Cari Blog Ini

Kamis, 05 Desember 2013

PERSIAPAN YANG BERMUTU, BERTOBATLAH SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

Oleh: RD. Fransiskus Nipa
HARI MINGGU  ADVEN KEDUA
Inspirasi Bacaan: Yes. 11:1-10; Rom. 15:4-9; Mat. 3:1-12.

Sejak Hari Minggu Adven I yang lalu kita memasuki Masa Adven sebagai masa yang intensif untuk merenungkan Kedatangan Tuhan yang berdimensi 3: kedatangan yang pertama yakni peristiwa kelahiran Yesus 2000-an tahun yang lalu, kedatangan Tuhan yang kedua kalinya (akhir jaman) dan kedatangan Tuhan yang secara sakramental akan kita rayakan pada HR Natal nanti, tgl 25 Desember. Terdapat 2 orang suci yang menjadi pola dan contoh kita dalam memaknai Kedatangan Tuhan yakni Yohanes Pembaptis (Hari Minggu Adven II dan III) dan Bunda Maria (Hari Minggu Adven IV - menjelang HR Natal).

Bacaan Injil pada Hari Minggu Adven II ini menggaris-bawahi suara kesaksian dari Yohanes Pembaptis: BERTOBATLAH SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT. Sesungguhnya, dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya melalui nubuatnya 700 tahun sebelumnya: Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun, persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya ! 

Jalan pertobatan melekat pada identitas diri Yohanes Pembaptis dan menjadi “warna dasar” seluruh kesaksian hidupnya. Dikatakan penginjil Matius, Yohanes itu memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Kepadanya berdatangan penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Dan sambil mengakui dosanya, mereka semua dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Namun ketika melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah dia: Hai kamu keturunan ular beludak, siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat lolos dari murka yang akan datang ? Maka hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan !

Bagi Yohanes Pembaptis, dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tuhan, membangun pertobatan menjadi sebuah keniscayaan. Mengapa demikian ? Karena Yohanes Pembaptis, sebagai nabi terakhir dari Perjanjian Lama, menyadari betul jatidiri Mesias yang akan datang, yang sudah dinubuatkan para nabi sebelumnya. Bacaan I hari ini, sejak dari kalimat pertama menegaskan, sebuah tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh Tuhan akan ada padanya. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan (Yes. 11: 1-4). 

Rasul Paulus kepada umat Roma, melalu bacaan II mengatakan, Ia akan menciptakan damai yang menyeluruh, membangun kerukunan yang didasarkan atas sikap iman yang sama, yaitu menerima Kristus, Penyelamat dan memuji Allah dalam kebaikanNya (Rom. 15:6). Bahkan Yohanes Pembaptis bersaksi, aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang akan datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan tali kasutNya.

Menjalani masa adven, sebelum kita merayakan HR Natal ini, berarti kita berucap amen dan ya untuk masuk dalam “padang gurun” kehidupan kita: dalam hati, dalam keluarga, di lingkungan kerja kita, dalam masyarakat, di tengah umat manusia; di sanalah kita gaung-kan secara lantang lagi tegas seruan pertobatan Yohanes Pembaptis. Gunung-gunung egoisme dan ketidak-adilan hendaknya diratakan; lembah-lembah keputus-asa-an kiranya perlu ditimbun dengan pengharapan yang pantang surut; dan mari habitus/perilaku yang bengkok kita luruskan. 
Mengakhiri renungan kita pada Hari Minggu Adven ke-2 ini, ayo kita camkan kembali sebuah artikel Anthony de Mello, SJ dalam buku Burung Berkicau sbb: Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: ‘Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!’ Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas. Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. 

Doaku satu-satunya sekarang adalah: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!. Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.
Selamat ber-adven, Tuhan memberkati ! 

TERJATUH DAN TAK BISA BANGKIT LAGI

Kita semua pernah terjatuh sesekali, bukan hanya secara fisik tapi juga secara emosional. Dan membangkitkan diri kita kembali, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Kita tidak membutuhkan bakat khusus untuk menyerah atau berbaring di tengah jalan kehidupan dan berkata, "Aku berhenti!" Faktanya, jalan menuju keputusasaan dan kekecewaan yang kronis berawal dari sebuah hari yang normal yang berakhir dengan timbunan kekecewaan-kekecewaan kecil. Kekecewaan memunyai definisi "gagal untuk memenuhi atau memuaskan harapan dan keinginan", dengan kata lain, ketika kita menentukan diri kita untuk berharap akan sesuatu dan harapan itu tidak terpenuhi, kita menjadi kecewa. Kita merasa tertipu atau dikhianati. Marilah kita hadapi kenyataan, tidak ada seorang pun dari antara kita yang akan pernah sampai ke tempat di mana kita tidak pernah lagi mengalami kekecewaan. Kita tidak bisa berharap untuk terlindung atau kebal dari setiap hal kecil. Kekecewaan adalah salah satu fakta dari kehidupan yang harus dihadapi oleh semua orang. Sering kali banyak orang membiarkan kekecewaan mereka terus menumpuk dan akhirnya menjadi terpuruk tanpa mengerti apa penyebabnya. Mereka kelihatannya tampak baik-baik saja, tapi sekarang mereka jatuh terbaring di jalan kehidupan tanpa tahu bagaimana terjadinya dan apa sebabnya. Banyak orang tidak menyadari bahwa masalah besar yang menghancurkan mereka ini dimulai sudah lama sebelumnya dengan beberapa kekecewaan kecil yang gagal mereka selesaikan.

Rasa sakit yang mendalam tidak datang begitu saja dari kekecewaan yang besar, seperti ketika kita gagal mendapatkan pekerjaan atau promosi yang kita inginkan. Rasa sakit emosional yang dalam bisa datang dari beberapa gangguan dan frustasi kecil. Itulah mengapa kita perlu tahu bagaimana caranya mengatasi kekecewaan kecil sehari-hari dan memunyai perspektif yang benar terhadap semua itu. Jika tidak, mereka dapat menjadi tidak terkendali dan meledak melebihi batasan.

Contohnya, bayangkan Anda memulai hari Anda dengan rencana dan jadwal di kepala Anda, dan Anda sudah cukup frustrasi dengan itu. Dalam perjalanan Anda ke kantor, jalanan yang macet membuat Anda terlambat. Lalu, ketika Anda akhirnya mulai bekerja, Anda mendengar seseorang di kantor menyebarkan gosip tentang Anda. Anda membuat kopi untuk menenangkan diri Anda, tapi kopinya tak sengaja tertumpah di baju Anda, yang hanya membuat masalahnya semakin rumit karena Anda akan menghadiri pertemuan (meeting) dengan atasan dan Anda tidak punya waktu untuk berganti pakaian!

Menghadapi hal-hal itu satu persatu secara terpisah memang terasa mengganggu, tapi ketika mereka semakin menumpuk, itu akan menjadi tak tertahankan. Lalu, dalam waktu yang hampir bersamaan, Anda mendapat laporan dari dokter tentang sesuatu hal yang tidak Anda harapkan. Dan di puncaknya, tunangan Anda menelpon, mengancam untuk membatalkan pernikahan Anda dengannya walaupun semua undangan telah dikirim! Bagaimana Anda akan menanggapinya? Apakah Anda akan tetap beriman, atau menemukan diri Anda penuh ketakutan dan sedang mengarah menuju kekecewaan dan keputusasaan? Semua kekecewaan dan frustasi kecil terhadap kemacetan, gosip di kantor, dan kopi yang tertumpah telah menjadi sebuah bencana. Dan ketika Anda menghadapi beberapa masalah serius seperti penyakit atau hubungan yang gagal, Anda menemukan diri Anda tidak siap untuk menghadapi semua itu. Jadi Anda terjatuh, menuju ketiadaan pengharapan dan keputusasaan.

