip. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia tidak dapat tidak harus tetap dalam ikatan ketergantungan pada Allah. Sebuah reproduksi atau ‘yang mirip’ tidak dapat berubah menjadi ‘yang asli’. Tetapi itulah yang terjadi dengan kisah kejatuhan manusia (Kej. 3): Manusia tidak tunduk kepada Allah; ia melepaskan ketergantungannya pada Allah, dan mau menjadi Allah sendiri. Sebagai akibatnya, rencana asli penciptanya ditunggangbalikkan: kisah kebahagiaan (taman Eden) menjadi kisah penderitaan, sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan. Dan ini mengena semua dimensi relasional manusia:
            (a). Hubungan Manusia dengan Allah: Akibat dosa putuslah hubungan akrab antara manusia dengan Allah, yang dilambangkan dengan pengusiran manusia dari taman Eden (Kej. 3:22-24). Sebagai konsekwensi putusnya hubungan dengan Allah ini, manusia diserahkan kepada penderitaan dan kematian yang menakutkan (maut). “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (3:19). Ganti menerima kehidupan ilahi sebagai anugerah (“Tuhan Allah … menghembuskan nafas ke dalam hidungnya”, Kej. 2:7), Adam dan Hawa, pasutri pertama itu, membuang hidup ilahi itu, dan sendiri mau menjadi allah dengan makan buah terlarang (=tidak tunduk kepada Allah). Akibat ketidaktaatan ini manusia menghancurkan kehidupannya. Kematian yang seharusnya hanya merupakan peralihan final kepada Allah, kini tidak lagi berupa gejala kodrati (biologis) semata. Kini kematian itu menjadi pengalaman fatal, menandakan penghukuman, kematian abadi. Dengan menolak hukum batin, yang merupakan kehadiran ilahi dalam dirinya, manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, kepada otonominya yang salah. Sejarah mencatat kegagalan-kegagalan berulang kali dari orang-orang yang menyangka dapat menyamai Allah dan kemudian hanya berjumpa dengan kematian, berupa maut yang menakutkan.
            (b). Hubungan Manusia dengan Sesamanya: Hal pertama yang ditemukan Adam dan Hawa, si pendosa, ialah bahwa mereka telanjang (3:7.10-11). Apa yang sampai saat itu hanya berupa simbol, kini menjadi pemisahan. Ketika ditanya Allah, Adam mempersalahkan isterinya (taktik mengelak dari tanggungjawab dengan melempar kesalahan kepada yang lain), dan dengan demikian dia menjauhkan diri dari isterinya (3:12). Allah kemudian memberitahu mereka bahwa kesatuan mereka (sebagai “satu daging” = kesatuan perkawinan/keluarga) telah rusak. Relasi mereka akan dikuasai oleh dorongan naluri dan nafsu, oleh iri hati dan dominasi; dan buah cinta mereka (anak) hanya akan diberikan kepada mereka dengan sangat kesakitan waktu melahirkan (3:16). Bab-bab selanjutnya dari kitab Kejadian memperlihatkan betapa pemisahan pasutri/keluarga pertama ini berpengaruh pada segala macam ikatan sosial; antara Kain dan Habel, saudara sekandung yang bermusuhan dan bahkan memuncak pada tindakan pembunuhan (Kej. 4), dan di kalangan penduduk Babel yang tak lagi dapat saling mengerti satu sama lain (Kej. 11:1-9). Sejarah agama-agama merupakan sebuah rentang kusut jaringan perpecahan, silih bergantinya perang antar suku dan bangsa, antara kelompok dalam satu bangsa atau negara, jurang pemisahan antara yang kaya dan yang miskin.
