Rabu, 26 November 2014

Makna Adven yang sering terlupa

Secara umum kita memahami masa adven sebagai suatu masa untuk mempersiapkan diri guna perayaan Natal, hari raya kelahiran Tuhan Yesus. Pemahaman itu tidak salah, namun kurang lengkap. Sebab selain bermakna sebagai masa untuk persiapan menyambut perayaan kelahiran Tuhan Yesus, masa adven bagi kita semua sebenarnya juga suatu masa yang mengajak kita mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan Yesus untuk yang kedua kalinya, yaitu saat Dia datang dalam kemuliaanNya sebagai Raja Agung yaitu pada akhir jaman.

Harus kita akui bahwa seringkali makna kedua dari masa adven tersebut, yaitu mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya sering luput dari perhatian kita. Pada masa adven ini kesibukan hati dan pekerjaan kita seringkali terlalu kita fokuskan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin agar perayaan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus di lingkungan, wilayah dan paroki kita pada tahun ini jauh lebih meriah dan mengesan daripada perayaan-perayaan tahun sebelumnya. Dan hal itu selalu terjadi dari tahun ke tahun.

Pertanyaannya adalah: mengapa makna kedua dari masa adven sering luput dari perhatian kita? Mungkin secara manusiawi manusia memang enggan untuk mengarahkan hati kepada akhir jaman. Bagi manusia membicarakan tentang akhir jaman berarti membawa manusia kepada pikiran tentang batas terakhir yang mengakhiri segala-galanya, dan hal itu sungguh-sungguh bukan topik yang menarik untuk dibicarakan apalagi untuk direnungkan dan disadari atau diantisipasi. Pembicaraan tentang akhir jaman rasanya menjadi sebuah pembicaraan tentang masa yang tidak akan kita alami dan mungkin terjadi pada kehidupan kita sekarang ini sehingga kita seringkali merasa bahwa pembicaraan tentang hal itu sungguh-sungguh kurang relevan untuk kehidupan kita jaman ini.

Kenyataan tersebut di atas menyadarkan kita bahwa manusia adalah benar-benar makhluk duniawi. Manusia memang lebih suka mengisi hidupnya dengan hal-hal yang yang bersifat masa kini dengan segala kekawatiran, kecemasan dan rencana-rencana manusiawi untuk mengantisipasi segala kekawatiran dan kecemasan yang timbul dengan pemikiran yang seringkali duniawi juga. Manusia jarang menyisakan ruang di dalam hatinya untuk memberi perhatian atau memikirkan hidupnya pada Tuhan, dalam rahasia akhir yang berada di tangan Tuhan.

Sabda Tuhan yang kita dengarkan pada hari ini adalah sebuah ajakan dari Tuhan Yesus sendiri supaya kita kembali menyadari bahwa di samping dunia ini masih ada Tuhan, bahwa di samping yang sekarang ini masih ada akhir yang pasti, bahwa di samping yang sementara yang kita hidupi di dunia ini masih ada yang abadi dimana Tuhan Yesus akan datang dengan kekuasaan dan kemuliaan untuk menganugerahkan hidup baru yang sampai saat ini belum dapat kita pikirkan atau bayangkan.
Sumber: Romo Yoyon : gerejafransiskus.com/

MENANTI KEDATANGAN SANG MESSIAS


Hari Minggu Adven I/ Tahun B/I
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan: Yes. 63:16b-17, 64:1, 3b-8; 1Kor. 1:3-9; Mrk. 13:33-37

