Jumat, 27 Februari 2015

Berserah bukan Menyerah


Segala sesuatu Tuhan yang punya dan segala sesuatu terjadi hanya dengan seijinNya. Percayakah anda akan hal ini? Banyak orang percaya tetapi mereka tidak atau belum bisa berserserah kepada Tuhan. Berserah bukanlah Menyerah. Yang Tuhan kehendaki adalah Berserah, bukan Menyerah. Kalau anda berserah Tuhan berkarya dan anda akan lihat sesuatu yang besar sedang terjadi karena Turut Campur Tangan Tuhan


Saya mengenal seorang wanita yang berdoa dan percaya untuk suaminya bisa datang ke gereja bersamanya. Hal ini berlangsung dari tahun ke tahun, dia sangat bertekad dan bersemangat. Dia melakukan segalanya yang dia bisa. Dia meletakkan ayat firman Tuhan di seluruh rumahnya. Dia akan meninggalkan Alkitabnya terbuka berharap suaminya bisa tertarik untuk membacanya.

Dia selalu mendorong suaminya untuk datang. Terlepas dari semua yang sudah dilakukan wanita ini, suaminya tetap tidak bergeming.
Setelah satu tahun atau lebih, hal ini mulai membuat wanita ini frustasi. Hal ini mulai membuat dia putus asa. Dia kehilangan sukacitanya. Dia tidak memiliki antusiasme seperti dulu. Dia berdoa bulan demi bulan dengan penuh putus asa dan kecewa mengatakan, “Joel, saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya lakukan.”

Suatu hari saya mengatakan padanya bahwa hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah melepaskan seluruh masalahnya, dan menyerahkannya kepada Tuhan. Saya berkata, “Anda sudah melakukan semua yang dapat Anda lakukan, Anda telah berdoa… Anda sudah percaya. Sekarang letakkan semua di atas mezbah. Ambil sikap ini, Jika dia tidak pernah akan datang ke gereja pun, Tuhan, saya masih akan bahagia. Jika dia tidak pernah berubah, Tuhan, saya masih akan mempercayai Engkau sepenuhnya.."

Mungkin saat ini Anda memiliki beberapa hal yang perlu Anda serahkan kepada Tuhan. Apakah ada orang-orang yang membuat Anda frustasi karena mereka tidak berubah? Cukup berkata, “Tuhan, saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan. Saya tidak akan menjalani hidup saya dengan marah lagi, saya tahu hanya Tuhan yang dapat mengubah orang, jadi saya akan kembali ke tempat perdamaian. Dan Tuhan, jika ini tidak pernah berhasil, saya meletakkannya di atas mezbah. Saya serahkan kepada-Mu.”
Ada kebebasan ketika Anda menyerahkannya. Saya tidak mengatakan untuk melepaskan impian Anda dan menyerah pada janji-janji Anda. Tidak, lepaskan frustrasi. Lepaskan kekhawatiran dan kembali ke tempat perdamaian mengetahui bahwa Tuhan memegang kendali penuh. Itulah yang wanita ini lakukan.

Dia menyerahkannya pada Tuhan, dan dia menjadi orang yang berbeda. Saya melihat dia minggu demi minggu dengan senyum lebar di wajahnya. Dia tidak marah atau frustasi lagi. Dia menikmati hidupnya dan mempercayai Allah. Lalu sekitar dua tahun kemudian pada pagi hari Minggu itu, tiba-tiba, suaminya berkata, “Aku ingin pergi ke gereja dengan kamu hari ini.”
Wanita ini hampir pingsan! Ini benar-benar gagasan dari suaminya sendiri.

Dia datang pada hari Minggu itu, dan mereka telah datang bersama-sama sejak saat itu. Itu sudah lebih dari empat tahun yang lalu, dan sekarang mereka berdua hampir tidak pernah melewatkan setiap ibadah gereja.

Teman, ketika Anda melepaskan, hal itu memungkinkan Tuhan untuk bekerja dengan cara yang ajaib dan menakjubkan. Mazmur 31, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan diriku..” (BIS)

Ini memberitahu bahwa kita tidak harus frustasi untuk membuat sesuatu terjadi. Kita tidak perlu khawatir bahwa mimpi yang Tuhan berikan tidak akan bisa terjadi. Kita dapat tinggal dalam damai mengetahui bahwa masa depan kita berada di dalam genggaman tangan kasihNya.