Apa yang Anda lakukan saat kekecewaan datang? Saat kekecewaan memberatkan Anda seperti sebuah batu besar, Anda bisa membiarkannya menekan Anda sampai Anda merasa patah semangat, bahkan menjadi benar-benar menyerah, atau Anda bisa menggunakannya sebagai batu loncatan kepada hal-hal yang lebih baik. Belajarlah untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda bisa melakukannya! Hadapi kekecewaan dan cepatlah membuat penyesuaian yang dibutuhkan untuk menangani situasi itu. Tuhan memunyai hal-hal yang lebih baik untuk Anda, dan Dia akan menolong Anda. Dia mengatakan dalam Ibrani 13:5, "...Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Daripada berkonsentrasi pada semua masalah Anda dan menjadi putus asa, arahkan fokus Anda kepada Tuhan dan renungkan janji-janji-Nya kepada Anda. Anda mungkin telah terjatuh, tapi Anda tidak harus tetap tergeletak. Tuhan selalu siap, mau, dan mampu untuk mengangkat Anda kembali. Bangkitlah, walaupun itu berarti Anda membutuhkan waktu dan proses.

Penulis artikel: Joyce Meyer

Penantian Panjang

Sebelum Natal tiba, biasanya anak-anak kami menjadi 'gila'. Selama mereka menunggu datangnya Natal, pintu ruang bawah kami selalu terpasang sebuah tanda yang melarang anak-anak kami turun ke bawah. Dan setiap malam, Mama dan Papa selalu menghilang ke bawah. Dan, anak-anak akan mendengar dentuman palu dari ruang bawah. Mereka tahu di bawah sedang dipersiapkan sesuatu untuk Natal, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang sedang dipersiapkan. Pada tahun pertama, kejutan yang mereka nantikan adalah sebuah rumah boneka yang ditemukan oleh anak perempuan kami di bawah pohon Natal kami setelah ia bangun tidur. Kami yang membuatnya. Pada tahun berikutnya, skenario yang sama - ruang bawah tanah yang tertutup, orang tua yang selalu lenyap, suara - suara dentuman.. Dan Anda tahu, mereka sungguh-sungguh mengganggu kami dengan keingintahuan mereka yang besar, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Tunggu dulu.. tidak boleh sebelum hari Natal. Kemudian, anak lelaki kami yang pertama menerima tempat tempat penyimpan barang / gudang mini yang kami buatkan. Tahun berikutnya - mereka kembali frustrasi untuk menunggu dan tidak mengetahui sesuatu apa pun. Dan pada pagi hari waktu Natal, anak lelaki bungsu kami menerima 'toko serba guna'. Mereka suka sekali - dan masih suka - apa yang kami buatkan untuk mereka. Tetapi, mereka sangat tidak suka menunggu!!! Sekarang, Bapa di surga sedang mengerjakan sesuatu untuk Anda yang pasti Anda sukai, tetapi Anda harus menunggu untuk memperolehnya. Dan itu membuat Anda gila. Bahkan, Anda mungkin mulai panik dan mempertimbangkan untuk melakukan hal dengan cara Anda daripada menunggu cara Allah dan waktuNya. Dengan jutaan anak-anakNya, yang sekarang hidup dengan konsekuensi ketidaksabaran mereka, berharap mereka seharusnya menunggu jawaban dari Allah.
Pengkhotbah 3:11 mengatakan hal ini dengan sangat sederhananya, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,.." Masalah: waktu Allah hampir setiap kali lebih lambat dan lama daripada waktu kita. Tetapi kita semua tahu, bayi yang lahir prematur tidaklah sesehat bayi yang lahir sesuai dengan masanya. Kebanyakan dari kita telah menerima pemecahan masalah yang juga prematur dibandingkan dengan menantikan jawaban dari Tuhan yang sudah direncanakan sepenuhnya.
Mungkin akan lebih mudah bagi Anda jika Anda mengerti mengapa Anda harus menunggu waktu dan rencana Tuhan. Pertama, dalam masa penantian ini, Ia membuat segalanya sempurna. Allah akan terus menunggu sampai semuanya siap untuk Anda dan Anda siap untuk itu. Dalam 2 Samuel 22:31, Daud berkata, "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna ". JawabanNya patut dinanti-nantikan, sebab ketika masanya tiba, jawabanNya adalah sempurna dalam segala cara. Sempurna untuk Anda, sempurna untuk orang-orang yang Anda kasihi, sempurna bagi orang-orang yang merasakan pengaruhnya, sempurna untuk sekarang dan sepanjang hidup Anda. Hanya Allah saja yang dapat membuat sesuatu itu sempurna - dan itulah yang sedang dikerjakanNya ketika Anda menunggu. Jika anak-anak kami masuk ke dalam ruang bawah tanah dan melihat apa yang sedang kami buat, yah.. semua akan menjadi kekecewaan.
Alasan kedua adalah, dengan menunggu Allah membuat Anda semakin kuat. Apa yang kita pedulikan hanyalah hasil, tetapi Allah memperdulikan proses. Dia dapat memberikan apa yang Anda inginkan dalam sekejap, tetapi Anda akan menjadi orang yang sama dan menghancurkan semuanya. Jadi, untuk memperoleh hasil akhirnya, Allah membawa Anda untuk melalui sebuah proses yang akan membuat Anda menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dan hal itu jauh lebih penting daripada kebutuhan akan jawaban itu sendiri!
Alasan yang lain mengapa Anda menunggu jawabanNya: Allah membuatnya luar biasa! Anda mungkin berpikir waktunya telah habis. Tidak akan ada sesuatu yang terjadi dengan waktu yang tersisa! Ingat, Ia adalah Tuhan yang telah menyelamatkan satu bangsa dalam semalam dan seluruh dunia dalam 3 hari! Ketika Allah melakukannya, hal itu menjadi sangat luar biasa, dan me njadi lebih luar biasa lagi karena apa yang terjadi dari sesuatu yang sesungguhnya tidak memungkinkan. Mukjizat. Bapa sedang merencanakan sesuatu untuk Anda yang akan Anda sangat sukai, dan yang akan membuat Anda lebih mengasihi Dia. Masa penantian merupakan salah satu bagian dari rencanaNya untuk menjadikan apa yang direncanakanNya indah - pada waktuNya. Hal itu sangat patut dinanti-nantikan!

Santo Fransiskus Antonius, Pengaku Iman

Fransiskus Antonius lahir di Lucera, Apulia, Italia pada tahun 1681. Nama kecilnya ialah Antonius Yohanes Nikolas dan dipanggil dengan nama Yohanie. Ayahnya, Fasani, seorang petani miskin di daerah itu. Tatkala Yohanie berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia. 
Dengan itu ia tidak begitu dalam mengalami pendidikan dan kehangatan cinta seorang ayah di dalam keluarga. Namun hal itu dialaminya kembali ketika ibunya menikah lagi dengan seorang petani di situ. Ayah tirinya sangat baik hati dan mendidiknya sungguh-sungguh seperti anak kandungnya sendiri. Atas bimbingan ayah tirinya, Yohanie dapat berkembang baik dan kemudian masuk sekolah dasar di Lucera. Setelah menamatkan studinya Yohanie masuk biara di Lucera atas kehendaknya sendiri yang direstui kedua orangtuanya.

Pada usia 15 tahun ia sudah mengenakan jubah novisiat dan tinggal di kota Monte Gargano. Pada tahun 1707 ia ditahbiskan menjadi imam di kota Asisi. Kemungkinan pada waktu itulah ia mengambil nama 'Fransiskus Antonius'. Setelah menjadi imam ia masih melanjutkan studinya dalam bidang filsafat. Berkat ketekunan dan kecerdasannya maka dalam waktu singkat ia dapat menyelesaikan pelajarannya. Selanjutnya ia menjabat dosen filsafat di Kolese Lucera, sambil berkarya melayani umat. Ia giat berkotbah demi pengembangan iman umatnya dan rekan sebiaranya.