            (c). Hubungan Manusia dengan Alam: Dosa tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Dosa membawa pula pengaruh buruk pada hubungan manusia dengan alam. Akibat dosa pasutri pertama, Adam dan Hawa, untuk selanjutnya tanah menjadi terkutuk. Manusia akan memperoleh makanannya tidak lagi sebagai buah spontan bumi, melainkan sebagai hasil jerih payah dengan berpeluh (Kej. 3:17-19). Ciptaan lalu ditaklukkan kepada kesia-siaan (Rom. 8:20); ganti tunduk dengan rela, alam memberontak melawan manusia. Dan ini berlangsung sampai sekarang. Ketika pada Desember 1987 banjir besar melanda Kabupaten Polmas (kini bagian dari Propinsi Sulbar), Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan waktu itu, Prof. Dr. A. Amiruddin, berkomentar: “Kalau manusia berlaku tidak ramah terhadap alam, maka alam pun akan balik berlaku tidak ramah kepada manusia”.
            Dalam Ensikliknya Laudato Si’, yang dikeluarkan pada Hari Pentakosta, 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menulis: “Saudari (bumi) ini kini menjerit kepada kita karena kerusakan yang telah kita timpakan padanya dengan penggunaan dan penyalahgunaan barang-barang yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Kita telah sampai melihat diri kita berlagak sebagai tuan-tuan dan pemiliknya, yang merasa berhak menjarah dia semau kita. Kekerasan yang ada dalam hati kita, terluka oleh dosa, juga tercermin pada gejala-gejala penyakit yang tampak jelas pada tanah, air, udara dan pada segala bentuk kehidupan. Inilah sebabnya bumi sendiri, yang terbebani dan terabaikan, adalah yang paling teraniaya dan terbuang di kalangan kaum miskin kita; ia “mengeluh kesakitan” (Rom. 8:22). Kita telah melupakan bahwa kita sendiri adalah debu tanah (bdk.Kej.2:7); tubuh kita sendiri terbentuk dari unsur-unsurnya, kita menghirup udaranya dan kita menerima kehidupan serta minuman dari airnya” (no. 2).
            Sudah sejak pertengahan dekade 1960-an merebak ramai debat teologis, khususnya di Amerika Utara, sekitar masalah ekologi. Para ekologist menuduh etika Kristen, yang menekankan wewenang manusia atas alam (bdk.Kej.1:26-28), telah melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi buta dan budaya ekonomistik yang tidak sehat. Tentu saja para teolog Kristen menolak tuduhan tersebut. Khususnya dalam tradisi Katolik, etika menyangkut hubungan antara manusia dan alam tidak dibangun atas dasar pandangan antroposentrisme, yang terasa kuat dalam Kej. 1:26-28, melainkan atas teologi inkarnasi Sabda Allah dalam Perjanjian Baru. Atas dasar ini hubungan antara manusia dan alam kodrati dipahami secara lebih positif dan terdapat suatu sikap bekerjasama dengan alam. Tetapi pertanyaannya ialah, sejauh mana kita orang-orang Katolik melandaskan sikap dan perilaku kita terhadap alam pada teologi inkarnasi dan pada kisah taman Eden? Sejauh mana kita tidak memperlakukan ibu pertiwi secara semena-mena, melainkan “mengusahakan dan memelihara”-nya bagai taman Eden?