Minggu, 22 Februari 2015

AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2015

APP 2015 KEUSKUPAN AGUNG MAKASSAR
Pembahasan tema APP tahun ke empat mengambil tema “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”. Tema ini tidak dapat dilepaskan dari tema-tema tahun  sebelumnya. Dakam rangka mewujudkan hidup sejahtera, setiap orang harus menyadari panggilan hidup dan tanggung jawabnya (tahun I). Kesadaran akan panggilan dan tanggung jawab ini mendorong manusia ikut dalam karya penciptaan Tuhan dan hasilnya untuk kebaikan dan kesejahteraan umat manusia (Tahun II). Setiap orang dapat memperkembangkan panggilan, tanggung jawab, dan perkerjaan melalui proses belajar terus menerus. Manusia harus belajar untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan kehidupan agar berkelanjutan (Tahun III).
Pada tahun 2015 ini tema Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan diangkat untuk mengingatkan setiap orang bahwa hasil dari pekerjaan dan proses pembelajaran terus-menerus seharusnya mendorong untuk menghayati hidup lebih baik secara sehat dan memiliki semangat berbagi dan solider dengan sesama, alam dengan ketaatan kepada Tuhan. Hasil yang diharapkan dari pembahasan tema ini adalah setiap Umat beriman sadar bahwa dalam mencapai kesejahteraan hidup perlu upaya peningkatan kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh, tidak berlebih-lebihan dan boros, tetapi dengan kuantitas dan kualitas yang berkecukupan. Meningkatkan kesadaran akan panggilan dan tanggung jawab, meningkatnya kemampuan kerja, meningkatnya hasil dari perkerjaan, dan meningkatnya kemampuan untuk mengembangkan diri lewat belajar terus-menerus mendorong setiap umat beriman untuk semaking menghayati pola hidup yang berkualitas dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, alam semesta dan Tuhan.

Pertemuan APP 2015 memiliki tujuan khusus yakni:
a. Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyatan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, Allah, dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraab bersama. Hubungan-hubungan tersebut terwujud nyata dalam prilaku yang seimbang jasmani dan rohani.
b. Buah-buah keseimbangan hidup ini mewujud dalam prilaku hidup yang manusiawi: bersikap adil, jujur, benar, dan penuh kasih.
c. Bua-buah keseimbangan hidup juga mewujud dalam menjaga, memelihara, dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan.
d. Akhirnya diharapkan setiap orang memiliki sikap hormat dan syukur kepada Allah sang Pencipta. Manusia menyadari semunya berasal dari Tuhan dan kembali mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan.

Tema Pola Hidup Sehat dan Berkecukupam ini diuraikan dalam 5 subtema, yakni:
Pertemuan I : Menghargai dan Menghormati Tubuh sebagai Anugerah Allah.
Pertemuan II : Menjaga Keseimbangan Hidup Jasmani dan Rohani.
Pertemuan III : Prilaku Benar, Jujur, dan Berbagi dengn Sesama.
Pertemuan IV : Prilaku Ramah, Tekun, dan Bertanggung Jawab terhadap lingkungan Hidup.
Pertemuan V : Mempersembahkan Diri Secara Utuh kepada Allah.
Buku Panduan Bahan Aksi Puasa Pembangunan dapat diperoleh di Ketua-Ketua Rukun atau di Kelompok kategorial masing-masing.