Masa tuanya dihabiskan di Lucera. Keberhasilan hidupnya tidak terletak pada jabatannya sebagai dosen yang terkenal, tetapi karena cinta kasih dan pelayanannya yang tulus. kepada umatnya. Ia pun sering berkotbah di Apulia. Dengan aktif ia mengumpulkan dana bagi kaum miskin dan menghibur para tahanan yang menghadapi hukuman mati. 

Meskipun berbagai kesibukannya, ia tetap menyediakan waktu untuk menerima orang-orang yang datang untuk meminta nasehatnya. Umatnya sungguh mencintai dia: menerima dia apa adanya, kebaikan dan kekurangannya. Fransiskus sering mengajak umatnya untuk berdoa rosario bersama, berziarah dan mengadakan novena. Ia wafat pada tahun 1742.

Arti dari Salib Terbalik

Apa yang anda pikirkan saat melihat lambang salib terbalik?

Dalam era modern, salib terbalik kerap digunakan sebagai lambang Satanist (pengikut Gereja Setan), simbol pemberontakan, atau setidaknya untuk mengejek Kekristenan, yang umumnya berlambang salib tegak. Dulu juga pernah beredar foto Beato Paus Yohanes Paulus II yang sedang duduk di kursi dengan lambang salib terbalik. 

Mereka yang tidak mengerti kemudian menganggapnya sebagai bukti bahwa Sri Paus adalah Antikristus dan Gereja Katolik sebagai buah karya Setan. Ini membuat banyak orang Katolik kemudian bimbang.

Namun ternyata, salib terbalik memiliki makna yang sangat indah dan sangat Katolik, tanpa ada sedikitpun makna jahat di dalamnya!

Dalam tradisi Katolik, salib terbalik disebut juga Salib Santo Petrus. Ini karena, saat hendak dimartir di atas kayu salib, Santo Petrus Rasul menolak untuk disalibkan tegak, sebab ia merasa tidak pantas disamakan dengan Tuhannya. Petrus meminta untuk disalibkan terbalik sebagai bentuk kerendahhatian dan penghormatan kepada Kristus.

Selain itu, kita juga ingat bahwa Santo Petrus merupakan Paus pertama Gereja Allah. Maka tidaklah aneh jika beberapa kursi kepausan memiliki ukiran salib terbalik. Ukiran ini tidak lain dan tidak bukan hanya mau menandakan bahwa kursi tersebut adalah kursi Paus.

Tentunya, lambang salib terbalik sudah jarang kita temukan saat ini, sebab maknanya sudah banyak bergeser. Akan tetapi, harapannya adalah, bila anda berkesempatan mengunjungi gereja-gereja tua di mana di dalamnya terdapat lambang salib terbalik, anda tidak perlu lagi merasa bimbang, takut diejek non-Katolik, atau goyah imannya.

Sebab, MAKNA ASLI dari salib terbalik adalah SIKAP RENDAH HATI dan PENGHORMATAN terhadap Kristus yang tersalib.

Spiritualitas Adven

Siap siaga menantikan Tuhan (Luk 21:34, Mat 24:27-44)
Sikap hormat yang mendalam (Yoh 1:1-18)
Sikap lebih memahami sejarah keselamatan (? Sejarah Keselamatan)
Kerinduan mendalam akan Kristus (Mzm 43:2, Mzm 63:2, Mzm 130:5)
Sikap optimis, penuh harapan dan tobat (Luk 1:46-55, Rom 13:11-14, Yoh 1:23)
Bercermin pada 3 tokoh :Yesaya (Yes 7:14, Yes 9:1-6); Yohanes Pembaptis (Mat 3:1-12, Yoh 1:19-28) dan Maria (Luk 1:26-38)

Lama persiapan masa adven : 4 minggu, dibagi 2 :
2 minggu awal : Adven eskatologis, menantikan kedatangan Tuhan yang kedua
2 minggu yang kemudian : Persiapan menuju Natal, teks-teks KS pendahuluan sebelum kelahiran
Yang khas dari masa Adven :
*  Warna liturgi : Ungu, masa pertobatan, masa yang baik untuk melakukan puasa, renungan dan refleksi, rekoleksi dan retret.
* Dalam Ekaristi : Kemuliaan tidak dinyanyikan.
* Dilakukan renungan-renungan bersama di lingkungan-lingkungan, dengan tema-tema adven yang ditentukan oleh Uskup setempat.
* Corona : Lingkaran Adven, memiliki lambang-lambang :
* Lingkaran : melambangkan Cinta Tuhan yang tak berkesudahan, selain itu juga melambangkan penantian penuh harapan akan keselamatan dan kebahagiaan dari manusia
* Daun Cemara warna hijau : lambang harapan manusia
* Pita ungu : lambang pertobatan
*  4 Lilin : melambangkan 4 minggu masa adven :
1. Lilin I : 
Lilin Nubuat Para Nabi. Kedatangan Mesias yang telah direncanakan Allah dan telah diramalkan oleh para Nabi
2. Lilin II :
Lilin Betlehem (Mikha 5:1). Awal penggenapan seluruh rencana keselamatan dari Allah, tempat kelahiran Penebus.
3. Lilin III : 
Lilin Gembala. Tuhan datang bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan; Tuhan sebagai gembala umatNya
4. Lilin IV :
Lilin Malaikat. Kabar Sukacita : kepada keluarga kudus dan kepada para Gembala.
Makna simbolis dari lingkaran Adven sebaiknya ditopang dengan pilihan materi yang cocok dan bisa melukiskan makna simbol itu. Maka, perlu kita perhatikan kualitas materinya. Misalnya, sudah sepantasnya bahan-bahan yang dipakai adalah bahan …asli, alami, sesuai dengan makna perlambangannya. Jadi, janganlah memilih bahan-bahan imitasi (lilin listrik, daun plastik), usahakan yang asli dan segar (tidak kering/kotor/berdebu, daun tidak diganti bunga/buah/ranting, dsb).
Bagaimana penggunaannya? Bisa saja lingkaran Adven hanya dianggap sebagai asesori atau dekorasi untuk mendukung Masa Adven. Mungkin hal itu belum cukup. Sebaiknya diadakan juga ritual khusus alias tindakan simbolis untuk atau dengan lingkaran itu. Misalnya, satu per satu pada setiap awal pekan (Minggu) lilin itu dinyalakan sebagai lambang makin memuncaknya harapan dan menambah cahaya hingga kedatangan Sang Cahaya. Penyalaan itu mengungkapkan kedatangan Kerajaan Allah yang setahap demi setahap. Ketika menyalakan, kita mengungkapkan harapan kita akan Kerajaan Allah itu dan komitmen kita untuk mewujudkannya di dunia ini.
Sejak semula memang lingkaran Adven digunakan untuk kegiatan devosional di rumah-rumah keluarga. Kemudian dimasukkan dalam gedung gereja dan menjadi bagian liturgi. Hingga sekarang pun kita bisa melihat praktek itu baik dalam rumah keluarga maupun gedung gereja. Namun, pihak pimpinan Gereja (Takhta Suci) sendiri tidak mewajibkan penggunaan lingkaran Adven dalam perayaan-perayaan liturgis selama Masa Adven.

Kreativitas dan penggunaan lingkaran Adven di rumah dan gereja bisa saja dibedakan. Misalnya sebagai berikut:
Di rumah-rumah:
- ukuran lingkarannya sesuai dengan ruangan; …
- kreativitas bahan lebih terbukac dinyalakan dalam suatu doa bersama seluruh keluarga pada Sabtu petang, menjelang gelap.
Di gereja:
- ukuran yang cukup bisa dilihat banyak umat, sehingga simbolisasinya lebih hidup;
- warna lilin semuanya putih, bermakna kemuliaan, kegembiraan, kebangkitan;
- bisa juga dinyalakan dalam suatu ritus sederhana di bagian awal Misa pada setiap awal pekan (Minggu), bukan sekedar dinyalakan oleh putra altar atau koster.