(3. Membangkitkan Pertobatan Ekologis Berawal dari Keluarga).
Pertama-tama, mari kita menyegarkan kesadaran kita lagi akan makna pertobatan sejati. Pertobatan dalam bahasa Latin disebut conversio (kembalinya), bahasa Yunani metanoia (meta = perubahan, nous = mentalitas), merupakan padanan kata Ibrani syûb, yang menjadi ciri pemberitaan para nabi (Yer. 18:8; 24:7; Yeh. 33:9.11; Am. 4:6-12). Pertobatan mengungkapkan perubahan radikal dalam diri manusia, yang mewujud dalam tindakan dan perilaku nyata.
Di sini kita ingin mencanangkan gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga. Dalam kaitan ini barangkali kita masih ingat apa yang pernah dikemukakan Paus Yohannes Paulus II, yang sekarang sudah santo. Beliau mengatakan, kalau keluarga-keluarga Katolik baik, maka Gereja akan baik. Sesungguhnya dengan pernyataan ini beliau hanya mengetrapkan dalil sosiologi pada Gereja. Dalam sosiologi, keluarga dipandang sebagai sel dasar masyarakat. Kalau sel itu sehat, maka masyarakat akan sehat; sebaliknya, kalau sel itu sakit, maka masyarakat akan sakit. Dan masyarakat manusia tidak terbayangkan tanpa hubungan hakiki dan eksistensial dengan alam ciptaan. Selanjutnya, kebenaran dalil sosiologis tentang sentralnya posisi keluarga dalam keutuhan ciptaan sesungguhnya mempunyai landasan biblis yang kuat. Bukankah, sebagaimana kita sudah lihat, Allah menciptakan manusia pria dan wanita dan menempatkan pasutri pertama itu di taman Eden? Dan apa yang disebut “dosa asal” itu pada hakekatnya adalah dosa keluarga pertama, Adam dan Hawa! Maka gerakan pertobatan ekologis yang berawal dari keluarga mempunyai fungsi yang sangat strategis.
            Pertama-tama kita harus berpegang pada kebenaran iman, bahwa dalam Kristus segala sesuatu telah ditebus. Namun, di lain pihak, penebusan dalam Kristus tidak menghapus kehendak bebas manusia. Manusia tetap dapat menerima dan setia pada Allah atau, sebaliknya, menolak Allah. Karena itu, pusat pewartaan Yesus adalah: “Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15//Mat. 3:2; 4:17).
            Bagaimana secara konkret pertobatan ekologis itu mewujud dalam keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita mulai dengan memperhatikan keprihatinan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. Beliau menulis: “Patut disayangkan, banyak upaya mencari solusi-solusi konkret terhadap krisis lingkungan telah terbukti tidak efektif, tidak saja karena adanya oposisi yang kuat melainkan juga karena kurangnya kepedulian secara umum. Sikap-sikap yang menghalangi, juga di kalangan kaum beriman, dari menyangkal adanya masalah ke sikap acuh tak acuh, tak ambil pusing atau kepercayaan buta pada solusi-solusi teknis. Kita membutuhkan suatu solidaritas baru dan universal…Kita semua dapat bekerjasama sebagai alat-alat (dalam tangan) Allah untuk memelihara ciptaan, masing-masing menurut budaya, pengalaman, keterlibatan dan talenta sendiri-sendiri” (no. 14).
            Kembali ke lembaga keluarga, simaklah anekdot ini: Alkisah, adalah suatu keluarga yang sibuk membangun rumah. Kemudian datanglah seorang membawa berita, bumi sedang terbakar. Tetapi keluarga itu tidak peduli. Mereka hanya fokus pada upaya menyelesaikan segera pembangunan rumah mereka. Ketika rumah sudah selesai dibangun, baru mereka sadar tidak ada tempat lagi untuk meletakkan rumah itu, karena bumi sudah terbakar hangus. Kiranya pesan cerita kecil ini jelas. Dalam hal memelihara dan menjaga bumi, sang ibu pertiwi, tak ada satu keluarga pun yang boleh mengambil sikap tak peduli. Barangkali keluarga anda bukanlah pengusaha besar kayu yang telah merusak hutan dalam skala besar, bukan industrialis yang menyebabkan polusi udara dan air, bukan pula pengusaha tambang yang menggunduli kulit bumi sampai terancam menjadi padang pasir, dst.! Mungkin keluarga anda hanyalah keluarga sederhana. Tetapi setiap keluarga, tak terkecuali keluarga anda menjadi si alamat seruan Paus Fransiskus, untuk menjadi alat-alat di tangan Allah dalam memelihara keutuhan ciptaan.
