Minggu, 01 Maret 2015

Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak

Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. "Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun," pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, "Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi." Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. "Aku rasa mungkin karena wajahku ... Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..." Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: "Oh aku bi
... baca selengkapnya di Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan

Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

SESUAI petunjuk Para Dewa yang diterima melalui Satria Lonceng Dewa Mimba Purana, Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala berhasil menemui Empat Mayat Aneh yang terbujur dalam sebuah peti mati hitam besar. Peti mati ini muncul dari dalam sebuah kuburan raksasa yang datang dari langit, turun ketanah lalu secara aneh terbelah menguak.

Ketika penutup peti mati terpentang membuka sendiri, dari dalam peti memancar empat cahaya coklat menyilaukan mata hingga Raja Mataram Rakai Kayuwangi tercekat mundur. Suasana tambah mencekam sewaktu dari dalam peti terdengar suara keras berucap.

"Pelihara mata hanya melihat kebaikan."

"Pelihara mulut hanya bicara kebaikan."

"Pelihara telinga hanya mendengar kebaikan."

"Pelihara kemaluan hanya untuk kebaikan."Untuk beberapa ketika Raja Mataram tidak dapat melihat apa yang terdapat di dalam peti mati karena ada kepulan asap kelabu menutupi pemandangan. Tak selang berapa lama, begitu asap kelabu sirna, Rakai Kayuwangi menyaksikan satu pemandangan yang sungguh luar biasa! Di dalam peti mati terbujur empat sosok mayat laki-laki dengan sekujur tubuh kecuali wajah dan kepala terbalut gulungan kain putih. Mayat pertama dalam keadaan dua tangan ditutupkan ke mata. Maya
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Jumat, 27 Februari 2015

Berserah bukan Menyerah


Segala sesuatu Tuhan yang punya dan segala sesuatu terjadi hanya dengan seijinNya. Percayakah anda akan hal ini? Banyak orang percaya tetapi mereka tidak atau belum bisa berserserah kepada Tuhan. Berserah bukanlah Menyerah. Yang Tuhan kehendaki adalah Berserah, bukan Menyerah. Kalau anda berserah Tuhan berkarya dan anda akan lihat sesuatu yang besar sedang terjadi karena Turut Campur Tangan Tuhan


Saya mengenal seorang wanita yang berdoa dan percaya untuk suaminya bisa datang ke gereja bersamanya. Hal ini berlangsung dari tahun ke tahun, dia sangat bertekad dan bersemangat. Dia melakukan segalanya yang dia bisa. Dia meletakkan ayat firman Tuhan di seluruh rumahnya. Dia akan meninggalkan Alkitabnya terbuka berharap suaminya bisa tertarik untuk membacanya.

Dia selalu mendorong suaminya untuk datang. Terlepas dari semua yang sudah dilakukan wanita ini, suaminya tetap tidak bergeming.
Setelah satu tahun atau lebih, hal ini mulai membuat wanita ini frustasi. Hal ini mulai membuat dia putus asa. Dia kehilangan sukacitanya. Dia tidak memiliki antusiasme seperti dulu. Dia berdoa bulan demi bulan dengan penuh putus asa dan kecewa mengatakan, “Joel, saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya lakukan.”

Suatu hari saya mengatakan padanya bahwa hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah melepaskan seluruh masalahnya, dan menyerahkannya kepada Tuhan. Saya berkata, “Anda sudah melakukan semua yang dapat Anda lakukan, Anda telah berdoa… Anda sudah percaya. Sekarang letakkan semua di atas mezbah. Ambil sikap ini, Jika dia tidak pernah akan datang ke gereja pun, Tuhan, saya masih akan bahagia. Jika dia tidak pernah berubah, Tuhan, saya masih akan mempercayai Engkau sepenuhnya.."