Minggu Adven Pertama

Oleh:  P. Wilhelmus Tulak, Pr
HARI MINGGU PERTAMA ADVEN
Inspirasi Bacaan: 
Yes. 2:1-5;  Rm. 13:11-14a;  Mat. 24:37-44

Segenap pencinta  “Ber-Kat” yang dikasihi Tuhan Yesus,

Sebagai Pastor Paroki Katedral yang baru, perkenankanlah kami datang menyapa seluruh umat Paroki Katedral, khsususnya yang sering membeca “Ber-Kat” lewat sebuah Renungan singkat. 

Persis pada saat kita mulai memasuki dan menjalani Masa Adven. Sebagaiamana kita pahami bersama masa Adven berlangsung selama empat minggu yang digambarkan lewat empat lilin lingkaran adven. 

Adalah suatu kenyataan dan tantangan bagi kita umat Katolik, sebab pada saat kita sedang menjalani Masa Adven, saudara/I kita dari berbagai denominasi gereja sudah banyak yang merayakan natal dengan menyebarkan undangan untuk ikut brpesta natal. Muncul pertanyaan, apa arti pentingnya Masa Adven dalam gerreja kita, khususnya bagi kita umat Katolik, sehingga kita tidak  boleh mengabaikan dan melewatkan masa adven.  
Yang pasti perayaan Natal bukanlah perayaan HUT Yesus. Tidak ada satu pun orang tahu kapan Yesus lahir. Kitab Suci pun tidak menginformasikannya. Diperkitakan tanggal 25 Des adalah tanggal yang disepakati umat Kristen pada saat orang-orang Eropah berlomba-lomba menjadi Kristen, khususnya yang berada dalam wilayah kekaisaran Roma. Perayaan Natal adalah perayaan Karya Penyelamatan Tuhan yang terjadi melalui perjumpaan secara personal dengan Yesus maupun lewat  hidup menggereja. 
Oleh karena itu masa adven mempunyai peranan yang sangat pernting dalan hidup kita sebagai orang Katolik. Lewat masa adven kita dituntun Gereja untuk mempersiapkan hati  dan bathin kita, agar pada saat kita merayakan Natal sebagai puncak Masa Adven kita sungguh-sungguh merasakan lawatan Tuhan pada diri kita,  umatnya. Rasul Paulus berkata:” Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselatamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang, Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbutan kegelapan dan mengenakan perlengkaoan senjata terang ( Rom13,11-12).  
Dalam situasi yang sama Nabi Yesaya berkata: “Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berrjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem. Ia akan menjadi hamim anatara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa (Yesaya 2,3a-4a.)

Singkat kata marilah kita menjalani masa Adven dengan sikap mawas diri, berusaha menahan diri dari segala godaan konsumtif dan menghindari perayaan-perayaan Natal yang cenderung glamour,  agar kita dapat kembali menemukan diri kita yang sesungguhnya  di hadapan Tuhan dan merasakan serta menikmati akan kuasa kasihnya yang membuat kita semakin bemartabat dan memiliki martabat sebagai anak-anak Tuhan.  

Marilah kita dalam masa Adven menemukam keheningan Betleham dalam keheningan bathin kita masing-masing,  agar Yesus kembali lahir secara baru dan membaharui  kehidupan kita. 

Selamat menjalani Masa Adven yang penuh rahmat keselamatan. Tuhan memberkati.

Arti dari Lambang nimbus

Nimbus adalah lambang kemuliaan yang digunakan pada lukisan atau gambar yang biasa bentuknya bulat. Nimbus itu biasanya digambarkan pada orang-orang kudus. 

Coba perhatikan gambar nimbus pada gambar Yesus, Maria atau orang kudus lainnya. Gereja meyakini para kudus ini sudah mulia di dalam surga.

sumber: liturgikatolik.com

PENGUMUMAN PERKAWINAN( TANGAL 30 N0v -01 Des 2013


 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

*  Hugo Rahmat Saputra & Tinny Hamnto  
(Pengumuman III)

* Surhaja Hadi Winata & Heldy Jakem  Precelly T. 
(Pengumuman II)

* Erwin Kontessa & Marziela 
(Pengumuman I)

* Setyawa Hasym & Evaliana 
(Pengumuman II)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Kisah Balon Merah

Seorang bapa memiliki dua orang anak. Setiap kali bila mereka memiliki waktu bebas, maka ia akan membawa kedua anaknya ke lapangan luas dan melepaskan balon-balon ke udara. Anehnya, balon-balon yang dilepaskan itu semuanya berwarna merah. Setiap kali mereka datang ke lapangan itu pasti balon merahlah yang dilepaskan.
Suatu saat sang ayah ditugaskan untuk bekerja di kota lain. Pada saat hendak meninggalkan rumah ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa bila mereka sungguh amat merindukan kehadiran sang ayah, maka mereka hendaknya melepaskan balon merah agar ditiup angin ke langit lepas. Dan dengan melihat balon tersebut sang ayah bisa mengetahui kalau mereka sedang merindukan kehadirannya.

Ternyata kepergian sang ayah bukanlah suatu perpisahan yang singkat. Kedua anak tersebut menanti dengan penuh rindu, dan berulang kali melepaskan balon merah ke udara. Namun tetap saja tak berguna karena ayahnya yang bekerja di tempat yang jauh tak pernah mampu melihat balon yang dilepaskan tersebut.

Suatu hari, kedua anak tersebut secara sembunyi-sembunyi sekali lagi melepaskan balon merah. Para tetangga merasa begitu iba dan terharu melihat betapa besar kerinduan kedua anak tersebut untuk bertemu sang ayah. Karena itu semua tetangga lalu ramai-ramai membeli jutaan balon dan menjadikan saat itu sebagai saat istimewa bagi warga tetangga tersebut. Semua beramai-ramai menuju lapangan luas dan melepaskan jutaan balon merah ke udara. 

Ke mana saja mata memandang, yang kelihatan adalah warna balon merah yang menakjubkan. Keajaiban balon merah tersebut ditangkap oleh seorang reporter. Dan...tatkala melihat berita keajaiban tersebut, sang ayah tahu bahwa kedua anaknya sedang merindukan kehadirannya, dan dengan segera melepaskan kesibukannya untuk kembali memberikan kasih sayang kepada kedua anaknya tersebut. Balon merah sungguh telah menjadi sarana yang menyatukan mereka kembali.

Kitapun memiliki kerinduan akan kehadiran Cinta Tuhan dalam diri kita dan hidup kita. Apakah kitapun sering melepaskan balon merah sebagai ungkapan tanda kerinduan kita akan kehadiran Bapa di surga??

Santo Sabas, Abbas dan Pengaku Iman

Sabas lahir di Mutalaska, dekat Kaisarea, Kapadokia pada tahun 439. Semasa remajanya ia masuk biara Basilian yang dipimpin oleh Santo Eutimos Agung. Setelah ia menjadi seorang pertapa yang dewasa dan mempunyai banyak pengalaman, ia mendirikan Laura (semacam tempat pertapaan) Mar Saba yang terletak antara Yerusalem dan Laut Mati. Sebuah Laura dihuni oleh sekelompok rahib yang menjalani hidup pertapaan secara terpisah-pisah di sekitar gereja. Karena beberapa dari rekan rahibnya menentang aturan-aturannya dan menuntut kehadiran seorang imam sebagai abbas mereka, maka ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 491. Ia sangat bijak dalam memimpin para rahib, sehingga pada tahun 494 ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi dari semua biara yang ada di Palestina. Sabas dengan gigih membela ajaran Konsili Kalsedon dan berani menegur kaisar sehubungan dengan berbagai ajaran sesat yang berkembang di Kekaisaran Konstantinopel. Dua kali ia menghadap kaisar di istana kekaisaran untuk menentang ajaran-ajaran sesat itu.
Pertapaan Mar Saba yang didirikannya sampai kini dihuni oleh rahib-rahib dari Gereja Ortodoks Timur yang menghayati suatu cara hidup tapa Yang keras dan sederhana. Konon biara itu pernah diperbaiki oleh pemerintah Rusia pada tahun 1840. Sabas meninggal dunia dalam usia 94 tahun pada tanggal 5 Desember 532.