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015



SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015 KEUSKUPAN AGUNG MAKASSAR
Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam dan damai sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita! 
Pada tahun 2015 ini, Rabu Abu, sebagai awal Masa Prapaskah, jatuh pada tanggal 18 Februari. Tahun ini merupakan tahun ke-4 dari lingkaran 5-tahunan APP Nasional (2012-2016), dengan tema pokok “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Adapun sub-tema tahun ke-4 ini berpusat pada membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”.
Kaitan Sebab-Akibat antara Dua Kutub
Selama 5 tahun (1981-1986) saya bertugas belajar di Roma. Agar tidak kehilangan semangat pastoral selama menjadi ‘anak sekolah’, dan sekaligus pula untuk mencari pengalaman pastoral di negeri lain, saya lebih suka menggunakan waktu-waktu liburan bekerja di paroki, baik di Italia maupun di Jerman dan Canada. Para pastor paroki di Eropa Barat dan Amerika Utara umumnya suka mengambil libur tahunan pada musim panas. Pada umumnya mereka berupaya mencari tenaga pengganti sementara di parokinya di Roma, karena tahu di sana banyak imam dari berbagai penjuru dunia sedang bertugas belajar.
Saya teringat sebuah pengalaman kecil ketika pertama kali menjadi tenaga pengganti sementara (“vertreten” namanya dalam bahasa Jerman) di sebuah paroki di Dinkelsb├╝hl, sebuah kota kecil di Jerman Selatan. Pada Misa hari Minggu pertama saya berada di paroki tersebut, saya terperanjat memperhatikan sedikit sekali umat yang hadir, dan umumnya hanya orang-orang yang sudah tua. Padahal menurut informasi pastor paroki, sebelum berangkat berlibur, jumlah umat paroki tersebut 3500-an. Di sakristi, sesudah Misa, saya bertanya kepada koster, “Mengapa sedikit sekali umat yang datang ke Misa?” Apa jawabnya? “Ah, Pastor, kalau perut sudah penuh, orang lupa berdoa kepada Tuhan!” Sambil tersenyum, saya menimpali, “Di negeri saya, Indonesia, orang sering berkata: ‘Kalau perut kosong, seseorang tidak mudah berdoa’!”
Ya, rupanya baik “perut kenyang” maupun “perut lapar”, keduanya membawa masalah dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Bukankah kisah “dosa asal” dalam Kitab Suci menyangkut daya tarik materiil (kebutuhan jasmani) disertai hasrat berkuasa (mau menjadi seperti Allah)? “Tetapi ular (si penggoda) itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya … kamu akan menjadi seperti Allah…’. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya…” (Kej. 3:4-6). Ternyata sejak awal keberadaannya di bumi, manusia sudah berhadapan dengan godaan tidak tunduk kepada perintah Allah, dan lebih mementingkan materi dan kekuasaan. Nafsu memiliki materi sebanyak-banyaknya telah menyebabkan ketidak-seimbangan sangat parah pembagian kekayaan bumi di antara penduduk bumi itu sendiri. Sebagaimana seringkali dikatakan, 80% kekayaan bumi dimiliki oleh 20% penduduk bumi, dan hanya 20% kekayaan bumi dimiliki oleh 80% penduduk bumi. Di era global dewasa ini, pengembangan ekonomi dikendalikan oleh sistem “pasar bebas”, yang ciri utamanya ialah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dunia industri terus-menerus menawarkan produk-produk baru, dan masyarakat merasa harus memilikinya agar tidak dianggap ketinggalan jaman. Ini melahirkan suatu gaya hidup baru, yang disebut konsumerisme. Dalam dunia materialistis-konsumeristis seperti ini, UANG menjadi unsur yang menentukan. Segala-galanya bisa dibeli dengan uang. Oleh karena itu orang berupaya memiliki uang sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara, termasuk korupsi. Uang telah menjadi seakan ilah baru, menggantikan Ilah yang benar. Bahkan tampaknya gejala ini telah merasuk ke dalam hidup beragama, seperti dalam apa yang dewasa ini dikenal dengan nama “Teologi Sukses” atau “Teologi Kesejahteraan”. “Teologi Sukses” sesungguhnya merupakan ajaran yang mendewakan kesuksesan dan kesejahteraan materiil, di mana Allah diperlakukan tidak lebih dari sebagai “alat” untuk mencapainya.
Pengembangan ekonomi dengan sistem “pasar bebas” murni menyebabkan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dalam sistem “pasar bebas” hanya mereka yang memiliki modal besar yang mampu bersaing, sedangkan yang bermodal kecil akan semakin terpuruk.  Maka hanya sekelompok kecil (20%) penduduk bumi akan terus berjaya, sedangkan mayoritas mutlak (80%) akan semakin tersingkir; sebagian besar dari mereka ini akan terus terancam tragedi kelaparan. Barangkali banyak dari mereka ini yang pasrah menerima nasib; atau kalau mereka masih percaya ada Tuhan, paling-paling mereka bisa menggugat, apakah Tuhan masih peduli mereka? Tetapi satu hal pasti, selama ketidak-seimbangan dan ketidak-adilan ini tidak diatasi, maka perdamaian dunia hanya merupakan ilusi. Dan selama itu, juga kelompok minoritas (yang 20% itu) tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenyam ketentraman hidup!
Manusia Terpanggil Kembali ke Fitrahnya
