Cari Blog Ini

Rabu, 26 Juni 2013

MENANGGAPI PANGGILAN TUHAN

Hari Minggu Biasa XIII / Tahun C
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan:
1Raj.19:16b, 19-21; Gal. 5:1, 13-18; Luk. 9:51-62

            Injil Lukas hari ini bertemakan tentang panggilan. Panggilan, bukan hanya dalam arti sempit, yakni mengikuti Yesus dan menjadi murid-Nya (ay.57-62), tetapi juga dalam arti luas, yakni menerima Yesus dan percaya kepada-Nya (ay.51-53). Menanggapi panggilan dalam arti luas ini sering juga disebut sebagai panggilan hidup beriman; sedangkan menanggapi panggilan dalam arti sempit sering disebut pula sebagai mewujudkan panggilan hidup beriman. Kita mencoba merenungkannya satu persatu.
Panggilan hidup beriman (ay. 51-53)
Dikisahkan dalam konteks teks Injil  kita hari ini, bahwa Yesus dan para murid-Nya saat itu masih berada di daerah Galilea, di bagian utara tanah Israel (bdk. Luk.9:10, 28)). Setelah menampakkan kemuliaan-Nya di gunung Tabor di depan murid-murid-Nya, Petrus, Yohanes dan Yakobus (Luk.9:28-36), dan berbicara dengan Musa dan Elia tentang “tujuan kepergiann-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk.9:31), Yesus dengan mantap memutuskan untuk pergi ke Yerusalem (Luk.9:51).
Perjalanan dari Galilea menuju Yerusalem, yang terletak di wilayah Yudea, harus melalui daerah Samaria. Untuk itu, Yesus mengutus beberapa murid-Nya untuk mempersiapkan kedatangan-Nya di Yerusalem. Tetapi, ketika memasuki suatu desa di wilayah Samaria, mereka ditolak oleh orang-orang Samaria karena tujuan mereka bukan ke Samaria melainkan ke Yerusalem. Seperti kita ketahui, penduduk Samaria tidaklah saling bersahabat dengan penduduk Yerusalem, orang Yahudi pada umumnya (bdk. Luk. 10:25-37; Yoh.4:9; Mat. 10:5). Jadi, sebenarnya penduduk Samaria tidak secara langsung menolak para murid Yesus. Mereka ditolak memasuki desa di Samaria karena tahu bahwa mereka mau ke Yerusalem, yang pendudukinya bermusuhan dengan mereka, orang-orang Samaria. Dan penolakan tak langsung kepada para murid ini juga merupakan penolakan tak langsung kepada Yesus dan kepada Dia yang mengutus-Nya (bdk. Luk. 10:16). Karena alasan itulah, Yakobus dan Yohanes mohon agar Yesus menghukum mereka dengan api dari langit (Luk.9:54), sebagaimana dahulu nabi Elia menghukum musuh-musuhnya (bdk. 2Raj.1:10-12). Tetapi Yesus berpaling dan menegor mereka (Luk.9:55). Apa makna kisah ini bagi kita?
Hal menerima & percaya akan Yesus merupakan rahmat Allah. Karena itu, tidak seorangpun bisa dan boleh dipaksa, apalagi dengan kekerasan & hukuman, untuk menerima panggilan hidup beriman. Hidup beriman merupakan panggilan Allah dan harus ditanggapi dengan penuh kebebasan (bdk. Katekismus Gereja Katolik, no.153)
Mewujudkan panggilan hidup beriman (ay.57-62)
            Dikisahkan dalam ayat-ayat ini, ada tiga orang yang berdialog dengan Yesus untuk dijadikan murid-Nya (ay.57, 59, 61).
Orang pertama, atas dasar inisiatip sendiri ingin mengikuti Yesus. Dengan menjawab, “srigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”, Yesus tidak menolak permintaannya, melainkan mengajak orang tersebut untuk mempertimbangkan segala resiko mengikuti Yesus, yakni meninggalkan bentuk-bentuk “kenyamanan diri” yang dilambangkan dengan ungkapan “tempat untuk meletakkan kepada-Nya”.
            Hal meninggalkan bentuk-bentuk “kenyamanan diri” itu dipertegas lagi ketika Yesus, dengan inisiatip-Nya, justru memanggil orang-orang lain yang nampaknya justru tidak ingin menjadi murid-Nya. Orang-orang ini memberikan pelbagai alasan untuk menolak panggilan Yesus; orang kedua menjawab, “izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (ay.59); dan orang ketiga memberikan alasan, “izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (ay.61). Hal menguburkan bapa yang sudah meninggal dunia merupakan suatu kewajiban tradisi dari anak laki-laki dan sebagai tanda bakti kepadanya. Demikian pula berpamitan kepada keluarga sebelum bepergian merupakan suatu kewajiban budaya. Dan hal mengikuti aturan tradisi & budaya senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pelakunya. Yesus mengajak orang yang mau mengikuti-Nya untuk meninggalkan rasa aman dan nyaman tersebut. Rasa aman dan nyaman bersembunyi dibalik aturan tradisi & budaya. Yesus mengajak mereka untuk menyerahkan rasa aman & nyamannya kepada Yesus sendiri. Mereka diajak untuk tidak menyembunyikan diri lagi dibalik budaya dan tradisi  mereka sendiri, melainkan menggantinya dengan budaya dan tradisi baru, yakni budaya dan tradi Yesus, yakni budaya dan tradisi untuk saling mencintai sesama tanpa sekat-sekat budaya dan tradisi sendiri. Apa makna kisah ini bagi kita?
            Melalui sakramen baptis yang telah kita terima, kita bukan hanya menerima dan percaya kepada Yesus, tetapi juga telah diangkat menjadi murid-murid-Nya. kita diajak untuk memakai dan menghidupi budaya dan tradisi baru, yakni budaya & tradisi Kristus, budaya & tradisi cinta kasih. Hal ini bukan berarti bahwa kita diminta untuk membuang jauh-jauh budaya & tradisi hidup kita masing-masing. Kita diajak untuk bersikap kritis dan refleksif. Budaya dan tradisi kita yang tidak sesuai dengan budaya & tradisi cinta kasih perlahan-lahan kita ganti, dan kita belajar menghayati budaya & tradisi Kristus tersebut.
Dengan demikian, tampak ada sedikit perbedaan antara cara bersikap dalam menanggapi panggilan hidup beriman dan cara bersikap dalam mewujudkan panggilan hidup beriman. Dalam menanggapi panggilan hidup beriman, kita diajak untuk bersikap bebas & terbuka tanpa ada keterpaksaan dalam menjawab rahmat Allah. Sedangkan, dalam mewujudkan panggilan hidup beriman tersebut, kita dituntut untuk berubah: dari sikap menghidupi budaya & tradisi sendiri menuju sikap menghidupi budaya & tradisi Kristus. Suatu tuntutan sedikit banyak akan mengurangi rasa kebebasan kita. Dengan kata lain, dalam mewujudkan panggilan hidup beriman kita tidak bisa “bebas semau gue”; ada rambu-rambu yang mesti diikuti, yakni rambu-rambu ajaran dan tradisi Gereja.
Menanggapi panggilan Tuhan adalah perjuangan dan salib terus menerus yang pada akhirnya akan mengantar pada keselamatan dan kebahagiaan.



Pemenang Dalam Diri

Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
"Ayah."
"Hmm..ya.." Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur. "Tadi malam ini,aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan." ucap sang anak.
Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, "singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku."

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan."Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan."

"Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa?. Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?"

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, ayah berkata, "pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan." Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.
Sahabat Resensi, setiap diri kita memiliki "singa" saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.

Salah satu santapan dari singa yang buruk adalah sinetron. Sinetron memiliki naskah yang dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari.Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.

Ingat, keburukan yang koar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa.

The Grand Divine Mossaic

“Duduk aku tak berani, berdiri pun aku tak berani. Sungguh, diri yang Kau berikan ini bukan lagi milikku. Melainkan milik-Mu yang berharga. Aku tak berani meletakkannya sembarangan.”
Sepenggal bait doa seorang imam di pembukaan sebuah seminar ini menarik perhatianku. Doa ini cukup puitis, apalagi ketika dibacakan dalam seminar, di depan banyak orang. Tapi, yang menarik perhatianku adalah isinya. Diriku yang Kauberikan ini bukan milikku, melainkan milik-Mu yang berharga. Awalnya, aku merasa doa ini sedikit terlalu pede, dengan menganggap diri berharga. Setelah dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya sih. Kalau kita tidak berharga di mata Tuhan, untuk apa Ia membiarkan manusia durhaka ini tetap ada? Sejentik jari saja cukup untuk memusnahkan seluruh umat manusia. Tapi, apakah benar aku sungguh berharga di mata-Nya?
Aku bukan orang kudus, seperti Agnes Bojaxhiu yang mencintai Kristus sedari umur belasan tahun hingga mengantarnya menjadi Beata Teresa dari Kalkutta. Aku juga bukan St. Theresa Lisieux yang mempersembahkan setiap jengkal kecil karyanya untuk Kristus. 