Santa Bibiana, Perawan dan Martir

Bibiana berasal dari sebuah keluarga Kristen yang seluruh anggotanya mati sebagai martir. Ayahnya, Flavianus, yang berpangkat Prefek kota Roma, dipenjarakan oleh Kaisar Yulianus dan menemui ajalnya di sana pada tahun 360 karena berbagai penderitaan. Ibunya, Daprosa, mula-mula ditahan di rumah bersama kedua anaknya: Bibiana dan Demetria.  Setelah beberapa lama ia pun mati dipenggal kepalanya. Tinggallah Bibiana bersama adiknya, Demetria. Kedua gadis tak berdosa ini dipenjarakan dalam sebuah sel yang sempit, gelap lagi kotor, dan tidak diberi makanan sedikit pun. Dengan penyiksaan itu diharapkan mereka akhirnya menyangkal imannya.
Namun perhitungan penguasa itu meleset. Kedua kakak-beradik itu tetap teguh dan berani mempertahankan imannya. Oleh karena itu mereka dihadapkan sekali lagi ke depan pengadilan. Berbagai ancaman yang sangat mengerikan ditimpakan kepada mereka, namun semuanya itu sia-sia belaka di hadapan keteguhan hati kedua gadis bersaudara ini. Mereka dibawa kembali ke penjara. 
Tak lama kemudian Demetria meninggal dunia di dalam sel yang mengerikan itu. Sekarang tinggallah Bibiana seorang diri. Ia diserahkan kepada seorang penjahat wanita yang ditugaskan untuk merobah sikap dan pikiran Bibiana. 
Namun segala daya-upaya mulai dari bujuk-rayu yang lembut manis hingga penganiayaan yang kejam-bengis tidak berhasil mematahkan semangat iman Bibiana. Akhirnya ia disesah sampai mati patia tahun 363.

apa itu Aksi sosial natal?

AKSI SOSIAL NATAL adalah tindakan komunitas umat Katolik membantu sesama yang lemah, kecil, miskin, menderita, yang membutuhkan bantuan agar dapat mengalami sukacita Natal. Aksi Sosial Natal (ASN) merupakan Aksi Peduli Sesama (APS) yang dilaksanakan pada masa Natal. AKSI PEDULI SESAMA, termasuk Aksi Sosial Natal, bersifat intentio dantis. Artinya bahwa aksi atau tindakan bagi sahabat di masa Natal dilaksanakan sesuai dengan tujuan aksi itu dilakukan dan pada orang yang menjadi sasaran sesuai rencana Aksi Sosial Natal itu. Contoh, sebuah lingkungan mengumpulkan dana ASN dengan intensi untuk membantu biaya peningkatan gizi anak-anak satpam sekompleks PIK, maka dana yang terkumpul oleh panitia semua diberikan untuk anak-anak satpam sekompleks PIK, tidak boleh diberikan ke panti asuhan di luar PIK.
UNTUK siapakah ASN itu? Mengikuti Ajaran Sosial Gereja, aksi membantu sesama di masa Natal dapat dilakukan bagi semua orang lemah, kecil, tersingkir, miskin, cacat yang mau menerima bantuan, tanpa membeda-bedakan agamanya, partai politiknya, sukunya. Pokoknya tidak diskriminatif. Bagi yang tidak mau menerima, kita tidak boleh memaksa. Konsili Vatikan II dalam dokumen Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) juga menegaskan pentingnya bantuan dan belarasa terhadap mereka yang lemah, miskin, berkekurangan: “Di mana saja ada orang yang berkekurangan makanan dan minuman, pakaian, perumahan, obat-obatan, pekerjaan, pendidikan, kemudahan yang diperlukan untuk hidup yang benar-benar manusiawi; di mana saja ada orang yang tersiksa karena kesehatannya yang rapuh, yang menderita karena dibuang dan ditahan, di situ cinta kasih kristiani harus mencari dan menemukan mereka, menghibur mereka dengan perhatian intensif serta meringankan beban mereka dengan memberi bantuan.” (artikel 8)
BAGAIMANA kaitan antara ASN, dengan tema KAJ 2013 "Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbelarasa"? Aksi Peduli Sesama, termasuk ASN, adalah salah satu bentuk perwujudan semangat menanggapi ajakan untuk semakin meningkatkan iman, persaudaraan dan belarasa kepada sesama, terutama kepada yang lebih lemah, miskin, tersingkir, kecil dan penyandang cacat. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman akan Bapa surgawi bagi seluruh umat manusia diungkapkan dengan menjadikan sesama manusia sebagai saudara-saudari dan mencintai mereka sebagai saudara-saudari se-Bapa surgawi. 
Cinta itu secara nyata diwujudkan dalam sikap belarasa atau murah hati kepada sesama tanpa diskriminasi, teristimewa kepada yang lemah, miskin, kecil, tersingkir dan penyandang cacat. Mengapa yang lemah, miskin, kecil, tersingkir dan penyandang cacat diistimewakan? Mereka diistimewakan seperti anggota keluarga kita yang menderita yang harus lebih diperhatikan agar mereka akhirnya lebih berdaya dan berpartisipasi dalam hidup keluarga kita secara setara. Selama hidupnya, Yesus memberi contoh dalam hal mengistimewakan mereka yang lebih menderita itu, bahkan barangsiapa melayani orang yang lebih menderita disamakan dengan melayani diri-Nya (bdk. Matius 25: 31-46). 

Kamis, 28 November 2013

Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang. Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.
Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.
Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.
Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.
Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.
Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.
Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

Jumat, 22 November 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (23-24 November 2013)

 Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

* Rusdy Ursal & Lisa Litandi Kawilarang 
(Pengumuman II)
* Juordan Alexander Wintono & Lina Libero 
(Pengumuman II)
*  Hugo Rahmat Saputra & Tinny Hamnto  
(Pengumuman I)
* Surhaja Hadi Winata & Heldy Jakem  Precelly T. 
(Pengumuman I)
* Stefanus Ambeng & Yenny Chandra (Pengumuman I)

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Mengenal Siklus Tahun Liturgi

1.Masa Adven
Masa Adven mulai pada hari Minggu keempat sebelum Natal. Natal selalu dirayakan pada tanggal 25 Desember. Selama masa Adven kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Kristus dengan sebaik-baiknya. Adven berasal dari kata Latin “Adventus”, yang berarti “kedatangan”. Pada masa ini imam memakai kasula berwarna ungu. Warna ungu berarti; prihatin, matiraga, tobat. Dalam masa Adven nyanyian “Kemuliaan” ditiadakan.
Nyanyian gembira itu berasal dari para malaikat yang bernyanyi di Betlehem, ketika Yesus lahir. Pada masa Adven kita tidak menyanyikannya dulu. Kita mau prihatin. Baru dalam Misa Malam Natal kita menyanyikan bersama para malaikat, sebagai tanda kegembiraan kita atas kelahiran Kristus.