Apa dan siapakah manusia itu? Menurut Kitab Suci, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya…; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka” (Kej. 1:27). Jadi manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dia tidak ada dari dirinya sendiri. Berikut, manusia itu tidak diciptakan seorang diri. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Berarti dari hakekatnya, manusia itu adalah makhluk sosial (dari bahasa Latin socius = bersama-sama, bersatu). Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain, manusia adalah citra atau gambar Allah. Nah, dalam Perjanjian Baru kita menemukan definisi, bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8.16). Kalau manusia itu adalah citra Allah dan Allah itu adalah kasih, maka manusia dari hakekatnya harus mencerminkan kasih dalam hubungannya dengan sesamanya.
Selanjutnya, perlu dicatat, bahwa dalam Kitab Kejadian terdapat dua versi kisah penciptaan. Kej. 1:1-2:4a, yang menurut para ahli bersumber dari tradisi P (tradisi Imam), mengisahkan penciptaan langit dan bumi serta segala isinya oleh Allah melalui sabda-Nya dalam enam hari, dan pada hari ke-7 Ia beristirahat. Sedangkan Kej. 2:4b-3:24 bersumber dari tradisi Y (Yahwis). Di sini Allah digambarkan bagai pembuat periuk dengan membentuk manusia (2:7) dan segala binatang hutan dan segala burung di udara (2:19) dari tanah. Kej. 2:7 selengkapnya berbunyi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Di sini kita menemukan dimensi hakiki dan asali lainnya dari manusia: manusia itu adalah makhluk jasmani-rohani dalam satu keutuhan; meminjam rumusan Prof. Dr. N. Drijarkara, SJ: manusia adalah roh-yang-membadan atau badan-yang menroh. Dari segala ciptaan hanya manusialah yang diciptakan secara demikian. Dari segi rohani, manusia adalah makhluk transenden di atas makhluk-makhluk lainnya. Kiranya sifat asali yang sama inilah yang dimaksudkan tradisi P dengan menyebut manusia itu sebagai citra Allah. Dari segi jasmaniah, manusia itu sama dengan makhluk ciptaan lainnya, dan sebagai demikian ia mempunyai kebutuhan pokok materiil untuk dapat hidup dan berkembang.
Adapun tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membahagiakannya. Ini diungkapkan dengan kisah taman Eden: “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” (Kej. 2:8-9). Seterusnya dikatakan: “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (ay. 15). Sesungguhnya taman Eden itu ialah bumi yang didiami manusia ini. Pemilik dari segala sesuatu yang ada bukanlah manusia, melainkan Tuhan Allah, Sang Pencipta, yang mengadakan semuanya itu untuk segenap umat manusia, tanpa kecuali. Manusia sendiri hanyalah pengelola milik Sang Pencipta itu. Tetapi dosa telah memporak-porandakan rencana baik dari Allah itu. Akibatnya taman Eden, sebagai taman keselamatan dan kesejahteraan itu, berubah menjadi taman kemalangan.
Namun, dari kodratnya setiap manusia tetap mendambakan keselamatan-kesejahteraan, kebahagiaan. Dan ini hanya dapat terwujud apabila manusia kembali ke fitrahnya, sifat-sifat asalinya menurut Kitab Suci, sebagaimana sudah diutarakan di atas.
Membangun Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan
Dosa telah mengubah posisi manusia sebagai pengelola harta kekayaan bumi, dan berlagak sebagai pemilik aslinya. Padahal segala kekayaan dunia itu hanyalah “titipan” dari Sang Pencipta. Tiada manusia yang datang ke dalam dunia ini sudah membawa serta harta kekayaan. Setiap manusia dilahirkan ke dalam dunia ini dengan telanjang bulat, tak memiliki apa-apa. Dosa juga telah menyebabkan ketidak-seimbangan keutuhan manusia sebagai makhluk jasmaniah-rohani; yang ditekankan hanyalah segi kebutuhan jasmani-materiil: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya” (Kej. 3:6). Daya tarik materi melahirkan sikap mendewakan materi (materialisme), yang berujung pada pendewaan uang (mamon). Kerakusan akan materi juga mengubah fitrah asli manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk individualistis, yang mengeksploitasi sesamanya. Tidak itu saja. Alam lingkungan tidak lagi diperlakukan sebagai taman (Eden) yang harus dipelihara, melainkan dipandang sebagai tambang yang boleh dikuras habis demi kepentingan ekonomistik. Maka berkembanglah sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi yang buta etika. Eksploitasi alam tanpa etika semacam ini sungguh merupakan ancaman serius bagi keberadaan umat manusia itu sendiri!
Yesus Kristus, Manusia baru itu, telah memulihkan fitrah asli manusia dan mengangkatnya. Maka hanya Yesus Kristuslah satu-satunya yang harus menjadi dasar dan model dalam upaya mengkonkretkan fitrah asli manusia itu. Dialah Sang Sabda yang menjelma (lih. Yoh. 1:1-18), menjadi “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Sebelum Dia mulai hidup dan berkarya di depan umum, Yesus berpuasa 40 hari dan dicobai (Mat. 4:1-12; Luk, 4:1-13). Cobaan pertama berupa godaan materiil. Yesus yang lapar digoda mengubah batu jadi roti. Yesus menolak dengan mengutip Kitab Suci (Ul. 8:3): “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Dengan itu Yesus mau mengajar kita, bagaimana seharusnya kita menghayati jati diri asli kita sebagai makhluk jasmani-rohani: segi rohanilah yang harus mengarahkan segi jasmani, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini kita dapat memahami nasehat-Nya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Atau: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Dan kepada orang yang mendewakan uang, Dia mengingatkan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).
Godaan kedua, menurut versi Matius, ialah menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Inilah godaan menikmati kepopuleran, ingin disanjung-sanjung publik. Yesus tegas menolak dengan kembali mengutip Kitab Suci (Ul. 6:16): “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Di sini Yesus mau mengajar kita untuk tidak mencari popularitas murahan dengan membawa-bawa nama Allah. Akhirnya, godaan ketiga ialah godaan akan kekuasaan. Yesus ditawari “semua kerajaan dunia dengan kemegahannya” asalkan Dia mau sujud menyembah Iblis. Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!”, dan sekali lagi mengutip Kitab Suci (Ul. 6:13): “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus datang tidak untuk mengejar kekuasaan: Putera Manusia datang “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Dengan demikian, Citra Allah yang sempurna itu tidak hanya memulihkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain. Ia sekaligus menyempurnakan fitrah sosial manusia menjadi “berada untuk-orang-lain” (altruisme sejati). Dasar dari sikap altruis sejati ini tidak dapat lain daripada KASIH sejati: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Demikianlah, upaya membangun pola hidup sehat dan berkecukupan harus dilihat dalam kerangka pemulihan fitrah asli manusia yang berlandas dan bermodelkan Yesus Kristus, Manusia baru, Citra Allah yang sempurna. Sebagaimana diterangkan dalam naskah “Gerakan APP Nasional 2015”, pola hidup sehat berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus-menerus dan seimbang, dalam mencapai pemenuhan kebutuhan mendasar hidup manusia. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut dimensi sosial dan ekonomi. Situasi dan kondisi ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya, demi membangun dan mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.
Selanjutnya disebutkan tiga sasaran dan tujuan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” sebagai gerakan APP 2015 dalam membangun dan mewujudkan pembaharuan iman umat, sebagai berikut: (1) Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyataan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama: (2) Perilaku hidup yang manusiawi; keadilan, kebenaran, kejujuran,  kasih dengan menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan; dan (3) Tanggungjawab atas keutuhan biologis manusia yang diciptakan sebagai citra Allah dengan hidup saling berbagi satu sama lain.
Akhirnya, disajikan beberapa inspirasi membangun gerakan pola hidup sehat dan berkecukupan yang dapat dibuat, antara lain: (1) Gerakan ‘Optimalisasi Lahan Pekarangan’: Sesungguhnya setiap unit keluarga harus memperlakukan lahan pekarangannya bagai ‘taman Eden’, di mana Allah telah menempatkan keluarga bersangkutan untuk mengusahakan dan memeliharanya demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidupnya; (2) Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’: Budaya sampah sudah membuat manusia tidak peka dengan memboroskan dan membuang sisa makanan. Sementara, di setiap bagian dunia masih sekian banyak orang dan keluarga yang menderita kelaparan dan gizi buruk. Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’ dapat menjadi cara untuk menghormati dan merawat ciptaan, untuk memperhatikan setiap orang, untuk melawan budaya menyampah dan membuang-buang makanan, serta memajukan budaya solidaritas dan perjumpaan; (3) Gerakan ‘Bank Benih Petani’: Alam ciptaan adalah anugerah Allah untuk umat manusia. Dalam penggunaannya, manusia mempunyai tanggung jawab terhadap kaum miskin, generasi mendatang, dan umat manusia sebagai keseluruhan. Gerakan ‘Bank Benih Petani’: dari, oleh, dan untuk petani bagi keberlanjutan kehidupan akan bercirikan bela rasa dan keadilan antar generasi.
Penutup 
Selamat menjalani Masa Prapaskah, yang berfokus pada upaya membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”, dengan berlandas dan meneladani hidup dan karya Yesus Kristus, Citra Allah yang sempurna, yang telah memulihkan dan menyempurnakan fitrah asali manusia. Makna sejati puasa dan pantang serta Aksi Puasa Pembangunan (APP) harus kita gali dari hidup dan karya Yesus sendiri. Dengan berpuasa 40 hari, Yesus mau mengajar kita untuk senantiasa mengendalikan nafsu jasmani kita manusia sebagai makhluk rohani-jasmani. Dengan APP kita ingin meneladani Dia yang telah rela menjadi sama dengan kita, makhluk sosial yang berkewajiban berbela rasa dengan saudari-saudaranya yang menderita kemiskinan. Selanjutnya, sejalan dengan pusat keprihatinan Paus kita, hendaknya gerakan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Paus Fransiskus tampaknya mempunyai keyakinan yang sama dengan pendahulu beliau, Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II pernah menegaskan, “Jika keluarga-keluarga Katolik baik, maka Gereja akan baik”. Paus Fransiskus telah memutuskan mengadakan dua sinode para Uskup berturut-turut (2014 dan 2015) menyangkut tema yang sama: pastoral keluarga. KWI dan PGI menyambut antusias keprihatinan Paus itu: Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2014 mengambil tema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Sementara untuk Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2015 sengaja dipilih tema yang sama, mengenai KELUARGA. Semoga keluarga-keluarga Katolik semakin mencerminkan Keluarga Kudus Nazaret.
Tuhan memberkati kita!                     
  
       Makassar, 26 Januari 2015


              +John Liku-Ada
                          Uskup Agung Makassar   

Kamis, 08 Januari 2015

Belajar Pada Semut

Belajar Pada Semut Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Abd Basid

Semut. Ketika terlintas kata semut, mungkin yang muncul di benak kita adalah citranya yang selalu mengganggu. Sering gula kita yang disimpan di dapur dihinggapinya dan bahkan menggigit kita ketika kita sedang enak-enaknya duduk atau tidur. Padahal pada hakikatnya, semut merupakan makhluk yang sangat terampil, sosial, dan cerdas. Makhluk mungil ini, yang (mungkin) tidak pernah dianggap penting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tuhan dalam menciptakan sesuatu pasti tidak rasianya. Namun, kadang kita tidak mengetahuinya. Seperti itu juga semut. Semut secara sekilas memang tidak ada gunanya hidup di sekeliling kita—mungkin karena semut merupakan makhluk kecil dan tak tenar. Namun, kalau kita mau berfikir dan merenungi akan kebaradaannya, maka kita akan menemukan pelajaran berharga darinya.

Dalam al-Quran, mereka yang berpikir tentang alam sehingga mengenali kemahakuasaan Allah, dipuji sebagai teladan bagi orang beriman. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih ber-gantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan la
... baca selengkapnya di Belajar Pada Semut Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 16 Desember 2014

NATAL: Hadiah Natal terINDAH...

Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yang rendah, pria berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yang miskin. Dan bagi seseorang yang hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari, Natal tidak banyak berbeda dengan hari-hari lainnya, karenanya apa yang terjadi pada suatu malam natal itu tidak banyak yang diingatnya.

Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yang berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yang pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis ke Baldwin, dimana dia mungkin mendapatkan pekerjaan untuk ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.

Maka menjelang malam, ketika lonceng dan lagu-lagu natal terdengar dimana-mana, dan senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yang akan membawanya ke Baldwin. Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

"Lagipula," pikirnya, "sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari biasanya."

Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu adalah pesta kanak-kanak. Ratusan murid taman kanak-kanak dengan baju berwarna-warni bermain-main dengan begitu riang. Orang tua mereka saling mengobrol satu sama lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak di tengah-tengah ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan mencapai puluhan mobil-mobil mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak ratusan hadiah-hadiah natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja raksasa tersusun puluhan piring-piring yang berisi bermacam-macam makanan dan minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.


Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor dan tangannya gemetar.
"ya ampun, nona kecil", Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya, "udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?"
Gadis itu tidak bicara apa-apa. Ia hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak-anak kecil di dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas masuk ke dalam ruangan.

"Sayang..., kau tidak bisa di dalam sana" Egar menarik napas. Ia merasa begitu kasihan pada gadis itu.
Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam-diam. Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak-anak, dan mereka meloncat ke sana-sini, memamerkan hadiah-hadiah kepada orang tua mereka yang terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar di matanya. Pada saat yang bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi. Egar tidak bisa lagi menahan hatinya.
Ia memegang tangan gadis itu dan berkata "Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu."
"Sungguh?", gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya.
"Ya. Tapi kita akan mengisi perut dulu."
Ia membawa gadis itu di atas bahunya dan berjalan ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil makan ia mencari tahu tentang gadis itu. Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah anak yatim St.Carolus, sebuah sekolah kecil yang dibiayai pemerintah untuk anak-anak miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.
Sementara mereka bercakap-cakap, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 di kantongnya. Ia mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko-toko yang buka di saat ini, dan yang buka pun umumnya menaikkan harga-harga mereka. Ia amat ragu-ragu apakah ia bisa membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yang terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri. Kalung yang melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yang paling berharga. Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum kematiannya.
Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yang punya sesuatu seharga $5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yang agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat-lihat, tanpa peduli akan baju-baju mereka yang lusuh. Mereka mulai melihat barang-barang di balik kaca dan mencari-cari sesuatu yang mereka sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang, deretan kotak pensil, dan semua barang-barang kecil yang tidak pernah dimilikinya. Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut-takut Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang pria tua dengan cahaya terang di matanya dan jenggot yang lebih memutih, mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum. Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk dibandingkan pada kalung itu.

"Ya Tuhan", Egar menggumam, "begitu sama dan serupa."
Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan sama bentuk salib yang tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnya pun hampir sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

"Samakah mereka?" Ellis bertanya dengan nada kekanak-kanakan. Baginya kalung itu begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan menjadi hadiah natal yang paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….
“Berapa harganya, Pak?” tanya Egar dengan suara serak karena lidahnya kering.
“Sepuluh dollar.” kata pemilik toko.
Hilang sudah harapan mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu berganti-ganti, dan ia melihat Ellis yang tidak pernah melepaskan matanya dari kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut, “Berapa yang anda punya, Pak ?”
Egar menggelengkan kepalanya, “Bahkan tidak sampai $5.”
Senyum pemilik toko semakin mengembang “Kalung itu milik kalian dengan harga $4.”
Baik Egar maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.
“Bukankah sekarang hari Natal?” Orang tua itu tersenyum lagi, “Bahkan bila kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak pembeli saya yang ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis.”
“Benar-benar semangat natal.” Pikir Egar dalam hati.
Selama 5 menit orang tua itu mencetak pesan berikut di balik bandul : 'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas'
Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yang paling sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang tua itu dan mengalungkan kalung itu ke leher Ellis. Ellis hampir menangis karena bahagia.
“Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal.” kata Egar kepada orang tua itu.
“Selamat natal teman-temanku.” Jawab pemilik toko, senantiasa tersenyum.
Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih deras tapi mereka merasakan kehangatan di dalam tubuh. Bintang-bintang mulai muncul di langit, dan sinar-sinar mereka membuat salju di jalan raya kebiru-biruan. Egar mengendong gadis itu di atas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah yang lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yang paling memuaskan untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yang berharga di lehernya, merasakan kegembiraan natal yang pertama dalam hidupnya.
Bersambung lagi

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.
“Sekarang pulanglah, Ellis. Hati-hati di jalan. Tuhan memberkatimu selalu.”
“Kemana anda pergi, Pak?” tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu.
“Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yang rajin. Selamat natal, sayang.”
Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang kecil, tersenyum dan berlari-lari kecil ke asramanya. Kebahagiaan yang amat sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya. Egar merasa begitu hangat di dalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih kosong.
“Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal.”
Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yang ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu di lehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat. Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yang baru diukir dibalik bandulnya : 'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas' . Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis……
***
Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam usahanya mencari pekerjaan yang lebih baik, ia harus terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa menemukan pekerjaan yang cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.
Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari dan hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah sakit karena pingsan kecapaian. Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di rumah sakit milik pemerintah. Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu-lagu natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.
Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien-pasiennya, sedang bersiap-siap untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit. Ia memeriksa buku di tangannya dan mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yang tergeletak di atas ranjang, di sebelah sapu-sapu dan kain lap. Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yang bersinar suram di dadanya, yang memantulkan sinar lampu yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka.
Dia mendekat dan mulai melihat benda yang bersinar itu, yaitu bandul kalung yang sudah kehitam-hitaman karena kualitas logam yang tidak baik. Tapi sesuatu pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati-hati ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yang tercetak di baliknya.
'Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas'
Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yang paling diharapkan untuk bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yang membuat masa kanak-kanaknya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yang membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada di dunia ini.
Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yang terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yang sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah-langkah kaki puluhan perawat dan dokter jaga.
“Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yang tersayang.”
Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat, perasaan yang didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya-tanya lagi karena ia baru saja menemukan orang yang memberinya hadiah natal yang paling sempurna sepanjang segala jaman……….

The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death Fire

The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death Fire Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Aku rela demi untukmu, akan ku lakukan apa saja demi kebahagiaanmu. Aku mencintaimu. Walau aku tahu, cinta ini terlarang. Dan aku tak akan pernah menyerah demi mencintaimu.”
Catrine.

“Apa yang telah kau lakukan padanya?” Seorang pria yang wajahnya sedikit lebam memandang pria yang ada di depannya dengan tatapan benci.
“Jangan harap kau bisa mendapatkannya! Aku tak akan membiarkanmu mencintainya.” Pria yang di tatap pria tadi menjawab dengan lantangnya.
“Dia tak akan mencintaimu, dan kau yang jangan berharap mencintainya!” Pria pertama berucap lagi. Mereka saling beradu pandang. Pandangan yang penuh kebencian.
“Dari awal, aku sudah membencimu Fred. Aku tak ingin mengenalmu. Catrine saja yang terlalu baik padamu.” Pria itu berucap lantang lagi. Ya, pria itu Arthur. Dia sedang berdebat bersama Fred.
“Lihatlah dia, gadis lugu itu benar-benar bodoh sekali. Dia tak bisa membedakan mana yang baik sepertiku, dan mana yang buruk sepertimu!” Fred mengejek Arthur. Semakin bencilah Arthur pada Fred.
“Dasar busuk!” Seketika Arthur akan menerbangkan sebuah pukulan pada Fred, bayangan putih tiba-tiba terbang menghampiri mereka. Bayangan itu melesat menuju tempat terbaringnya Catrine. Langsung diraihnya Catrine dan dibawanya terbang.

“Putri Edelweis tak ada di kamar!” T
... baca selengkapnya di The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death Fire Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 15 Desember 2014

Tekun, Pasti Berhasil

Tekun, Pasti Berhasil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pernah saya menjawab SMS dari seorang pelajar yang bertanya pada saya, bagaimana caranya supaya menjadi seorang penulis. Kata saya (mengadopsi perkataan Lincoln): “Tanyakan pada diri sendiri, jika kamu sudah mengambil keputusan dan bertekad, maka kamu SUDAH memenangkan separuhnya.” Tak heran, Tung Desem Waringin dalam bukunya “Financial Revolution” mengatakan: “Bayangkanlah seolah-olah kamu SUDAH melakukannya, maka alam bawah sadar akan menyimpan memori itu.”

Apakah untuk menjadi seorang penulis itu harus mempunyai banyak buku-buku? Tidak. Saya sendiri hanya pinjam. Koleksi buku-buku saya juga sedikit. Tetapi saya membaca. Apakah harus memiliki waktu luang yang banyak? Tidak. Saya sendiri menyelesaikan buku pertama di sela-sela waktu pekerjaan saya sebagai pembantu rumah tangga. Apakah harus memiliki tingkat intelektual tertentu? Tidak. Kita semua bisa mempelajari. Bahkan bisa mempelajari apa saja. Apakah harus mempunyai komputer atau laptop sendiri? Tidak. Saya sebelumnya tidak punya komputer. Jadi, ki
... baca selengkapnya di Tekun, Pasti Berhasil Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Cari Blog Ini

Memuat...