SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2019

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2019




Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat Katolik Keuskupan Agung Makassar: salam sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai kita sekalian. Kini kita memasuki lagi Masa Prapaska, masa di mana kita diajak untuk secara lebih intensif merenungkan sikap kita di hadapan Allah, Sang Pencipta dan tujuan hidup kita. APP Nasional 2019 mengambil tema “Literasi Teknologi dan Keutuhan Ciptaan”. Di sini saya mengajak umat beriman sekalian untuk merenungkan sikap kita dalam memanfaatkan teknologi, khususnya teknologi informasi. Kita ingin merenungkan tema ini dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut: (1) Manfaat teknologi; (2) Perilaku manusia dalam pemanfaatan teknologi; (3) Penugasan khusus dan tanggung jawab manusia di tengah alam ciptaan; dan (4) Menggunakan teknologi secara bertanggung jawab demi keutuhan ciptaan.

(1) Manfaat Teknologi
Manusia dengan kemampuan akal budinya senantiasa berusaha untuk hidup lebih baik, lebih mudah dan lebih nyaman. Untuk itu manusia telah memanfaatkan sarana-sarana yang ada, yang telah disediakan alam. Dengan daya ciptanya pun manusia telah menciptakan teknologi, yang pada intinya dimaksudkan sebagai alat bantu untuk menyederhanakan kehidupan manusia dan memberikan kemudahan di segala bidang. Dalam bidang informasi, telah muncul teknologi informasi dan komunikasi yang telah berhasil menghilangkan jarak dan menyebar informasi dengan begitu cepat ke hampir setiap sudut dunia ini. Berita-berita dan pengetahuan telah dapat dengan mudah dan cepat diakses dengan bantuan teknologi komputer dan internet. Dalam bidang kesehatan terdapat bermacam peralatan canggih, yang dengan cepat dapat mendeteksi penyakit dan memberikan pengobatan yang tepat. Dalam bidang pertanian, kerja keras manusia dalam mengolah tanah agar dapat menghasilkan bahan makanan bagi manusia dan ternaknya, kini digantikan oleh kerja mesin, sehingga bahkan pekerjaan-pekerjaan yang dahulu dianggap sulit pun, kini dapat dikerjakan dengan mudah dan cepat. Demikian pun dalam banyak bidang yang lain. Teknologi kini telah menjadi bagian dari hidup manusia, sehingga tidaklah mungkin lagi untuk hidup tanpa teknologi. Manusia telah menjadi makhluk teknologi.

(2) Perilaku manusia dalam pemanfaatan teknologi
Kemampuan teknologi yang telah dicapai manusia telah memberinya kekuasaan yang luar biasa. Namun kekuasaan itu selalu memiliki 2 sisi, sisi positif dan negatif. Manfaat teknologi seperti sudah disampaikan di atas sangat besar dalam mempermudah hidup manusia; namun, bila disalahgunakan, dapat pula menghancurkan hidup manusia itu sendiri. Secara khusus saya ingin mengajak kita sekalian untuk menyoroti perilaku manusia modern dalam memanfaatkan teknologi informasi, khususnya dalam memanfaatkan media sosial. Saat ini sebuah berita atau informasi dengan sangat cepat dapat disebarluaskan berkat bantuan teknologi informasi. Gadget adalah sebuah istilah yang bagi kita baru, tetapi begitu menguasai manusia modern, tidak peduli dari usia berapa. Gadget atau dalam Bahasa Indonesia “acing” atau “gawai” merupakan perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus, yang dari hari ke hari selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru, yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis. Alat ini memungkinkan orang untuk mencari, menerima dan mengirim berita, gambar/foto, suara, bahkan memungkinkan untuk melakukan video call. Gadget telah membawa begitu banyak manfaat, tetapi tidak sedikit pula efek negatifnya. Banyak orang yang seakan tidak bisa lagi dipisahkan dari gadgetnya. Banyak orang yang menghabiskan terlalu banyak waktunya untuk gadget, sehingga banyak tugas yang terbengkalai, banyak relasi yang rusak, banyak keluarga yang berantakan. Banyak orang menjadi salah fokus dalam hidupnya. Orang sibuk berkomunikasi dan bercanda dengan orang yang hanya dikenalnya lewat media sosial, sementara orang di sekitarnya terabaikan. Banyak orang yang sibuk mengomentari hal-hal yang bukan urusannya, sementara pekerjaannya sendiri tidak lagi mendapatkan waktu untuk dikerjakan. Di dalam hidup berbangsa dan bernegara pun, penyebaran berita bohong atau hoax lewat media sosial dan bahkan juga melalui media arus utama telah mendominasi pemikiran orang banyak. Hoax disebarkan dengan motif persaingan usaha, sentimen pribadi bahkan demi kepentingan politik. Orang tidak lagi merasa bersalah dalam menyebarkan fitnah demi menyingkirkan orang yang dianggap saingan, orang yang dianggap ancaman untuk usaha atau kepentingannya. Hoax pun menjadi sarana ampuh untuk menyerang orang yang tidak disenangi, atau untuk menyebar opini yang keliru demi untuk mendapatkan dukungan politik.

Untuk hal terakhir ini saya ingin mengajak kita untuk lebih serius memikirkannya, karena menurut kesan saya, berita bohong telah menjadi bagian dari permainan politik di Negara kita ini. Kita boleh belajar dari pengalaman Negara Syria yang kini telah luluh lantak. Dengan cara yang sangat massif, di Syria dalam waktu yang cukup panjang, hoax dibuat dan disebarkan untuk mengeksploitasi keyakinan dan fanatisme identitas. Ketakutan, kecemasan dan kebencian disebarkan agar masyarakat tidak lagi berpikir logis. Akibatnya masyarakat terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok yang saling mencurigai satu sama lain. Ditambah lagi dengan kondisi sosial-ekonomi yang buruk dan kegagapan aparat dalam menghadapi gejolak bermainnya kepentingan internasional yang saling bertarung; semua itu terakumulasi dalam perang saudara yang telah menyebabkan Syria menjadi Negara gagal. Jutaan orang telah meninggalkan Syria dan menjadi pengungsi yang terombang-ambing di Negara asing.

Gejala yang sama juga sudah ada di Indonesia, khususnya sepanjang tahun elektoral ini. Berita-berita bohong disebar begitu saja sehinggga orang tidak dapat lagi membedakan antara laporan peristiwa dengan angan-angan atau kebohongan. Tampaknya ada orang yang sangat suka membuat berita-berita hoax, dan menikmati pertengkaran bahkan permusuhan yang muncul di tengah masyarakat sebagai akibat berita hoax tersebut. Banyak orang yang akibat hoax menjadi antipati terhadap pemerintah atau kelompok tertentu. Faham-faham radikal yang memecah belah hidup berbangsa dan beragama pun dengan sangat massif disebarkan. Bahkan tampaknya berita-berita hoax lebih diminati banyak orang daripada seruan akan kebenaran. Orang yang menerima pun biasa dengan mudah melanjutkan berita yang diterimanya, tanpa terlebih dahulu mengecek kebenarannya. Banyak orang telah menjadi korban dari penyebaran kabar bohong lewat media sosial. Teknologi informasi yang dimaksudkan untuk mempermudah hubungan antar manusia telah disalahgunakan untuk merusak relasi dengan menyebarluaskan fitnah, kebohongan dan ujaran-ujaran kebencian. Ternyata penyalahgunaan teknologi justru banyak menjerumuskan orang kepada kebencian dan kecurigaan satu sama lain. Orang sulit saling mempercayai, bahkan lebih mudah saling menuduh dan mencurigai. Mudah-mudahan penyebaran hoax akhir-akhir ini hanyalah merupakan “cara” sementara para “politikus” untuk memanipulasi pikiran banyak orang guna memperoleh dukungan. Mudah-mudahan tidak ada kekuatan raksasa yang ada di baliknya, yang ingin mengubah Indonesia menjadi seperti Syria.

(3) Penugasan khusus dan tanggung jawab manusia di tengah alam ciptaan
Kitab Kejadian menampilkan situasi asali alam dan segala isinya, termasuk manusia pada awal mula penciptaan. Artinya situasi yang digambarkan pada awal Kitab Kejadian, adalah situasi sebagaimana dikehendaki Allah. Kejadian bab 1 ayat 26 menampilkan bahwa puncak dari segala ciptaan adalah penciptaan manusia. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah agar manusia berkuasa atas segala ciptaan lain. Pada ayat 28 Allah memberkati manusia dan memberinya kuasa untuk "… Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Karunia "menguasai" alam tidak dimaksudkan sebagai izin untuk menggunakan atau merusak tatanan ciptaan dengan egois menurut apa yang dipandang cocok oleh manusia. Kej. 1:28 ini haruslah dibaca dalam kaitan dengan Kej. 2:15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Tugas menguasai alam semesta seharusnya ditafsirkan sebagai tanggung jawab khusus yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk mengusahakan dan memelihara, jadi melanjutkan ciptaan. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menjadi pengganggu; manusia harus bertanggung jawab kepada Allah dan memperhitungkan semua cara yang mereka pakai atau tidak pakai untuk mengusahakan alam lingkungan sekeliling mereka. St. Fransiskus Assisi sangat menekankan kesetaraan dari segala ciptaan, termasuk umat manusia. Segala ciptaan itu adalah bersaudara, karena berasal dari “rahim” Allah yang sama. Pemahaman ini akan membuat umat manusia terhindar dari pikiran bahwa mereka memiliki kuasa yang tidak terbatas atas ciptaan. Manusia dicipta secitra atau segambar dengan Allah berarti pada manusia melekat sifat ke-Ilahian. Daya cipta, kreatifitas telah diberikan oleh Allah, dan sebagaimana Allah senantiasa mencipta dan memperbaiki demikian pun seharusnya manusia.

Dosa Keserakahan dan egoisme manusia telah merusak tatanan itu. Mandat khusus yang diberikan oleh Allah telah diklaim oleh manusia sebagai kemampuannya sendiri. Tanggung jawab kepada Allah telah diganti dengan nafsu untuk memuaskan hasratnya untuk berkuasa baik atas alam semesta maupun atas sesamanya manusia. Gereja dalam Masa Prapaskah ini mengajak kita untuk kembali menempatkan diri kita pada maksud Allah menciptakan kita. Kita diajak untuk kembali menyadari tugas dan tanggung jawab khusus kita sebagai citra Allah di tengah dunia ciptaan ini. 


(4) Menggunakan teknologi secara bertanggung jawab demi keutuhan ciptaan.

Teknologi itu sifatnya netral. Tergantung pada orang yang menggunakannyalah dampak teknologi itu

Pesan Prapaskah Paus Fransiskus

Pesan Prapaskah Paus Fransiskus:

Panggilan menuju Pertobatan
Dalam konferensi pers hasi selasa (26/2/19) di Kantor Pers Tahta Suci, disampaikan Pesan Paus untuk Prapaskah 2019. Adapun Tema tahun ini adalah “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan“ (Rom 8:19).
Pesan Paus Fransiskus pada Masa Prapaskah: Panggilan menuju Pertobatan
“Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan” (Rom. 8:19)
Saudara dan saudari yang terkasih,
Setiap tahun, melalui Gereja Bunda, Allah “memberi kita musim yang penuh sukacita ini ketika kita mempersiapkan diri untuk merayakan misteri Paskah dengan pikiran dan hati yang diperbarui… ketika kita mengingat kembali peristiwa agung yang memberi kita hidup baru dalam Kristus” (Pengantar Masa Prapaskah I). Dengan demikian, kita dapat menjalani dari Paskah ke Paskah menuju penggenapan keselamatan yang telah kita terima sebagai hasil dari misteri Paskah Kristus – “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan.” (Rom. 8:24). Misteri keselamatan ini, yang sudah bekerja dalam diri kita selama hidup duniawi kita, merupakan sebuah proses dinamis yang juga merangkum sejarah dan semua ciptaan. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, “dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.” (Rom. 8:19). Dalam perspektif ini, saya ingin menawarkan beberapa refleksi untuk menyertai perjalanan pertobatan kita dalam masa Prapaskah yang akan datang ini.
Penebusan ciptaan
Perayaan Triduum Paskah dari sengsara, kematian, dan kebangkitan Kristus, puncak tahun liturgi, memanggil kita setiap tahun untuk melakukan perjalanan persiapan, dengan pengetahuan bahwa bagi kita menjadi serupa dengan Kristus (lih. Rom 8:29) adalah karunia yang tak ternilai atas kemurahan hati Allah.
Ketika kita hidup sebagai anak-anak Allah, yang ditebus, dipimpin oleh Roh Kudus (lih. Rom 8:14) dan mampu mengakui dan menaati hukum Allah, yang mulai dari hukum yang tertulis di dalam hati kita dan di alam, kita juga mendapat manfaat dari ciptaan dengan bekerja sama dalam penebusannya. Itulah sebabnya Santo Paulus berkata bahwa ciptaan sangat merindukan penyataan anak-anak Allah; dengan kata lain, bahwa semua orang yang menikmati rahmat misteri Paskah Yesus bisa mengalami penggenapannya dalam penebusan tubuh manusia itu sendiri. Ketika kasih Kristus mengubah hidup orang-orang kudus dalam roh, tubuh, dan jiwa, mereka memuliakan Allah. Melalui doa, kontemplasi, dan seni, mereka juga menyertakan makhluk-makhluk lain dalam pujian itu, seperti yang kita lihat secara mengagumkan diungkapkan dalam “Gita Sang Surya” oleh Santo Fransiskus dari Assisi (lih. Laudato Si‘, 87). Namun, di dunia ini, harmoni yang dihasilkan oleh penebusan terus-menerus terancam oleh kuasa negatif dosa dan kematian.
Kuasa dosa yang merusak
Memang, ketika kita gagal hidup sebagai anak-anak Allah, kita sering berperilaku secara destruktif terhadap sesama kita dan makhluk-makhluk lain – dan diri kita juga – karena kita mulai berpikir kurang lebih secara sadar bahwa kita dapat memanfaatkan mereka sesuai kehendak kita. Ketidakwajaran kemudian menang: kita mulai menjalani kehidupan yang melampaui batas-batas yang ditentukan oleh kondisi manusia dan alam itu sendiri. Kita menyerah pada keinginan-keinginan yang tak terbatas yang dipandang oleh Kitab Kebijaksanaan sebagai tipikal orang fasik, mereka yang bertindak tanpa berpikir untuk Tuhan atau berharap untuk masa depan (lih. 2:1-11). Jikalau kita tidak senantiasa berorientasi menuju Paskah, menuju cakrawala Kebangkitan, mentalitas yang diungkapkan dalam slogan-slogan “Aku menginginkan itu semua dan aku menginginkannya sekarang!” dan “Terlalu banyak adalah tidak pernah cukup“, menjadi menang.
Akar semua kejahatan, sebagaimana kita ketahui, adalah dosa, yang dari tampilan pertamanya telah merusak persekutuan kita dengan Allah, dengan sesama dan dengan ciptaan itu sendiri, yang dengan mereka kita terhubung dengan cara tertentu lewat tubuh kita. Retaknya persekutuan dengan Allah ini juga merusak hubungan harmonis kita dengan lingkungan tempat kita dipanggil untuk hidup, sehingga taman itu telah menjadi hutan belantara (lih. Kej 3: 17-18). Dosa menuntun manusia untuk menganggap dirinya sebagai allah ciptaan, untuk memandang dirinya sendiri sebagai penguasa mutlak ciptaan dan memanfaatkannya, bukan untuk tujuan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, tetapi untuk kepentingannya sendiri, sehingga merugikan makhluk lain.
Sesudah hukum Allah, hukum kasih, ditinggalkan, maka hukum yang kuat menguasai yang lemah mengambil alih. Dosa yang mengintai hati manusia (lih. Mrk 7: 20-23) mengambil bentuk keserakahan dan mengejar kenyamanan yang tak terkendali, kurangnya perhatian untuk kebaikan orang lain dan bahkan untuk diri sendiri. Hal ini mengarah pada eksploitasi ciptaan, baik manusia maupun lingkungan, karena keserakahan tak terpuaskan yang memandang setiap keinginan sebagai hak, dan cepat atau lambat akan menghancurkan semua yang ada dalam genggamannya.
Kekuatan pertobatan dan pengampunan yang menyembuhkan
Ciptaan sangat membutuhkan penyataan anak-anak Allah, yang telah dijadikan sebagai “ciptaan baru.” Karena, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”(2 Kor 5:17). Memang, berdasarkan sifatnya yang dinyatakan, ciptaan itu sendiri dapat merayakan Paskah, dengan membuka dirinya menuju surga baru dan bumi baru (lih. Why 21: 1). Jalan menuju Paskah menuntut agar kita memperbarui wajah dan hati kita sebagai orang-orang Kristiani melalui penyesalan, pertobatan, dan pengampunan, sehingga dapat menghidupi sepenuhnya rahmat berlimpah dari misteri Paskah.
“Kerinduan yang sangat besar” ini, pengharapan seluruh ciptaan ini, akan digenapi dalam penyataan anak-anak Allah, yaitu, ketika umat Kristiani dan semua orang dengan tegas masuk ke dalam “penderitaan” yang ditimbulkan oleh pertobatan. Semua ciptaan dipanggil, termasuk kita, untuk maju “dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (Rom. 8:21). Masa Prapaskah adalah tanda sakramental dari pertobatan ini. Masa ini mengundang umat Kristiani untuk mewujudkan misteri Paskah secara lebih dalam dan lebih konkret dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial mereka, terlebih lagi dengan berpuasa, berdoa dan berderma.
Berpuasa, yaitu, belajar mengubah sikap kita terhadap orang lain dan semua ciptaan, dengan berpaling dari godaan untuk “melahap” segalanya demi memuaskan kerakusan kita, dan siap sedia menderita karena kasih, yang dapat mengisi kekosongan hati kita. Doa, yang mengajarkan kita untuk meninggalkan penyembahan berhala dan kemandirian ego kita, serta mengakui kebutuhan kita akan Tuhan dan belas kasih-Nya. Derma, di mana kita melepaskan diri dari kegilaan menimbun segalanya bagi diri kita sendiri dalam keyakinan ilusi bahwa kita dapat menjamin masa depan yang bukan milik kita. Dan dengan demikian, untuk menemukan kembali sukacita rencana Allah bagi ciptaan dan bagi kita masing-masing, yaitu untuk mengasihi Dia, saudara dan saudari kita, dan seluruh dunia, dan untuk menemukan dalam cinta kasih ini, kebahagiaan sejati kita.
Saudara dan saudari yang terkasih,
Masa “Prapaskah” selama empat puluh hari yang dihabiskan oleh Anak Allah di padang gurun ciptaan memiliki tujuan menjadikannya sekali lagi taman persekutuan dengan Allah yang ada sebelum dosa asal (lih. Mrk 1: 12-13; Yes 51: 3). Semoga masa Prapaskah kita tahun ini menjadi perjalanan di sepanjang jalan yang sama tersebut, dengan membawa harapan Kristus juga kepada ciptaan, sehingga dapat “dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” (Rom. 8: 21). Jangan biarkan musim rahmat ini berlalu dengan sia-sia! Marilah kita mohon kepada Allah untuk membantu kita memulai jalan pertobatan sejati. Mari kita tinggalkan keegoisan kita dan sifat mementingkan diri sendiri, dengan berpaling ke Paskah Yesus. Marilah kita berdiri di samping saudara dan saudari kita yang membutuhkan, dengan berbagi harta rohani dan jasmani kita dengan mereka. Dengan cara ini, dengan secara konkret menerima kemenangan Kristus atas dosa dan kematian ke dalam hidup kita, kita juga akan memancarkan kekuatannya yang mengubah kepada semua ciptaan.



Dari Vatikan, 4 Oktober 2018,
Pesta Santo Fransiskus dari Assisi
FRANSISKUS

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-27 2019


11 Februari 2019

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma,
karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” 
(Mat.10:8)
Saudara dan saudari yang terkasih,
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8). Inilah kata-kata yang diucapkan Yesus ketika mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira,  dengan demikian Kerajaan-Nya dapat  tumbuh melalui karya-karya kasih yang tulus.
Pada Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-27 ini, yang akan dirayakan dengan khidmat pada tanggal 11 Februari 2019 di Calcuta, India, Gereja – sebagai ibu bagi semua anak-anaknya, khususnya yang lemah – mengingatkan kita bahwa tindakan murah hati seperti Orang Samaria yang baik adalah cara pewartaan Injil yang paling meyakinkan. Merawat orang sakit menuntut sikap profesionalisme, kelemahlembutan, sikap terbuka dan sederhana yang diberikan secara bebas, seperti sentuhan yang membuat orang lain merasa dicintai.
Hidup adalah karunia dari Tuhan. Santo Paulus bertanya: “Apakah yang engkau miliki, yang tidak engkau terima?” (1Kor. 4:7). Tepatnya karena hidup adalah karunia, hidup manusia tidak dapat diartikan secara sempit menjadi sekedar barang milik pribadi atau kekayaan pribadi, khususnya jika ditinjau dari  kemajuan medis dan bioteknologi yang dapat menggoda kita untuk memanipulasi “pohon kehidupan” (bdk. Kej. 3:24).
Di tengah-tengah budaya pemborosan dan ketidakpedulian zaman ini, saya akan menunjukkan bahwa “karunia” adalah kategori yang paling tepat untuk menggambarkan tantangan individualisme dan keretakan sosial yang terjadi dewasa ini, sementara di saat yang sama usaha untuk mengembangkan hubungan baru dan cara-cara bekerjasama antar manusia dan budaya. Dialog – dasar pikiran dari karunia – menciptakan kemungkinan-kemungkinan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang membuat manusia mampu mendobrak kemapanan-kemapanan penggunaan kekuasaan di dalam masyarakat. “Karunia” berarti lebih dari sekedar memberi hadiah-hadiah: karunia melibatkan pemberian diri sendiri dan bukan sekedar menyalurkan kekayaan atau barang-barang. “Karunia”  berbeda dengan pemberian hadiah sebab karunia merupakan pemberian diri secara cuma-cuma dan hasrat untuk membangun hubungan dengan sesama. Karunia adalah pengakuan keberadaan orang lain, yang merupakan dasar dari masyarakat. “Karunia” adalah cerminan dari Kasih Allah, yang mencapai puncaknya di dalam penjelmaan Putera dan pencurahan Roh Kudus.
Kita masing-masing adalah kaum miskin, kekurangan dan papa. Ketika kita lahir, kita membutuhkan pemeliharaan dari orang tua kita untuk bertahan hidup, dan pada setiap tahap kehidupan dalam beberapa hal kita tetap tergantung pada bantuan orang lain. Kita seharusnya selalu sadar akan keterbatasan kita, sebagai “makhluk ciptaan”, di hadapan individu-individu dan situasi-situasi lain. Pengakuan yang jujur akan kebenaran ini membuat kita rendah hati dan memacu kita untuk mengamalkan solidaritas sebagai nilai dasar di dalam hidup.
Pengakuan itu menuntun kita untuk bertindak dengan bertanggung jawab untuk meningkatkan kebaikan secara pribadi maupun bersama. Hanya jika kita melihat diri kita sendiri, bukan sebagai dunia yang terpisah, tetapi di dalam  jalinan hubungan persaudaraan dengan orang lain, kita dapat mengembangkan gerakan solidaritas dalam masyarakat yang mengarah pada kebaikan bersama. Kita tidak perlu takut memandang diri sendiri sebagai orang yang kekurangan atau tergantung pada orang lain, sebab sebagai individu dengan usaha-usaha sendiri kita tidak dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan kita. Karena itu, kita tidak perlu takut, lalu, mengakui keterbatasan-keterbatasan itu, karena Allah sendiri, di dalam Yesus, telah merendahkan diri-Nya mendatangi kita manusia (bdk. Fil.2:8) dan sampai sekarang terus melakukannya; di dalam kemiskinan kita, Dia datang membantu kita dan memberi kita karunia-karunia yang melampaui bayangan kita.
Melalui perayaan yang khidmat di India, saya akan mengenang, dengan sukacita dan rasa kagum, tokoh Santa Bunda Teresa dari Calcuta – teladan kemurahan hati yang menampakkan kasih Allah menjadi nyata bagi orang-orang miskin dan sakit. Sebagaimana saya ungkapkan pada kanonisasinya, “Bunda Teresa, di dalam semua aspek hidupnya, adalah penyalur rahmat Allah yang murah hati, menjadikan dirinya ada bagi setiap orang melalui sambutannya dan pembelaannya akan hidup manusia, dari mereka yang belum lahir, yang tersisihkan dan terbuang. Dia membungkuk merangkul mereka yang tidak berdaya, yang dibiarkan sekarat di pinggir jalan, menemukan kebesaran Tuhan dalam diri mereka; dia membuat suaranya didengar di hadapan penguasa dunia ini, supaya mereka menyadari kesalahan mereka karena telah melakukan kejahatan – ya kejahatan-kejahatan! – kemiskinan yang mereka ciptakan. Bagi Bunda Teresa, belas kasih adalah ‘garam’ yang memberi citarasa pada karyanya; yang merupakan ‘cahaya’ yang bersinar di dalam kegelapan yang dialami banyak orang yang tidak lagi memiliki air mata untuk diteteskan karena kemiskinan dan penderitaan mereka. Misinya ke daerah perkotaan dan daerah pinggiran bagi kita saat ini tetap merupakan wujud nyata kedekatan Tuhan terhadap orang-orang yang termiskin dari yang miskin” (Homili, 4 September 2016).
Santa Bunda Teresa membantu kita memahami bahwa pedoman dari karya kita haruslah kasih tanpa pamrih bagi setiap manusia, tanpa membedakan bahasa, budaya, suku atau agama. Teladannya terus menerus menuntun kita dengan membuka wawasan sukacita dan harapan bagi semua yang membutuhkan pengertian dan kasih yang lembut dan terutama bagi mereka yang menderita.
Kemurahan hati mengilhami dan mendukung karya dari banyak sukarelawan yang begitu penting di dalam perawatan kesehatan dan yang secara nyata mewujudkan semangat Orang Samaria yang baik hati. Saya menyampaikan terima kasih saya dan memberikan dorongan semangat kepada semua perkumpulan sukarelawan yang dengan sungguh-sungguh mengangkut dan membantu pasien, dan semua yang mengatur donor darah, donor jaringan maupun  organ-organ tubuh. Satu wilayah khusus tempat kehadiran Anda yang mengungkapkan kepedulian dan keprihatinan  Gereja adalah pembelaan hak-hak orang sakit, terutama mereka yang menderita penyakit membutuhkan bantuan khusus. Saya juga menghargai banyak upaya yang telah dilakukan untuk membangkitkan kesadaran mengenai kesehatan dan mendorong upaya pencegahan penyakit. Karya sukarela Anda di dalam lembaga medis dan di rumah-rumah, yang mulai dari menyediakan perawatan kesehatan sampai menawarkan bantuan rohani, adalah penting sekali. Tak terhitung berapa banyak orang yang sakit, sendirian, lanjut usia atau lemah pikiran atau fisik yang memperoleh manfaat dari pelayanan-pelayanan ini. Saya memohon dengan sangat kepada Anda sekalian untuk terus menjadi tanda kehadiran Gereja di dalam dunia yang semakin sekuler-duniawi. Para sukarelawan  adalah sahabat yang dengannya seseorang dapat berbagi pikiran dan perasaan pribadi; yang dengan sabar mendengarkan mereka, para sukarelawan membuka kemungkinan bagi orang sakit untuk berubah dari penerima pelayanan yang pasif  menjadi partisipan yang aktif  dalam hubungan yang dapat mengembalikan harapan dan mengilhami keterbukaan untuk mengusahakan perawatan  lebih lanjut. Karya sukarelawan memberikan nilai-nilai, perilaku-perilaku dan cara-cara hidup yang bersumber dari hasrat terdalam untuk berbuat murah hati. Karya sukarelawan juga merupakan sarana yang menjadikan perawatan kesehatan lebih manusiawi.
Semangat kemurahan hati seharusnya secara khusus mengilhami lembaga perawatan kesehatan Katolik, di wilayah yang lebih berkembang atau di wilayah yang lebih miskin di dunia kita, karena mereka melaksanakan kegiatan mereka dengan berpedoman pada Injil. Lembaga-lembaga kesehatan Katolik dipanggil untuk memberi teladan pemberian diri, kemurahan hati dan solidaritas dalam menanggapi mentalitas mencari keuntungan dengan mengorbankan segi-segi kehidupan yang lain, memberi dengan pamrih, dan mendapatkan manfaat dari sesama serta mengabaikan keprihatinan kepada manusia.
Saya meminta dengan sepenuh hati kepada setiap orang, di setiap tingkatan dalam masyarakat, untuk mengembangkan budaya kemurahan hati dan karunia, yang sangat diperlukan untuk mengatasi budaya mencari untung dan pemborosan. Lembaga-lembaga perawatan kesehatan Katolik tidak boleh terjebak ke dalam perangkap hanya sekedar menjadi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Mereka harus memiliki keprihatinan pada perawatan individu manusia lebih dari sekedar mencari keuntungan. Kita sadar bahwa  kesehatan itu berhubungan, tergantung pada interaksi dengan orang lain, menuntut kepercayaan, persahabatan dan solidaritas. Kesehatan adalah harta yang dapat dinikmati secara penuh hanya ketika dibagikan. Sukacita memberi dengan murah hati adalah tolok ukur kesehatan dari orang-orang Kristiani.
Saya mempercayakan Anda semua kepada Maria, Keselamatan Orang Sakit (Salus Infirmorum). Semoga Maria membantu kita untuk berbagi karunia-karunia yang telah kita terima di dalam semangat dialog dan saling menerima untuk hidup sebagai saudara dan saudari dengan saling memperhatikan kebutuhan sesama, memberi dengan murah hati, dan memahami sukacita dari kesediaan untuk melayani sesama tanpa pamrih. Dengan penuh kasih, saya menjamin kedekatan saya dengan Anda dalam doa, dan dengan penuh rasa hormat saya sampaikan Berkat Apostolik kepada Anda semua.

Vatikan, 25 November 2018
Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam
Fransiskus

Sumber : https://karyakepausanindonesia.org/2019/01/15/pesan-bapa-suci-paus-fransiskus-untuk-hari-orang-sakit-sedunia-ke-27-2019/

Apa itu Novena?
oleh: Romo William P. Saunders *


Dalam artikel yang terakhir disinggung mengenai Novena bagi Arwah Semua Orang Beriman. Saya ingat, ibu saya biasa mendaraskan bermacam doa novena. Dapatkah dijelaskan asal-mula novena dan perannya dalam Gereja pada masa sekarang?
~ seorang pembaca di Springfield

Singkatnya, novena adalah doa pribadi atau doa bersama selama sembilan hari berturut-turut yang dipanjatkan guna mendapatkan suatu rahmat khusus, memohon suatu karunia khusus atau menyampaikan suatu permohonan khusus. Novena berasal dari kata Latin “novem” yang artinya “sembilan”. Seperti tampak dalam definisi di atas, novena selalu menyiratkan adanya kepentingan yang mendesak.

Dalam liturgi Gereja, novena dibedakan dari oktaf, yang sifatnya lebih pada perayaan, entah sebelum atau sesudah suatu pesta penting. Misalnya, dalam penanggalan liturgi Gereja, kita merayakan Oktaf sebelum Natal, di mana pendarasan antifon “O” membantu kita mempersiapan diri menyambut kelahiran Juruselamat kita. Kita juga merayakan Oktaf Natal dan Paskah, yang meliputi hari pesta itu sendiri dan tujuh hari sesudahnya, guna menekankan sukacita misteri-misteri yang dirayakan.

Sulit ditentukan dengan tepat, asal mula novena sebagai bagian dari harta rohani Gereja. Perjanjian Lama tidak mencatat adanya perayaan selama sembilan hari di kalangan bangsa Yahudi. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus, Tuhan memberikan Perutusan Agung kepada para rasul, dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul dicatat, “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis 1:12, 14).Sembilan hari sesudahnya, Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta. Kemungkinan, “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul inilah yang menjadi dasar dari doa novena.

Jauh sebelum kekristenan, bangsa Romawi kuno juga mempraktekkan doa selama sembilan hari demi berbagai macam kepentingan. Penulis Livy mencatat bagaimana doa sembilan hari itu dirayakan di Gunung Alban guna menolak bala atau murka para dewa seperti yang diramalkan oleh para tukang tenung. Begitu pula, doa sembilan hari dipersembahkan apabila suatu “hal baik” diramalkan akan terjadi. Keluarga-keluarga juga menyelenggarakan masa duka selama sembilan hari atas kematian orang yang dikasihi dengan suatu perayaan khusus sesudah pemakaman yang dilakukan pada hari kesembilan. Pula, bangsa Romawi merayakan parentalia novendialia, suatu novena tahunan (13-22 Februari) guna mengenangkan segenap anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Karena novena telah merupakan bagian dari budaya Romawi, ada kemungkinan umat Kristiani “membaptis” praktek kafir ini.

Apapun yang mungkin merupakan asal mula novena, di kalangan umat Kristiani perdana memang sungguh ada masa berkabung selama sembilan hari atas meninggalnya seseorang yang dikasihi. Maka, pada akhirnya, dipersembahkanlah suatu Misa novena bagi kedamaian kekal jiwa. Hingga sekarang, terdapat praktek novendialia atau Novena Paus, yang dilaksanakan apabila Bapa Suci berpulang, seperti yang kita saksikan saat wafatnya Paus Yohanes Paulus II yang terkasih.

Pada Abad Pertengahan, terutama di Spanyol dan Perancis, doa novena biasa dipanjatkan sembilan hari menjelang Natal, melambangkan sembilan bulan yang dilewatkan Tuhan kita dalam rahim Santa Perawan Maria. Doa novena khusus ini membantu umat beriman mempersiapkan diri merayakan dengan khidmad kelahiran Tuhan kita. Lama-kelamaan berbagai macam novena disusun guna membantu umat beriman mempersiapkan diri menyambut suatu pesta istimewa atau guna memohon pertolongan seorang kudus dalam suatu masalah tertentu. Beberapa novena populer yang secara luas biasa didaraskan di Gereja kita adalah Novena Medali Wasiat, Novena Hati Kudus Yesus, Novena Roh Kudus, Novena St Yosef, Novena St Yudas Tadeus, dan lain sebagainya.

Cukup sulit mengatakan mengapa kita tidak mendaraskan novena dalam ibadat bersama sesering sebelum Konsili Vatikan II. Saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang imam senior, yang pada intinya mengatakan bahwa cukup banyak orang yang ikut ambil bagian dalam doa novena, tetapi melewatkan Misa Kudus. Padahal, sebagai umat Katolik, fokus terutama dalam spiritualitas dan sembah sujud bersama adalah Ekaristi dan Misa Kudus.

Juga, sebagian orang saya pikir telah menyelewengkan novena dengan takhayul. Di setiap paroki di mana saya pernah ditugaskan, selalu saja saya menemukan salinan Novena St Yudas Tadeus yang pada dasarnya menyatakan bahwa jika orang pergi ke Gereja selama sembilan hari berturut-turut dan meninggalkan salinan Novena St Yudas Tadeus, maka doanya akan dikabulkan - semacam surat berantai rohani; bagaikan mesin Katolik otomatis saja: seperti orang memasukkan uang ke dalam mesin penjual, lalu menekan tombol untuk mendapatkan cola yang diinginkannya; dalam hal ini orang mendaraskan doa-doa, pergi ke gereja, meninggalkan salinan doa, dan beranggapan bahwa dengan demikian doanya pastilah dikabulkan. Yang menyedihkan sekarang ini adalah orang bukan, setidak-tidaknya menyalin dengan tangan, melainkan sekedar memfotokopinya, dan yang terlebih parah, biasanya sayalah yang harus membereskan lembaran-lembaran doa ini yang ditinggalkan dan tercecer di seluruh ruang Gereja.

Walau demikian, novena masih mendapat tempat yang sah dan benar dalam spiritualitas Katolik. Dalam buku Pedoman Indulgensi tertulis, “Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan tekun ikut ambil bagian dalam praktek saleh novena bersama yang diadakan sebelum perayaan Natal, atau Pentakosta, atau Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa.” Di sini, sekali lagi Gereja menekankan bahwa novena merupakan suatu praktek rohani yang saleh, yang memperteguh iman individu dan hendaknyalah individu sungguh tekun, dengan selalu mengingat kebajikan Tuhan yang senantiasa menjawab semua doa-doa kita menurut kehendak ilahi-Nya.

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA 2018


PESAN PAUS FRANSISKUS
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA


“Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh.8:32).
Berita Palsu dan Jurnalisme untuk Perdamaian

Image result for hari komunikasi sedunia 2018
Saudara-saudariku terkasih,
Komunikasi adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan merupakan cara yang hakiki untuk mengalami persahabatan (fellowship). Diciptakan seturut gambar dan rupa sang Pencipta, kita mampu mengekspresikan dan membagi semua yang benar, baik, dan indah. Kita mampu menggambarkan pengalaman-pengalaman kita sendiri dan dunia di sekitar kita, dan dengan demikian untuk menciptakan ingatan historis dan pemahaman tentang berbagai peristiwa. Namun ketika kita menyerah pada kesombongan dan egoisme kita sendiri, kita juga bisa mengubah cara menggunakan kemampuan kita untuk berkomunikasi. Hal ini dapat dilihat sejak masa paling awal, dalam kisah biblis tentang Kain dan Habel dan menara Babel (bdk. Kej.4:4-16; 11:1-9). Kapasitas untuk memelintir kebenaran adalah kondisi simptomatik (symptomatic condition) kita entah sebagai pribadi entah komunitas. Pada sisi yang lain, ketika kita setia pada rencana Allah, komunikasi menjadi ungkapan efektif pencarian kita yang bertanggungjawab akan kebenaran dan pencarian kita akan kebaikan.
Dalam dunia komunikasi dan sistem digital yang cepat berubah dewasa ini, kita sedang menyaksikan penyebarluasan apa yang telah dikenal sebagai “berita palsu”. Ini mengundang refleksi, yang membuat saya memutuskan untuk kembali membahas tema kebenaran pada Hari Komunikasi Sedunia ini yang sudah diangkat dari waktu ke waktu oleh para pendahulu saya, sejak Paus Paulus VI, yang Pesannya pada tahun 1972 mengambil tema: Komunikasi Sosial dalam Pelayanan Kebanaran”. Dengan cara ini, saya ingin berkontribusi bagi komitmen bersama kita untuk membendung penyebarluasan berita palsu dan untuk menemukan kembali martabat jurnalisme dan tanggungjawab personal para jurnalis untuk mengomunikasikan kebenaran.
1.        Apa yang “palsu” tentang berita palsu?
Istilah “berita palsu” telah menjadi objek diskusi dan debat yang besar. Pada umumnya, istilah itu mengacu pada penyebarluasan disinformasi (informasi yang salah) dalam media on line dan tradisional. Ia berkaitan dengan informasi yang salah, berdasarkan pada data yang tidak ada atau sudah dipelintir untuk mempengaruhi dan memanipulasi pembaca. Penyebarluasan berita palsu bisa demi mencapai tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan melayani kepentingan ekonomis.
Keefektifan berita palsu pertama-tama berkaitan dengan kemampuannya meniru berita yang nyata, kelihatannya masuk akal. Kedua, berita yang salah tetapi dapat dipercaya ini “suka menyalahkan (captious)” karena merebut perhatian orang melalui daya tarik stereotip-stereotip dan prasangka-prasangka sosial umum, dan mengeksploitasi emosi-emosi sesaat seperti kecemasan, rasa jijik, amarah, dan frustrasi. Kemampuan menyebarluaskan berita palsu seperti itu sering mengandalkan pemanfaatan manipulatif jaringan sosial dan cara berfungsinya. Kisah-kisah yang tidak benar dapat menyebar sangat cepat bahkan penangkal yang otoritatif gagal untuk mengatasi kerusakannya.
Kesulitan menelanjangi (unmask) dan menghilangkan berita palsu berkaitan juga dengan fakta bahwa banyak orang berinteraksi dalam lingkungan digital yang homogen tidak mampu membedakan perspektif dan opini. Disinformasi dengan demikian bertumbuh subur dalam absennya konfrontasi yang sehat dengan sumber informasi lain yang mampu secara efektif menantang prasangka-prasangka dan menciptakan dialog yang konstruktif; sebagai gantinya, ia berisiko mengubah orang menjadi kaki tangan yang gagap dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan yang bias dan tidak berdasar. Tragedi disinformasi adalah bahwa ia mendiskreditkan orang lain, menempatkan mereka sebagai musuh, sampai mengutuk mereka dan mengobarkan konflik. Berita palsu adalah suatu tanda perilaku intoleran dan hipersensitif, dan hanya membawa kepada tersebarnya kesombongan dan kebencian. Itulah hasil akhir dari kebohongan.
2.        Bagaimana kita dapat mengenali berita palsu?
Tiada seorang pun dari kita yang bisa merasa dibebaskan dari kewajiban memerangi kesalahan-kesalahan ini. Ini bukan tugas mudah, karena disinformasi sering berdasarkan pada retorika yang dengan sengaja mengelak dan agak menyesatkan dan kadang dengan penggunakan mekanisme psikologis yang canggih. Upaya-upaya yang patut dipuji sedang dibuat untuk menciptakan program-program pendidikan yang bertujuan membantu orang menafsirkan dan menilai informasi yang disediakan oleh media, dan mengajari mereka untuk mengambil bagian aktif dalam membongkar kedok kebohongan, daripada secara tidak sadar berkontribusi dalam penyebaran disinformasi. Patut dipuji juga inisiatif-inisiatif kelembagaan dan hokum yang bertujuan mengembangkan regulasi untuk membatasi fenomena ini, untuk mengatakan tiada karya yang sedang dibuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi dan media dalam menemukan kriteria baru untuk memverifikasi identitas-identitas personal yang tersembunyi di balik jutaan profil digital.
Namun, mencegah dan mengidentifikasi cara disinformasi bekerja juga menuntut suatu proses discerment yang mendalam dan hati-hati. Kita perlu menelanjangi apa yang bisa disebut “taktik ular” (snake-tactics), yang digunakan oleh mereka yang menyamarkan diri mereka untuk menyerang kapan dan di mana saja. Inilah strategi “ular licik” (crafty-serpent) dalam kitab Kejadian, yang pada awal kemanusiaan, menciptakan berita palsu (Cf. Kej. 3:1-15), yang menjadi awal sejarah tragis dosa  manusia, mulai dengan pembunuhan saudara yang pertama (cf. Kej. 4), dan terus berlanjut dalam kejahatan tak terhitung lainnya melawan Allah, sesama, masyarakat, dan ciptaan. Strategi “Bapak Kebohongan” (Yoh. 8:44) yang terampil ini, justeru peniruan, bentuk bujukan yang licik dan berbahaya yang perlahan-lahan masuk ke dalam hati dengan argumentasi-argumentasi yang palsu dan memikat.
Dalam cerita tentang dosa pertama, si penggoda mendekati perempuan dengan berpura-pura menjadi sahabatnya, yang sangat perhatian dengan kesejahteraannya, dan mulai dengan mengatakan sesuatu yang hanya sebagiannya benar: “Apakah Allah  sungguh mengatakan kepadamu untuk tidak memakan dari pohon apa pun di taman?” (Kej. 3:1). Dalam kenyataannya, Allah tidak pernah memberitahukan kepada Adam untuk tidak makan dari pohon apa pun, tetapi hanya dari satu pohon: “Dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat janganlah kamu makan” (Kej.2:17). Perempuan itu mengoreksi si ular, tetapi membiarkan dirinya masuk dalam provokasinya: “Dari pohon yang terletak di tengah taman Allah berkata, “Engkau tidak boleh memakannya atau menyentuhnya, nanti kamu mati” (Kej. 3:2). Jawabannya ditulis dalam kata-kata yang legalistik dan negatif; setelah mendengarkan sang penipu dan membiarkan dirinya masuk dalam fakta versi dia, si perempuan tersesat. Demikianlah dia mengindahkan kata-kata peneguhannya “Kamu tidak akan mati” (Kej 3:4).
Dekonstruksi sang penggoda kemudian berubah menjadi kebenaran: “Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya matamu akan dibuka dan kamu akan menjadi seperti allah, mengetahui yang baik dan yang jahat” (Kej.3:5). Perintah kebapakan Allah demi kebaikan mereka, dinodai oleh bujuk rayu musuh: “Perempuan itu melihat bahwa pohon itu baik untuk dimakan, memikat mata, dan menarik hati” (Kej.3:6). Episode biblis ini menerangi unsur hakiki bagi refleksi kita: tiada hal seperti disinformasi yang tidak berbahaya; sebaliknya, mempercayai kebohongan bisa mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan. Bahkan distorsi kebenaran yang kelihatannya kecil pun bisa memiliki akibat-akibat yang berbahaya.
Taruhannya adalah keserakahan kita. Berita palsu sering menjadi viral, menyebar sangat cepat sehingga sulit untuk dihentikan, bukan karena rasa berbagi (sense of sharing) yang menginspirasi media sosial, melainkan karena menarik bagi ketamakan tak terpuaskan yang dengan mudah ditimbulkan dalam diri manusia. Tujuan-tujuan ekonomis dan manipulatif yang mendukung disinformasi berakar pada kehausan akan kekuasaan, suatu hasrat untuk memiliki dan menikmati, yang pada akhirnya menjadikan kita korban dari sesuatu yang jauh lebih tragis; kuasa tipu daya si jahat yang berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan lainnya untuk merampas kita dari kebebasan batiniah. Itulah mengapa pendidikan untuk kebenaran berarti  mengajari orang untuk melihat, mengevaluasi dan memahami hasrat terdalam dan kecenderungan-kecenderungan kita, supaya kita tidak menjadi buta terhadap apa yang baik dan menyerah pada setiap perncobaan.
3.        “Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32)
Kontaminasi yang terus menerus oleh bahasa yang menipu bisa berakhir dengan mengelamkan hidup batiniah kita. Pengamatan Dostoevsky mencerahkan: “Orang yang membohongi diri mereka sendiri dan mendengarkan kebohongan mereka sendiri pada akhirnya membuat mereka tidak mampu membedakan kebenaran dalam diri mereka sendiri, atau di sekitar mereka, dan dengan demikian kehilangan semua rasa hormat bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam keadaan tidak memiliki rasa hormat mereka berhenti mencintai, dan untuk mengisi dan mengalihkan diri mereka sendiri tanpa cinta, mereka memberi jalan bagi hasrat dan kesenangan yang kasar, dan tenggelam dalam bestialitas (kebinatangan) keburukan mereka, semua berawal dari membohongi orang lain dan diri mereka sendiri secara terus-menerus”. (The Brothers Karamazov, II, 2).
Jadi bagaimana kita membela diri kita sendiri? Penangkal yang paling radikal terhadap virus kebohongan adalah pemurnian (purifikasi) oleh kebenaran. Dalam Kekristenan, kebenaran bukan hanya realitas konseptual berkenaan dengan bagaimana kita menilai sesuatu, mendefinisikannya sebagai benar atau salah. Kebenaran bukan hanya menyatakan hal-hal yang tersembunyi, “mengungkapkan kenyataan”, sebagaimana istilah Yunani Kuno, aletheia (dari a-lethes, “tidak tersembunyi”) yang mungkin membuat kita percaya. Kebenaran melibatkan seluruh hidup kita. Dalam kitab suci, kebenaran membawa dalam dirinya pengertian; dukungan, soliditas, dan percaya, sebagaimana dinyatakan secara tidak langsung oleh akar kata “aman”, sumber dari ungkapan liturgis kita Amin. Kebenaran adalah sesuatu yang padanya kamu bisa bersandar, sehingga tidak jatuh. Dalam pengeritan relasional ini, satu-satunya yang sungguh-sungguh dapat diandalkan dan dipercaya—Dia yang dapat kita diperhitungkan—adalah Allah yang hidup. Oleh karena itu, Yesus dapat berkata: “Akulah kebenaran” (Yoh. 14:6). Kita menemukan dan menemukan kembali kebenaran ketika kita mengalaminya dalam diri kita dalam kesetiaan dan kepercayaan Dia yang mengasihi kita. Hanya inilah yang mampu membebaskan kita: “kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).
Kemerdekaan dari kebohongan dan upaya menjalin relasi: dua unsur ini tidak dapat hilang kalau kata-kata dan gestur kita benar, otentik, dan dapat dipercaya. Untuk mencermati kebenaran, kita perlu mencermati apapun yang mendorong persekutuan (communion) dan mempromosikan kebaikan dari apapun yang cenderung mengisolasi, membagi dan menentang. Kebenaran, oleh karena itu, tidak sungguh-sungguh dipahami ketika dipaksakan sehingga menjadi impersonal, kecuali kalau ia mengalir dari relasi yang bebas antara pribadi-pribadi, dari saling mendengarkan satu sama lain. Kita juga tidak bisa berhenti mencari kebenaran karena kebohongan bisa selalu menyusup, bahkan ketika kita sedang menyatakan hal-hal yang benar. Suatu argumen yang tanpa cela, bisa benar-benar berdasarkan pada fakta yang tidak dapat disangkal, tetapi jika digunakan untuk menyakiti orang lain, dan untuk mencemarkan pribadi tersebut di mata orang-orang lain, betapapun benarnnya, itu tidaklah tulus (truthful). Kita dapat mengenali kebenaran pernyataan-pernyatan berdasarkan buah-buah yang mereka hasilkan: apakah mereka menimbulkan perselisihan, menciptakan perpecahan, mendorong pemisahan, atau pada sisi lain, mereka membangkitkan refleksi yang kaya dan matang yang menuntun kepada dialog konstruktif dan hasil-hasil yang berguna.

4.        Perdamaian adalah berita yang benar
Penangkal terbaik terhadap kebohongan bukanlah strategi, tetapi orang: orang yang tidak tamak tetapi siap mendengarkan, orang yang berusaha terlibat dalam dialog yang tulus sehingga kebenaran bertumbuh; orang yang tertarik oleh kebaikan dan bertanggung jawab terhadap cara mereka berbahasa. Jika tanggungjawab adalah jawaban terhadap penyebaran berita palsu, maka tanggung jawab berat berada pada pundak mereka yang pekerjaannya adalah menyiapkan informasi, yakni para jurnalis, pelindung berita. Dalam dunia sekarang ini, profesi merekalah, dalam segala pengertian, bukan sekadar sebuah pekerjaan, itu adalah sebuah misi. Di tengah hiruk pikuk makan dan mencari makan, mereka harus mengingat bahwa jantung informasi bukanlah kecepatannya diberitakan, atau pengaruhnya terhadap audiens, tetapi pribadi-pribadi. Menginformasikan orang lain berarti membentuk mereka; itu berarti bersentuhan dengan kehidupan orang lain. Itulah alasan mengapa memastikan akurasi sumber dan melindungi komunikasi adalah sarana yang nyata untuk mempromosikan kebaikan, melahirkan kepercayaan, membuka jalan bagi persekutuan dan perdamaian.
Maka dari itu, saya mengundang setiap orang untuk mempromosikan jurnalisme perdamaian. Dengan itu, saya tidak memaksudkan bentuk jurnalisme sakarin (manis) yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau noda-noda sentimentalisme. Sebaliknya saya memaksudkan suatu jurnalisme yang jujur dan bertentangan dengan kebohongan, slogan-slogan retoris, dan headline (judul berita) sensasional. Suatu jurnalisme yang diciptakan oleh manusia untuk manusia, yang melayani semua, terutama mereka—dan mereka adalah mayoritas di dunia kita—yang tidak bersuara. Suatu jurnalisme yang tidak terlalu berkonsentrasi pada penyampaian/warta berita (breaking news) daripada eksplorasi sebab-sebab mendasar konflik-konflik, untuk membangkitkan pemahaman yang lebih mendalam dan menyumbangkan resolusi dengan menerapkan proses-proses yang bijak. Suatu jurnalisme yang berjuang menunjukkan alternatif terhadap pertengkaran (shouting matches) dan kekerasan verbal.
Untuk tujuan ini, dengan mengambil inspirasi dari sebuah doa Fransiskan, kita dapat berpaling kepada Kebenaran secara pribadi.
Tuhan, jadikanlah kami sarana damai-Mu
Bantulah kami mengenali kejahatan tersembunyi dalam komunikasi yang tidak
membangun persekutuan.
Bantulah kami untuk menghapus racun dari penilaian-penilaian kami.
Bantulah kami untuk berbicara tentang orang lain sebagai saudara dan saudari kami.
Engkau benar dan dapat diandalkan; semoga kata-kata kami menjadi benih-benih
kebaikan bagi dunia:
di mana ada keributan bantulah kami untuk belajar mendengarkan;
di mana ada kebingunan jadikanlah kami menginspirasi harmoni;
di mana ada ambiguitas, jadikanlah kami pembawa kejelasan;
di mana ada pengucilan, jadikanlah kami pembawa solidaritas;
di mana ada sensasionalisme, jadikan kami pembawa ketenangan hati;
di mana ada superfisialitas, biarkanlah kami mengajukan pertanyaan nyata;
di mana ada prasangka, biarkan kami membangun kepercayaan;
di mana terjadi permusuhan, jadikan kami pembawa rasa hormat;
di mana ada kepalsuan, jadikan kami pembawa kebenaran,
Amin.

Fransiskus

Diterjemahkan oleh: Jerry Nardin, CMF
Jogja, 26-27 Januari 2018