            Hendaknya ritus tobat yang kita ucapkan pada setiap awal perayaan Ekaristi tidak tinggal menjadi kata-kata hampa, tanpa makna. Kita berkata, dan selanjutnya menepuk dada: “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan  dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa”. Pentinglah memperhatikan rumusan, berdosa “dengan perbuatan dan kelalaian”. Berdosa “dengan perbuatan” adalah tindakan melanggar hukum moral dengan tahu dan mau. Berdosa “dengan kelalaian” ialah tidak membuat apa yang seharusnya dibuat. Jadi, lalai memelihara lingkungan, lalai menjaga keutuhan ciptaan adalah dosa!
            Kalau setiap keluarga Katolik sudah sampai pada kesadaran itu, ia akan terdorong untuk berubah. Kita telah melihat, pertobatan pertama-tama berarti perubahan mental, yang selanjutnya terungkap keluar dalam perilaku, tindakan. Paus Fransiskus mengajak kita melibatkan diri dalam memelihara lingkungan menurut budaya, pengalaman, posisi dan bakat kita masing-masing. Yang paling penting dan mendasar ialah upaya setiap keluarga membangun kesadaran akan tanggungjawab memelihara lingkungan, dan selalu mengingat bahwa mengabaikan tanggungjawab tersebut adalah dosa kelalaian! Dan jangan lupa, kelalaian memelihara lingkungan adalah sekaligus dosa terhadap Allah, Sang Pencipta, yang pada awalmula menempatkan pasutri pertama di taman Eden, untuk mengusahakan dan memeliharanya! Bahwa kelalaian merawat lingkungan adalah juga dosa sosial, dosa terhadap sesama, itu dengan sendirinya jelas. Bukankah, misalnya, membuang sampah ke selokan di samping rumah kita dan menyebabkan air tidak dapat mengalir pada musim hujan, akan merugikan tetangga-tetangga kita pula?
            Jadi, kita melihat dosa kelalaian merawat lingkungan adalah sekaligus dosa terhadap Sang Pencipta dan terhadap sesama. Hal ini jelas pada apa yang disebut “dosa asal”, dosa pasutri pertama, Adam dan Hawa. Dosa terhadap Allah sekaligus merusak relasi antar mereka (relasi sosial) dan relasi mereka dengan lingkungan (alam). Karena itu pertobatan kita pada Masa Prapaskah tidak dapat hanya dengan berupa upaya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dan mengabaikan perbaikan hubungan dengan sesama dan dengan alam ciptaan.
            Kembali ke gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga, kita perlu berpaling ke Keluarga Kudus Nazaret untuk mendapatkan inspirasi. Inti spiritualitas Keluarga Kudus ialah ketaatan total kepada kehendak Allah. Ini persis bertolak-belakang dengan inti dosa pasutri/keluarga pertama, Adam dan Hawa, yaitu ketidaksetiaan kepada perintah Allah, dan sendiri mau “menjadi seperti Allah” (Kej. 3:5). Maria (ibu keluarga) menegaskannya dengan kata-kata: “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Yusuf (bapa keluarga) mengungkapkannya bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti apa yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat. 1:24). Dan, seperti kata pepatah, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya; sikap dasar itu turun kepada sang anak. Yesus merumuskannya dalam bentuk doa: “Ya, Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42).
            Kesetiaan total kepada Allah sekaligus mewujud dalam relasi dengan orang lain, berupa perhatian, keprihatinan, belarasa, kasih, khususnya kepada mereka yang miskin dan menderita. Mengenai segi ini memang Injil tak banyak bicara tentang orang tua Yesus. Tetapi itu tidak berarti orang tua Yesus kurang peduli terhadap sesama. Kita melihat kepekaan Maria terhadap kesulitan yang sedang dihadapi orang lain, misalnya pada pesta perkawinan di Kana. Dan bahwa kemudian sang Anak tampil sebagai pribadi yang peka terhadap penderitaan orang lain, yang rela mengorbankan diri karena kasih terhadap sesama, itu tentu berkat didikan orang tua-Nya.
            Lalu bagaimana sikap dan perhatian Keluarga Kudus Nazaret terhadap lingkungan hidup? Hal ini memang sulit ditelusuri dalam Injil.Tetapi jangan dilupakan, bahwa masalah serius menyangkut ekologi baru mulai sejak abad ke-19, ketika kemajuan industri dan ilmu pengetahuan saling menunjang dalam melahirkan revolusi teknologis, yang secara harafiah merubah muka bumi. Seandainya Keluarga Kudus Nazaret hidup pada zaman sekarang, mereka tentu akan menjadi teladan dalam merawat keutuhan ciptaan! Tetapi tidakkah setiap keluarga Katolik pada dewasa ini terpanggil menjadi Keluarga Kudus Nazaret?