2. Masa Natal
Masa Natal dimulai dari malam Natal sampai hari raya Pembaptisan Tuhan. Kita merayakan kelahiran Yesus di kandang Betlehem. Putera Allah menjelma untuk menjadi Penebus kita. Ia turun dari surga membuka pintu surga bagi kita, kita bersukaria karena Allah telah menebus kita. Maka pada hari Natal imam memakai kasula berwarna putih. Sebab putih adalah warna kegembiraan.
Pada hari Minggu setelah Natal kita merayakan Keluarga Kudus, yaitu Yesus, Maria dan Yusuf. Keluarga kudus merupakan teladan bagi keluarga-keluarga kita.
Pada tanggal 28 Desember kita merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci, yaitu anak-anak kecil di Betlehem dibunuh atas perintah Raja Herodes. Dengan cara demikian Herodes mau membunuh Yesus yang baru lahir. Tetapi Yusuf yang telah diberi-tahu malaikat sudah lebih dahulu mengungsikan Yesus. Kanak-kanak Betlehem telah wafat bagi Kristus. Maka pada hari ini mereka dirayakan sebagai orang kudus.
Tepat seminggu setelah hari Natal (1 Januari) kita merayakan Santa Maria, Bunda Allah. Kelahiran seorang anak merupakan hari raya bagi ibunya. Apalagi kalau yang lahir Yesus, Putera Allah sendiri yang telah menjelma. Maka Bunda Yesus kita rayakan sebagai Bunda Allah. Tanggal 1 Januari juga dirayakan sebagai Hari Perdamaian Dunia.
Tanggal 6 Januari atau sekitar tanggal itu dirayakan Penampakan Tuhan (kadang masih “Tiga Raja”). Kita memperingati kedatangan sarjana-sarjana dari Timur untuk menyembah Kanak-Kanak Yesus. Hari itu dinamakan “Penampakan Tuhan” sebab bintang menunjukkan kepada mereka tempat Yesus berada, Yesus sebagai Raja baru yang mereka cari. Yesus telah datang sebagai Raja semua orang.
Masa Natal berakhir pada hari Minggu setelah 6 Januari, yaitu hari raya Pembaptisan Tuhan. Dalam keluarga Katolik biasanya kalau kita masih kecil sudah di baptis, tetapi tidak bagi Yesus, Ia di baptis ketika berumur 30 tahun. Yesus meninggalkan Nazaret dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Setelah itu Ia mulai berkeliling mewartakan Kerajaan Allah di seluruh Tanah Suci. Karena Yesus sudah memulai tugasnya, maka pada hari ini masa Natal berakhir.

3. Masa Prapaska atau puasa
Masa Puasa mulai pada hari Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari (hari Minggu tidak terhitung). Dalam Perjanjian Lama, orang Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Selama 40 tahun itu mereka belajar mengenal Allah dan percaya. Dari Injil kita mengetahui bahwa Yesus juga berpuasa selama 40 hari, setelah dibaptis oleh Yohanes.
Hari pertama dalam masa Puasa adalah Rabu Abu. Pada hari ini kita menerima salib abu di dahi, untuk mengingatkan bahwa kita dari debu dan kembali kepada debu. Maka kita berniat akan hidup untuk hal yang penting. Kita mau bertobat dan melakukan matiraga atas segala dosa kita dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian.
Masa Prapaska berakhir pada hari Minggu Palma, dan akan di mulai Trihari Suci. Minggu Palma adalah hari pertama dari Minggu Suci, yang akan berlangsung sampai Sabtu Sepi. Dinamakan Minggu Suci karena penderitaan dan wafat Yesus telah dibuka kembali bagi kita.

4. Tri Tunggal
Selama tiga hari kita memperingati penderitaan, wafat serta kebangkitan Kristus. Mulai dari Kamis Putih sampai Minggu Paska. Oleh penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus kita telah ditebus. Itulah peristiwa paling penting yang pernah terjadi. Maka dari itu Trihari Suci merupakan perayaan terbesar dalam tahun liturgi.
Pada hari Kamis Putih, Yesus telah mengadakan perjamuan malam terakhir bersama dengan para muridNya. Perjamuan terakhir itu merupakan pertama kalinya dilakukan Yesus bersama para murid. Peristiwa yang penting pada hari ini adalah pembasuhan kaki, Yesus yang menjelma menjadi manusia masih mau untuk melayani para muridNya dengan membasuh kaki. Apakah kita dapat berbuat seperti yang Yesus lakukan?
Pada hari Jumat Agung, kita mau mengenangkan penderitaan Yesus. Didera, dijatuhi hukuman mati dan disalibkan. Sekitar jam tiga Yesus wafat. Maka dari itu diadakan upacara penghormatan salib suci.
Pada hari Sabtu dalam Trihari Suci dinamakan Sabtu Suci/Sabtu Sepi, sebab pada hari itu Tubuh Yesus tinggal dalam makam. Kita berkabung. Tidak diadakan Misa. Kebangkitan Kristus baru mulai dirayakan pada malam harinya, dalam upacara Malam Paska. Upacara itu dimulai dengan tuguran. Kita berjaga sambil merenungkan nubuat-nubuat dari para nabi dan menantikan kebangkitan Tuhan.

5. Masa Paska
Masa Paska mulai pada hari Minggu Paska dan berakhir pada hari Pentakosta. Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Hari ke-50”. Sebab perayaan kebangkitan Kristus dimulai pada hari Paska, tetapi diteruskan sampai hari yang ke 50 itu. Selama masa Paska imam memakai kasula putih, sebab putih adalah warna kegembiraan.
Kenaikan Tuhan ke surga kita rayakan pada hari ke 40 sesudah kebangkitanNya. Ia berjanji kepada para muridNya akan datang lagi yaitu pada akhir zaman untuk mengadili semua orang.
Hari Pentakosta menutup masa Paska, warna dari hari ini adalah merah. Merah melambangkan Roh Kudus (lidah api) dan cinta kasih. Banyak orang kudus rela mati bagi Dia. Misalnya Santo Petrus dan Paulus dan juga Santo Tarsisius. Merah juga melambangkan darah dan para martir.

6. Masa Biasa
Masa yang bukan Adven, Natal, Prapaska atau Paska dinamakan Masa Biasa. Lamanya 33 (atau 34) minggu. Warna liturgi adalah hijau. Dalam Masa Biasa terdapat beberapa hari raya penting :
- Tritunggal Mahakudus adalah hari Minggu sesudah Pentakosta.
- Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah hari Kamis berikutnya, dirayakan hari raya Sakramen Mahakudus didirikan Kristus ketika Kamis Putih.
- Hari Raya Hati Kudus Yesus adalah hari Jumat setelah hari Kamisnya. Cinta kasih Kristus paling nampak di salib, ketika lambungNya ditikam dengan tombak, sehingga lambung yang terbuka memancarkan darah dan air.
- Hari Raya Kristus Raja adalah Minggu terakhir dalam tahun liturgi. Kita mengakui dan merayakan Kristus sebagai Raja semesta alam. Hari Minggu ini sekaligus menutup semua perayaan selama satu tahun.