Aku penuh kemalasan dan kesombongan. Makan saja tidak cukup sepiring, mana bisa disuruh mati raga seperti St. Dominic? Kadang aku bertanya, kenapa Tuhan nggak memberikan karunia seperti yang Ia berikan pada para kudus? Kenapa mereka bisa begitu heroik dalam mencintai Tuhan, bahkan beberapa sedari kecil? Sedangkan aku, untuk menahan emosi saja bisa menghabiskan tenaga untuk satu hari.

Tapi, diri ini adalah pemberian Tuhan. Walaupun aku merusaknya dengan setiap keburukanku, ternyata Tuhan masih mau menerimaku apa adanya. Aku lalu ingat cuplikan sebuah lagu misa di benua seberang ketika aku masih belum Katolik, yang entah kenapa aku masih ingat. Lirik yang mengena waktu itu adalah,”I love you as you are”. Aku yakin Kristus berbicara padaku melalui lagu itu. Cukup menghibur, Tuhanku. Tapi, aku masih heran kenapa Kau mau aku, yang tidak ada bedanya dengan koin 5 sen yang sudah bocel di sana-sini?

Seminar ditutup dengan misa di kapel, misa yang memberi jawaban-Nya padaku. Kapel ini memiliki kaca-kaca jendela berbentuk mosaik. Suatu bentuk seni yang lazim ditemui dalam gedung gereja Katolik. Mosaik itu tersusun dari potongan kaca yang berbeda-beda. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang merah, ada yang biru. Ada yang beraturan, ada yang tidak beraturan bentuknya. Ada yang tajam tepinya, ada yang mulus. Kalau warnanya sama semua, gambar itu akan membosankan. Kalau bentuknya kotak yang identik semua, ya tidak ada gambar yang terlihat. Tiap-tiap kaca memiliki peran penting untuk melengkapi gambar tersebut. Hilang satu potong saja, entah potongan yang manapun itu, gambar itu tidak akan lengkap lagi. Tidak penuh.

Mungkin, itulah sebabnya manusia adalah karya Allah yang luar biasa : karena manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling menyusun membentuk satu gambar nyata, yakni Allah. 

Kemuliaan Allah memang tidak akan berkurang ketika aku hilang. Tapi, sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bila potongan mosaik buram yang sebetulnya tidak berharga ini diperkenankanNya turut menyusun gambar Allah yang mulia. I am something for Him, even when I don’t realize it. 

Ternyata, cukuplah kasih karunia-Mu untukku (2 Kor 12:9), sekeping di antara jutaan keping mosaik yang besar kecil dan warna warni.

Allah menciptakanku menjadi kepingan mosaik yang indah. Mungkin, aku belum melihat secara penuh karya Allah dalam diriku. Namun, setelah melewati kobaran api, kepingan ini akan bening kembali sehingga sinar Ilahi akan menembus diriku dan memancarkan kehangatan-Nya. 

Bila gulali semua bentuknya sama, akan membosankan. Bila gulali semua warnanya sama, tidak lagi menarik. Eh, kalau bikin mosaik Yesus dari gulali, mungkin menarik juga ya (dan manis sekali pastinya)..

Hari Raya Santo Petrus dan Paulus

Setiap tahun pada tanggal 29 Juni, gereja Katolik sedunia punya perayaan penting, Hari Raya Santo Petrus dan Paulus. Di tahun 2013, hari raya ini jatuh pada hari Sabtu. Mungkin umat tidak banyak yang perhatian dengan hari raya ini. Tidak seperti Hari Raya Tritunggal Mahakudus atau Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang selalu jatuh pada hari Minggu. 
Dari namanya saja, orang mungkin bisa membayangkan bahwa hari raya ini penting bagi paus dan para uskup, penerus Santo Petrus. Memang, banyak uskup yang ditahbiskan pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, termasuk Uskup Agung Emeritus Medan AGP Datubara (1975), Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja(1983) dan Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono (2007). Dengan demikian, bersamaan dengan hari raya ini di beberapa keuskupan dirayakanlah peringatan ulang tahun tahbisan uskup, sesuai yang diamanatkan oleh Caeremoniale Episcoporum (Tata Upacara Para Uskup). Sebagai tambahan, Paus Benediktus XVI juga ditahbiskan menjadi imam di hari raya ini (1951).

Di Vatikan, hari raya ini selalu dirayakan dengan meriah, dengan tradisi penganugerahan palium kepada uskup agung yang baru ditunjuk memimpin suatu metropolitan (keuskupan agung di kota besar penting bagi gereja Katolik, yang membawahkan keuskupan sufragan lainnya). Apa itu palium? Coba lihat foto Uskup AgungTimothy Dolan di sebelah ini. Palium adalah semacam kalung atau selempang yang dipakai di luar kasula (busana terluar imam untuk perayaan ekaristi). Di bagian bawah juga ada dua foto paus dengan palium model lama yang lebih besar dan panjang. Seorang uskup agung boleh saja menerima tahbisan uskup dari uskup lainnya, tapi beliau hanya akan menerima palium dari paus.

Dalam kurun waktu 30 Juni 2008 sampai dengan 28 Juni 2009, ada 34 orang uskup agung yang baru ditunjuk memimpin metropolitan. Beliau-beliau inilah yang pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus yang lalu menerima palium dari PausBenediktus XVI. Dua di antara mereka kita mungkin kenal, Uskup Agung Medan Anicetus Bongsu Antonius Sinaga dan Uskup Agung Colombo Albert Malcolm Ranjith Patabendige Don, yang pernah menjadi Duta Besar Vatikan di Indonesia.

Palium adalah asesoris khas yang hanya diberikan kepada uskup agung metropolitan. Palium tidak diberikan kepada uskup agung yang tidak memimpin metropolitan (misalnya para duta besar Vatikan di berbagai negara) atau uskup biasa. Asesoris ini dibuat dari bulu domba, yang sesuai tradisi Katolik diberkati oleh paus pada Peringatan Santa Agnes (21 Januari). Domba yang diberkati paus ini kemudian dicukur pada hari Kamis Putih, dan bulunya ditenun menjadi palium yang kemudian dianugerahkan kepada para metropolitan. Palium melambangkan anak domba, yang oleh Kristus diserahkan kepada Petrus untuk digembalakan (Yoh 21, 15-17). 

Palium juga melambangkan Kristus sendiri, gembala yang baik, yang memanggul domba yang hilang di pundaknya dan membawanya pulang. Asesoris dari bulu domba ini memang dikenakan dengan dikalungkan di pundak. Kelihatan sederhana, tapi sungguh sarat makna, seperti juga busana gereja yang lainnya.

"Betapa pastilah indah surga itu! Camkan itu!"

Santo Yohanes Don  Bosco
Seorang anak laki-laki berumur limabelas tahun di Turin sedang menghadapi ajal. Ia minta segera dipanggilkan Don Bosco, akan tetapi si imam kudus tak dapat tiba pada waktunya. Seorang imam lain menerima pengakuan dosanya dan si bocah pun meninggal dunia. Ketika Don Bosco tiba di Turin, ia langsung bergegas datang menengoknya. 

Ketika diberitahukan kepadanya bahwa anak itu telah meninggal dunia, Don Bosco bersikeras bahwa itu "hanyalah sekedar salah paham." Setelah berdoa beberapa saat lamanya dalam kamar si anak yang telah meninggal dunia itu, Don Bosco sekonyong-konyong berseru: "Charles! Bangunlah!" Sungguh mencengangkan mereka semua yang hadir ketika anak laki-laki itu mulai bergerak, membuka kedua matanya, lalu duduk. Melihat Don Bosco, matanya bersinar-sinar.

"Don Bosco, seharusnya aku sekarang berada di neraka!" katanya terbata-bata. "Dua minggu yang lalu aku bersama seorang teman yang berperilaku buruk yang mengajakku berbuat dosa dan di pengakuanku yang terakhir, aku takut mengatakan semua yang terjadi… Oh, aku baru saju bangun dari suatu mimpi yang mengerikan! Aku bermimpi aku sedang berdiri di tepi sebuah tungku raksasa yang dikelilingi oleh segerombolan setan. 

Mereka hendak mencampakkanku ke dalam api ketika seorang Perempuan yang sangat cantik muncul dan menghentikan mereka. 'Masih ada harapan untukmu, Charles,' katanya kepadaku. 'Kau masih belum diadili!' Tepat pada saat itu aku mendengarmu memanggilku. Oh, Don Bosco! Betapa senang melihatmu lagi! Maukah engkau mendengarkan pengakuanku?"

Sesudah mendengarkan pengakuan si anak, Don Bosco berkata kepadanya, "Charles, sekarang pintu-pintu gerbang surga terbuka lebar untukmu, apakah kau ingin pergi ke sana atau tinggal di sini bersama kami?" Anak itu menerawang jauh sesaat, kedua matanya mulai basah oleh airmata. 

Hening harap menguasai ruangan. "Don Bosco," akhirnya si anak berkata, "aku lebih suka pergi ke surga." Mereka yang berduka memandang takjub sementara Charles menyandarkan diri pada bantal, menutup kedua matanya, dan sekali lagi tidur dalam istirahat abadi.
Sumber: Yesaya.indocell.net.

MENGAPA SAYA HARUS MENGIKUTI PELAJARAN AGAMA?

Akan bagus sekali jika setiap bayi dilahirkan dengan satu set peraturan terikat di tangannya. Kita akan segera tahu apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup bahagia. Kita akan tahu betapa baiknya Tuhan itu. 

Kita akan tahu betapa Tuhan menghendaki kita hidup kekal dalam surga yang indah. Ah, sungguh menyenangkan sekali. Tetapi, yang terjadi tidaklah demikian. Kita dilahirkan tanpa pengertian sedikit pun tentang hal-hal demikian itu. 

Kita harus mempelajarinya dari orang lain. Orangtua kita adalah guru rohani kita yang pertama. Jika orangtua kita penuh kasih dan setia, kita akan dapat melihat bagaimana Tuhan itu melalui mereka. Namun demikian, akan tiba waktunya kita perlu tahu lebih banyak dari yang dapat mereka ajarkan. 

Kita pergi ke sekolah untuk belajar sejarah, ilmu pengetahuan serta ketrampilan agar kelak kita mempunyai kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang baik dan menjadi orang yang berguna. Agama harus dibagi bersama saudara-saudara yang lain agar dapat hidup! Agama adalah kegiatan sosial. Kita menimba iman dari kekuatan iman orang lain. 

Agama bukan hanya sekedar belajar mengenai informasi dan fakta. Kita wajib ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kelompok agar dapat sungguh-sungguh hidup religius. 

Yesus sendiri mengajarkan betapa pentingnya berbagi iman. Yesus membangun komunitas religius di dunia - yaitu Gereja Katolik - agar kita dapat saling berbagi iman.

Kristus hadir dalam diri Umat Beriman

Dalam sebuah pertemuan umat di lingkungan St. Markus, Bapak Petrus Badranaya didaulat memimpin doa pembuka. Dalam doanya itu, antara lain ia mengatakan, “Allah Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena pada malam hari ini, Engkau kembali mengumpulkan kami di tempat ini dalam nama Kristus, Putra-Mu. Kami percaya bahwa Engkau hadir di tengah-tengah kami melalui Putra-Mu Yesus. 

Bimbinglah kami agar dalam pertemuan ini kami dapat mengerti kehendak-Mu dan melaksanakannya dalam hidup kami. Demi Kristus …”
Doa yang singkat dan sederhana tersebut mengungkapkan keyakinan bahwa Tuhan hadir dalam diri umat beriman yang berkumpul dalam nama-Nya. Tuhan  menepati janji-Nya, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Apa maksud Yesus dengan mengatakan, “berkumpul dalam nama-Ku”? Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, menjelaskan bahwa Kristus selalu hadir dalam diri umat beriman yang sedang berliturgi. 

Sebab, dalam setiap kegiatan liturgi, kita berkumpul dalam nama Kristus untuk merayakan karya keselamatan Allah. “Dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, Mempelai-Nya yang terkasih, dengan diri-Nya” (SC 7).

Oleh karena it, marilah dalam setiap kegiatan liturgi, kita selalu menyadari bahwa Tuhan hadir dalam komunitas atau kebersamaan kita. Dengan kesadaran ini, tentu setiap perayaan liturgi akan kita persiapkan dan kita hayati dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, liturgi yang kita hayati dengan sungguh-sungguh ini akan mengalirkan rahmat yang melimpah sehingga kita sehati sejawa dalam kasih dan dapat mengamalkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari (SC 10).

Santo Pambo, Pertapa

Semenjak masa mudanya Pambo mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di gurun pasir Mesir. Hidupnya keras, sederhana dan serba kekurangan. Karena dia tidak pandai membaca, ia berguru pada seorang pertapa lain dalam hal membaca dan menghafal ayat-ayat Mazmur. 

Selain tidak pandai membaca, Pambo juga dikenal sebagai seorang pertapa yang tidak suka banyak bicara. Namun ia dikenal sebagai pembimbing rohani yang disenangi. 

Apabila orang memintai nasehat dan bimbingan menganai suatu soal kerohanian, Pambo selalu meminta waktu terlebih dahulu untuk merenung dan berdoa. Maksudnya agar dia bisa memberi jawaban yang benar dan memuaskan sesuai dengan kehendak Allah. Santo Athanasius, Uskup Aleksandria, yang kagum akan kesalehan hidup Pambo, mengundang dia ke Aleksandria untuk memberi kesaksian tentang ke-Allah-an Kristus, berhadapan dengan ajaran sesat Arianisme yang merajalela di kalangan umat. 

Kepada rekan-rekannya, Pambo mengatakan: "Berpuasa dan memberi derma dari hasil keringat sendiri amatlah mulia, namun itu belumlah cukup untuk menjadi seorang rahib yang berkenan kepada Allah". Pambo meninggal dunia pada tahun 390. 

Minggu, 23 Juni 2013

Tantangan iman

Hari Minggu Biasa XIII/ Tahun C
Inspirasi Bacaan dari :
Zak. 12:10-11; Gal. 3:23-29; Luk. 9:18-22

Seorang pemburu sedang mencari jejak singa di hutan. Ia bertemu dengan seorang penebang kayu dan bertanya, apakah ia mendapati jejak kaki singa di hutan itu, atau sekurangnya dapat menunjukkan ke arah mana ia dapat menemukan jejak singa. “Oh ya” kata penebang kayu itu, “saya akan mengantar anda ke kawanan singa di hutan ini.” Pemburu itu terperanjat dan terkilas perasaan takut di wajahnya. Ia berkata, “tidak perlu, saya tidak meminta hal itu; saya hanya mencari jejaknya, bukan singanya”. Di dalam hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama, kita sering seperti pemburu itu. Kita menyanggupi sesuatu, tetapi ketika ada dampak dari pengakuan itu, kita mundur. 

Inilah yang kita jumpai di dalam kutipan injil minggu ini. Petrus, yang tampil mewakili para rasul lainnya, dengan tepat mengakui imannya akan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan. Ketika Yesus menyampaikan kepadanya dan kepada para murid lainnya tentang hal-hal yang terkait akan mesianitas-Nya, mereka mulai mundur. Dengan mengakui Yesus sebagai Mesias, para murid menunjukkan diri bahwa mereka telah melampaui pemahaman orang kebanyakan yang menganggap Yesus tidak lebih dari seorang nabi. Maka Yesus secara bertahap mulai menyampaikan kepada mereka implikasi dari apa yang baru saja mereka akui: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:22)

Namun para murid belum siap akan hal ini. Mereka mencari jejak singa dan Yesus menawarkan mereka untuk berhadapan langsung dengan singa. Tetapi mereka mulai menarik diri. Penarikan diri ini lebih dramatis lagi di dalam injil Matius, ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan mencoba untuk mencegah Yesus berbicara tentang penderitaan dan kematian yang akan dialami-Nya. Tetapi Yesus menghardiknya sebagai Setan, karena hanya melihat melulu dari sudut pandang manusia, bukan apa yang dilihat Allah. 

Versi Lukas tentang kisah yang kita baca hari ini terfokus pada para murid sebagai keseluruhan dan bukan hanya pada Petrus secara pribadi. Ini barangkali menjadi penjelasan, mengapa Lukas tidak mencantumkan dialog yang terjadi antara Yesus dan Petrus setelah Petrus mengadakan pengakuan yang sangat penting. Lukas baru menonjolkan penarikan diri para rasul pada kisah penangkapan , penderitaan dan kematian Yesus, yang menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti implikasi iman yang mereka akui akan Yesus sebagai Mesias. 

Petrus dan para murid dipuji oleh Yesus karena keberanian mereka untuk membentuk paham sendiri. Yesus menampakkan bahwa ia mengharapkan para muridnya untuk membentuk pemahaman sendiri ketika Ia bertanya mula-mula “Kata orang siapakah Aku ini?” (ay. 18), lalu pertanyaan yang paling penting: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ay. 20). 

Para murid haruslah mencari tahu akan pemikiran yang beredar di dalam isu-isu yang ada. Hal itu dapat diperoleh dengan membaca buku, mendengar radio, menonton televisi atau mencarinya di internet. Namun di atas semuanya itu, para murid haruslah, di dalam terang iman dan pewahyuan kristiani, membentuk pemahaman sendiri. Orang-orang Kristen tidak boleh hanya mengamini kata-kata orang dan menjadikannya kata hati mereka sendiri. 

Inilah yang dimaksukan Paulus dalam Rom 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Sebagai orang beriman, Yesus mengharapkan kita untuk mengetahui apa yang orang-orang di sekitar kita pikirkan, tetapi tidaklah penting untuk mengakui apa yang mereka pikir. Seperti yang ditunjukkan para nabi dahulu, kesetiaan kepada Allah menuntut bahwa orang mengikuti suara Allah di dalam dirinya, itulah suara hati,  lebih daripada pendapat popular. 

Namun begitu, merenungkan apa yang Allah sampaikan kepada kita hanyalah membentuk sebagian dari tantangan kita sebagai orang kristiani. Hal  yang kedua dan bahkan merupakan bagian yang paling penting adalah mengikuti implikasi dari sabda Allah itu dengan setia di dalam hidup sehari-hari. Inilah hal yang sulit. Inilah hal menghadapi singa – singa yang harus dihadapi sebelum keadilan dan damai dapat diwujudkan. Banyak orang lebih suka seperti pemburu tadi, hanya mencari jejak singa dan tidak mau menghadapi singa itu sendiri. 

Pemburu demikian tidak akan menangkap apa-apa sampai akhir hari. Kita semua diundang untuk menjadi seperti para murid, mewartakan iman akan Kristus. Marilah kita berjanji kepada Allah bahwa kita tidak akan mundur ketika implikasi dan tantangan iman muncul di dalam hidup harian kita. 

Bukan Masalah Besar

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” - Mazmur 23:4 

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang sepertinya hidupnya yang ia jalani itu lurus-lurus saja? Mau hidupnya sedang diterjang masalah atau sedang berkecukupan, orang itu tetap menunjukkan sikap yang sama yakni bersukacita. Kita mungkin berkata, “Ia sedang berlaku munafik karena sebenarnya dia sedang sedih, tetapi dia tidak tunjukkan”, tetapi benarkah seperti itu?

Sewaktu sekolah dulu, saya mempunyai seorang teman seperti ini. Saya pun berpikir yang sama seperti Anda-anda yang berpikir, “nih orang pasti munafik, kok dia selalu tidak pernah terlihat sedih sih. apakah hidupnya selalu baik-baik saja?” jujur pikiran itu cukup lama ada di pikiran saya. Namun, lewat sebuah peristiwa dimana ketika hanya dia dan saya, pikiran negatif saya itu hilang dengan sendirinya.

Waktu itu teman saya memiliki masalah dengan keluarganya yang cukup besar dan saya mengetahui hal itu. Ketika itu, sehabis pulang sekolah seperti biasa saya mendekati teman saya ini untuk mengajak pulang bersama karena arah rumah kami itu sama. Saat berjalan kaki menuju halte bus, saya pun menanyakan mengenai keadaan keluarganya. Dan tahukah Anda, ketika saya menanyakan hal ini dia tetap menunjukkan wajah yang sama; wajah penuh sukacita.

Sebelum saya melanjutkan pertanyaan saya, dia berkata seperti ini, “Mungkin orang berpikir saya ini orang munafik karena tidak pernah menunjukkan kesedihan. Tetapi, sebenarnya saya adalah sama seperti kamu. Hanya saja, ada satu yang mungkin membuat perbedaan antara kita, yakni setiap saya sedang dalam masalah seperti sekarang ini saya menaruhkannya ke tangan Tuhan. Entah mengapa ketika saya datang kepada-Nya dan membaca firman-Nya ada damai sejahtera dan sukacita yang mengalir dalam hidup saya. Itulah mengapa saya selalu seperti ini”

Jujur ketika mendengarnya, hati saya tersentak dan mulai merasa begitu kagum dengan Tuhan. Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan kemahadasyatan diri-Nya.

Apakah hari ini Anda mau memiliki sukacita dan damai sejahtera seperti itu? Sukacita dan damai sejahtera yang tidak terpengaruh oleh keadaan dan waktu; Sukacita dan damai sejahtera yang membuat Anda tetap optimis menjalani hari-hari Anda. Itu hanya Anda dapatkan bila Anda di dalam Tuhan.

Ketika Anda memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan maka segala permasalahan dan kondisi yang tidak menyenangkan tidak akan membuat Anda bersedih, tetapi tetap bersuka karena Anda tahu ada jalan keluar dan kekuatan yang Tuhan berikan ketika menjalaninya. Jadi, bila ada situasi buruk datang ke dalam hidup Anda, katakan bahwa itu bukanlah masalah besar karena ada Tuhan yang luar biasa bersama dengan Anda. Tetaplah bersukacita!!

Seberapa besar masalah yang Anda hadapi, Kuasa Allah tetaplah lebih besar.

LITURGI PERKAWINAN DALAM GEREJA KATOLIK

Pandangan umum tentang liturgi
Liturgi adalah kegiatan perayaan umat beriman, dalamnya dikenangkan dan dialami hadirnya Allah dengan karya-Nya yang menyelamatkan manausia. Puncak karya penyelamatan adalah misteri Paska Yesus Kristus. Bagi umat beriman, liturgi adalah puncak dan sumber serta pusat kegiatan Gereja. Liturgi adalah suatu kegiatan perayaan simbolis (sakramental).

Liturgi Perkawinan
Berdasarkan pemahaman umum tentang liturgi, dapatlah dikatakan satu dua pokok pikiran tentang liturgi perkawinan sebagai berikut.

1. Liturgi perkwinan bukanlah perayaan dua orang atau satu keluarga saja, tetapi merupakan perayaan/kegiatan bersama seluruh Gereja, bersama umat beriman di lingkungan/stasi/paroki.

2. Liturgi perkawinan bukanlah hanya tindakan mengenangkan kehadiran Allah yang setia menyelamatkan dan mempersatukan dengan cinta di masa lampau, tetapi juga merupakan suatu kenangan yang membuat peristiwa itu hidup dan dialami kembali. Dengan “merayakannya” diharapkan inti misteri itu dihayati dalam hidup harian selanjutnya dan akhirnya mencapai kesempurnaannya dalam surga. Hendaknya diingat bahwa di surga orang tidak mengawinkan dan tidak juga dikawinkan, tetapi akan mengalami persatuan cinta kasih yang membahagiakan dengan Allah dan semua orang kudus dalam kebadian.

3. Peristiwa utama yang dirayakan dalam liturgi perkawinan adalah misteri Paska Yesus Kristus, pada peristiwa mana kedua mempelai mengambil bagian secara khusus sebagai suami-isteri (mati dan bangkit bersama Kristus bagi satu sama lain. Dalam hal ini akan nampak inti kesatuan antara suami dan istri.

4. Liturgi perkawinan bukanlah suatu momen biasa sebagai hanya salah satu bagian dari seluruh kehidupan mempelai, tetapi merupakan “saat inti” yang dalam arti tertentu merangkum/meliputi seluruh kegiatan Gereja khususnya kegiatan kedua mempelai; di satu pihak saat ini menjadi puncak dari seluruh kegiatan sebagai pacar-tunangan, dan di pihak lain menjadi sumber rahmat dan kekuatan untuk seluruh kegiatan sebagai suami isteri nanti. “Hendaknya diusahakan agar upacara liturgi perkawinan di gereja janganlah dirasa sebagai formalitas gerejani belaka, sedangkan upacara adat yang menyusul dianggap sebagai puncak perayaan yang sesungguhnya. Umat harus dididik agar menghindarkan penyelenggaraan persta mewah yang menelan biaya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab sakramen perkawinan tidak diberikan oleh Kristus sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri serta meningkatkan gengsi keluarga yang bersangkutan, melainkan untuk memberi restu dan dukungan kepada mempelai baru yang siap sedia mengemban tugas pelayanan suci kepada Gereja dan masyarakat.”[1]

5. Liturgi perkawinan bukanlah suatu upacara sipil biasa, atau sekedar suatu perayaan demi memenuhi persyaratan hukum, tetapi merupakan suatu perayaan simbolis (sakramental) di mana para mempelai mencicipi pengalaman persatuan dan cinta surgawi bersama Allah, persatuan cinta antara Yesus Kristus dan Gereja. Suasana persatuan itu harus dirasakan sebagai pengalaman yang sungguh menyelamatkan. Kesempurnaannya akan dialami di surga yaitu kebahagiaan abadi dalam persatuan dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus bersama segala orang kudus. Sebagai suatu perayaan pengalaman iman, liturgi perkawinan tidak boleh menjadi hanya suatu kesempatan didaktik-kateketik. Dengan kata lain, dalam liturgi perkawinan tidak boleh diberikan penjelasan panjang lebar tentang arti/jalannya upacara kepada mempelai. Para mempelai sudah harus tahu sebelumnya (sudah memperoleh pendidikan dan katekese liturgi perkawinan sebelum perayaan) sehingga dalam liturgi perkawinan mereka dapat “mengalaminya” dengan lebih penuh, atau mereka dapat dengan lebih sadar merayakan dan menghayatinya. 

Oleh karena itu baiklah lebih dahulu dipelajari susunan upacara atau liturgi perkawinan serta arti dari bagian-bagian perayaan itu. Bila tiba waktunya sebaiknya dibuat “latihan” menjelang perayaan. Latihan seperti itu tidak hanya membantu memperlacar jalannya perayaan tetapi lebih dari itu menolong para mempelai dan pelayan-pelayan khusus lainnya untuk mulai “meresapi” dan “menghayati” makna dari liturgi perkawinan itu sendiri.

Apakah aku saudara bagimu?"

Setiap hari, aku selalu komplain akan hal yang sama di jalan raya : sesama pengendara kendaraan. Entah itu sepeda motor ataupun mobil. Selalu ada saja ulah mereka yang membuat jengkel. Banyak pengendara motor yang sok sibuk dengan mengendara sambil sms. Mobil yang menyetir lambat di jalur cepat. Kelompok motor yang ngerumpi sambil menyetir bergerombol. Mobil yang memotong jalur antrian macet. Dan banyak hal menyebalkan lainnya. Ini masih belum menghitung “dosa” angkot dan becak.

Salah satu  kejadian yang cukup mengganggu adalah ketika aku menyetir di sore hari sepulang kerja. Saat melintasi daerah macet karena jalan “bottleneck” dan lampu merah, aku melihat seorang pengendara motor berjalan begitu lambat. Di tangan kanannya, ia sibuk mengetik dengan handphone. Karena perhatiannya terbagi, ia mengendara dengan lambat dan menghambat jalan lalu lintas. Saking emosinya, saya sengaja mengarahkan mobil padanya hingga dekat sekali dan mengklakson untuk mengagetkannya. Berhasil. Ia pun sempat oleng karena kaget. Tapi, ia kemudian menjadi marah dan mengejar mobilku yang sudah mendahuluinya. Ketika sampai di sisi mobil, ia balas mengklakson sambil melotot, lalu ngebut meninggalkan mobil. Kejadian ini menggangguku bukan karena ulah motor tersebut, melainkan penyesalan yang timbul sesudah kejadian itu. Untuk apa semua itu aku lakukan? Kalau sampai timbul korban jiwa karena keisengan belaka, bukankah tindakanku akan sangat sia-sia sekali?

Penyesalan yang lebih mendalam adalah ketika Allah berbicara dalam Misa Kudus minggu kemarin. Imam selebran mengatakan bahwa,”Ikatan kasih yang mempersatukan antara Pribadi Allah Tritunggal, antara Allah dengan manusia, dan antar sesama manusia, adalah bukti identitas seorang murid Kristus”. Kejadian waktu itu seolah menjadi saksi bahwa aku melakukan yang sebaliknya. Tidak ada kasih dariku untuk pengendara tersebut. Tapi, benakku berkilah,”Memangnya dia siapa? Orang itu kan bukan siapa-siapa buatku. Selain itu, salahnya sendiri karena tidak tertib di jalan.”

Pertanyaan benak ini menggemakan kembali pertanyaan Kain,”Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 9:4). Pertanyaan penuh ketidakpedulian Kain menjadi pertanyaanku juga. Aku tidak peduli dengan saudaraku sendiri, kendati aku sering mengatakan bahwa orang lain adalah saudaraku. Memang, orang lain adalah saudaraku, tapi apakah aku telah berperilaku sebagai seorang saudara bagi sesamaku? Orang Samaria dalam Injil Lukas telah bertindak sebagai seorang saudara bagi si Yahudi yang dirampok (Luk 10:37). Aku belum bertindak sebagai saudara bagi pengendara motor itu. Aku lebih bertindak sebagai seorang hakim yang ingin memvonis dan mengeksekusi pengendara motor tersebut. Aku menduduki kursi yang bukan milikku.
Mungkin satu-satunya cara untuk mengatasi kecenderungan ingin menghakimi ini adalah dengan menyadari bahwa pengendara motor tersebut juga saudaraku. Jika aku membayangkan adik-adikku menjadi korban tindakan jahat seseorang, tentu saja kesedihan dan kemarahannya tidak terbayangkan. Apakah aku benar-benar tega melakukan hal buruk itu pada pengendara motor jika dia adalah saudaraku? Allah adalah Hakim Agung yang sejati, dengan keadilan absolut. Tapi, Hakim Agung ini tetap menunjukkan kasih dalam keadilannya. Apakah aku yang tidak sempurna ini layak mengadili sesamaku?

Tidak ada jalan lain. Kasih adalah jalan yang harus aku tempuh supaya aku bisa melihat sesamaku sebagai saudara. Apapun kekurangan mereka. Toh, aku sendiri belum sempurna. Yang harus aku lakukan adalah memintal gulaliku sekuat tenaga, agar manisnya Allah dalam hidup dapat mengukir senyum di wajah saudara-saudaraku. Keadilan bukan hanya soal peraturan. Keadilan adalah soal cinta.

“Kasih sungguh lebih besar dari peraturan manapun. Bahkan, semua peraturan 
harus mengantar pada kasih!” – St. Vincentius a Paulo.

Yesus menurut aku?

Sikap kita terhadap seseorang dipengaruhi oleh pandangan kita tentang siapa orang tersebut. Kita menghormati orang lain yang sudah tua, tidak berdaya kartena bagi kita dia adlah seorang tua yang harus dihormati. Demikian hal dengan Yesus, rasa hormat dan tindakan kita terhadapNya dipengaruhi oleh “siapakah Dia menurut kita”.
Di tengah-tengah kekacauan tentang berbagai pendapat khalayak ramai tentang keberadaan Yesus, karena zaman itu banyak orang yang bertanya-tanya tentang siapakah Yesus ini? Ini ada yang bilang “Dia itu salah seorang dari nabi, Dia Elia” dan segala macam pendapat lainnya. Dan kali ini Yesus mengerti segala pertanyaan-pertanyaan khalayak ramai tersebut dan Yesus ingin mendengar dari murid-muridNya sendiri. Bukan berarti Yesus ingin mencari jati diri dan pengakuan dari khalayak tentang diriNya, sebab Dia bukan kurang pengakuan. Tanpa diakui pun, Dia tetap Allah dan Tuhan sebab perbuatanNyalah yang membuktikan bahwa Dia adalah Allah dan Tuhan.
Tuhan Yesus tidak memerlukan sebuah jajak pendapat untuk menetapkan tentang keberadaanNya sebagai Allah dan Tuhan. Dia tidak perlu kampanye mulai dari Yerusalem sampai ke ujung dunia untuk membujuk orang supaya mengakui Dia sebagai Tuhan. Kalau akhir-akhir ini kita menyaksikan di televisi dan media massa lainnya tentang kampanye partai politik supaya dipilih sebagai wakil rakyat, Tuhan Yesus tidak perlu kampanye.  Di memang benar-benar Tuhan.
Dan kali ini Yesus menanyakan kepada murid-muridNya pendapat mereka tentang siapakah Yesus menurut mereka. Sebab Tuhan Yesus tahu tidak mungkin mereka dapat melanjutkan pelayanan Yesus untuk kemerdekaan dunia tanpa memahami tentang Yesus. Demikian halnya dengan kita, tidak mungkin kita bisa melayani Dia maksimal jikalau kita tidak mengenal Dia. Makanya Tuhan Yesus tidak menghendaki hal yang demikian terjadi pada murid-muridNya. Dia ingin mendengar siapakah Dia menurut murid-muridNya. Dan murid-murid mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh khalayak. Hanya Petrus yang memberikan jawaban yang sangat berbeda. Dia mengatakan “Mesias dari Allah”. Jawaban yang mendapat acungan jempol dari Yesus.
Menurutmu, “Siapakah Yesus?”. Tidak  mungkin kita bisa maksimal melayani Yesus jikalau kita tidak mengakui Dia sebagai Tuhan. Kita bisa melayani Yesus jikalau kita mengalami pertemuan pribadi dengan Dia. Iya….. mengalami Tuhan. Tanpa pengalaman bersama dengan Tuhan, tidak mungkin kita punya persepsi yang benar tentang Dia. Persepsi kita terhadap Yesus akan mempengaruhi kualitas iman kita. Jikalau kita menganggap Dia Juruselamat, maka kita akan berserah kepadaNya. Jikalau kita hanya menganggap Dia hanya sebagai Sumber berkat, maka kita akan lebih terus meminta berkat kepada Dia dan motivasi kita adalah motivasi materi. Tetapi jikalau kita menganggap Dia sebagai Raja, Allah dan Tuhan, maka kita akan menundukkan diri dan menghambakan hidup kita kepadaNya.
Menurutmu, siapakah Yesus? Selamat belajar tentang Dia dan mengalami tentang Dia. Tuhan Yesus memberkati…

PENGUMUMAN PERKAWINAN (22-23 Juni 2013)

Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

*  Reky  Sudarnio &  Elyzabeth Emmanuel 
 Pengumuman III )
*  Farmalik Farid &  Elisabeth Deasy  Afriane Gani
( Pengumuman II )
*  Hendrikus Alberty Bole &  Melinda Tumbelaka
( Pengumuman II )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Mencicipi Liturgi surgawi

9Hari ini kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Prefasi khusus pada Misa hari ini antara lain berbunyi: “Sebab pada hari ini Tuhan Yesus Raja Mulia dan Pemenang atas dosa serta maut, telah naik ke surga…..Ia pulang kepada-Mu ya Bapa, tidak untuk meninggalkan kami, manusia yang lemah ini, tetapi untuk mengokohkan harapan kami, bahwasannya Dia, kepala dan pokok pangkal Gereja, merintis jalan ke surga bagi kami, anggota Tubuh-Nya”.

Kata-kata Prefasi Kenaikan Tuhan I di atas mengungkapkan dengan bagus apa yang disebut dengan segi eskatologis dari liturgi. Artinya, dengan merayakan liturgi di gereja, kapel atau tempat kita merayakan Ekaristi, kita sebenarnya mencicipi liturgi surgawi, sebagaimana disebut: Kristus “merintis jalan ke surga bagi kami”. Liturgi surgawi ialah persekutuan Allah Tritunggal yang sempurna di surga yang kini telah dialami oleh barisan para kudus di surga. Konstitusi Liturgi mengajarkan hal itu pada artikel 8: “Dalam Liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi surgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan peziarahan kita. Disana Kristus duduk disisi kanan Allah, sebagai pelayan tempat tersuci dan kemah yang sejati. Bersama dengan segenap bala tentara sorgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Tuhan. Sementara menghormati dan mengenangkan para kudus kita berharap akan ikut serta dalam persekutuan dengan mereka” (SC 8)

Kapan saja liturgi kita mengungkapkan ciri atau segi eskatologis? Ya kapan saja: misalnya ketika persekutuan dengan Allah Tritunggal saat Tanda Salib dibuat, saat kata-kata “hidup kekal” atau “kini dan sepanjang segala masa” disebut, juga bila nama para kudus, seperti Santa Perawan Maria dan orang kudus lain disebut, nah waktu-waktu itulah segi eskatologis liturgi dinyatakan.

Santa Emma, Pengaku Iman

Emma, yang juga dipanggil Hemma, lahir pada tahun 980 dan meninggal pada tahun 1045. Wanita ningrat ini dikenal sebagai pendiri sebuah biara dan Gereja di desa Gurk,  Austria Selatan. 

Keputusannya untuk menjalani hidup bakti kepada Tuhan ditempuhnya setelah suaminya meninggal dan kedua puteranya dibunuh. Diceritakan bahwa kedua puteranya dibunuh karena menggantung seorang karyawan yang bekerja di rumah mereka. 

Suaminya meninggal ketika dalam perjalanan ke Roma. Semenjak itu, Emma giat melakukan berbagai karya amal cinta kasih. Bukti yang paling mengagumkan dari niatnya yang suci ialah usahanya untuk mendirikan sebuah biara dan gereja di Gurk,  Austria Selatan. 

Biara-yang kemudian dijadikan Biara Benediktin di Admont-ini dimulai pembangunannya pada tahun 1072 setelah kematiannya. Diceritakan bahwa Emma sendiri sebagai biarawati setelah kematian suami dan anak-anaknya itu. Oleh gereja ia digelari sebagai ‘Santa’.

Jumat, 14 Juni 2013

“Perangkap”

Suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.
Caranya sangat manusiawi (hmm...atau mungkin hewani kali ye..hehehe). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. 
Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Sahabatku, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. 

Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya. Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Sahabatku, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

Carilah Sekolah Katolik

Bicara mengenai pendidikan, sekolah mana yang akan Anda pilih untuk anak-anak Anda? Apakah Anda masih memilih sekolah Katolik? 

Saya memperhatikan bahwa ada umat Katolik yang mengajak anak-anaknya meninggalkan sekolah Katolik dan pindah ke sekolah lain dengan berbagai alasan. Salah satunya, jarak sekolah tersebut lebih dekat dengan rumah. Atau, sekolah tersebut lebih bermutu dan berstatus internasional. Ada juga yang memilih sekolah negeri agar anaknya memiliki pergaulan lebih luas. Selain itu, ada orang takut dengan biaya sekolah Katolik yang dianggap mahal.

Apakah umat Katolik harus menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik? Memang tidak ada keharusan, apalagi hukum. Pernah seorang suster berpesan ke adiknya agar semua keponakannya disekolahkan di sekolah Katolik. Seorang ibu memilih sekolah yang ada susternya, karena suster sering mengajak anak-anak ke kapel untuk berdoa. Bapak yang lain mencari sekolah Katolik yang ada pastornya, karena ingin kekatolikan anaknya kuat. Keluarga lain mencari sekolah Katolik berasrama agar pendidikan nilai dan karakter kekatolikan anaknya kuat.

Apa pun pilihan Anda, saya kira yang paling penting adalah pertimbangan apakah kita sebagai orangtua bisa mendidik anak-anak secara Katolik. Sekolah Katolik seharusnya jadi prioritas untuk umat Katolik. Selain memberikan pelajaran agama yang juga disediakan sekolah lain, namun sekolah Katolik memberikan suasana Katolik. Suasana itu ada dalam doa secara Katolik, Misa, rekoleksi, retret, novena, perayaan orang kudus, dan berbagai kegiatan keagamaan Katolik yang kental. Kehadiran pastor, suster, bruder, dan para guru Katolik juga jadi tokoh teladan yang penting bagi murid-murid. Sekolah dengan guru-guru Katolik senior yang kental kekatolikannya akan memberi bekal kekatolikan yang luar biasa.

Meskipun sekolah Katolik sedikit jauh jaraknya, mengapa orangtua tidak bisa sedikit berkorban berangkat lebih pagi. Paroki Purwakarta, misalnya, membantu uang transportasi agar anak-anak Katolik bisa bersekolah di sekolah Katolik, meskipun jauh dari rumah mereka. Mengenai biaya, ada banyak sekolah Katolik menyediakan beasiswa. Ada banyak paroki membantu uang sekolah. Berjuanglah mencari dana termasuk dana orangtua asuh untuk anak-anak kita, kalau kita kurang mampu secara ekonomi. Mengenai mutu, bukankah sekolah Katolik juga pada umumnya masih bermutu? Untuk apa anak kita lebih pintar, namun kekatolikannya berkurang atau hilang? Bukankah orangtua Katolik berjanji dalam pernikahan untuk mendidik anak-anak secara Katolik? Mampukah orangtua Katolik mendidik anak secara Katolik kalau anaknya bersekolah di bukan sekolah Katolik?

Sekolah Katolik pada umumnya sangat berjuang untuk membantu orangtua mendidik anak-anak secara Katolik. Bila memilih sekolah bukan Katolik, orangtua harus sudah siap dan sanggup mendidik anak-anak mereka secara Katolik, meskipun di sekolah diajarkan agama lain dan tidak ada suasana Katolik. Jangan sampai hanya karena alasan jarak, biaya, mutu, atau alasan lain, lantas pendidikan Katolik anak-anak kita dikorbankan. Marilah kita mencari sekolah Katolik agar pendidikan Katolik anak-anak kita sungguh diusahakan. 

Kalau sekolah Katolik yang ada dianggap terlalu mahal, berjuanglah minta beasiswa dari sekolah dan paroki. Kalau mutunya dianggap kurang bagus, berilah masukan. Sebagai umat Katolik, kita seharusnya berjuang agar sekolah Katolik semakin menjadi media pewartaan kabar gembira, unggul, dan lebih berpihak kepada yang mi 
Sumber: www.hidupkatolik.com

Kamis, 13 Juni 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (15-16 Juni 2013)

Akan saling menerimakan 
Sakramen Perkawinan

*  Kornelius Jun Tshoi &  Anastasia Olivia Wangsa     
( Pengumuman III )

*  Reky  Sudarnio &  Elyzabeth Emmanuel                     
( Pengumuman II )

*  Farmalik Farid &  Elisabeth Deasy  Afriane Gani        
( Pengumuman I )

*  Hendrikus Alberty Bole &  Melinda Tumbelaka            
( Pengumuman I )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Santa Yuliana Falconieri, Biarawati

Yuliana lahir pada tahun 1270 dan meninggal dunia pada tahun 1341. Sebagai pendiri Tarekat Biarawati Servita, ia sangat dihormati. 

Semangatnya untuk meneladani pamannya Santo Aleksis, pendiri Ordo Servita, mendorongnya untuk melakukan hal yang sama bagi kaum wanita. 

Kiranya Tuhan sudah menanamkan benih-benih panggilan Ilahi dalam dirinya sejak masa kecilnya, sebab Yuliana kecil sudah menjadi anggota ketiga Ordo Servita, yang didirikan pamannya, sejak berumur 8 tahun. 

Keanggotaannya waktu itu dijalaninya dengan tetap tinggal bersama ibunya di rumah, sampai ibunya meninggal pada tahun 1304. 

Sepeninggal ibunya, ia tinggal bersama beberapa orang wanita lainnya di sebuah rumah yang kemudian menjadi pusat biara suster-suster Servita. 

Tarekat ini mengabdikan diri pada hidup komtemplatif dan hidup aktif dengan melakukan berbagai karya amal. Kemudian Yuliana diangkat menjadi pimpinan tertinggi tarekat itu. 

Kesalehan hidupnya dan kebijaksanaannya membuat ia mampu memimpin tarekat itu hingga berkembang pesat dan dikenal luas.

 Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1341, ia menerima secara ajaib Bekal Suci Tubuh Kristus. Ia digelari “kudus” pada tahun 1737.


“Kristus Hadir dalam Sabda-Nya”

10Tidak sedikit pastor atau imam yang homilinya ditunggu-tunggu oleh umat. Mereka itu para imam yang sungguh mempersiapkan homili dengan amat bagus. 

Homilinya dikembangkan berdasarkan sabda Tuhan dari bacaan Kitab Suci hari itu, diberi pengantar dan contoh-contoh yang konkret dan mengena di hati umat. Sebaliknya umat merasa sedih dan kecewa ketika imamnya dalam homili lebih banyak memarahi daripada menyampaikan perkataan yang menyejukkan dan meneguhkan iman.

Homili sangat penting dalam Misa Kudus. Tetapi homili sendiri bukan yang terpenting dari Misa Kudus. Homili lebih mau mengaktualisasikan dan menkonkretkan Sabda Tuhan dalam hidup kita sekarang ini dan di sini. 

Namun dalam Liturgi Sabda, puncak perayaannya terjadi justru saat Injil diwartakan dan dibacakan. Saat Injil dibacakan itu, Kristus sendiri sedang bersabda kepada umat-Nya. Itulah sebabnya Gereja mengajarkan bahwa “Kristus hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (SC 7). Ajaran ini kembali ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1088. 

Mengingat agung dan luhurnya kehadiran Tuhan dalam Sabda-Nya, Instruksi Redemptionis Sacramentum menegaskan, “Tidak juga diperkenankan meniadakan ataupun menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi “mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci” (RS 62).

Semoga Sabda Tuhan mampu menyapa, menyentuh, dan akhirnya mengubah hidup kita menjadi orang Kristiani yang berbuah dan menjadi berkat bagi sesama.

Pencuri Kue

Hari Minggu Biasa XI
Inspirasi Bacaan dari :
2 Sam. 12:7-10, 13; Gal. 2:15-16, 19-20; Luk. 7:36-8:3

Kutipan injil hari ini mengingatkan saya akan sebuah kenangan tentang “seorang pencuri kacang telur”. Suatu kali saya sedang menunggu di bandara. Karena merasa agak lapar, saya membeli sekantong kacang telur dan kemudian menuju ke tempat duduk yang lebih nyaman. Saya mengambil posisi, meletakkan tas saya di samping dan mulai membaca buku. Tiba-tiba saya menyadari bahwa di samping saya duduk seorang ibu yang ikut makan kacang telur yang dari tadi saya makan. Saya sedikit heran, tetapi tak apalah. Saya tetap melanjutkan membaca, makan kacang dan memperhatikan jam. Setiap kali saya mengambil beberapa biji kacang, ibu itu juga melakukan hal yang sama. Ketika hanya tersisa sedikit saja, saya agak penasaran, apa yang akan dibuat oleh ibu itu. Ia kemudian dengan sedikit senyum mengambil kacang itu, dan menyodorkannya kepada saya. Merasa agak lucu akan peristiwa itu saya hanya mengatakan “terima kasih” dan mempersilakannya makan. Dalam hati saya hanya berkomentar “aneh, tidak tahu malu mencuri kacang telur”. Ketika ada panggilan untuk boarding, saya mengambil barang bawaan saya dan sedikit mengangguk meninggalkan ibu itu, yang sedikit pun tidak menunjukkan rasa terima kasih telah ikut makan kacang saya. Sesampai di pesawat, saya kemudian mengambil kembali buku yang saya baca tadi dari dalam kantong tas saya. Saya sangat kaget, karena di dalam kantong tas itu terdapat sekantong kacang telur yang masih utuh. Saya baru menyadari, bahwa bukan ibu tadi yang memalukan, yang mencuri kacang. Sayalah yang telah memakan kacangnya, dan sedikit pun tidak berterima kasih. Saya telah mencuri kacangnya.
Cerita pengalaman ini dapat dibandingkan dengan ceritera kutipan injil hari ini. Sering terjadi bahwa kita menunjuk orang lain akan kesalahan yang sebenarnya kitalah yang melakukannya. Di dalam ceritera tadi saya telah menuduh ibu itu dalam hati saya sebagai pencuri kacang telur, dan menganggap diriku sebagai seorang yang baik hati dan membiarkan kacangku dimakan orang. Pada akhirnya barulah saya sadar bahwa sayalah yang tidak tahu malu dan tidak tahu mengucap terima kasih, dan orang itulah yang baik hati. Di dalam kutipan injil hari ini orang Farisi itu berpikir bahwa ialah orang yang benar, dan karena itu layak untuk berkumpul dengan Yesus, dan wanita itu adalah seorang pendosa, dan karenanya tidak layak untuk terlihat bersama Yesus. Pada akhirnya Yesus menunjukkan kekeliruannya dan bahwa wanita itulah yang dinilai benar dan dinilai lebih bertindak benar dalam menerima Yesus daripada orang Farisi yang berusaha membenarkan diri itu.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Karena lebih mudah untuk mendengar orang lain mengorok daripada mendengarkan korokan sendiri. Lebih mudah untuk melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Orang-orang yang dinyatakan kudus oleh gereja adalah orang-orang yang sungguh menyadari kekurangan dan ketidaksempurnaan mereka. Orang yang suka mengeritik orang lain sebenarnya menyingkapkan kekurangannya akan kesadaran dirinya. Pada akhirnya (bila orang sungguh dapat sadar akan diri sendiri) orang akan menemukan bahwa dirinyalah yang adalah pencuri kacang, yang semula dituduhkan kepada orang lain.
Apa kesalahan orang Farisi itu? Jika wanita itu sungguh seorang pelacur, apa kesalahan orang Farisi itu? Bukankah semua yang dikatakannya tentang wanita itu benar? Tentu saja wanita itu adalah seorang pendosa. Yesus tidak mengatakan bahwa wanita itu bukan seorang pendosa. Yesus hanya mengatakan bahwa orang Farisi itu juga seorang pendosa, dan sebenarnya lebih parah daripada wanita itu.    
"Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. (Luk. 7:44-47).
Persoalan yang terdapat pada diri orang Farisi itu adalah pemahamannya tentang dosa dan kekudusan. Baginya, wanita itu adalah “penyebab dosa”, dan karenanya harus dihindari oleh orang yang baik. Yesus mengoreksi orang itu: yang penting bukanlah apa yang engkau hindari, tetapi apa yang engkau lakukan. Orang Farisi itu mungkin memang berusaha untuk menghindari kesempatan berdosa, tetapi ia tidak melakukan hal yang Yesus butuhkan. Yesus menghargai tindakan lahiriah wanita itu untuk menyatakan cintanya sebagai ungkapan yang jelas akan iman yang hidup di dalam dirinya: “"Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat” (ayat 50). Hal keterlibatan inilah yang menjadi perbedaan antara wanita itu dengan orang Farisi itu. Bagaimana kita menerapkan dan mewujudkan iman kita di dalam tindakan konkrit pelayanan kepada mereka yang membutuhkan?
Injil hari ini adalah kabar gembira kepada semua orang yang terhina dan tersingkirkan oleh “orang baik” dunia ini, mereka yang dianggap tidak memenuhi standar kekudusan dalam keluarga Allah. Yesus memberikan jaminan bahwa mereka sungguh lebih dekat di hati Allah daripada para pendakwa mereka. Dan kepada mereka yang merasa bahwa Yesus adalah milik eksklusif mereka sejak lahir, disampaikan kabar gembira bahwa: hati-hatilah, karena pada akhirnya engkau dapat menemukan bahwa ternyata engkaulah pencuri kue itu.


Jumat, 07 Juni 2013

Secangkir Teh Pembawa Sial

seperti biasa sebut saja Budi (bukan nama sebenarnya) memulai harinya dengan wajah yang lesu. Semalam ia harus menyelesaikan tugas matakuliah karena memang esok adalah hari terakhir mengumpulkannya. Raut lesu dan sayup terlihat jelas karena baru jam 3 pagi ia baru bisa terlelap.Padahal jadwal kuliah dimulai pukul delapan pagi.

Pagi itu, sang ibu yang memaksa Budi untuk bangun dan tak lupa ibunya menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk keluarga. Menjadi kebiasaan dikala pagi, Budi sekeluarga sarapan bersama.

Namun, tak disangka pagi itu, saat sarapan, adik perempuannya menumpahkan secangkir teh tepat disamping Budi. Tak pelak Budi terhenyak, dan segala umpatan dan emosi keluar dari mulut Budi. Akibatnya sang adik pun menangis dan menyebabkan ketinggalan naik bis sekolah. Budi pun terpaksa harus mengantar adiknya karena jarak sekolahnya cukup jauh.

Kegiatan yang semula direncanakan mulai berantakan. Budi pun harus merelakan waktunya untuk mengantarkan adik. Di jalan ia memacu laju kendaraannya begitu cepat dan berbahaya.Namun sayang,jam sekolah telah dimulai dan adiknya pun dianggap telat oleh gurunya.
Hari itu menjadi hari terburuk Budi. Berawal dari teh yang tumpah,seakan-akan menjadi kutukan dalam kejadian-kejadian berikutnya. Sang adik telat, ia pun juga. Bahkan yang lebih parah, Budi kena tilang karena menerobos lampu lalulintas dan mengendarai motor melampaui batas kecepatan.

"kalau tau begini, tadi gak usah sarapan saja,," begitulah ungkapan sesal Budi.
Sahabatku, apa yang telah terjadi diatas, atau mungkin dengan versi yang berbeda dengan apa yang kita alami sehari-hari adalah wujud dari ketidaksempurnaan kita untuk menguasai apa yang/akan kita lakukan.

Sahabatku, bukanlah salah karena Budi ditakdirkan menerima tumpahan teh dari adiknya namun reaksi setelah itu yang menjadi penentu kenapa Budi bernasib buruk. "10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita." "90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi/memberi respon."

Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil. Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita. Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas. dan Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini. Namun yang 90% lagi berbeda. itu adalah reaksi kita. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita. Kita tidak dapat mengontrol jatuhnya sebuah cangkir, namun kita dapat mengendalikan reaksi! kita!
Kenapa Budi?Karena reaksinya pagi itu.
Kenapa hari nya buruk?
a) Karena secangkir teh yang tumpah?
b) Kecerobohan adiknya?
c) Polisi yang menilang?
d) Karena dirinya sendiri?
Jawaban-nya adalah D.

  Budi tidak dapat mengendalikan tumpahnya teh itu. Namun bagaimana reaksi-nya 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan harinya menjadi buruk.
Ini yang mungkin terjadi jika ia bereaksi dengan cara yang berbeda. Teh tumpah di kemejanya. Adiknya sudah siap menangis. namun ia bisa dengan Lembut berkata : "Tidak apa-apa sayang/adik, lain kali kamu lebih hati-hati ya".
Budi pergi mengganti kemeja dengan tenang dan melihat sang adik sedang naik ke dalam bus sekolah. Budi dapat tiba di kampus 5 menit lebih awal karena tidak perlu berurusan dengan polisi, dan dengan riang Menyalami para kawan.. Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal yang sama, tapi berakhir dengan hal yang berbeda. Kenapa?
Karena REAKSI kita. Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi.Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

HIDUP DOA DAN MATIRAGA

23Ada seorang bapak yang sangat saleh, namun kini jatuh sakit. Ia sakit stroke, dan sakitnya itu sudah berlangsung 4 tahun ini. Bapak itu lumpuh dan sehari-hari dilayani istri dan anaknya. 

Tetapi bapak itu selalu tampak ceria ketika dikunjungi teman, tetangga atau siapapun. Ketika ada yang bertanya dengan hati-hati tentang penderitaan sakitnya, bapak itu berkata: “Sakit itu tentu tidak enak. Tetapi ketika saya persembahkan sakit ini kepada Tuhan, rasanya saya boleh ambil bagian dalam penderitaan Tuhan Yesus di salib dahulu. Lalu….kok jadi lebih dapat pasrah dan ringan ya”.

Sadar atau tidak sadar bapak itu telah melaksanakan ajaran Gereja melalui Konstitusi Liturgi artikel 12 yang menyebutkan: “Rasul Paulus mengajar, supaya kita selalu membawa kematian Yesus dalam tubuh kita, supaya hidup Yesus pun menjadi nyata dalam daging kita yang fana. Maka dari itu dalam kurban Misa kita memohon kepada Tuhan, supaya dengan menerima persembahan kurban rohani, Ia menyempurnakan kita sendiri menjadi kurban abadi bagi diri-Nya”. 

Ketika kita merayakan Ekaristi, kita ambil bagian dalam peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan yang kita kenangkan dalam Doa Syukur Agung dan kita sambut dalam rupa roti suci melalui komuni kudus. Dan pada saat kita pulang dari Misa dan kembali ke rumah, kita sebenarnya membawa Kristus dalam diri kita. Membawa Kristus berarti berani menghayati segala suka duka, beban berat dan kesulitan hidup ini sebagai persembahan hidup kita bagi Tuhan.

Bagaimana supaya kita kuat untuk menanggung beban hidup kita? Dengan “berkanjang dalam doa” (SC 12). Melalui liturgi kita memperoleh sumber kekuatan. Sedangkan melalui doa dan matiraga, yakni saat kita menghayati penderitaan hidup ini, kita sedang ambil bagian dalam kurban persembahan Tuhan Yesus Kristus kepada Allah Bapa.