Saya termasuk salah seorang di dunia ini yang kurang memiliki kesabaran untuk menunggu. Bagi saya, yang lebih menyukai keteraturan, kerapian, dan ketepatan waktu, pekerjaan menunggu bukan hanya membosankan tetapi merupakan suatu siksaan berat. Saya menjadi gampang uring-uringan & “stress” ketika menunggu, apalagi jika yang ditunggu tiba-tiba membatalkan janjinya. Bentuk “stress” itu tampak dengan gejala “jalan mondar-mandir” dengan muka masam, sering ke toilet, berkeringat. Kalau sudah begitu, biasanya saya tidak mau diganggu sampai yang ditunggu muncul. Ada suatu pengalaman menarik yang kemudian membuat saya menjadi “sedikit” lebih sabar menunggu, walaupun masih dengan muka masam.
Suatu hari, saya dan beberapa rekan imam serta umat membuat janjian untuk mengadakan rekreasi bersama. Kami merencanakan untuk pergi ke daerah pegunungan sekedar menghirup udara segar sambil makan “barbeque” (makan sambil membakar makanan sendiri, entah daging, ikan, sayur, dll.). Karena rekan-rekan imam tahu bahwa saya suka memasak, mereka memberi tugas kepada saya untuk mempersiapkan makanan yang hendak kami bawa. Beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah membuat daftar jenis makanan yang hendak dibawa serta segala macam bumbunya; dan sehari sebelum berangkat rekreasi, saya membeli seluruh keperluan tersebut dan mengemasnya dalam kardus supaya bisa dibawa dengan gampang. Keesokan harinya, saya bangun jam 05.00 untuk memasukan segala kemasan itu dalam mobil agar jam 06.00, jam yang kami tentukan bersama untuk berangkat, kami bisa langsung berangkat. Ternyata, pada jam yang sudah kami sepakati itu baru 2 rekan imam yang muncul dan 3 umat, yang lain belum ada kabar beritanya. Aku mulai gelisah dan gejala “stress”-ku mulai menampakkan diri. Dua rekan imam yang sudah hadir mulai senyum-senyum karena mereka sudah mengenal aku. “Stress”ku semakin parah karena hampir jam 08.00 belum semua hadir. Kami menghubungi teman-teman yang lain lewat telepon, tetapi tidak diangkat. Aku mulai “merah-padam”, dan mengajak teman-teman yang sudah hadir untuk berangkat saja, dan membiarkan yang lain nanti menyusul. Tetapi mereka menghibur aku dan memotivasi aku agar bersabar. Ketika sudah jam 08.30 kami belum juga berangkat, maka aku mengatakan kepada yang lain bahwa aku batal ikut rekreasi karena hatiku sudah tidak “mood” lagi. 10 menit kemudian, mobil yang dikendarai teman-teman yang terlambat memasuki halaman pastoranku. Karena aku sudah tidak berniat pergi, aku biarkan saja mereka bercerita mengemukakan alasan keterlambatannya. Kemudian salah seorang dari teman menjelaskan kepadaku alasan mengapa mereka terlambat begitu lama. Ternyata, ketika hendak berangkat, mereka melihat ada kecelakaan lalu lintas. Mereka menolong membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit terlebih dahulu dan menghubungi keluarga korban. Itulah sebabnya, mereka terlambat dan tidak bisa dihubungi. Akhirnya, kami semua pergi rekreasi bersama-sama meskipun berangkat agak kesiangan.
Setelah kembali dari rekreasi, pada malam harinya saya membuat refleksi tentang peristiwa dan pengalamanku “menunggu”. Refleksiku saya pusatkan pada teman-temanku yang lain yang bisa “mengisi waktu menunggu” itu tanpa “stress”. Selama menunggu itu, mereka bisa bercerita dan bersendau-gurau dengan lepas seolah-olah sedang “tidak menunggu”. Konsentrasi mereka seolah-olah “bukan”pada hal menunggu kedatangan teman-teman yang terlambat, tetapi pada menikmati dan mengisi waktu sambil menunggu. Dengan kata lain, fokus perhatian mereka bukan pada hal menunggu, tetapi pada hal memberi isi waktu menunggu. Hal ini persis berbeda dengan situasiku. Fokus perhatianku saat menunggu ada pada hal menunggu kedatangan orang yang terlambat, sehingga tidak bisa memberi isi pada waktu menunggu. Dan inilah yang membuat aku menjadi tidak sabar dan stress.
Mulai hari Minggu ini, kita memasuki tahun liturgi yang baru, yakni tahun liturgi B. Tahun liturgi dibuka dengan Masa Adven; masa di mana kita menantikan kedatangan Messias; masa penantian; waktu untuk menunggu. Pada masa Adven ini, Gereja mengajak kita bukan untuk menunggu Messias yang belum datang, karena pada kenyataanya Messsias sudah datang. Masa Adven menjadi saat-saat di mana kita diajak untuk mengenang dan memperingati kembali, menghadirkan kembali dalam kehidupan kita saat di mana bangsa Israel menanti-nantikan kedatangan Messias. Sebagaimana halnya pada saat penantian itu bangsa Israel diajak untuk bertobat dan membaharui diri (bdk. Mrk. 1:4, seruan Yohanes Pembaptis pada pertobatan), demikian pula kita. Menghadirkan kembali saat-saat penantian bangsa Israel akan Messias berarti menghadirkan kembali saat-saat seruan pertobatan Yohanes Pembaptis.
Pertobatan dan pembaharuan diri itulah cara memberi isi selama waktu penantian, waktu menunggu. Dan itulah fokus perhatian masa Adven. Fokus pertobatan dan pembaharuan diri masa Adven ini akan dijabarkan secara lebih konkrit dalam bacaan-bacaan Kitab Suci.
Injil Markus pada hari MInggu Adven I mengajak kita untuk mengkonkritkan makna pertobatan dan pembaharuan diri dalam dua ungkapan kunci “menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hamba-Nya” (ay.34) dan “jangan sampai kamu didapatinya sedang tidur” (ay.36). Dua ungkapan tersebut sepertinya hendak mengatakan satu hal yang sama tetapi dengan cara dan titik tolak yang berbeda. Melalui dua ungkapan tersebut kita diajak untuk memahami bahwa pertobatan dan pembaharuan diri bukan semata-mata bercorak batiniah, yang tidak bisa dinikmati orang lain secara langsung; tetapi juga harus bercorak “nyata”, “kelihatan hasilnya”.
Allah Bapa telah memberikan kepada kita pelbagai anugerah yang kita butuhkan. Sadar atau tidak sadar, kita sering melupakan atau membiarkan anugerah itu begitu saja tanpa bertumbuh. Kita bagaikan orang yang menerima talenta, tetapi menguburkannya di dalam tanah karena merasa talenta itu tidak cukup bagi kita atau karena kita“takut” mengembangkannya. Kita melupakan dan membiarkan talenta itu apa adanya, karena kita mau tidur, tidak ada kemauan untuk mengembangkannya.
Ajakan untuk bertanggung jawab dan mempertanggung-jawabkan berarti ajakan untuk mengembangkan apa yang telah Tuhan serahkan kepada kita. Bukan hasil pengembangan itu yang terpenting, tetapi kemauan dan usaha untuk mengembangkannya. Dengan demikian, bentuk konkrit dari pertobatan dan pembaharuan diri ialah perjuangan untuk mengembangkan anugerah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada hari Minggu Adven I ini kita diajak untuk memberi isi penantian kita dengan perjuangan mengembangkan talenta yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing.

Jumat, 21 November 2014

Melayani Yesus sang Raja Semesta Alam dalam sesama

Sejalan dengan semakin berkembang dan matangnya peradaban hidup manusia kita merasakan bahwa tingkat apresiasi atau penghargaan terhadap harkat dan martabat luhur manusia semakin berkembang juga. Dalam konteks masyarakat dimana kita hidup misalnya saja, kita dapat merasakan hal itu dengan adanya aneka issue atau pokok pembicaraan yang aktual dalam masyarakat kita, misalnya: perlindungan terhadap hak-hak anak, perlindungan terhadap para buruh kasar, perlindungan terhadap hak-hak perempuan atau wanita mulai dari hidup dalam keluarga sampai dalam hidup bermasyarakat dan masih banyak lagi contoh yang dapat kita tampilkan.
Situasi tersebut di atas kadang menimbulkan krisis baru dalam kehidupan beriman bagi manusia. Krisis itu misalnya saja muncul dalam pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering muncul sebagai berikut: apakah agama atau ajaran agama masih relevan dalam kehidupan manusia modern? Bukankah pesan yang sering ditemukan dalam ajaran agama tentang perlu dan pentingnya menghargai harkat dan martabat luhur manusia yang diwujudkan dalam usaha pembelaan hak-hak hidup manusia, usaha pengentasan kemiskinan juga sudah menjadi kesadaran umum manusia modern dewasa ini? Bahkan mungkin pertanyaan sebagai berikut: masih relevankah di jaman ini kita berbicara tentang agama kalau pesan yang disampaikan oleh ajaran iman telah kita dapatkan dalam seruan LSM atau NGO.
Injil hari ini memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut di atas. Ada perbedaan yang cukup mendasar dari pesan yang disampaikan oleh iman Kristiani dengan seruan LSM atau NGO. Perbedaan tersebut terletak pada apa yang menjadi alasan dasar atau spiritualitas yang mendasarinya. Memang benar bahwa masyarakat yang mempunyai tingkat peradaban yang sudah dewasa dan matang serta LSM atau NGO juga menyerukan agar manusia semakin hari semakin berani menghargai dan melindungi martabat hidup manusia dan hal yang sama juga diserukan oleh iman Kristiani. Namun spiritualitas atau semangat yang mendasari hal itu seringkali melulu manusiawi belaka. Artinya, alasan dasar yang mendorong masyarakat, LSM atau NGO dalam memperjuangkan semua itu melulu alasan manusiawi, yaitu kesadaran akan tingginya harkat dan martabat manusia saja. Sedangkan iman Kristiani mempunyai spiritualitas jauh lebih mendalam, yaitu: kita perlu menghargai dan melindungi harkat dan martabat hidup manusia bukan hanya karena kesadaran akan keluhuran harkat dan martabat manusia saja, tetapi lebih dari itu iman Kristiani mengajarkan bahwa Tuhan Yesus Kristus hadir dalam diri setiap pribadi manusia, terlebih dalam manusia-manusia yang menderita. Dari kenyataan tersebut , nampak jelas bagi kita bahwa alasan dasar atau spiritualitas yang diajarkan oleh iman Kristiani sungguh lebih berasa dan berasa lebih tinggi karena tidak hanya melulu beraspek humanis tetapi juga mencakup aspek yang lebih tinggi yaitu aspek teologis.
Semangat dasar atau spiritulaitas iman Kristiani yang lebih berasa dan berasa dan berasa lebih daripada sekedar alasan dasar yang bercorak humanistis belaka itu semestinya membuat kita orang-orang yang beriman Kristiani juga memiliki semangat yang lebih besar dalam tindakan belas kasih yang nyata dan merata terhadap sesama, terlebih mereka yang seringkali menderita hidupnya karena selalu disalahkan, dikalahkan dan disisihkan, yaitu suadara-saudari kita yang dimiskinkan dan dipinggirkan. Karena dengan melayani dan memperhatikan mereka, sebenarnya kita juga sedang memperhatikan Tuhan Yesus yang hadir dalam diri mereka.
Sumber:Romo yoyon (gerejafransiskus.com)

