Cari Blog Ini

Minggu, 23 Juni 2013

LITURGI PERKAWINAN DALAM GEREJA KATOLIK

Pandangan umum tentang liturgi
Liturgi adalah kegiatan perayaan umat beriman, dalamnya dikenangkan dan dialami hadirnya Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan manausia. Puncak karya penyelamatan adalah misteri Paska Yesus Kristus. Bagi umat beriman, liturgi adalah puncak dan sumber serta pusat kegiatan Gereja. Liturgi adalah suatu kegiatan perayaan simbolis (sakramental).

Liturgi Perkawinan
Berdasarkan pemahaman umum tentang liturgi, dapatlah dikatakan satu dua pokok pikiran tentang liturgi perkawinan sebagai berikut.

1. Liturgi perkwinan bukanlah perayaan dua orang atau satu keluarga saja, tetapi merupakan perayaan/kegiatan bersama seluruh Gereja, bersama umat beriman di lingkungan/stasi/paroki.

2. Liturgi perkawinan bukanlah hanya tindakan mengenangkan kehadiran Allah yang setia menyelamatkan dan mempersatukan dengan cinta di masa lampau, tetapi juga merupakan suatu kenangan yang membuat peristiwa itu hidup dan dialami kembali. Dengan “merayakannya” diharapkan inti misteri itu dihayati dalam hidup harian selanjutnya dan akhirnya mencapai kesempurnaannya dalam surga. Hendaknya diingat bahwa di surga orang tidak mengawinkan dan tidak juga dikawinkan, tetapi akan mengalami persatuan cinta kasih yang membahagiakan dengan Allah dan semua orang kudus dalam kebadian.

3. Peristiwa utama yang dirayakan dalam liturgi perkawinan adalah misteri Paska Yesus Kristus, pada peristiwa mana kedua mempelai mengambil bagian secara khusus sebagai suami-isteri (mati dan bangkit bersama Kristus bagi satu sama lain. Dalam hal ini akan nampak inti kesatuan antara suami dan istri.

4. Liturgi perkawinan bukanlah suatu momen biasa sebagai hanya salah satu bagian dari seluruh kehidupan mempelai, tetapi merupakan “saat inti” yang dalam arti tertentu merangkum/meliputi seluruh kegiatan Gereja khususnya kegiatan kedua mempelai; di satu pihak saat ini menjadi puncak dari seluruh kegiatan sebagai pacar-tunangan, dan di pihak lain menjadi sumber rahmat dan kekuatan untuk seluruh kegiatan sebagai suami isteri nanti. “Hendaknya diusahakan agar upacara liturgi perkawinan di gereja janganlah dirasa sebagai formalitas gerejani belaka, sedangkan upacara adat yang menyusul dianggap sebagai puncak perayaan yang sesungguhnya. Umat harus dididik agar menghindarkan penyelenggaraan persta mewah yang menelan biaya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab sakramen perkawinan tidak diberikan oleh Kristus sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri serta meningkatkan gengsi keluarga yang bersangkutan, melainkan untuk memberi restu dan dukungan kepada mempelai baru yang siap sedia mengemban tugas pelayanan suci kepada Gereja dan masyarakat.”[1]

5. Liturgi perkawinan bukanlah suatu upacara sipil biasa, atau sekedar suatu perayaan demi memenuhi persyaratan hukum, tetapi merupakan suatu perayaan simbolis (sakramental) di mana para mempelai mencicipi pengalaman persatuan dan cinta surgawi bersama Allah, persatuan cinta antara Yesus Kristus dan Gereja. Suasana persatuan itu harus dirasakan sebagai pengalaman yang sungguh menyelamatkan. Kesempurnaannya akan dialami di surga yaitu kebahagiaan abadi dalam persatuan dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus bersama segala orang kudus. Sebagai suatu perayaan pengalaman iman, liturgi perkawinan tidak boleh menjadi hanya suatu kesempatan didaktik-kateketik. Dengan kata lain, dalam liturgi perkawinan tidak boleh diberikan penjelasan panjang lebar tentang arti/jalannya upacara kepada mempelai. Para mempelai sudah harus tahu sebelumnya (sudah memperoleh pendidikan dan katekese liturgi perkawinan sebelum perayaan) sehingga dalam liturgi perkawinan mereka dapat “mengalaminya” dengan lebih penuh, atau mereka dapat dengan lebih sadar merayakan dan menghayatinya. 

Oleh karena itu baiklah lebih dahulu dipelajari susunan upacara atau liturgi perkawinan serta arti dari bagian-bagian perayaan itu. Bila tiba waktunya sebaiknya dibuat “latihan” menjelang perayaan. Latihan seperti itu tidak hanya membantu memperlacar jalannya perayaan tetapi lebih dari itu menolong para mempelai dan pelayan-pelayan khusus lainnya untuk mulai “meresapi” dan “menghayati” makna dari liturgi perkawinan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar