Cari Blog Ini

Jumat, 31 Agustus 2012

Kekuatan Maaf


Ini Sebuah Kisah Tentang Dua Orang Sahabat Karib Yang Sedang Berjalan Melintasi Gurun Pasir. Di Tengah Perjalanan, Mereka Bertengkar Dan Salah Seorang Menampar Temannya. Orang Yang Kena Tampar Merasa Sakit Hati, Tapi Dengan Tanpa Berkata-Kata, Dia Menulis Di Atas Pasir: ”Hari Ini, Sahabat Terbaikku Menampar Pipiku.”
Mereka Terus Berjalan Sampai Akhirnya Menemukan Sebuah Oasis. Mereka Memutuskan Untuk Mandi. Orang Yang Pipinya Kena Tampar Dan Terluka Hatinya, Mencoba Berenang Namun Nyaris Tenggelam, Tapi Dia Berhasil Diselamatkan Oleh Sahabatnya. Ketika Dia Siuman Dan Rasa Takutnya Sudah Hilang, Dia Menulis Di Sebuah Batu: ”Hari Ini, Sahabat Terbaikku Menyelamatkan Nyawaku.”
Orang Yang Menolong Dan Menampar Sahabatnya, Bertanya “Kenapa Setelah Saya Melukai Hatimu, Kau Menulisnya Di Atas Pasir Dan Sekarang Menuliskan Ini Di Batu?” Sambil Tersenyum Temannya Menjawab, ”Ketika Seorang Sahabat Melukai Kita, Kita Harus Menulisnya Di Atas Pasir Agar Angin Maaf Datang Berhembus Dan Menghapus Tulisan Itu. Dan Bila Sesuatu Yang Luar Biasa Baik Terjadi, Kita Harus Memahatnya Di Atas Batu Hati Kita, Agar Takkan Pernah Bisa Hilang Tertiup Angin.”
Dalam Hidup Ini Ada Kalanya Kita Dan Orang Terdekat Kita Berada Dalam Situasi Yang Sulit, Yang Kadang Menyebabkan Kita Mengatakan Atau Melakukan Hal-Hal Yang Menyakiti Satu Sama Lain. Juga Terjadinya Beda Pendapat Dan Konflik Karena Sudut Pandang Yang Berbeda. Oleh Karena Itu, Sebelum Kita Menyesal Di Kemudian Hari, 
Cobalah Untuk Saling Memaafkan Dan Melupakan Masa Lalu.

Pengumuman Paroki Katedral Makassar 01-02 Sept 2012


A.            SAKRAMEN BAPTIS
                Persiapan Calon Baptis :
a.            Minggu, Pkl. 08.00 WITA,  di Biara Don Bosco.(Anak-Anak).
b.            Kamis, Pkl. 19.00 WITA, di Ruang Kelas Pastoran (Dewasa)
B.   SAKRAMEN KOMUNI PERTAMA
  Persiapan Calon Komuni Pertama dilaksanakan setiap Sabtu, pukul 17. 30 Wita di Aula Pastoran
C. SAKRAMEN PERKAWINAN
1.  Kursus Persiapan Perkawinan dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 19.30 WITA.
2. Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
        *   Gregorius Tjhiong Wendy & Irene  Anneke Tjoputera       ( Pengumuman II)
        *   Christoforus Tanyo &  Priscillia Delvi Aliandu                    ( Pengumuman II)
        *   Gustav Gratianus Philips  & Michelle Caterina                   ( Pengumuman II)
       *   Erick Christian Haryono &  Sartika Margareth Marloanto ( Pengumuman II)
       *    Effendy Goenawan & Angelina Natalya                                ( Pengumuman II)
       *    Reza Budiono Rusli & Natalia Tansil                                     ( Pengumuman II)
       *   Norbert Jeffrie Liady  &  Lioe Yuliana Setiawati                    ( Pengumuman II)
      *         Ronald Yohannes & Shicilia Kuncoro                                  ( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Dari penghindaran menjadi keterlibatan


HARI MINGGU BIASA XXII
Oleh Pastor Paulus Tongli, Pr
Inpirasi Bacaan: 
Mrk 7:1-8,14-15, 21-23

Dua orang frater, Frater Frans dan seorang frater yang lain, sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah stasi di sebuah paroki, tempat mereka menjalani tahun orientasi pastoralnya. Saat itu mereka mendapati seorang gadis yang cantik dan berpakaian indah di tepi sebuah sungai yang keruh dan kotor. Gadis itu menyapa kedua frater tersebut dan meminta tolong agar diseberangkan. “Mari” sambut frater Frans dan tanpa berbasa basi panjang lebar, ia langsung membopong gadis itu dan menyeberangkannya. Setelah ia meletakkan gadis itu di seberang, kedua frater itu melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua berjalan dalam keheningan hingga mereka mencapai pastoran. Lalu frater yang lain itu tidak tahan lagi untuk berdiam lebih lama, lalu mulai membuka pembicaraan: “Seorang frater tidak boleh dekat-dekat dengan perempuan, apalagi dengan gadis cantik seperti di pinggir kali tadi. Mengapa engkau menggendongnya?” “Frater yang baik” jawab Frater Frans, “saya sudah meninggalkan gadis itu di pinggir kali, mengapa engkau masih membawanya sampai di pastoran?” 
Di dalam pembicaraan kedua frater tadi tampaklah dua pendekatan yang sering bertolak belakang di dalam spiritualitas kristiani, yakni penghindaran dan keterlibatan. Spiritualitas penghindaran menekankan pemenuhan dengan taat semua perintah agama, dan menjauhkan diri dari semua yang dianggap orang berdosa atau dapat menjadi sumber berdosa, karena takut terpengaruh dan ikut berdosa. Tujuannya adalah menjaga orang beriman agar tidak terpengaruh oleh dunia, bukan untuk mengubah dunia dan menjadikannya berbeda dari yang sekarang. Sebaliknya spiritualitas keterlibatan menekankan solidaritas yang aktif dengan para pendosa, yang seringkali disamakan dengan  dunia “najis”. Mereka bukanlah untuk dihindari melainkan kepada mereka orang beriman harus mengulurkan tangan, karena percaya bahwa lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Keseimbangan dalam spiritualitas kristiani terletak pada usaha untuk mendamaikan dua kecenderungan ini dan membawanya kepada harmoni. Rasul Yakobus berkata, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (keterlibatan), dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (penghindaran)” (Yak 1:27).
Dalam kutipan injil hari ini, orang-orang Farisi dan para ahli taurat berbicara tentang spiritualitas penghindaran. Mereka sangat menekankan pelaksanaan yang benar akan ibadat. Keberatan mereka terhadap praktek makan tanpa membasuh tangan tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal higienitas. Mereka menekankan pada praktek ritual pembasuhan tangan yang pada intinya bermaksud untuk menghindarkan kesucian ibadat Yahudi kontak dengan kenajisan. Keyahudian mereka ditandakan oleh ketaatan kepada aturan-aturan tersebut. Dengan tidak memenuhi aturan itu para murid mengaburkan pembedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi yang dianggap kafir. Mereka bertindak seakan-akan keduanya tidak berbeda. Yesus membela tindakan para murid itu dengan menekankan pemahaman soal suci dan najis. “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” Mrk 7:14-15)
Dengan kalimat ini Yesus menghancurkan sekat homophobia yang masih tersisa di dalam agama, yakni ketakutan kepada orang lain yang dipandang berbeda. Bangsa-bangsa lain tidak dapat menajiskan orang Yahudi dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu atau seseorang yang ada di luar diri kita yang dapat menajiskan. Bila kehadiran seseorang atau sesuatu dianggap dapat menajiskan, itu pertanda bahwa orang yang merasa dapat dinajiskan itulah yang membawa kenajisan di dalam dirinya. Orang tidak perlu melihat lebih jauh daripada hati dan jiwa sendiri. Seorang yang berhati baik akan juga melihat segala-galanya baik. Dalam arti luas, inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam sabda bahagia bila Ia mengatakan: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).  Inilah penjelasan dari tindakan Yesus yang tidak merasa jijik menjamah orang kusta, tidak merasa najis makan bersama dengan para pendosa, dan membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat, seperti oleh wanita pelacur atau orang yang kerasukan roh jahat. Karena pergaulannya yang begitu dekat dengan orang-orang yang tersingkirkan ini, Yesus diberi gelar “sahabat para pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:9). 
Hari ini merupakan kesempatan yang baik untuk sejenak melihat orientasi spiritual kita. apakah kita menganut spiritualitas penghindaran seperti salah seorang frater di dalam cerita kita di awal renungan ini, yakni menghindari perjumpaan dengan gadis itu dan membiarkannya di pinggir kali karena ia mau menjaga ketaatan kepada aturan atau karena takut menodai “kesuciannya”? Jika demikian, bacaan injil ini menantang kita untuk menjadi seperti Fr Frans yang berani mengulurkan tangannya kepada orang yang membutuhkan, karena menyadari bahwa tidak ada seseorang atau sesuatu pun yang dapat menajiskan diri kita kecuali kalau kita membawa kenajisan itu di dalam hati kita. 