TAHU DIRI SEBAGAI PELAYAN....

Ada kecenderungan dalam diri kita untuk cepat berpuas diri bila telah berhasil melakukan suatu tugas atau tanggungjawab, dan setelah itu meminta apresiasi dan tanggapan positif dari pemberi tugas, pimpinan misalnya. Bahayanya kita akan sangat kecewa bila karya dan pekerjaan kita tidak diapresiasi dengan selayaknya.
Untuk hal umum dalam hidup masyarakat hal tersebut dianggap wajar, tetapi tidak dalam konteks kehidupan sebagai pengikut Yesus, apalagi dalam karya pelayanan. Mengapa? Sebab segala sesuatu yang kita kerjakan dan lakukan hanya ekspresi dan penyaluran dari rahmat dan berkat yang telah diberikan Tuhan sendiri. Karena itu sepertinya tidak pantas kita tuntut ucapan terimakasih dan apresiasi dari mereka yang kita layani, apalagi dari Tuhan sendiri.
Kata-kata Yesus “hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” bukan untuk menyepelehkan segala kerja dan jerih-lelah kita. Tetapi menyadarkan kita kepada siapa yang telah memberikan kita kemampuan dan kesempatan untuk suatu tugas dan karya pelayanan. Dan ini penting supaya kita tidak sombong dan angkuh, kalau berhasil, tetapi tidak kecewa dan frustrasi kalau gagal. Karena kita “hanya melakukan apa yang harus kita lakukan”, artinya apa yang telah ditugaskan kepada kita.
Apa anda model seorang pelayan yang selalu sibuk mencari pujian dan apresiasi, atau seorang pelayan sejati, yang dengan rendah hati giat melakukan tugas dan kewajiban dengan penuh sukacita?

Santo Silvester Gozzolini, Abbas dan Pengaku iman

Silvester lahir di Osimo, Italia pada tahun 1177 dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya. Pada masa mudanya ia belajar ilmu hukum di Bologna dan Padua sampai selesai dan menjadi seorang ahli hukum di kota asalnya. Namun kemudian ia melepaskan jabatannya itu dan menekuni bidang teologi untuk menjadi imam di Osimo. Kemudian ia meninggalkan semua miliknya dan keramaian kota untuk menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa yang miskin di Grotta (gua) Fucile.
Dari Fucile, ia pindah ke sebuah biara pertapaan di Monte Fano, Italia. Di sana jugalah ia kemudian pada tahun 1231 mendirikan sebuah biara pertapaan untuk menghimpun semua orang yang menjadi muridnya. Persaudaraan religius mereka terkenal dengan nama 'Ordo Santo Silvester'. Mereka menghayati suatu cara hidup yang keras di bawah panduan aturan-aturan Santo Benediktus, tanpa pernah secara resmi menjadi cabang dari salah satu Ordo Benediktin. Di bawah pimpinan Silvester sendiri selama 36 tahun, Ordo Silvestrin ini berkembang sangat pesat. Selama itu ia berhasil mendirikan 25 buah biara di Italia. Ia wafat pada tanggal 26 Nopember 1261 dalam usia 90 tahun, dan dinyatakan 'kudus' oleh Paus Klemens VIII (1592-1605) pada tahun 1598.