Santo Yakobus dari Persia, Martir

Yakobus dari Beth-Lapeta, Persia (sekarang: Iran) lahir pada akhir abad keempat. Beliau seorang bangsawan Kristen kaya raya dan berpangkat tinggi di dalam Kerajaan Persia sebagai penasehat raja. Tetapi kebesarannya ini justru kemudian mendatangkan kecelakaan atas dirinya. Ketika raja mulai menganiaya orang-orang Kristen, Yakobus mengkhianati imannya dengan maksud supaya terlindung dari bahaya mati dan terus hidup terjamin.  Namun isteri serta ibunya tetap setia kepada Kristus. Dengan terus terang mereka menegur Yakobus dan menunjukkan kesalahannya. Meskipun sejak itu mereka segan bergaul dengannya, namun karena terdorong oleh cinta sejati, mereka tetap mendoakan agar hatinya berbalik lagi kepada Kristus.
Demikianlah akhirnya, oleh sinar cahaya rahmat ilahi yang menembusi hatinya yang tegar dan keras, Yakobus kembali kepada Tuhan. Semenjak itu ia tidak pernah lagi pergi ke istana bahkan dengan berani meletakkan jabatannya yang tinggi itu. 
Perubahan sikapnya itu tak dibiarkan begitu saja oleh raja. Yakobus dipanggil lalu dimintai pertanggungjawabannya tentang sikapnya itu. Ia menyatakan secara tegas bahwa ia seorang Kristen yang tidak boleh bekerja sama dengan raja yang lalim. Maka murkalah raja, lalu segera memanggil pembesar-pembesar kerajaan dan hakim-hakim untuk menentukan hukuman yang tepat atas orang-orang Kristen.
Tuduhan yang dikemukakan ialah bahwa orang-orang Kristen menghina dan tidak mau menyembah dewa-dewa nasional. Oleh karena itu hukuman mati pantas dijatuhkan atas mereka termasuk Yakobus. Anggota badan Yakobus dipotong-potong. Menyaksikan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Yakobus, orang-orang Kristen tak putus-putusnya berdoa agar Yakobus dapat bertahan dan berkanjang dalam menahan sengsara yang ditimpakan kepadanya. 
Doa mereka itu dikabulkan. Yakobus dengan gembira dan tersenyum menanggung penderitaan itu. Ia bahkan mengucap syukur kepada Allah karena boleh turut serta menanggung sengsara Kristus. Yakobus mati sebagai martir Kristus pada tahun 421.

HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Hari ini seluruh Gereja menyambut Hari Raya Kristus raja Semesta Alam sebagai penutup tahun Liturgi Gereja. Minggu depan adalah permulaan tahun Liturgi Gereja. Yesus bukan Raja duniawi (politis), tetapi Raja rohani. Dia menjadi segala-galanya bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tahta-Nya bukan terbuat dari emas, namun tahtanya berada di hati setiap manusia. Apakah kita, Anda dan saya, sungguh mengalami bahwa Dia meraja dan bertahta di hati kita?
Untuk bisa mengalami seperti ini kita hendaknya terbuka pada kasih-Nya dan membiarkan diri dibimbing serta dipimpin oleh kasih-Nya, sehingga kita menyatu dengan Dia. Kita hidup dan dihidupi oleh Kristus. Marilah kita berkeyakinan seperti Paulus: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal 2: 20).
Di depan Pilatus Kristus bersaksi bahwa Dia seorang Raja yang bukan dari dunia ini, sekalipun dengan resiko ditolak, bahkan dijatuhi hukuman salib. Seperti Kristus, demikian pula kita hendaknya bersaksi di tengah masyarakat plural agama-agama yang sebagian besar belum, apalagi mengenal dan mengimani Kristus Raja.
Bagaimana kita bersaksi? Jadilah Injil yang hidup. Caranya ialah menampilkan Kristus yang hidup dalam diri kita masing-masing lewat pergaulan kita dalam hidup sehari-hari. Tujuannya ialah agar Kristus yang tak kelihatan menjadi kelihatan melalui sikap, penampilan serta tutur kata yang menyejukkan. dengan melakukan hal itu berarti kita mau bersaudara dan membangun persaudaraan tanpa membedakan siapapun.
Dasar mau menerima sesama sebagai saudara ialah bahwa kita percaya dan melihat Kristus ada dalam diri sesama yang kita jumpai, entah dia itu orang yang menyenangkan atau sebaliknya. Terutama melihat orang yang paling hina, karena tidak mustahil Kristus ada dalam diri orang yang sering kurang kita perhitungkan atau kurang kita hargai.
Ingat Sabda-Nya: "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25: 40). Jika kita bisa melihat wajah Yesus pada diri sesama, maka kita menjadi orang terberkati yang layak menerima anugerah kekal. Bila tidak, kita menjadi orang terkutuk dan cocok untuk hukuman kekal.
Di mana dan kapan kita membangun persaudaraan insani? ? Ada banyak kesempatan:
• Di RT-RW. Kita dengan tetangga mau akrab, membantu yang kekurangan.
• Di tempat kerja. Menyapa satpam, cleaning service, pegawai kecil dsb.
• Hadir dan berperan di kegiatan Lingkungan dan paroki.
Semoga dengan demikian kita menumbuhkan simpati kita sebagai pengikut Kristus.
Marilah kita menjadi Injil yang hidup dan menjadi berkat bagi siapapun. Amin.

Jangan Mencoba Apa yang Dilakukan Orang Gagal

Apakah Anda tahu alasan mengapa banyak orang tidak sesukses seperti apa yang mereka inginkan? Rasa takut! Ya, rasa takut yang berlebihan! Takut untuk melakukan kesalahan dan takut untuk gagal. Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang gagal hanya ditentukan oleh cara pandang terhadap garis finishnya yang akan dilalui. Orang yang sukses adalah mereka yang tidak peduli apakah melintasi garis finishnya ditempat pertama atau terakhir, tapi yang mereka pikirkan hanya bagaimana cara untuk melintasi garis finish tersebut.
Orang gagal adalah mereka yang berhenti sebelum waktunya menang. Sebagai contoh, ia berlari 95 meter dari pertandingan 100 meter setiap harinya dalam hidup. Dalam dunia kewirausahaan, Anda juga harus mengalahkan rasa takut. Jangan menunggu segalanya berjalan dengan sempurna, tapi lakukanlah apa yang orang gagal lakukan.
Orang yang gagal pada waktunya bisa menjadi seorang yang profesional yaitu menunggu tiga hal secara bersamaan. Pertama, menemukan orang yang tepat. Kedua, menemukan peluang yang tepat dan ketiga, mempunyai uang yang banyak.
Dari situ ada terlihat masalah, bahwa ketiga bagian itu jarang sekali muncul pada saat yang bersamaan. Seringkali, orang yang gagal ini masih terpaku dengan mesin yang masih mati, yang artinya ia diam ditempat dan selalu beranda-andai. Tentu saja mereka yang gagal karena tidak pernah mencoba untuk melakukan.
Sebagai entrepreneur, Anda harus tidak peduli apakah satu atau dua kali mencoba, tapi lakukanlah terus menerus sampai garis finish yang Anda akan lalui. Anda juga harus mencari berbagai macam peluang, uang dan orang yang tepat, bukan menunggu orang gagal.
Tapi pada intinya, Anda harus bertegang teguh pada tujuan, fokus dan konsisten. Sekali Anda mengambil keputusan, kalahkan rasa takut dan cemas Anda. Ingat, jangan lakukan apa yang telah dilakukan oleh orang gagal.

Awal Tahun Liturgi

Kalender yang kita gunakan memang disebut kalender Masehi, tetapi tidak berarti Gereja harus mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh kalender itu. Peletakkan awal Tahun Liturgi Gereja pada masa Adven mengikuti sebuah teologi yang bertujuan mengajak seluruh anggota Gereja untuk menghidupi kembali masa penantian akan kedatangan penebus, seperti yang dialami oleh umat Israel. Masa penantian ini dijiwai dengan semangat pertobatan untuk menyambut kedatangan Penebus. Dengan demikian, Tahun Liturgi mengikuti proses penebusan, yang mulai dengan Inkarnasi sampai kemudian berpuncak pada Misteri Paskah Kebangkitan. Ibarat musik, kalender liturgi kita mengalami crescendo, dengan titik puncaknya pada saat Kebangkitan Kristus. Pusat iman kita memang adalah kebangkitan. Tetapi tidak perlu bahwa Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, karena pengaturan yang sekarang itu lebih tepat, yaitu kebangkitan dijadikan sebagai titik puncak (klimaks) perjalanan liturgis sepanjang tahun. Kebangkitan inilah yang kemudian mewarnai seluruh perayaan sepanjang tahun. Jika Tahun Liturgi dimulai dengan Kebangkitan, maka masa penantian akan anti-klimaks. 

lilin vs bintang

Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin.  Lilin itu berkata, "Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." 
Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan."
Seperti lilin, kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, "Andai saja aku bisa memilih... "
Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab  Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus,  yang masih kamu lakukan sampai sekarang."  ( Ibrani 6 : 10 ) Suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin.  Lilin itu berkata, "Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." 
Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan."
Seperti lilin, kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, "Andai saja aku bisa memilih... "
Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.