(4. Pendidikan Anak Berwawasan Ekologis)
            Di atas kita terutama mengarahkan pesan ekologis kepada orang tua dalam keluarga. Tentu saja kita tidak boleh melupakan anak-anak, generasi penerus yang akan mewarisi bumi sebagai rumah bersama dan sebagai “ibu yang menopang dan membimbing kita, dan yang menghasilkan berbagai jenis buah-buahan dengan bebungaan berwarna-warni serta bumbu-bumbuan” (Madah Makhluk Fransiskus Asisi; Laudato Si’, no. 1).
            Gereja selalu memandang keluarga sebagai sekolah pertama. Dasar pertimbangannya ialah karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak. Oleh sebab itu orang tua terikat kewajiban teramat berat untuk mendidik anak-anak mereka; orang tualah pendidik pertama dan utama anak-anaknya. Dalam keluargalah anak-anak menemukan pengalaman pertama masyarakat manusia yang sehat serta Gereja. Melalui keluargalah akhirnya mereka lambat laun diajak berintegrasi dalam masyarakat manusia dan umat Allah dalam dunia (lih. GE,1).
            Kecuali itu, harus disadari betapa pentingnya pendidikan nilai bagi anak-anak kita sejak dini. Sebab apa yang diterima dan dialami anak manusia pada masa kecilnya akan tetap tinggal dan berpengaruh dalam hidupnya di masa dewasa. Semakin dalam pengalaman di masa kecil itu tertanam, akan semakin besar pengaruhnya kelak dalam hidupnya sampai akhir. Karena itu pendidikan berwawasan ekologis bagi anak-anak amat penting dan sangat strategis.
            Lalu apa yang secara konkret dapat diberikan orang tua dalam pendidikan berwawasan ekologis kepada anak-anaknya? Menurut hemat saya, sesuai dengan tingkat perkembangan daya tangkap si anak, orang tua perlu menceritakan (berkisah) tentang apa yang sudah dibahas dalan nomor 1 dan 2 Surat Gembala Prapaskah ini. Orang tua dan kakak-kakak perlu berkisah kepada anggota keluarga yang masih kecil tentang betapa indahnya rencana Allah pada awal mula ketika menciptakan langit dan bumi serta isinya, yang memuncak pada penciptaan manusia, Adam dan Hawa. Tetapi rencana Tuhan yang indah itu dirusak oleh dosa manusia, yang melawan perintah Tuhan dan mau menjadi Tuhan sendiri. Selanjutnya berkisah tentang dosa terhadap Allah adalah sekaligus dosa terhadap sesama dan terhadap alam ciptaan. Dalam berkisah mengenai semua segi itu, hendaknya diberi contoh-contoh nyata dari apa yang terjadi dewasa ini akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab terhadap alam: pengotoran air akibat pembuangan sampah dan limbah industri secara sembarangan; polusi udara; banjir dan tanah longsor akibat penggundulan hutan; perubahan iklim yang tidak menentu; panas bumi yang semakin meningkat yang mengancam cairnya gunung es di kutub selatan, dan akan menyebabkan permukaan bumi yang rendah akan tenggelam; dst. Tetapi anak-anak juga harus dididik untuk memelihara lingkungannya, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, menanam tanaman dan pohon. Sesekali juga hendaknya seluruh keluarga mengadakan wisata alam.
            Akhirnya, selamat menjalani Masa Prapaskah, khususnya selamat memulai gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga Anda! Tuhan memberkati kita semua!