Mungkin saat ini Anda memiliki beberapa hal yang perlu Anda serahkan kepada Tuhan. Apakah ada orang-orang yang membuat Anda frustasi karena mereka tidak berubah? Cukup berkata, “Tuhan, saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan. Saya tidak akan menjalani hidup saya dengan marah lagi, saya tahu hanya Tuhan yang dapat mengubah orang, jadi saya akan kembali ke tempat perdamaian. Dan Tuhan, jika ini tidak pernah berhasil, saya meletakkannya di atas mezbah. Saya serahkan kepada-Mu.”
Ada kebebasan ketika Anda menyerahkannya. Saya tidak mengatakan untuk melepaskan impian Anda dan menyerah pada janji-janji Anda. Tidak, lepaskan frustrasi. Lepaskan kekhawatiran dan kembali ke tempat perdamaian mengetahui bahwa Tuhan memegang kendali penuh. Itulah yang wanita ini lakukan.

Dia menyerahkannya pada Tuhan, dan dia menjadi orang yang berbeda. Saya melihat dia minggu demi minggu dengan senyum lebar di wajahnya. Dia tidak marah atau frustasi lagi. Dia menikmati hidupnya dan mempercayai Allah. Lalu sekitar dua tahun kemudian pada pagi hari Minggu itu, tiba-tiba, suaminya berkata, “Aku ingin pergi ke gereja dengan kamu hari ini.”
Wanita ini hampir pingsan! Ini benar-benar gagasan dari suaminya sendiri.

Dia datang pada hari Minggu itu, dan mereka telah datang bersama-sama sejak saat itu. Itu sudah lebih dari empat tahun yang lalu, dan sekarang mereka berdua hampir tidak pernah melewatkan setiap ibadah gereja.

Teman, ketika Anda melepaskan, hal itu memungkinkan Tuhan untuk bekerja dengan cara yang ajaib dan menakjubkan. Mazmur 31, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan diriku..” (BIS)

Ini memberitahu bahwa kita tidak harus frustasi untuk membuat sesuatu terjadi. Kita tidak perlu khawatir bahwa mimpi yang Tuhan berikan tidak akan bisa terjadi. Kita dapat tinggal dalam damai mengetahui bahwa masa depan kita berada di dalam genggaman tangan kasihNya.

Minggu, 22 Februari 2015

AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2015

APP 2015 KEUSKUPAN AGUNG MAKASSAR
Pembahasan tema APP tahun ke empat mengambil tema “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”. Tema ini tidak dapat dilepaskan dari tema-tema tahun  sebelumnya. Dakam rangka mewujudkan hidup sejahtera, setiap orang harus menyadari panggilan hidup dan tanggung jawabnya (tahun I). Kesadaran akan panggilan dan tanggung jawab ini mendorong manusia ikut dalam karya penciptaan Tuhan dan hasilnya untuk kebaikan dan kesejahteraan umat manusia (Tahun II). Setiap orang dapat memperkembangkan panggilan, tanggung jawab, dan perkerjaan melalui proses belajar terus menerus. Manusia harus belajar untuk menciptakan kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan kehidupan agar berkelanjutan (Tahun III).
Pada tahun 2015 ini tema Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan diangkat untuk mengingatkan setiap orang bahwa hasil dari pekerjaan dan proses pembelajaran terus-menerus seharusnya mendorong untuk menghayati hidup lebih baik secara sehat dan memiliki semangat berbagi dan solider dengan sesama, alam dengan ketaatan kepada Tuhan. Hasil yang diharapkan dari pembahasan tema ini adalah setiap Umat beriman sadar bahwa dalam mencapai kesejahteraan hidup perlu upaya peningkatan kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh, tidak berlebih-lebihan dan boros, tetapi dengan kuantitas dan kualitas yang berkecukupan. Meningkatkan kesadaran akan panggilan dan tanggung jawab, meningkatnya kemampuan kerja, meningkatnya hasil dari perkerjaan, dan meningkatnya kemampuan untuk mengembangkan diri lewat belajar terus-menerus mendorong setiap umat beriman untuk semaking menghayati pola hidup yang berkualitas dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, alam semesta dan Tuhan.

Pertemuan APP 2015 memiliki tujuan khusus yakni:
a. Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyatan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, Allah, dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraab bersama. Hubungan-hubungan tersebut terwujud nyata dalam prilaku yang seimbang jasmani dan rohani.
b. Buah-buah keseimbangan hidup ini mewujud dalam prilaku hidup yang manusiawi: bersikap adil, jujur, benar, dan penuh kasih.
c. Bua-buah keseimbangan hidup juga mewujud dalam menjaga, memelihara, dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan.
d. Akhirnya diharapkan setiap orang memiliki sikap hormat dan syukur kepada Allah sang Pencipta. Manusia menyadari semunya berasal dari Tuhan dan kembali mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan.

Tema Pola Hidup Sehat dan Berkecukupam ini diuraikan dalam 5 subtema, yakni:
Pertemuan I : Menghargai dan Menghormati Tubuh sebagai Anugerah Allah.
Pertemuan II : Menjaga Keseimbangan Hidup Jasmani dan Rohani.
Pertemuan III : Prilaku Benar, Jujur, dan Berbagi dengn Sesama.
Pertemuan IV : Prilaku Ramah, Tekun, dan Bertanggung Jawab terhadap lingkungan Hidup.
Pertemuan V : Mempersembahkan Diri Secara Utuh kepada Allah.
Buku Panduan Bahan Aksi Puasa Pembangunan dapat diperoleh di Ketua-Ketua Rukun atau di Kelompok kategorial masing-masing.

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015



SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2015 KEUSKUPAN AGUNG MAKASSAR
Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat beriman Katolik Keuskupan Agung Makassar: Salam dan damai sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita! 
Pada tahun 2015 ini, Rabu Abu, sebagai awal Masa Prapaskah, jatuh pada tanggal 18 Februari. Tahun ini merupakan tahun ke-4 dari lingkaran 5-tahunan APP Nasional (2012-2016), dengan tema pokok “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Adapun sub-tema tahun ke-4 ini berpusat pada membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”.
Kaitan Sebab-Akibat antara Dua Kutub
Selama 5 tahun (1981-1986) saya bertugas belajar di Roma. Agar tidak kehilangan semangat pastoral selama menjadi ‘anak sekolah’, dan sekaligus pula untuk mencari pengalaman pastoral di negeri lain, saya lebih suka menggunakan waktu-waktu liburan bekerja di paroki, baik di Italia maupun di Jerman dan Canada. Para pastor paroki di Eropa Barat dan Amerika Utara umumnya suka mengambil libur tahunan pada musim panas. Pada umumnya mereka berupaya mencari tenaga pengganti sementara di parokinya di Roma, karena tahu di sana banyak imam dari berbagai penjuru dunia sedang bertugas belajar.
Saya teringat sebuah pengalaman kecil ketika pertama kali menjadi tenaga pengganti sementara (“vertreten” namanya dalam bahasa Jerman) di sebuah paroki di Dinkelsb├╝hl, sebuah kota kecil di Jerman Selatan. Pada Misa hari Minggu pertama saya berada di paroki tersebut, saya terperanjat memperhatikan sedikit sekali umat yang hadir, dan umumnya hanya orang-orang yang sudah tua. Padahal menurut informasi pastor paroki, sebelum berangkat berlibur, jumlah umat paroki tersebut 3500-an. Di sakristi, sesudah Misa, saya bertanya kepada koster, “Mengapa sedikit sekali umat yang datang ke Misa?” Apa jawabnya? “Ah, Pastor, kalau perut sudah penuh, orang lupa berdoa kepada Tuhan!” Sambil tersenyum, saya menimpali, “Di negeri saya, Indonesia, orang sering berkata: ‘Kalau perut kosong, seseorang tidak mudah berdoa’!”
Ya, rupanya baik “perut kenyang” maupun “perut lapar”, keduanya membawa masalah dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Bukankah kisah “dosa asal” dalam Kitab Suci menyangkut daya tarik materiil (kebutuhan jasmani) disertai hasrat berkuasa (mau menjadi seperti Allah)? “Tetapi ular (si penggoda) itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya … kamu akan menjadi seperti Allah…’. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya…” (Kej. 3:4-6). Ternyata sejak awal keberadaannya di bumi, manusia sudah berhadapan dengan godaan tidak tunduk kepada perintah Allah, dan lebih mementingkan materi dan kekuasaan. Nafsu memiliki materi sebanyak-banyaknya telah menyebabkan ketidak-seimbangan sangat parah pembagian kekayaan bumi di antara penduduk bumi itu sendiri. Sebagaimana seringkali dikatakan, 80% kekayaan bumi dimiliki oleh 20% penduduk bumi, dan hanya 20% kekayaan bumi dimiliki oleh 80% penduduk bumi. Di era global dewasa ini, pengembangan ekonomi dikendalikan oleh sistem “pasar bebas”, yang ciri utamanya ialah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dunia industri terus-menerus menawarkan produk-produk baru, dan masyarakat merasa harus memilikinya agar tidak dianggap ketinggalan jaman. Ini melahirkan suatu gaya hidup baru, yang disebut konsumerisme. Dalam dunia materialistis-konsumeristis seperti ini, UANG menjadi unsur yang menentukan. Segala-galanya bisa dibeli dengan uang. Oleh karena itu orang berupaya memiliki uang sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara, termasuk korupsi. Uang telah menjadi seakan ilah baru, menggantikan Ilah yang benar. Bahkan tampaknya gejala ini telah merasuk ke dalam hidup beragama, seperti dalam apa yang dewasa ini dikenal dengan nama “Teologi Sukses” atau “Teologi Kesejahteraan”. “Teologi Sukses” sesungguhnya merupakan ajaran yang mendewakan kesuksesan dan kesejahteraan materiil, di mana Allah diperlakukan tidak lebih dari sebagai “alat” untuk mencapainya.
Pengembangan ekonomi dengan sistem “pasar bebas” murni menyebabkan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Dalam sistem “pasar bebas” hanya mereka yang memiliki modal besar yang mampu bersaing, sedangkan yang bermodal kecil akan semakin terpuruk.  Maka hanya sekelompok kecil (20%) penduduk bumi akan terus berjaya, sedangkan mayoritas mutlak (80%) akan semakin tersingkir; sebagian besar dari mereka ini akan terus terancam tragedi kelaparan. Barangkali banyak dari mereka ini yang pasrah menerima nasib; atau kalau mereka masih percaya ada Tuhan, paling-paling mereka bisa menggugat, apakah Tuhan masih peduli mereka? Tetapi satu hal pasti, selama ketidak-seimbangan dan ketidak-adilan ini tidak diatasi, maka perdamaian dunia hanya merupakan ilusi. Dan selama itu, juga kelompok minoritas (yang 20% itu) tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenyam ketentraman hidup!
Manusia Terpanggil Kembali ke Fitrahnya
Apa dan siapakah manusia itu? Menurut Kitab Suci, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya…; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka” (Kej. 1:27). Jadi manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dia tidak ada dari dirinya sendiri. Berikut, manusia itu tidak diciptakan seorang diri. Mereka diciptakan laki-laki dan perempuan. Berarti dari hakekatnya, manusia itu adalah makhluk sosial (dari bahasa Latin socius = bersama-sama, bersatu). Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain, manusia adalah citra atau gambar Allah. Nah, dalam Perjanjian Baru kita menemukan definisi, bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh. 4:8.16). Kalau manusia itu adalah citra Allah dan Allah itu adalah kasih, maka manusia dari hakekatnya harus mencerminkan kasih dalam hubungannya dengan sesamanya.
Selanjutnya, perlu dicatat, bahwa dalam Kitab Kejadian terdapat dua versi kisah penciptaan. Kej. 1:1-2:4a, yang menurut para ahli bersumber dari tradisi P (tradisi Imam), mengisahkan penciptaan langit dan bumi serta segala isinya oleh Allah melalui sabda-Nya dalam enam hari, dan pada hari ke-7 Ia beristirahat. Sedangkan Kej. 2:4b-3:24 bersumber dari tradisi Y (Yahwis). Di sini Allah digambarkan bagai pembuat periuk dengan membentuk manusia (2:7) dan segala binatang hutan dan segala burung di udara (2:19) dari tanah. Kej. 2:7 selengkapnya berbunyi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”. Di sini kita menemukan dimensi hakiki dan asali lainnya dari manusia: manusia itu adalah makhluk jasmani-rohani dalam satu keutuhan; meminjam rumusan Prof. Dr. N. Drijarkara, SJ: manusia adalah roh-yang-membadan atau badan-yang menroh. Dari segala ciptaan hanya manusialah yang diciptakan secara demikian. Dari segi rohani, manusia adalah makhluk transenden di atas makhluk-makhluk lainnya. Kiranya sifat asali yang sama inilah yang dimaksudkan tradisi P dengan menyebut manusia itu sebagai citra Allah. Dari segi jasmaniah, manusia itu sama dengan makhluk ciptaan lainnya, dan sebagai demikian ia mempunyai kebutuhan pokok materiil untuk dapat hidup dan berkembang.
Adapun tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membahagiakannya. Ini diungkapkan dengan kisah taman Eden: “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya” (Kej. 2:8-9). Seterusnya dikatakan: “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (ay. 15). Sesungguhnya taman Eden itu ialah bumi yang didiami manusia ini. Pemilik dari segala sesuatu yang ada bukanlah manusia, melainkan Tuhan Allah, Sang Pencipta, yang mengadakan semuanya itu untuk segenap umat manusia, tanpa kecuali. Manusia sendiri hanyalah pengelola milik Sang Pencipta itu. Tetapi dosa telah memporak-porandakan rencana baik dari Allah itu. Akibatnya taman Eden, sebagai taman keselamatan dan kesejahteraan itu, berubah menjadi taman kemalangan.
Namun, dari kodratnya setiap manusia tetap mendambakan keselamatan-kesejahteraan, kebahagiaan. Dan ini hanya dapat terwujud apabila manusia kembali ke fitrahnya, sifat-sifat asalinya menurut Kitab Suci, sebagaimana sudah diutarakan di atas.
Membangun Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan
Dosa telah mengubah posisi manusia sebagai pengelola harta kekayaan bumi, dan berlagak sebagai pemilik aslinya. Padahal segala kekayaan dunia itu hanyalah “titipan” dari Sang Pencipta. Tiada manusia yang datang ke dalam dunia ini sudah membawa serta harta kekayaan. Setiap manusia dilahirkan ke dalam dunia ini dengan telanjang bulat, tak memiliki apa-apa. Dosa juga telah menyebabkan ketidak-seimbangan keutuhan manusia sebagai makhluk jasmaniah-rohani; yang ditekankan hanyalah segi kebutuhan jasmani-materiil: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya” (Kej. 3:6). Daya tarik materi melahirkan sikap mendewakan materi (materialisme), yang berujung pada pendewaan uang (mamon). Kerakusan akan materi juga mengubah fitrah asli manusia sebagai makhluk sosial menjadi makhluk individualistis, yang mengeksploitasi sesamanya. Tidak itu saja. Alam lingkungan tidak lagi diperlakukan sebagai taman (Eden) yang harus dipelihara, melainkan dipandang sebagai tambang yang boleh dikuras habis demi kepentingan ekonomistik. Maka berkembanglah sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi yang buta etika. Eksploitasi alam tanpa etika semacam ini sungguh merupakan ancaman serius bagi keberadaan umat manusia itu sendiri!