Jangan berkecil hati

Seorang guru Sekolah Dasar membagi kertas kosong kepada seluruh muridnya. Kemudian ia meminta masing-masing anak menulis sebuah angka di kertas tersebut. Setelah semua anak menulis, guru tersebut memerintahkan kepada mereka yang  menulis angka 1 untuk mengangkat kertasnya, lalu beberapa anak yang menulis angka 1 mengangkat kertasnya. Demikian seterusnya sampai angka 9.
Namun ada seorang anak yang dari awal tadi tidak mengangkat kertasnya. Guru bertanya: “ Kenapa  kamu dari tadi tidak angkat kertas?.  Si murid menunjukan kertasnya , ternyata ia menulis angka “0“ (nol), melihat itu teman-temannya tertawa karena cuma ia sendiri yang menulis angka nol. “Mengapa kamu memilih angka nol nak?”, tanya guru. Dengan percaya diri murid menjawab: “Nol memang tidak bernilai Bu, tetapi angka-angka lain yg dipilih teman saya itu akan menjadi BESAR nilainya bila ia mau “menggandeng” angka nol saya yg tak bernilai ini Bu”.
Dalam kehidupan sehari-hari, jangan berkecil hati bila kita dianggap “Nol” oleh orang lain.  Jadikan itu untuk memotivasi diri dan tantangan bahwa dengan kehadiran kita justru akan membuat lingkungan menjadi lebih baik.  Yesus pernah berkata “jadilah garam dunia”, artinya seperti kehadiran “garam” yang menjadikan masakan lebih nikmat, maka kehadiran kita pun diharapkan menjadikan lingkungan kita lebih baik..

Apakah bisa hidup tidak berdosa selama 1 jam saja?

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”.
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak”.
Putri kecil ini kemudian balik memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
“Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”
Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga, nak”.
“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa
dalam 1 jam saja?”
Akhirnya ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar… bisa, nak ”
Anak ini tersenyum lega.
“Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar….”
Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati.
Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini. Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa
yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny.
Hiduplah 1 jam …
tanpa kemarahan,
tanpa hati yang jahat,
tanpa pikiran negatif,
tanpa menjelekkan orang,
tanpa keserakahan,
tanpa pemborosan,
tanpa kesombongan,
tanpa kebohongan,
tanpa kepalsuan…

Lalu ulangi lagi untuk 1 jam
berikutnya.. .

Hiduplah 1 jam DENGAN
dengan kasih,
dengan sukacita,
dengan damai sejahtera,
dengan kesabaran,
dengan kelemahlembutan,
dengan kemurahan hati,
dengan kerendahan hati.

Selasa, 14 Oktober 2014

Pesta Kedelapan Martir Kanada

Sekitar pertengahan abad ke-17, Amerika Utara, yang kini lazim disebut Kanada, menjadi salah satu wilayah misi imam-imam misionaris Serikat Yesus. Ketika itu penduduk asli Indian yang masih kafir dan liar bertebaran mendiami tepi beberapa danau besar yang ada di sana. Wilayah itu sangat luas dan menakutkan karena lebat sekali hutannya. Di situlah enam orang misionaris Yesuit didampingi dua rasul awam asal Prancis merintis karya pewartaan iman Kristen. Mereka itu ialah P. Jean de Brebeuf SJ, P. Gabriel Lalement SJ, P. Charles Garnier SJ, P. Anto nine Daniel SJ, P. Noel Chabanel SJ, P: Isak Joques SJ, Rene Goupil dan Jean de la Lande.