Makassar, 17 Februari 2017  
                                                                      +John Liku-Ada’



PERATURAN PUASA DAN PANTANG:
Masa Prapaskah mulai pada HARI RABU ABU tanggal 1 Maret 2017 dan berjalan sampai Pesta Paskah tanggal 16 April 2017.

Seluruh Masa Prapaskah adalah waktu bertapa. Karena itu diharapkan dari masing-masing agar selama Masa Prapaskah dengan kesadaran dan kerelaan melakukan pekerjaan amal dan tapa menurut pilihan masing-masing, selain yang diwajibkan di bawah ini.

Secara khusus diminta perhatian untuk AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP), yang dimaksudkan mengumpulkan dana, yang diperoleh dari usaha-usaha penghematan / berpantang. Dana itu diperuntukkan karya-karya sosial, termasuk usaha-usaha pengembangan Komunitas Basis/Keluarga dan pemberdayaan lingkungan. Sungguh menggembirakan melihat animo umat untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan APP semakin meningkat. Tahun 2016 dana hasil APP di Keuskupan kita naik 7,7% dibanding dengan tahun 2015. Sambil mengucapkan terima kasih atas semua itu, kita berharap APP tahun ini akan meningkat lebih baik lagi.

Di samping itu selama Masa Prapaskah kita wajib berpuasa dan berpantang menurut peraturan berikut:
Pada Hari Rabu Abu dan Jumat Agung ada kewajiban berpuasa dan berpantang.
Pada hari-hari Jumat Biasa dalam Masa Prapaskah hanya ada kewajiban berpantang.
Berpuasa berarti mengurangi makan, sehingga hanya satu kali saja boleh makan kenyang dalam sehari.
Kewajiban untuk berpuasa ini berlaku bagi mereka yang berumur antara 18 sampai 60 tahun.
Berpantang berarti mengurangi makanan mewah sesuai dengan penilaian daerah masing-masing, misalnya berpantang dari daging.
Secara perorangan dapat pula menentukan wujud berpantang menurut keadaan masing-masing, misalnya berpantang dari berjajan makanan khusus, dari minuman keras, dari rokok, dll.
Kewajiban berpantang berlaku bagi mereka yang berusia 14 tahun ke atas.

Mereka yang mendapat makanan dari dapur umum, atau yang hidup di tengah keluarga yang seluruhnya belum Katolik, bebas dari wajib pantang, tetapi tidak bebas dari wajib puasa.

Kewajiban Paskah, yaitu kewajiban untuk menyambut komuni (dan kalau perlu sebelumnya mengaku dosa) dapat dipenuhi dari Hari Rabu Abu tanggal 1 Maret 2017 sampai Hari Raya Tritunggal Mahakudus, 11 Juni 2017.


*********

Kamis, 23 Februari 2017

Keajaiban Saat Pesimis

Keajaiban Saat Pesimis Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Panasnya udara di dalam studio musik, tidak membuat band kami merasa malas berlatih. Apalagi, minggu depan ada lomba yang harus kami ikuti. Siapa tahu bisa menang dan maju ke tingkat selanjutnya. Jika demkian, impian bersama untuk masuk dapur rekaman dan menjadi band papan atas bisa terwujud. Aamiin.
“Kalian harus kompak agar bisa memenangkan lomba ini.” Pak Aditya, sang manager memberi semangat.
“Baik, Pak!”, seru kami berlima.
Beliau mengamati latihan kami dengan tenang. Ia tersenyum dengan kekompakkan yang kami perlihatkan. Hal itu membuatku yakin jika bisa menang nantinya.

Hari perlombaan pun tiba. Kami berangkat menuju tempat yang telah ditentukan dengan berboncengan motor. Hanya memerlukan waktu sekitar lima belas menit. Setelah sampai, Pak Aditya mendaftarkan band kami dan mendapatkan nomor undian tiga.
“Selanjutnya, kita saksikan bersama penampilan Alaya Band!” teriak pembawa acara. Itu tandanya kami harus naik ke panggung.
“Silahkan pilih angka berapa untuk menentukan lagu yang akan kalian bawakan.” salah satu dewan juri memberi instruksi.
Rama mengambil undian dan membukanya.
“Lima belas.” jawabnya.
... baca selengkapnya di Keajaiban Saat Pesimis Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 12 Februari 2017

Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan

Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

MATAHARI belum lama tenggelam. Namun pulau kecil di pantai barat pesisir Andalas itu telah ter-bungkus kegelapan. Kesunyian yang mencengkam dibayang-bayangi oleh deru angin laut dan debur ombak yang memecah di pasir pulau. Sesekali kunang-kunang be-terbangan di udara, sesaat menjadi titik-titik terang yang tak ada artinya lalu menghilang lenyap dan kembali ke-gelapan kelam menghantui.

Sesosok tubuh berjalan terbungkuk-bungkuk dalam ke-gelapan. Gerakan kedua kakinya enteng dan hampir tidak terdengar. Namun binatangbinatang melata yang ber-telinga tajam dan ada disekitar situ masih dapat men-dengar gerakan langkah kaki orang ini lalu cepat-cepat melarikan diri menjauh.

Di samping serumpun pohon bakau orang ini hentikan langkahnya. Telinganya dipasang tajamtajam. Kedua mata-nya memandang tak berkesip ke muka. Di depannya dalam kegelapan dia melihat, ada mata air kecil jernih, yang mem-bentuk sebuah parit dangkal. Dia mengikuti parit itu ke arah seberang sana hingga pandangan matanya tertumbuk pada akar sebuah pohon yang sangat besar.

Lama orang ini menatap pohon besar yang tegak menyeramkan sejarak dua puluh langkah dari tempatnya berdiri. Matanya memandang ke arah batan
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 05 Februari 2017

Arti Sahabat

Arti Sahabat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Disebuah hutan belantara yang begitu luas tumbuhlah sebuah pohon yang begitu rindang, daunnya begitu lebat, buah banyak ranum berwarna kuning keemasan..

Pada suatu hari seekor burung Jalak sedang terbang dan hinggap di dahan pohon tersebut, ia berkicau memuji keindahan pohon tersebut “… wahai pohon begitu sempurna Tuhan menciptakanmu, kamu dianugrahi daun yang begitu lebat, batang yang kuat, buah yang berwarna-warni, bolehkah aku tinggal bersamamu untuk menikmati betapa segarnya buahmu…” Pohon itu menjawab “… wahai burung jalak tinggallah kau sesukamu, kau tinggal pilih buah mana yang kau suka…” Burung Jalakpun tinggal di pohon itu.

Tak lama kemudian datanglah burung Kenari dengan lantang dan dengan merdunya iapun memuji pohon itu “… Wahai pohon yang penuh dengan rahmat Tuhan, bolehkah aku tinggal bersamamu untuk sama-sama menikmati indahnya anugrah yang kuasa, begitu sempurna Tuhan memberikan karunia-Nya padamu…” Pohon itu merasa tersanjung dengan pujian burung kenari, iapun mempersilahkan tinggal didahannya.

Selang beberapa hari datanglah burung Pelatuk, tanpa basa-basi ia langsung mematuk dahan & ranting pohon itu, pohon itu menjerit kesakitan “hai.. pelatuk pergi kau
... baca selengkapnya di Arti Sahabat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 02 Februari 2017

Jembatan Bisikan

Jembatan Bisikan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

3000 tahun lalu, kaum terapung dari negeri Cina kuno tinggal di atas rumah-rumah di atas air. Mereka makan malam di udara terbuka.

Setiap keluarga tinggal di atas panggung di sebuah teluk. Ketika seorang anak lelaki sudah tumbuh dewasa, dia akan berdiri di tepi panggungnya dan memanggil. Gadis yang dicintainya akan memanggilnya kembali. Lalu pemuda itu akan membangun sebuah jembatan dari panggungnya menuju panggung si gadis.