MARRIAGE ENCOUNTER DISTRIK IX MAKASSAR


PENGGANTIAN NOMOR TELPON GEREJA KATEDRAL MAKASSAR


catatan harian sebuah alkitab

14 Januari: 
Aku sudah beristirahat lebih dari satu minggu. Pada hari-hari pertama tahun baru, pemilikku sangat giat membuka lembaranku dan membacanya, tetapi sekarang ia sudah melupakanku begitu saja.

25 Februari:
Aku dikeluarkan dari laci dan dibawa pemilikku ke gereja. Ini adalah kedua kalinya aku dibawa ke gereja pada tahun baru ini.

13 April: 
Selama berbulan-bulan aku diabaikan begitu saja dan debu tebal menyelimuti diriku begitu rupa sehingga aku merasa sesak.

22 Mei: 
Pemilikku hari ini mencari-cari dimana aku diletakkan. Ketika akhirnya menemukanku, ia membersihkan diriku dari debu dan untuk ketiga kalinya membawaku masuk gereja lagi.

25 Juni: 
Nenek pemilikku datang untuk menginap beberapa hari, dan ia mencari alkitab. Cucunya yang tak lain adalah pemilikku, mencari diriku dan memberikanku kepada neneknya. Selama beberapa hari aku melewati waktu-waktu yang menyenangkan sebab aku berada di pangkuan nenek yang tekun membaca apa yang tertulis dalam diriku

30 Juni: 
Hari ini nenek pulang ke rumahnya dan aku dikembalikan ke tempat semula. Sewaktu akan pulang, nenek mencium diriku dengan mesra.

1 Agustus: 
Aku diambil dan dimasukkan ke dalam koper bersama dengan pakaian dan perlengkapan lainnya. Tampaknya aku akan pergi keluar kota bersama pemilikku yang akan berlibur.

7 Agustus: 
Aku masih berada di koper, pemilikku rupanya membawa diriku sebagai semacam jimat keselamatan dalam perjalanan saja, sebab ia sama sekali tidak pernah menyentuhku.

18 Oktober: 
Telepon rumah berdering, ternyata bapak gembala menelepon, ia akan berkunjung malam ini. Pemilikku segera mengeluarkan diriku dari koper kosong dan menempatkanku di atas meja ruang tamu. Ketika bapak gembala datang, ia tersenyum karena melihat aku di atas meja ruang tamu.

16 Desember: 
Sudah lama sekali diriku tak disentuh siapapun. Debu kembali menyelimuti diriku.

31 Desember: 
Seluruh isi rumah duduk di sekitar meja makan dan memperhatikan diriku. Ada apakah gerangan? Ternyata tiap anggota keluarga matanya ditutup lalu tangannya membuka diriku. Setelah itu jari telunjuk dipakai untuk menunjuk ayat yg terdapat dalam diriku secara acak, katanya itu adalah ayat keberuntungan untuk tahun baru...

Apa yang ditulis di atas hanyalah merupakan gambaran figuratif belaka, namun di dalamnya kita melihat ada satu kebenaran yang dalam. Banyak orang Kristen tidak menghargai Alkitab, tidak mau membaca dan mempelajari Alkitab, sehingga mereka tidak tahu isi Alkitab. Akibatnya, kehidupan rohani mereka kering kerontang dan dengan mudah diombang-ambingkan segala macam pengajaran yang sesat... 

Bagaimana dengan Anda?

TEMA BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2012 " MENYAKSIKAN MUJIZAT TUHAN"

TEMA BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2012
Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca Kitab Suci, pendalaman Kitab Suci di lingkungan, pameran buku dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk Kitab Suci, dan Kitab Suci ditempatkan di tempat yang istimewa.

Sejak kapan tradisi Bulan Kitab Suci Nasional ini berawal? Untuk apa? Untuk mengetahui latar belakang diadakannya BKSN ini kita perlu melihat kembali Konsili Vatikan II. Salah satu dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II yang berbicara mengenai Kitab Suci adalah Dei Verbum (DV). Dalam Dei Verbum, para bapa Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat beriman untuk tekun membaca Kitab Suci.
Bagaimana jalan masuk itu dibuka? Pertama-tama, dengan menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat, dalam hal ini Bahasa Indonesia. Usaha ini sebenarnya telah dimulai sebelum Konsili Vatikan II dan Gereja Katolik telah selesai menerjemahkan seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun, Konsili Vatikan II menganjurkan agar diusahakan terjemahan Kitab Suci ekumenis, yakni terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mengikuti anjuran Konsili Vatikan II ini, Gereja Katolik Indonesia mulai “meninggalkan” terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang merupakan hasil kerja keras para ahli Katolik, dan memulai kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia.
Kitab Suci telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat Katolik Indonesia belum mengenalnya, dan belum mulai membacanya. Mengingat hal itu, Lembaga Biblika Indonesia (LBI), yang merupakan Lembaga dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca Kitab Suci. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara nasional. LBI mengusulkan dan mendorong agar keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar Kitab Suci pada Hari Minggu tertentu.
LBI telah dua kali mencobanya. Pada tahun 1975 dalam rangka menyambut terbitnya Alkitab lengkap ekumenis, LBI menyarankan agar setiap paroki mengadakan Misa Syukur pada bulan Agustus. Bahan-bahan liturgi dan saran-saran kegiatan yang dapat dilakukan beberapa bulan sebelumnya dikirimkan ke keuskupan-keuskupan. Percobaan kedua dilakukan pada tahun 1976. Akhir Mei 1976 dikirimkan bahan-bahan langsung kepada pastor-pastor paroki untuk Hari Minggu Kitab Suci tanggal 24/25 Juli 1976, ditambah lampiran contoh pendalaman, leaflet, tawaran bahan diskusi, dan lain-lain.
Walaupun dua kali percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti yang diharapkan, LBI toh meyakini bahwa Hari Minggu Kitab Suci harus diteruskan dan diusahakan, dengan tujuan sebagai berikut:
 1. Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci juga diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilahkan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sebagai sumber dari kehidupan iman mereka.
 2. Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab suci di rumahnya. Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman kepercayaannya sendiri.

Tahun 1975-1976 boleh dikatakan merupakan tahun-tahun awal bagi apa yang sekarang disebut dengan Bulan Kitab Suci Nasional. Selama kira-kira 35 tahun sejak saat itu, aneka macam tema sudah ditawarkan dan dibahas bersama umat dalam rangka menggairahkan minat umat beriman kepada Kitab Suci. Pada bulan Kitab Suci Tahun lalu, tahun 2011, umat beriman diajak mendengarkan dan merenungkan perumpamaan-perumpamaan Sang Guru, yaitu Yesus sendiri. Pada kesempatan yang sama untuk tahun ini, tahun 2012, umat beriman diajak mendengarkan dan merenungkan mukjizat-mukjizat Sang Guru, yaitu Yesus sendiri.
Dalam karya Yesus, keduanya, perumpamaan dan mukjizat, memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkaitan amat erat dan saling menentukan. Keduanya menjadi unsur pokok dari karya publik Yesus. Silakan membaca Injil dan kita akan menyadari bahwa yang dibuat Yesus dalam pelayanan publik-Nya, praktis hanya ada dua, yaitu apa yang Ia katakan dan apa yang Ia lakukan, atau dengan pasangan kata yang lain, sabda dan karya. Dari sekian banyak pengajaran yang diberikan Yesus, beberapa di antaranya adalah perumpamaan; sementara dari sekian banyak yang dibuat Yesus, beberapa di antaranya adalah tindakan yang kerapkali disebut mukjizat untuk Itu Tema Bulan Kitab Suci Nasional 2012 ialah “MENYAKSIKAN MUJIZAT TUHAN”

Oleh karena itu, rasanya memang merupakan suatu langkah yang pas kalau pada tahun ini kita membahas mukjizat setelah tahun sebelumnya, kita merenungkan kata-kata atau Firman Yesus, khususnya yang berbentuk perumpamaan.
Banyak pendapat mengatakan bahwa sulit untuk membaca dan memahami Kitab Suci, namun kalau kita mau menyediakan waktu untuk saling berbagi dan bersama-sama mencari pesan Allah pastilah Roh Kudus akan berkerja dan memberi kita bimbingan dan penerangan untuk menggali harga terpendam yang ada dalam perikop-perikop kitab suci. Untuk itu umat sekalian di anjurkan untuk terlibat aktif dalam kegiatan Rukun dan Kelompok Kategorial. 
Marilah kita belajar mencintai Tuhan dan sesama dengan membaca, merenungkan, menikmati dan menikmati sabda-Nya supaya kita mampu bersatu dalam kasih-Nya dan berbahagia karena kuasa rahmat-Nya. 

Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja


Gregorius lahir di Roma pada tahun 540. Ibunya Silvia dan dua orang tantenya, Tarsilla dan Aemeliana, dihormati pula oleh Gereja sebagai orang kudus. Ayahnya Geordianus, tergolong kaya raya; memiliki banyak tanah di Sicilia, dan sebuah rumah indah di lembah bukit Ceolian, Roma. Selama masa kanak – kanaknya, Gregorius mengalami suasana pendudukan suku bangsa Goth, Jerman atas kota Roma; mengalami berkurangnya penduduk kota Roma dan kacaunya kehidupan kota. Meskipun demikian, Gregorius menerima suatu pendidikan yang memadai. Ia pandai sekali dalam pelajaran tata bahasa, retorik dan dialetika.
Karena posisinya di antara keluarga – keluarga aristokrat (bangsawan) sangat menonjol, Gregorius dengan mudah terlibat dalam kehidupan umum kemasyrakatan, dan memimpin sejumlah kecil kantor. Pada usia 33 tahun ia menjadi Prefek kota Roma, suatu kedudukan tinggi dan terhormat dalam dunia politik Roma saat itu. Namun Tuhan menghendaki Gregorius berkarya di ladang anggurNya. Gregorius meletakkan jabatan politiknya dan mengumumkan niatnya untuk menjalani kehidupan membiara. Ia menjual sebagian besar kekayaannya dan uang yang diperolehnya dimanfaatkan untuk mendirikan biara – biara. Ada enam biara yang didirikan di Sicilia dan satu di Roma. Di dalam biara – biara itu, ia menjalani kehidupannya sebagai seorang rahib. Namun ia tidak saja hidup di dalam biara untuk berdoa dan bersemadi, ia juga giat di luar; membantu orang – orang miskin dan tertindas, menjadi diakon di Roma, menjadi Duta Besar di istana Konstantinopel. Pada tahun 586 ia dipilih menjadi Abbas di biara Santo Andreas di Roma. Di sana ia berjuang membebaskan para budak belian yang dijual di pasar – pasar kota Roma.

Pada tahun 590, dia diangkat menjadi Paus. Dengan ini dia dapat dengan penuh wibawa melaksanakan cita – citanya membebaskan kaum miskin dan lemah, terutama budak – budak dari Inggris. Ia mengutus Santo Agustinus ke Inggris bersama 40 biarawan lain untuk mewartakan Injil disana. Gregorius adalah Paus pertama yang secara resmi mengumumkan dirinya sebagai Kepala Gereja Katolik sedunia. Ia memimpin Gereja selama 14 tahun, dan dikenal sebagai seorang Paus yang masyur, negarawan dan administrator ulung pada awal abad pertengahan serta Bapa Gereja Latin yang terakhir. Karena tulisan – tulisannya yang berbobot, dia digelari sebagai Pujangga Gereja Latin. Meskipun begitu ia tetap rendah hati dan menyebut dirinya sebagai ‘Abdi para abdi Allah’ (servus servorum Dei). Julukan ini tetap dipakai sampai sekarang untuk jabatan Paus di Roma. Setelah memimpin Gereja Kristus selama 14 tahun, Gregorius meninggal dunia pada tahun 604. Pestanya dirayakan juga pada tanggal 12 Maret.


Kamis, 23 Agustus 2012

Pengumuman Paroki Katedral; Sabtu & Minggu, 25 &26 Agustus 2012


A..   SAKRAMEN KOMUNI PERTAMA
  Persiapan Calon Komuni Pertama dilaksankan setiap Sabtu, pukul 17. 30 Wita di Aula Pastoran
C. SAKRAMEN PERKAWINAN
1.  Kursus Persiapan Perkawinan dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 19.30 WITA.
2. Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
        *   Adrian Kusnadi & Vina Tanalysa                                                   ( Pengumuman III)
        *   Aditya Taher &  Amelia Febriani Kwandou                                 ( Pengumuman III)
        *   Gregorius Tjiang Wendy & Anastasia Aneke Tjhioputra       ( Pengumuman I)
        *   Christopher &  Delvi                           ( Pengumuman I)
        *   Gustav G. Philips  & Chatarina       ( Pengumuman I)
       *    Erick Haryono &  Sartika                  ( Pengumuman I)
       *    Effendy Gunawan & Natalya           ( Pengumuman I)
       *    Reza B. Rusli &Natalia Tansil          ( Pengumuman I)
       *   Jeffrie Lie  &  Yuliana Setiawati      ( Pengumuman I)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

B . Pendalaman Kitab Suci Dilaksanakan setiap Hari Selasa Pukul 18.00 Di Ruang Kelas Pastoran
Bahan Minggu ini: Ul.4:1-2,6-8;  Yak. 1:17-18,21b-22,27; Mrk. 7:1-8,14-15,21-23.
Tema: Memahami  Aktualisasi Rahmat   Ilahi
Pembicara: P. Victor Wiro , Pr

C.  PD Karismatik Di Katedral Minggu Ini Ditiadakan, dan bergabung dengan PD Gabungan di Paroki Mariso

SETIA & SELINGKUH TIADA AKHIR

HARI MINGGU BIASA XXI
Pastor Sani Saliwardaya, MSC

Inpirasi Bacaan: 
Yos. 24:1-2a, 15-17, 18b; Ef. 5:21-32; Yoh. 6:60-69

Beberapa waktu yang lalu banyak bermunculan singkatan-singkatan “plesetan”, artinya maksud sebenarnya dari kepanjangan singkatan itu diubah dengan alas an tertentu. Misalnya, SMS singkatan sebenarnya Short Messages diubah menjadi Semua Makan Sosis dengan tujuan agar iklan Sosis menarik dan meningkatkan penjualan Sosis; atau Selingkuh Makin Serius untuk mengatakan bahwa SMS bisa mengarah pada perselingkuhan yang makin intens. Singkatan  BBM (Blackberry Messager) menjadi Bisa Bikin Miskin karena harga BB dan biaya langganannya mahal; atau Benar-benar Menjengkelkan karena sinyalnya amat jelek sehingga pesan selalu tertunda, dll. Masih banyak lagi bentuk-bentuk “plesetan” terhadap singkatan-singkatan. Mengapa terjadi “plesetan” atas singkatan-singkatan? Ada banyak alasannya. 
Seperti terungkap di atas,  antara lain, untuk mengiklankan produk dan mendongkrak penjualannya, untuk mengingatkan bahaya pemakaian berlebihan atas suatu produk tekhnologi, atau untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap sesuatu. 

“Plesetan” juga terjadi bukan pada singkatan-singkatan saja, tetapi pada ungkapan-ungkapan tertentu. Misalnya ungkapan SETIA diplesetkan menjadi SElingkuh TIada Akhir; SELINGKUH menjadi SELingan INdah Keluarga utUH. Saya mencoba merenungkan sambil mencari-cari motivasi dibalik “plesetan” ini dan mengkaitkannya dengan bacaan-bacaan Kitab Suci Minggu ini.
Di era masyarakat ultra-modern dan globalisasi ini, di mana sistem transportasi dan komunikasi semakin canggih, cepat, dan nyaman, terasa seolah-olah “dunia semakin sempit” (semua  tempat menjadi lebih gampang dijangkau dengan waktu yang singkat) dan seolah-olah “manusia makin dekat” (komunikasi menjadi lebih cepat}. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dunia ultra-modern ini bukan hanya memberikan nilai-tambah (nilai positip) bagi masyarakat tetapi juga memberi dampak (efek) negatip karena tidak diimbangi dengan perkembangan etis-moralnya. Dengan kata lain, ada kesenjangan antara perkembangan tehnologi yang sangat cepat bagaikan deret ukur dan pemahaman penghayatan etis-moral yang lambat bagaikan deret hitung. Kesenjangan itu menimbulkan kebingungan karena kurang adanya panduan yang jelas untuk mengatasinya. Karena tidak adanya panduan jelas itulah muncul sikap excuse, yakni sikap yang memberi izin bagi dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu berdasarkan norma / panduan / aturan sendiri. Sikap excuse merupakan sikap pembenaran diri. “Plesetan” di atas, meskipun dikatakan dengan nada bergurau dan tidak terlalu serius, tetapi mungkin terkandung sikap excuse tersebut: mau membenarkan diri terhadap perselingkuhan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci Minggu ini membawa pesan agar kita setia kepada Tuhan tanpa membuat dan mencari-cari pembenaran diri.

Dalam bacaan pertama, menjelang wafatnya, Raja Yosua menyampaiakn pidato perpisahannya kepada para pemimpin bangsa. Dalam pidato perpisahannya ini, Yosua menanyakan ketegasan sikap mereka untuk beribadah kepada Tuhan. Mengapa Yosua menanyakan hal itu? 

Dalam pemerintahan Raja Yosua bangsa Israel mengalami kemakmuran, kesejahteraan dan keamanan, serta kedamaian di antara suku-suku Israel & Yehuda Yosua menyadari bahwa semua itu berkat perlindungan Tuhan (Yos. 21:43-45). Yosua mengumpulkan para pemimpin bangsa untuk mengingatkan mereka akan kebesaran dan perlindungan-Nya selama ini kepada mereka. Yosua mengingatkan mereka akan karya Allah bagi bangsa Israel mulai sejak dari Abraham sampai dengan masa pemerintahannya (bdk. Yos. 24:1-28). Allah begitu setia mendapmpingi seluruh perjuangan dan pergumulan bangsa. Di pertengahan pidatonya itu, Yosua menuntut kesetiaan mereka untuk tetap mengabdi kepada Tuhan (Yos. 24:14-15, 19-20). Kemudian Yosua mengakhiri pidatonya dengan mengikat suatu perjanjian kesetiaan kepada Tuhan di Sikhem di antara mereka (Yos. 24:25-28).

Dalam bacaan Injil, seperti halnya Yosua, Yesus juga menanyakan ketegasan sikap para murid-Nya terhadap Dia, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”. Mengapa Yesus meminta ketegasan sikap mereka?

Setelah mengadakan mukjijat perbanyakan roti (Yoh.6:1-15), banyak orang berbondong-bongdong mencari dan mengikuti Yesus (Yoh.6:22-24). Kepada mereka Yesus mengajarkan tentang Roti Hidup yang adalah DIri-Nya Sendiri (Yoh.6:25-59). Yesus mengatakan bahwa keselamatan terjadi bila orang bersatu dengan-Nya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh.6:53-54). Ungkapan simbolik Yesus itu tidak bisa dipahami oleh para pendengarnya sehingga mereka mengerutu dan mulai menolak Yesus (bdk. Yoh, 6:41-42, 52). Mereka menjadi semakin menolak ketika Yesus membandingkan  Diri-Nya dengan manna, peristiwa roti di padang gurun pada masa Musa. “Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh.6:58).

Karena pengajaran-Nya itu, banyak orang yang tersinggung dan bersungut-sungut,  kemudian meninggalkan Dia (bdk. Yoh. 6:60). Situasi ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajarkan dan menegaskan kembali kepada para murid-Nya bahwa Dia datang untuk melaksanakakan kehendak Bapa, dan hanya karena kehendak Bapa saja orang bisa percaya kepada Dia (bdk. Yoh.6:61b-65). Yesus menanyakan ketegasan sikap para murid untuk percaya dan setia kepada-Nya.  Mewakili rekan-rekannya, Petrus menjawab, “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh.6:68-69). Pengakuan Petrus ini menyatakan kepercayaan dan kesetiaan seorang murid kepada gurunya.

SETIA merupakan sikap yang agak jarang dan sulit diketemukan di zaman ultra-modern dewasa ini, sebaliknya SELINGKUH TIADA AKHIR merupakan tindakan yang cukup gampang diketemukan di mana-mana. SELINGKUH bukan hanya dalam hidup perkawinan saja, tetapi juga dalam kehidupan beriman, yakni orang Katolik yang “jajan” ke tempat-tempat ibadat lain untuk mendapatkan “kepuasan” batin. Pembenaran diri atas perselingkuhan iman ini ialah bahwa di Gereja Katolik tidak menemukan & mendapatkan “kepuasan” diri, “kepuasan” yang diinginkan. Seperti yang sering terjadi dalam perselingkuhan perkawinan karena tidak mau memahami pasangannya, demikian juga perselingkuhan iman terjadi karena tidak mau saling memahami: umat tidak memahami Gereja & ajarannya, sebaliknya Gereja tidak mau memahami kebutuhan umatnya.

SETIA dan SELINGKUH TIADA AKHIR sama-sama membutuhkan pengorbanan.  SETIA membutuhkan pengorbanan diri, sedangkan SELINGKUH TIADA AKHIR membutuhkan orang lain yang berkorban.

Yesus dalam hidup dan karya-Nya lebih memilih mengorbankan diri, mempersembahkan diri agar orang lain bahagia, dan bukan sebaliknya. Yesus memberikan Hidup-Nya agar menghidupkan orang lain.

Sebagai murid Kristus semestinya kita meneladan Sang Guru, dan bertindak lain dari-Nya. Semoga kita mau meneladan Sang Guru. 

Santa Monika


Monika, Ibu Santo Agustinus dari Hippo, adalah seorang ibu teladan. Iman dan cara hidupnya yang terpuji patut dicontoh oleh ibu – ibu Kristen terutama mereka yang anaknya tersesat oleh berbagai ajaran dan bujukan dunia yang menyesatkan. Riwayat hidup Monika terpaut erat dengan hidup anaknya Santo Agustinus yang terkenal bandel sejak masa mudanya. Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan beribadat. Ketika berusia 20 tahun, ia menikah dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya.
Dalam kehidupannya bersama Patrisius, Monika mengalami tekanan batin yang hebat karena ulah Patrisius dan anaknya Agustinus. Patrisius mencemoohkan dan menertawakan usaha keras isterinya mendidik Agustinus menjadi seorang pemuda yang luhur budinya. Namun semuanya itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa untuk memohon campur tangan Tuhan. Bertahun – tahun lamanya tidak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Baru pada saat – saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan. Monika sungguh bahagia dan mengalami rahmat Tuhan pada saat – saat kritis suaminya.

Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kota Kartago. Cara hidupnya semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme yang sesat itu. Lebih dari itu, di luar perkawinan yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak yang diberi nama Deodatus. Untuk menghindarkan diri dari keluhan ibunya, Agustinus pergi ke Italia. Namun ia sama sekali tidak luput dari doa dan air mata ibunya.

Monika berlari meminta bantuan kepada seorang uskup. Kepadanya uskup itu berkata: “Pergilah kepada Tuhan! Sebagaimana engkau hidupa, demikian pula anakmu, yang bagimu telah kaucurahkan banyak air mata dan doa permohonan, tidak akan binasa. Tuhan akan mengembalikannya kepadamu.” Nasehat pelipur lara itu tidak dapat menenteramkan hatinya. Ia tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga ia menyusul anaknya ke Italia. Di sana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milano. Di Milano, Monika berkenalan dengan Uskup Santo Ambrosius. Akhirnya oleh teladan dan bimbingan Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya. Hal ini terlukis di dalam kesaksian Agustinus sendiri perihal perjalanan mereka pulang ke Afrika: “Kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan liku – liku masa lalu dan menyongsong hari depan. Kami bertanya – tanya, seperti apakah kehidupan para suci di surga… Dan akhirnya dunia dengan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami. Ibu berkata: “Anakku, bagi ibu sudah ada sesuatu pun di dunia ini yang memikat hatiku. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul”. 

Dalam tulisan lain, Agustinus mengisahkan pembicaraan penuh kasih antara dia dan ibunya di Ostia: “Sambil duduk di dekat jendela dan memandang ke laut biru yang tenang, ibu berkata: “Anakku, satu – satunya alasan yang membuat aku masih ingin hidup sedikit lebih lama lagi ialah aku mau melihat engkau menjadi seorang Kristen sebelum aku menghembuskan nafasku. Hal itu sekarang telah dikabulkan Allah, bahkan lebih dari itu, Allah telah menggerakkan engkau untuk mempersembahkan dirimu sama sekali kepadaNya dalam pengabdian yang tulus kepadaNya. Sekarang apa lagi yang aku harapkan?”

Beberapa hari kemudian, Monika jatuh sakit. Kepada Agustinus, ia berkata: “Anakku, satu – satunya yang kukehendaki ialah agar engkau mengenangkan daku di Altar Tuhan.” Monika akhirnya meninggal dunia di Ostia, Roma. Teladan hidup santa Monika menyatakan kepada kita bahwa doa yang tak kunjung putus, tak dapat tiada akan didengarkan Tuhan.

SEBELUM DUDUK, UMAT BERLUTUT KE ARAH ALTAR ATAU TABERNAKEL?


Ada umat bertanya ” Pada saat masuk ke gereja dan sebelum duduk, umat berlutut. Kemana arahnya, 
apakah ke Altar atau Tabelnakel.

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL YUDHISTIRA :
Jika di panti imam ada Altar dan Tabernakel yang didalamnya disemayamkan Sakramen Mahakudus, atau jika di dekat Altar ada Tabernakel yang kelihatan dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya: Umat berlutut dengan satu kaki (kaki kanan menyentuh tanah) ketika melewati Altar/Tabernakel. Tidak perlu dua kali jika Altar/Tabernakel agak terpisah.
Juga ketika hendak duduk, ini kebiasaan yang baik.
Jika tidak ada Tabernakel di panti imam (hanya ada Altar), umat membungkuk dalam ke arah Altar ketika melewati Altar, juga ketika hendak duduk.
Jika hanya ada Tabernakel, umat berlutut satu kaki.
Jika Sakramen ditahtakan dalam Monstrans atau Pixis, umat berlutut. Aturan pasca Konsili Vatikan II tidak secara spesifik memberi perbedaan dengan dua lutut menyentuh tanah atau satu lutut kanan saja. Keduanya boleh dilakukan. Aturan sebelum Konsili Vatikan II mewajibkan berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah (double genuflection).
Petugas Liturgi yang melayani dalam Misa diwajibkan untuk berlutut ke arah Altar jika ada Tabernakel dengan Sakramen di dalamnya, hanya pada dua kesempatan: sebelum naik ke panti imam dan setelah perayan selesai. Tidak perlu berlutut setiap kali lewat. Jika tidak ada Sakramen, membungkuk yang dalam ke arah Altar.
Pada Jumat Agung ada kekhususan, selain terhadap Sakramen Mahakudus, umat juga berlutut ke arah Salib. Umumnya Salib utama pada perayaan Jumat Agung.

PENCERAHAN dari Pastor Liberius Sihombing
Bagaimana pun kita mesti tahu apa yg menjadi central (pusat) dari sebuah bangunan gereja. Yang menjadi pusat dalam gereja adalah Altar (bukan tabernakel). Dalam gereja bisa tdk ada tabernakal tetapi mesti ada Altar. Itu mesti dipahami. Maka menurut paham liturgi, kita memberi hormat entah berlutut entah membungkuk di dalam gereja bukan terutama karena ada tabernakel yang adalah tempat penyimpanan hosti kudus. Tetapi karena adanya Altar tempat dimana Yesus Kristus hadir secara riil. Jadi bukan berarti kalau tidak ada tabernakel, maka cara penghormatan kita di dalam gereja menjadi berkurang. 
Di banyak tempat (stasi) tdk tersedia tabernakel, jd bukan berarti kita tidak perlu berlutut di sana. Memperlakukan gereja mesti sama entah tanpa tabernakel atau dengan tabernakel. Pernah sy agak tersinggung melihat umat menghias gereja (kebetulan tdk ada tabernakel) untuk memasang hiasan natal di plafon mereka menggeser altar dan menginjaknya. Mereka memperlakukan altar seperti meja biasa dan dipakai jdi pijakan pengganti tangga. Bukankah altar itu ‘piring’ kita yg dari dalamnya kita langsung menerima Kristus? Maka untuk saya (bukan menyangkal pendapat teman yg pertama) altar itu menjadi lebih tinggi dari tabernakel. 

TRY AGAIN....


"Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."

Suatu kali ayah Randi sedang melatih anaknya bersepeda di sebuah taman yang ada di depan rumah mereka. Awalnya, sang ayah memegang dari samping sepeda yang dikendarai Randi. Dengan sabar, ia mengajari anaknya itu bagaimana mengayuh sepeda dan menyeimbangkan badan. Namun, tiba-tiba sang ayah melepaskan tangannya dari sepeda, tentu saja Randi yang belum siap ketika itu pun jatuh.
Air mata Randi keluar saat ia melihat ada darah keluar dari kakinya. Perih, itulah yang dirasakannya ketika itu. Sang ayah yang tidak jauh dari jatuh anaknya itu pun hanya tersenyum dan mendatangi Randi yang sedang menangis dan memegang kakinya yang luka. Ia pun mendatangi anaknya dan memegang kakinya. Dengan santai, ia berkata kepada anaknya, "ah, ini mah gak papa, besok juga lukanya udah kering. Randi, masih mau melanjutkan latihan sepedanya atau tidak?"
Randi yang mendapat pertanyaan dari sang ayah pun terdiam. Air matanya berhenti saat itu dan pikirannya saat itu berputar. Sambil terisak-isak, ia menganggukkan kepalanya tanda untuk mau latihan. Sang ayah pun mengambil sepeda dan meminta anaknya untuk bangkit kembali. Dengan menahan rasa perih, ia pun menuruti permintaan ayahnya. Sepeda kembali ia dipegang dan Randi pun duduk di jok sepedanya.
Sewaktu sang ayah ingin membantunya untuk mengendarai sepeda, tawaran itu ia tolak. Ia meminta ayahnya untuk berada cukup jauh dari dirinya. Sambil menghela nafas panjang, Randi pun mulai mengayuh sepedanya. Pada ayuhan yang pertama dia begitu senang karena ia bisa mengendalikan sepedanya, tapi itu tidak berlangsung lama dan dia pun terjatuh. Hal itu terus terjadi sampai usahanya yang ke-9.
Pada usahanya yang ke-10, Randi kembali mengambil sepedanya. Dia pun dengan semangat mengangkat sepeda yang telah jatuh ke tanah dan kembali mencoba mengayuh sepedanya. Dan usahanya kali ini berhasil. Randi telah bisa menguasai sepedanya seorang diri. Ia pun menghampiri ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah bisa berhasil mengendarai sepeda.
Tuhan menginginkan hal yang sama kepada kita. Walaupun mempunyai kuasa untuk menolong saat kita sedang dalam masa "jatuh", Dia ingin kita tetap berusaha untuk bangkit. Dia mau anak-anakNya menjadi anak yang tangguh; anak-anak yang tidak mudah menyerah oleh keadaan yang sukar; anak-anak yang berkata "ya" kepada kebenaran firman Tuhan dan "tidak" kepada dosa.
Saat ini Tuhan bertanya kepada Anda, "apakah engkau mau melanjutkan ujian dari-Ku dan menjadi pemenang sejati?" jika iya, berusaha terus saat Anda merasa gagal dan jatuh. Percayalah tangan-Nya selalu tersedia dan siap membantu ketika Anda membutuhkannya.

Untuk melihat janji Tuhan digenapi, terkadang Anda harus mengeluarkan usaha yang ekstra.

TUHAN, KECUALI HANYA KEPADA ENGKAU, KEPADA SIAPAKAH KAMI AKAN PERGI?


Masih soal Roti Hidup. Sebelumnya Yesus mengatakan carilah roti kehidupan kekal, yaitu roti yang membuat kenyang abadi. Bekerjalah bukan untuk makanan yang bisa binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal yang diberikan Allah dari surga.
Mereka tetap berteriak-teriak minta roti karena sudah tidak ada yang dimakan. Dan kini Yesus mengatakan: ”Akulah roti hidup yang turun dari surga”, maka orang-orang Yahudi makin bersungut-sungut dan membuat mereka mundur termasuk para murid karena tidak menangkap dan salah paham. Apalagi ketika Yesus mengatakan, ”Akulah Roti Hidup yang turun dari surga, barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.” Bagi para murid Sabda ini keras, siapa yang mampu menerimanya. Mereka menangkapnya disuruh makan daging dan minum darah manusia. ”Mana mungkin”. Sebab dalam ajaran mereka tidak diperbolehkan makan dan minum darah orang lain.

Karena itulah banyak orang mulai meninggalkan Dia; hanya tinggal beberapa murid saja yang masih bertahan. Lalu Yesus menantang mereka, ”Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dalam ketidak mengertiannya Petrus menjawab: ”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Sabda-Mu adalah perkataan hidup dan kekal, dan kami telah percaya bahwa Engkau Kristus, Putra Allah”
Itulah iman Petrus yang sungguh besar, walau tidak mengerti dalam ketidakjelasan makna, namun dengan jujur Petrus mengatakan ’ya’ kepada Tuhan. Makna makan daging-Nya dan minum darah-Nya baru dipahami dengan jelas saat Yesus di puncak salib. Pada puncak salib itulah para murid mulai agak mengerti bahwa Tuhan telah wafat, menyerahkan tubuh dan darah-Nya kepada manusia. Sabda itu menjadi jelas setelah kebangkitan dan kedatangan Roh Kudus, mereka semakin paham bahwa semua itu dilakukan oleh Yesus demi keselamatan semua orang. Kesaksian Petrus saat itu membuat semua orang percaya hanya kepada Yesuslah orang akan menerima penebusan dan keselamatan kekal yang dijanjikan Allah. Semuanya semakin jelas bahwa salib dan penderitaan Yesus sungguh diperuntukkan bagi keselamatan semua orang.

Bagaimana dengan kita?
Dalam kehidupan sehari-hari pun kita menghadapi tekanan dan salib, yang membuat iman kita sering krisis. Menghadapi keadaan demikian kita harus memilih, pergi meninggalkan Tuhan atau tetap tinggal dalam Tuhan dan mempercayakan persoalan kita kepada-Nya. Jawabannya, ya seperti pilihan Petruslah; kita tetap bertahan dan tinggal bersama Dia, mempercayakan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sama seperti Yosua tetap memilih dan menyembah Tuhan Allah kita. Dari kesaksian Petrus ini membuat kita yang sulit menangkap bahwa makan daging dan minum darah-Nya yang adalah sumber keselamatan kita, berarti menerima dan mengimani Yesus. Dengan jawaban Petrus itu, kita diajak mengimani bahwa Yesus tetap hadir dalam Sabda dan Sakramen Mahakudus. Sabda dan Roti yang Kudus itu sungguh memberi kekuatan dan ketabahan hati kita. (FX. Mgn)

MENJADI TANDA AJAIB


"Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan berfirman kepadanya dan memberikannya suatu tanda ajaib." - 2 Tawarikh 32:24
Raja Hizkia menderita penyakit yang kian parah. Ia hampir mati. Sebagai seorang raja tentu ia dapat memperoleh pengobatan yang terbaik yang ada pada zaman itu. Dia bisa mendatangkan ahli pengobatan yang terbaik. Membeli obat yang paling mujarab. Sebagai raja, apa yang tidak bisa ia lakukan?

Tetapi meskipun Ia telah mencoba apapun di dalam batas kemampuannya, keadaannya tidak membaik malah kian memburuk. Tinggal satu hal yang dapat ia lakukan.

Merendahkan diri dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Maka Hizkia berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mendengar Hizkia dan memulihkan keadaannya. Ia menjadi tanda ajaib.

Apa artinya? Banyak orang tahu bahwa Hizkia sakit dan hampir mati. Rakyat tahu, pegawainya tahu, ajudannya tahu,
Istrinya tahu. Tiba-tiba suatu hari dia bangun dari sakitnya dan sembuh. Tentu mereka bertanya-tanya. 'Apa yang terjadi?' 'Mengapa bisa sepert itu?' Disinilah Hizkia menjadi tanda ajaib. Dia dapat bersaksi dan membawa orang lain datang kepada Tuhan.

Kalau  Anda sedang mengalami goncangan dan telah mencoba apapun tapi tidak berhasil juga, kuncinya adalah merendahkan hati dan mengakui hanya Tuhan yang dapat memberikan pertolongan. Banyak berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala sesuatu.

Mujizat terjadi ketika kita mau merendah di hadapan Tuhan. Kita meninggikan Tuhan bukan diri kita sendiri. Kita mengakui Tuhan dalam segala perbuatan kita. Maka Tuhan akan memulihkan kita dan memultiplikasi segala berkat-Nya atas kita. Kemudian kita harus menyaksikan semua kebaikan Tuhan kepada orang lain. Jadilah saksi-Ny

Rabu, 22 Agustus 2012

Pengumuman Paroki Minggu 18-19 Agustus 2012

Pengumuman Paroki Minggu 18-19 Agustus 2012


A. SAKRAMEN KOMUNI PERTAMA
Persiapan Calon Komuni Pertama dilaksankan setiap Sabtu, pukul 16. 30 Wita di Aula Pastoran



B. SAKRAMEN PERKAWINAN
1. Kursus Persiapan Perkawinan dilaksanakan setiap hari Selasa, pukul 19.30 WITA. 

2. Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
* Aphin Dili & Neny Angelina Reston ( Pengumuman III)
* Adrian Kusnadi & Vina Tanalysa ( Pengumuman II)
* Rian & Angky ( Pengumuman II)
* Aditya Taher & Amelia Febriani Kwandou ( Pengumuman II)
Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

ROTI HIDUP


Hari Minggu Biasa XX
Pastor Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan: Yoh. 6:51-58

Kalau Yesus mengajar, Ia selalu memberikan kesan yang menuntut tanggapan. Ia selalu berbicara jelas dan sederhana. Dan apa yang dikatakanNya adalah kebenaran tentang diriNya sendiri. Dalam kutipan bacaan injil hari ini, Yesus mengajar dengan bantuan gambaran tentang roti, makanan. Dalam 4 minggu terakhir ini kita telah mendengar hal yang sama. Yesus menyatakan diriNya sebagai „roti hidup”. Mengapa Yesus memperkenalkan diriNya sebagai roti? 

Bila kita suatu saat mengadakan suatu perjalanan yang cukup panjang, setelah waktu yang cukup lama kita membutuhkan istirahat. Dan bila akhirnya waktu istirahat yang sangat dinantikan itu tiba, dengan lelah tetapi yang disertai rasa gembira kita duduk dan mulai memesan minuman dan makanan untuk mengembalikan tenaga. Karena lapar dan lelah, kadang kita makan lebih lahap dari biasanya, meskipun sebenarnya makanan itu tidak istimewa. Kadang-kadang bahkan makanan yang sederhana terasa lebih enak daripada yang biasanya. Bahkan pernah karena begitu haus saya meminun air dari sumur dalam perjalanan ke sebuah stasi, dan airnya terasa sangat segar dan lebih enak daripada air matang di rumah. Dari mana rasa enak itu? 

Pada saat lapar dan kita harus menanti lama untuk mendapatkan makanan, kita akan lebih menyadari betapa pentingnya makanan. Berbeda dengan orang yang tidak pernah merasa kekurangan makanan, hidup selalu dalam kelimpahan makanan, ia tidak akan pernah menyadari betapa pentingnya setiap sendok nasi. Bila kita harus membawa bekal, kita mempertimbangkan dengan saksama, berapa banyak yang kita akan makan, apa yang perlu kita bawa, dan apa yang sebaiknya ditinggalkan saja di rumah. Kita akan membagi bekal kita dengan baik kepada sesama teman perjalanan. Bila kita tahu bahwa kita tidak dapat dengan mudah menemukan warung makan atau restoran sepanjang perjalanan, kita akan sungguh memperhatikan bekal kita, agar kita sekurang-kurangnya dapat bertahan sepanjang perjalanan itu. Di balik sikap ini tersirat pertanyaan, yang harus kita jawab: apa yang kita butuhkan untuk hidup? 

Pentingnya hidup atau pentingnya makanan?
Kita sering membaca atau mendengar, bahwa kadang dalam suatu peristiwa tertentu ada orang yang terdampar dan menderita, yang tidak dapat menolong diri sendiri dan karenanya sangat bergantung pada orang lain dan harus menunggu lama hingga bantuan datang. Makanan yang tersisa dibagi bersama hingga betul-betul habis. Sering kita mendengar atau membaca tentang nasib saudara-saudara kita yang tertimpa bencana banjir/longsor/gempa bumi/tsunami, di mana makanan sesedikit bagaimana pun yang dibagi menjadi begitu penting untuk hidup. 
Bagi kita yang berkecukupan, pentingnya makanan tidak begitu kita pikirkan, bahkan kadang kita menghindari makanan demi menjaga postur. Tetapi bila kita membayangkan seperti dalam perjalanan yang tadi diceriterakan, atau bepergian dengan kapal laut selama berhari-hari, di mana orang harus antri lama untuk mendapatkan makanan, mungkin kita dapat sedikit membayangkan arti yang mendalam dari makanan. Hanya dengan memahami arti yang dalam tentang makanan itu, kita dapat memahami apa yang  Yesus ingin sampaikan kepada kita. Roti/makanan adalah hidup dan hidup adalah roti/makanan. 