Kedelapan misionaris ini berkarya di antara orang-orang suku Huron yang mendiami wilayah sekitar danau Huron. Orang-orang Huron ini sering kejangkitan wabah pes, menderita kelaparan dan terus-menerus mendapat serangan dari orang-orang suku Irokes yang sangat ganas dan suka berperang. Mulanya orang-orang Huron berencana jahat terhadap Pater de Brebeuf. Ketika beliau mengunjungi rnereka, para dukun menghasut orang-orang Huron lainnya supaya membunuh Pater de Brebeuf. Maksud jahat mereka diketahui oleh Pater de Brebeuf. Maka beliau justru mengundang mereka untuk makan bersama. Ia tidak gentar, malah sebaliknya berterimakasih karena mereka segera ingin mengirimnya dengan cepat ke surga. Karena keberanian dan kebaikan hatinya, Pater de Brebeuf tidak jadi dibunuh. Ia sebaliknya dibantu dalam karyanya, antara lain membangun 'Benteng Santa Maria', gereja dan rumah sakit. Ia dianggap sebagai bapa dan guru mereka.

Orang-orang suku Irokes merasa irihati dan marah melihat kemajuan orang-orang suku Huron. Mereka mencari kesempatan baik untuk melenyapkan nyawa misionaris-misionaris itu. Kesempatan baik itu datang pada suatu hari di bulan Maret 1649. Pater de Brebeuf bersama Pater Gabriel Lalement ditangkap oleh orang-orang Irokes yang sedang berpatroli. Mereka dipukul sampai pingsan dan kuku-kuku jari mereka dicabut. Kedua imam ini tidak mengeluh, bahkan sebaliknya berdoa dan menguatkan hati orang-orang Huron yang ditangkap bersama mereka. Ketika salah seorang Irokes mendengar kata-kata doa kedua imam itu, ia mengambil air yang telah mendidih dan menuangkannya ke atas kepala Pater de Brebeuf sambil mengolok-oloknya: "Cepatlah ke surga! Sekarang kamu telah saya baptis baik-baik." Seorang Irokes lain mengambil obor dan membakar ketiak kedua imam itu. Karena Pater de Brebeuf terus-menerus menegur para penyiksa supaya ingat akan pengadilan ilahi, mereka malah semakin bengis dan beramai-ramai memotong lidahnya, mengiris daging dari tubuhnya, memanggang dan memakannya. Mereka berteriak-teriak: "Kami temanmu, karena itu kami menyiksamu supaya masuk surgamu!" Mereka mengambil lagi jantungnya untuk dimakan dan meminum darahnya supaya menjadi berani seperti imam itu.

Bulan Desember tahun 1649, kepala Pater Charles Garnier SJ dipecahkan dengan Tomahawk ketika ia sedang membantu orang Huron yang hampir mati. Demikian juga Pater Antonine Daniel SJ mati sebagai martir pada tahun 1648 oleh anak panah orang-orang suku Irokes. Sedangkan Pater Noel Chabanel SJ dibunuh di benteng pengungsian Santo Yosef oleh seorang suku Huron yang murtad.
Pater Isaiz Joques SJ bersama dua orang awam pembantunya, yaitu Rene Goupil dan Jean de la Lande dibunuh di tempat yang sekarang di kenal sebagai tempat ziarah Santa Maria di Auriesville, New York, Amerika Serikat. Mulanya Pater Isak didampingi oleh Rene Goupil, seorang bekas frater Yesuit, dan sekarang menjadi sukarelawan awam di tanah misi sebagai dokter. Rene Goupil dibunuh pada tahun 1642 karena memberkati anak-anak suku Huron dengan tanda salib. Ketika itu pun Pater Isak ditangkap. Kuku mereka dicabut dan darah yang mengucur dari jari mereka dihisap oleh penyiksa Indian itu. Anak-anak menusuk-nusukkan potongan kayu membara ke tubuh dua misionaris itu. Yang dibunuh pada waktu itu hanyalah Rene Goupil, sedangkan Pater Isak dipaksa menjadi budak mereka selama 13 bulan. Pater Isak kemudian berhasil meloloskan diri. Melalui New York, ia pulang ke Prancis. Setengah tahun kemudian, ia kembali ke Kanada bersama Jean de la Lande. Tapi nasib sial telah menanti mereka. Keduanya dibunuh oleh orang-orang Indian pada bulan September 1464 karena dianggap sebagai pembawa sial kegagalan panen tahun itu.

Pater Isak adalah imam Katolik pertama yang masuk Amsterdam Baru (kini New York). Dialah yang menemukan danau George dan dikenal sebagai orang pertama yang melayari seluruh sungai Hudson. Pada tahun 1939, negara bagian New York mendirikan sebuah patung besar di tepi danau George untuk menghormati Isak Joques.

Cari Blog Ini