"Sebab  Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus,  yang masih kamu lakukan sampai sekarang."  ( Ibrani 6 : 10 )

Jumat, 15 November 2013

Sikap menghadapi kiamat


Oleh: RD. Paulus Tongli 
Hari Minggu Biasa ke XXXIII 
Inspirasi Bacaan: Mal. 4:1-2a; 2 Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19


Menghadapi bahaya misalnya penyakit atau kecelakaan orang bereaksi sangat berbeda-beda. Rasa takut tampaknya merupakan reaksi yang pertama dan utama. Lalu orang berusaha untuk menemukan jalan keluar. Orang-orang optimis mengatakan: semoga tidak terlalu fatal. Orang-orang pesimis mengatakan: matilah saya. Inilah akhir segalanya. 


Juga ketika seseorang tidak secara langsung merasa terancam bahaya penyakit atau kecelakaan, dan hanya mengikuti perjalanan waktu dan sejarah dunia, orang dapat juga sampai pada rasa takut dan reaksi ingin melarikan diri. Umat manusia berkembang begitu pesat dalam hal jumlah, sehingga bahaya kelaparan dan krisis energi tidak dapat dihindari. 

Sumber energi atom tidak akan pernah 100% aman. Kerusakan lingkungan berdampak pertama-tama kepada air dan udara, lalu kepada tanaman dan binatang dan akhirnya kepada manusia. Penganut paham optimisme akan mengatakan: tidak akan terlalu sulit. Selalu akan ada jalan keluar. Seorang pesimistis akan mengatakan: tidak ada lagi masa depan; bahaya akan segera datang, dan manusia tidak bisa lain. 

Bukan baru sekarang, tetapi juga sudah pada zaman Yesus manusia sudah sangat akrab dengan hal-hal yang mengejutkan. Pada zaman Yesus umat manusia sudah mengeluh akan kelaparan, perselisihan, revolusi berdarah dan perang, penyiksaan, kesewenang-wenangan penguasa, pembunuhan dan pemusnahan massal. Yesus bahkan sudah meramalkan yang lebih buruk lagi: penghancuran baid Allah di Yerusalem, suatu bencana yang sangat sulit dipahami. Baid Allah adalah tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Penghancurannya berarti bahwa Allah telah meninggalkan umat-Nya. 

Saudara-i terkasih, apa yang Yesus sabdakan kepada para murid-Nya dan dengan demikian juga kepada kita? Apakah Ia mengatakan: Jangan takut, sekalipun hal itu terjadi, kami tidak akan apa-apa? Atau apakah Ia mengatakan: sekarang saatnya semuanya akan berlalu? Tidak, Yesus justru mengatakan bahwa hal ini semua mungkin akan terjadi atas kita, kita harus memperhitungkannya. Penyakit, kelaparan, penderitaan, penganiayaan, bahkan kematian. Tetapi Ia bukanlah Allah orang-orang mati melainkan Allah orang-orang hidup. Allah dapat menyelamatkan kita seperti Yunus dari perut ikan (Yun 2:11), seperti Daniel dari mulut singa (Dan 6:2-29), seperti anak muda dari dapur api (Dan 3:91-97). 

Menghadapi musibah-musibah yang tak terelakkan, Yesus mengarahkan pikiran kita dari bumi kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Apa yang telah Allah ciptakan tidak ditinggalkan-Nya sendirian, Ia pun tidak meninggalkan kita dalam kesalahan dan kelalaian kita, tidak menyerahkan kita kepada kebebasan yang sering kita salah gunakan. Dunia tidak hanya diciptakan oleh Dia, tetapi juga untuk kemuliaan nama-Nya. 

Berhadapan dengan derita yang tak terelakkan, manusia sepanjang zaman bertanya: kapan akhir dunia itu akan datang? Akan ada banyak nabi-nabi palsu, orang-orang yang bahkan merasa mengetahui dengan tepat saat hari kiamat. Yesus memperingatkan: jangan dibingungkan, jangan mengikutinya; jangan disesatkan. Akhir dunia pasti akan datang. 
Namun tiada orang yang mengetahuinya. Hanya Allah yang tahu, kapan episode terakhir di atas panggung dunia ini terjadi, dan kapan tirai ditutup kembali. Setiap saat adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri menyongsong datangnya akhir dunia. 

Oleh karena itu Yesus menuntut dari para murid-Nya suatu kombinasi sifat dan sikap antara kerajinan realisme dan kepasrahan kepada Allah; antara keberanian dan kegigihan; tetapi juga harapan yang kokoh bahwa juga kematian dan hari kiamat masih ada dalam genggaman Dia yang di dalam Wahyu Yohanes disebut: „Lihat, Aku menjadikan segalanya baru!” (Why 21:5). 


Untuk Apa Kamu yang Sadar dan Pintar Ikut-ikutan Menjadi Bodoh

Dahululu di sebuah kota di Tiongkok hidup seorang hakim yang sangat dihormati, karena dia bijaksana saat memutuskan perkara, hatinya jujur, dan sikapnya tegas.  Suatu hari, datanglah dua orang laki-laki menghadap hakim itu.  Mereka bertengkar hebat, bahkan nyaris beradu fisik di depan hakim itu, kalau tidak dicegah oleh para petugas keamanan.  Apa yang membuat mereka bertengkar?  Keduanya berdebat tentang berapa hasil hitungan 3 x 7.  Si A mengatakan hasilnya 21, sedangkan si B bersikukuh mengatakan bahwa hasilnya 37.   Setelah mendengarkan pangkal persoalannya, hakim itu menjatuhkan hukuman cambuk 10 x bagi si A, orang yang menjawab 3 x 7 sama dengan 21.  Spontan si A memprotes. Dia mengatakan bahwa jawabannya benar dan bertanya mengapa dia yang dihukum.  Seharusnya si B yang dihukum karena dia menjawab salah.
Sang hakim menjawab, "Aku memang menjatuhkan hukuman kepadamu.  Hukuman ini bukan karena hasil hitunganmu, tetapi untuk kebodohanmu.  Mengapa engkau mau berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3 x 7 adalah 21?  Dia (sambil menunjuk ke si B) salah dan diingatkan, tetapi dia masih ngotot dengan pendapatnya sendiri.  Untuk apa kamu yang sadar & pintar ikut-ikutan menjadi bodoh?"
Hikmah dari cerita ini adalah bahwa jika kita mau berdebat tentang sesuatu yang tidak berguna, berarti kita juga ikut bersalah, bahkan sebenarnya lebih bersalah daripada mitra bertengkarnya.  Itu berarti dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk hal yang tidak perlu.
Apakah Anda juga pernah mengalaminya?  Mungkin mitra bicara/bertengkar Anda adalah pasangan hidup Anda, saudara, kerabat, sahabat, teman, atau tetangga sebelah rumah.  Berdebat atau bertengkar untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi dengan percuma.  Anda kehilangan waktu (yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja yang menghasilkan), kehabisan energi, lelah, stres, dan ada risiko pertengkaran itu berkembang menjadi hal yang lebih serius.  Semoga kita, Anda dan saya, mau menjadi orang yang lebih bijaksana.

"SING WARAS YO NGALAH"