Yesus berkata: Aku adalah roti hidup
Yesus berkata: „Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya”. Dengan ucapan ini Yesus mau mengatakan bahwa kita sungguh membutuhkan Dia sebaimana kita membutuhkan makanan, bahwa Ia bagi kita sangat penting untuk hidup.
Makanan adalah tanda kehidupan. Tetapi karena makanan itu menjadi sangat biasa dalam hidup harian, pentingnya makanan kadang tidak begitu disadari lagi. Bila kita lapar, tanpa banyak pertimbangan dan penjelasan, kita mengambil makanan dan memakannya, karena setiap orang tahu apa itu nasi dan lauknya, atau mie pangsit, dll jenis makanan yang sering kita konsumsi. Persis seperti itu juga Yesus ingin menjadi tanda bagi manusia, bagi setiap saat hidup kita, tanpa banyak penjelasan: mengapa. Justru bila sesuatu begitu jelas dan sederhana, pentinglah untuk mencari dengan lebih tepat, apa yang menjadi maknanya yang terdalam. 
Yesus menghadiahkan dirinya untuk kita dalam rupa roti dan mewartakan kehidupan dalam kepenuhannya. Di dalam setiap perayaan Ekaristi kita bersyukur atas hadiah itu, dan mengungkapkan persetujuan kita akan hal itu setiap kali kita mengatakan „Amin” (ya, memang betul) pada saat penerimaan komuni kudus. Yesus menyerahkan diriNya ke tangan kita, dan dengan itu Ia ingin mempersatukan diriNya dengan kita. Dan kemungkinan untuk mengalami Yesus yang begitu dekat dengan kita dalam wujud makanan selalu ditawarkan setiap hari kepada kita, bukanlah suatu kesempatan yang langka. 
Kamu membutuhkan Aku sebagaimana kamu membutuhkan roti, Aku adalah makanan untuk kalian – demikianlah pernyataan Yesus. Dan bilamana kita membuka tangan kita untuk menerima hosti atau komuni, kita menyatakan: datanglah kepadaku, engkau begitu berharga bagiku, aku ingin hidup dalam persatuan denganMu. 

Berikut beberapa hal untuk kita renungkan: 
· Dari Yesus aku dapat mengalami bahwa aku hidup. Itulah sebabnya di dalam setiap anugerah yang kuterima dan pekerjaan yang kulakukan tersirat pertanyaan: bagaimana aku sendiri dapat menjadi rejaki bagi yang lain? 
· Bila aku maju ke depan gereja dalam Perayaan Ekaristi dan menerima komuni kudus, apakah aku masih tetap menyadari makna penting dan mendalam dari komuni kudus, bahwa dengan itu saya menerima undangan Yesus untuk hidup kristiani, dan bahwa saya menyadari bahwa Yesus begitu penting bagiku? 
· Sebagai orang katolik, apakah aku masih memiliki kerinduan untuk menghadiri misa atau perayaan Ekaristi dan menerima Kristus di dalam komuni kudus? 

Menjadi Jam Swiss Atau Sekedar Ganjal Pintu?


Saya membaca dari satu informasi bahwa satu pon (sekitar setengah kilo) plat baja saat ditambang punya harga sekitar 5 dollar (45.000 rupiah). Itu mungkin bisa untuk membuat ganjal pintu yang bagus. Jika anda membawa baja dengan berat yang sama untuk membuat sepatu kuda, kini harganya naik menjadi sekitar 50 dollar (450.000 rupiah). Bawalah baja itu dan dibuat jarum suntik kedokteran, nilainya menjadi 500 dollar (4.500.000 rupiah). Namun bila baja itu dibuat menjadi pegas atau per yang diperlukan dalam jarum buatan Swiss, maka satu pon baja itu menjadi senilai 5000 dollar (45.000.000 rupiah).
Perbedaannya adalah pada apa yang dilakukan pada bahan mentah itu. Sekarang apa yang bisa anda lakukan dengan bahan mentah yang Tuhan telah berikan pada Anda? Saya melihat orang-orang yang terus menerus mengganti pekerjaan, rumah, pasangan hidup, gereja dan juga teman-temannya – mereka mencari satu bentuk kehidupan yang sempurna, namun mereka tidak pernah berpikir tentang merubah diri mereka sendiri. Apa yang bisa Anda lakukan untuk membuat bahan mentah yang anda miliki menjadi lebih bernilai?
Adalah menakjubkan bagi saya ketika melihat tangan manusia secara fisik bisa dipakai untuk menggenggam senjata dan merampok toko swalayan dan tangan yang sama bisa dilatih dan dibentuk untuk menggenggam pisau bedah untuk operasi untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Satu batu bata bisa dipakai untuk melempar jendela rumah orang lain atau menjadi bagian dari katedral indah.

Apakah Anda telah melihat potensi lengkap yang telah diberikan pada diri Anda? Apa yang bisa Anda lakukan di waktu mendatang untuk membuka bungkusan potensi Anda dan terlibat lebih jauh dengan kapasitas Anda untuk membuat dunia lebih baik?. Apakah Anda membutuhkan training, pelatihan, peneguhan, inspirasi atau harapan?. Buatlah keputusan untuk menjadi Jam Swiss – bukan sekedar ganjal pintu.

Roti Kehidupan Abadi


“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”Ketika masih anak-anak dan tinggal di desa mau makan enak tidak ada, dan setelah dewasa seperti saat ini serta menjadi pastor cukup banyak makanan enak tersedia tetapi tidak boleh makan”, demikian komentar salah seorang rekan komunitas. Maklum rekan kami tersebut sesuai dengan hasil laboratorium rumah sakit berkolesterol tinggi alias terlalu memiliki lemak jahat cukup banyak di dalam darahnya. Maka demi  masa depan alias hidup lebih panjang yang bersangkutan harus bermatiraga dalam hal makanan dan minuman. Makanan-makanan yang enak pada masa kini memang pada umum berlemak dan tentu saja kurang sehat atau baik bagi mereka yang berkolesterol tinggi. Cukup banyak orang kiranya mendambakan berusia panjang alias jangan segera mati atau dipanggil Tuhan, maka untuk itu mereka dengan berbagai upaya dan usaha berusaha agar dirinya tetap sehat wal’afiat, segar-bugar alias tidak mudah jatuh sakit, agar diperkenankan hidup di dunia ini lebih lama. Jika orang berhasil dalam mengusahakan hidup yang baik, sehat dan segar-bugar di dunia ini kiranya yang bersangkutan untuk mendambakan atau berharap kelak ketika dipanggil Tuhan alias setelah meninggal dunia akan hidup selama-lamannya, mulia di sorga bersama Tuhan.
“Roti” yang dimaksudkan di dalam Warta Gembira hari ini bagi kita masa kini kita imani dalam rupa ‘roti tak beragi’ yang setiap kali kita terima di dalam Perayaan Ekaristi, yaitu ‘komuni suci’. Setiap kali menyambut komuni kita mengatakan ‘Amin’ atas kata-kata dari pemberi komuni “Tubuh Kristus”, yang berarti kita mengimani dan menghayati bahwa yang kita terima adalah ‘Tubuh Kristus’. Makanan sedikit banyak atau secara dominan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan, apa yang biasa dimakan akan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan. Maka jika kita menyantap ‘Tubuh Kristus” berarti hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh Yesus Kristus, kita memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, dan dengan demikian kelak kita layak untuk menikmati hidup selama-lamanya di sorga.
Jika kita meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, maka kita tidak hanya akan hidup selamanya di sorga tetapi selama hidup di dunia ini kita juga tetap hidup dengan gairah, ceria, dinamis, penuh harapan, dst.. meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan; kita dapat mengatasi atau mengalahkan aneka macam godaan atau rayuan setan yang merajalela di sana-sini dalam kehidupan masa kini. Dengan kata lain kita memiliki budi pekerti luhur, yang antara lain menghayati  keutamaan-keutamaan “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)
Kami berharap dan mendambakan para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup berbudi pekerti luhur bagi anak-anaknya. Mungkin anda juga akan bertanya “Bagaimana mungkin?”.  Ingat bahwa anda telah saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit sampai mati, maka agar anda menjadi mungkin sebagai teladan berbudi pekerti luhur bagi anak-anak anda, hendaknya anda saling membantu dan mengingatkan jika di antara anda lalai dalam menghayati janji tersebut. Hendaknya anda sungguh bekerjasama atau bergotong-royong dalam menjadi teladan berbudi pekerti luhur. Anak-anak hendaknya sedini mungkin dilibatkan atau diajak untuk berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, dan ketika saat menyambut komuni suci mohonkan berkat bagi anak anda melalui yang menerimakan komuni suci. Kebersamaan anda dalam satu keluarga dalam berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi akan menjadi pengalaman yang indah bagi anak-anak anda dan tentu saja juga bagi anda berdua sendiri.[ ---Ign Sumaryo SJ]