Jika keluarga si pemuda menyukai si gadis, mereka akan membantu membangun jembatan itu. Kedua rumah mereka akan digabungkan dan kedua keluarga akan menjadi satu.

Tapi pada suatu hari, seorang pemuda terapung mendengar bisikan dari atas cakrawala. Bisikan itu datang dari seorang gadis yang tinggal nun jauh di sana. Mereka saling memanggil dalam kurun waktu yang lama. Mereka memutuskan untuk menikah.

Keluarga si pemuda bilang tidak. Gadis itu berasal dari kalangan yang berbeda dan terlalu jauh. Tapi si pemuda bersikeras. Ia mulai membangun jembatan menuju cakrawala. Ia menggali dalam ke da
... baca selengkapnya di Jembatan Bisikan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 23 Januari 2017

Pohon Tua

Pohon Tua Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya.

Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh.

Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi. Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku milik
... baca selengkapnya di Pohon Tua Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 15 Januari 2017

A Piece of Cake

A Piece of Cake Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang anak perempuan berkata pada ibunya bahwa yang dihadapinya semua tidak baik.

Dia gagal di ujian matematika... kekasihnya pergi begitu saja... direbut oleh sahabatnya...

Menghadapi kesedihan itu, seorang ibu yang baik tahu untuk mengembalikan semangat anak perempuannya...

“Ibu membuat kue yang lezat,” katanya sambil memeluk anaknya dan mengajak ke dapur, berharap melihat kembali senyum buah hatinya.

Ketika ibunya mempersiapkan bahan-bahan pembuat kue, anaknya duduk di seberang dan memperhatikan dengan seksama.

Ibunya bertanya, “Sayang, kamu mau mama buatkan kue?”

Anaknya menjawab, “Tentu ma. Mama tahu aku suka sekali kue.”

“Baiklah...” kata ibunya, “Ini, minumlah minyak wijen.”

Dengan terkejut anaknya menjawab, “Apa?!? Gak mau!!!”

“Bagaimana kalau kamu makan beberapa telur mentah?”

Terhadap pertanyaan ini anaknya menjawab, “Mama bercanda yah...”

“Bagaimana kalau mencoba segenggam tepung?”

“Gak lah ma... aku bisa sakit perut.”

Kemudian ibunya melanjutkan, “Bahan-bahan ini belum dimasak dan rasanya tidak enak, tapi kalau kamu sudah mencampur dan mengolahnya bersama-sama...

...
... baca selengkapnya di A Piece of Cake Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 08 Januari 2017

Akhir Sebuah Pesta

Akhir Sebuah Pesta Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Seorang teman dengan penuh rasa sedih bercerita tentang pengalaman hidupnya yang membuatnya sakit. Setelah diam penuh keraguan, akhirnya ia mampu membuka mulut menuturkan kisahnya;

?Seorang teman yang saya kagumi secara tiba-tiba tanpa alasan yang saya ketahui kini berubah sikap. Dulu kami biasa bersama-sama, bermain bersama, daki bukit bersama, atau makan bersama. Saya berusaha mengingat lagi semua percakapan kami di saat-saat yang telah lewat, berusaha demi langit dan bumi mencari alasan yang membuat persahabatan kami menjadi sekian renggang pada akhir-akhir ini. Aku berusaha menemukan dan menghilangkan batu sandungan yang ada di antara kami. Namun semakin aku berusaha semakin pikiranku menjadi gelap. Indahnya persahabatan yang telah dibangun kini berada di pinggir jurang terjal.

Temanku seakan telah mengepak sisa-sisa persabatan kami dan kini disimpannya secara rapi di dalam sebuah kotak yang tak akan pernah dibuka lagi. Berhadapan dengan kenyataan ini, ada jutaan kata dan rasa di dada ini yang tak dapat aku ucapkan. Setiap kali ketika
... baca selengkapnya di Akhir Sebuah Pesta Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Cari Blog Ini