Santo Paus Pius X


Giuseppe (= Yosef) Sarto adalah seorang pelajar miskin di Italia yang kelak menjadi seorang Paus! Giuseppe dilahirkan pada tahun 1835 di Riese, Italia sebagai anak kedua dari delapan bersaudara. Dalam keluarga, ia biasa dipanggil dengan nama kesayangan "Beppi". Ayahnya seorang pegawai pos. Papa dan Mama Sarto mengajarkan cinta kasih kepada Yesus dan Gereja-Nya kepada kedelapan anak mereka melalui teladan cinta kasih dalam rumah mereka.
Melebihi segalanya, Giuseppe ingin menyerahkan hidupnya untuk membawa banyak orang ke surga. Ia rindu menjadi seorang imam. Dan untuk itu, ia dan keluarganya harus banyak berkorban agar ia dapat bersekolah di seminari. Itu bukan masalah baginya. Ia bahkan biasa berjalan bermil-mil jauhnya dengan kaki telanjang ke sekolah agar sepatunya yang satu-satunya jangan sampai rusak. Ketika usianya 23 tahun, Giuseppe ditabhiskan menjadi seorang imam. Don Sarto (Don, Italia, artinya Pater) berkarya di paroki-paroki miskin selama tujuhbelas tahun. Semua orang mengasihinya. Don Sarto biasa memberikan segala yang ia miliki demi membantu mereka yang membutuhkan. Seringkali saudarinya harus menyembunyikan sebagian pakaiannya agar jangan sampai Don Sarto tidak mempunyai pakaian untuk dikenakan. Bahkan setelah Don Sarto diangkat menjadi Uskup kota Mantua dan kemudian diangkat lagi menjadi Kardinal, ia masih suka membagi-bagikan apa yang ia miliki kepada mereka yang berkekurangan. Ia tidak menyimpan apa-apa bagi dirinya sendiri.
Ketika Paus Leo XIII wafat pada tahun 1903, Kardinal Sarto diangkat menjadi paus. Ia memilih nama Pius X. Ketika Mama Sarto datang mengunjunginya di Vatican, Paus Pius X menunjukkan kepada ibunya cincin kepausannya. Mama Sarto berkata, “Kamu tidak akan mengenakan cincin itu hari ini, jika aku tidak terlebih dahulu mengenakan cincin ini,” kemudian Mama Sarto menunjukkan kepada Paus cincin emas ikatan perkawinannya.
Secara istimewa Paus Pius X dikenang karena kasihnya yang berkobar-kobar kepada Ekaristi Kudus. Bapa Suci mendorong semua orang untuk menyambut Yesus sesering mungkin, bahkan tiap hari! Ia juga menetapkan ketentuan yang mengijinkan anak-anak menyambut Komuni Kudus juga. Sebelumnya, anak-anak harus menunggu hingga usia 12-14 tahun untuk dapat menyambut Tuhan. Paus yakin bahwa Komuni Kudus memberi kekuatan yang diperlukan untuk melakukan segala sesuatu demi kasih kepada Yesus!
Paus Pius X percaya teguh dan amat mencintai iman Katolik. Ia menghendaki setiap orang Katolik mengenal dan mencintai keindahan kebenaran ajaran iman Katolik. Ia amat peduli pada tiap-tiap orang, mengenai kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmaninya. Ia mendorong para imam dan para katekis membantu orang banyak mengenal iman mereka.
Pius X juga mengerahkan banyak tenaga untuk memperbaharui liturgi, Sepanjang hidupnya ia tertarik pada musik-musik sakral dan mendorong digunakannya Lagu-lagu Gregorian di setiap paroki. Namun demikian, ia menjelaskan bahwa ia beranggapan usaha untuk menggantikan segala bentuk musik Gereja lainnya dengan Lagu Gregorian tidaklah dikehendaki. Ia mendorong digunakannya juga komposisi modern dalam liturgi, selama komposisi modern ini memenuhi standard musik liturgi Gereja. Paus Pius X juga merevisi Ibadat Harian Gereja.
Paus Pius X teramat menderita ketika pecah Perang Dunia I. Ia tahu bahwa akan ada banyak orang terbunuh. Ia mengatakan, "Aku akan dengan senang hati menyerahkan nyawaku demi menyelamatkan anak-anakku yang malang dari penderitaan yang mengerikan ini."
Paus Pius X wafat pada tanggal 20 Agustus 1914. Dalam surat wasiatnya ia menulis, "Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin, saya berharap mati miskin." Paus Pius X dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada tahun 1954. Pestanya dirayakan setiap tanggal 21 Agustus.

AWAS!! JEBAKAN DARI PIKIRAN ANDA.


Pemikiran apakah yang membuat kita gagal dan tidak dapat menerima apa yang Allah telah janjikan?? Yaitu PIKIRAN NEGATIF Pikiran negatif adalah pikiran yang mengecewakan, putus asa, kebingungan, kebimbangan, kekuatiran, takut akan masa depan, mempertanyakan firman Tuhan,kecemasan dan tawar hati. Banyak Anda yang tidak mengerti bahwa ini adalah jebakan yang membuat Anda bermain-main dalam jurang pikiran negatif.Padahal kebenarannya adalah adalah bahwa Tuhan tidak dapat memberkati dan memulihkan kehidupan Anda apabila Anda terus menerus bermain dalam jebakan pikiran negatif Anda sendiri.
Mengapa kita harus melepaskan pikiran negatif kita? Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang memiliki pikiran positif. Segala sesuatu yang baik dari DIA. Kita tidak dapat melawan arus Tuhan sendiri. Apabila Anda memiliki pikiran negatif, sedangkan Tuhan memiliki pikiran yang selalu positif, maka kita sedang bertentangan dengan Firman Tuhan. Anda melawan arus Tuhan. Bagaimana sebuah arus positif dapat berjalan bersama-sama dengan arus negatif? Tidak bisa! Mengapa demikian? Setiap kali Anda berpikir negatif,pikiran negatif itu akan seperti arus yang mengikis deras semua pemikiran Anda yang positif.
Karena Anda sering melawan arus Tuhan, maka inilah yang membuat Anda selalu bergumul. Jika Anda ingin meilihat kemenangan didalam kehidupan Anda, jangan bermain-main dengan pikiran negatif yang selalu timbul dalam pikiran Anda.
Pikiran positif apakah yang dimaksudkan Tuhan disini? Yaitu pikiran yang di transformasi. Metanoia (perubahan pikiran) = pikiran kemenangan, pikiran kesuksesan, pikiran keberhasilan – semua pikiran ini harus Anda bangun dalam kehidupan Anda setiap hari.
”Karena itu saudara-saudara,demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah olehpembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah;apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:1-2)Apakah yang Anda harapkan dalam kehidupan? kesuksesan ataukah kegagalan? Jadilah kreatif dalam menangani setiap pikiran negatif yang dating dalam pikiran Anda. Setiap hari anda dapat berkata:
” Semua yang benar, semua yang mulia,semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.. .. Pilihan ada ditangan Anda

PASTOR MENCIUM ALTAR - KENAPA ??

PERTANYAAN:
Saya mau tanya juga Romo. Kalau ada pastor yang tidak mencium altar, baik sebelum dan sesudah misa, apakah itu salah? Soalnya saya sering melihat pastor yang tidak mencium altar baik sebelum ataupun sesudah misa. Juga pada waktu misa sudah selesai, pastor turun dari altar, biasanya pastor, putra altar , lektor, prodiakon semuanya berlutut. Saya melihat banyak juga umat yang ikut membungkukkan badan. :-) 


PENCERAHAN DARI PASTOR YOHANES SAMIRAN SCJ
Romo haus membungkuk ketika mencium altar, karena memang altarnya lebih rendah daripada mukanya, ya otomatis membungkuk, tetapi intensinya adalah mencium altar dan bukan membungkuknya.

Maka di sini umat tidak perlu membungkuk.

Umat hanya ikut membungkuk romo adalah pada saat mengucapkan Credo pada bagian "Ia mengandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria - dan menjadi manusia" (Lihat dalam TPE dicetak 'miring' (italic).

a. Pastor yang gak mau cium altar ... itu jelas salah, atau dia merasa gagah? hehehe .... gak yang seharusnya memang mencium altar termasuk ritus, bahwa kita merayakan Ekaristi saat itu bersama dengan "Gereja semesta" dan sepanjang jaman.

b. Tentang umat ikut membungkuk silahkan saja, asal tidak diwajibkan semua ikut membungkuk. ... See MoreMembungkuk, menyembah, adalah ekspresi pribadi dan bukan komunal. Jadi tidak dilarang. Asal diwaspadai bahwa ukuran kesalehan tidak pada hal-hal lahiriah belaka, tetapi keterbukaan dan kekhusyukan, kekhidmatan hati saat 'menghadap Tuhan' dan penghayatan dalam keseharian.

c. Berlutut di depan altar dilakukan kalau di altar disimpan Sakramen Mahakudus. Itu berlaku untuk semua umat beriman yang tidak 'berhalangan' atau terhambat karena hal praktis, contoh karena harus memegang tongkat atau salib. Atau tidak sedang membawa sakramen mahakudus, misalnya imam, atau pelayan pembantu pembagi komuni saat berangkat atau kembali tidak perlu berlutut di depan altar.


Memang pastor setelah berlutut langsung menuju altar - untuk mencium altar ..... lalu (seharusnya) menuju "sedelia" dan (pada saatnya) membuka perayaan Ekaristi dari sana.