Yesus Kristus, Manusia baru itu, telah memulihkan fitrah asli manusia dan mengangkatnya. Maka hanya Yesus Kristuslah satu-satunya yang harus menjadi dasar dan model dalam upaya mengkonkretkan fitrah asli manusia itu. Dialah Sang Sabda yang menjelma (lih. Yoh. 1:1-18), menjadi “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Sebelum Dia mulai hidup dan berkarya di depan umum, Yesus berpuasa 40 hari dan dicobai (Mat. 4:1-12; Luk, 4:1-13). Cobaan pertama berupa godaan materiil. Yesus yang lapar digoda mengubah batu jadi roti. Yesus menolak dengan mengutip Kitab Suci (Ul. 8:3): “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Dengan itu Yesus mau mengajar kita, bagaimana seharusnya kita menghayati jati diri asli kita sebagai makhluk jasmani-rohani: segi rohanilah yang harus mengarahkan segi jasmani, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini kita dapat memahami nasehat-Nya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Atau: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Dan kepada orang yang mendewakan uang, Dia mengingatkan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).
Godaan kedua, menurut versi Matius, ialah menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Inilah godaan menikmati kepopuleran, ingin disanjung-sanjung publik. Yesus tegas menolak dengan kembali mengutip Kitab Suci (Ul. 6:16): “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Di sini Yesus mau mengajar kita untuk tidak mencari popularitas murahan dengan membawa-bawa nama Allah. Akhirnya, godaan ketiga ialah godaan akan kekuasaan. Yesus ditawari “semua kerajaan dunia dengan kemegahannya” asalkan Dia mau sujud menyembah Iblis. Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!”, dan sekali lagi mengutip Kitab Suci (Ul. 6:13): “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus datang tidak untuk mengejar kekuasaan: Putera Manusia datang “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Dengan demikian, Citra Allah yang sempurna itu tidak hanya memulihkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial, yang-berada-bersama-orang-lain. Ia sekaligus menyempurnakan fitrah sosial manusia menjadi “berada untuk-orang-lain” (altruisme sejati). Dasar dari sikap altruis sejati ini tidak dapat lain daripada KASIH sejati: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Demikianlah, upaya membangun pola hidup sehat dan berkecukupan harus dilihat dalam kerangka pemulihan fitrah asli manusia yang berlandas dan bermodelkan Yesus Kristus, Manusia baru, Citra Allah yang sempurna. Sebagaimana diterangkan dalam naskah “Gerakan APP Nasional 2015”, pola hidup sehat berarti melakukan kegiatan olah rohani dan jasmani yang teratur, terus-menerus dan seimbang, dalam mencapai pemenuhan kebutuhan mendasar hidup manusia. Kesehatan dimengerti sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap manusia hidup produktif dan kreatif seturut dimensi sosial dan ekonomi. Situasi dan kondisi ini yang membuat manusia mempunyai daya hidup untuk memberdayakan segala sesuatu dengan maksimal, baik yang dimilikinya maupun lingkungan hidupnya, demi membangun dan mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.
Selanjutnya disebutkan tiga sasaran dan tujuan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” sebagai gerakan APP 2015 dalam membangun dan mewujudkan pembaharuan iman umat, sebagai berikut: (1) Menghargai dan menghormati tubuh sebagai kenyataan yang sangat pribadi sebagai tanda dan wahana untuk membangun hubungan-hubungan dengan sesama, dengan Allah dan alam semesta demi terwujudnya kesejahteraan bersama: (2) Perilaku hidup yang manusiawi; keadilan, kebenaran, kejujuran,  kasih dengan menjaga, memelihara dan membangun lingkungan hidup yang baik dan berkelanjutan; dan (3) Tanggungjawab atas keutuhan biologis manusia yang diciptakan sebagai citra Allah dengan hidup saling berbagi satu sama lain.
Akhirnya, disajikan beberapa inspirasi membangun gerakan pola hidup sehat dan berkecukupan yang dapat dibuat, antara lain: (1) Gerakan ‘Optimalisasi Lahan Pekarangan’: Sesungguhnya setiap unit keluarga harus memperlakukan lahan pekarangannya bagai ‘taman Eden’, di mana Allah telah menempatkan keluarga bersangkutan untuk mengusahakan dan memeliharanya demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidupnya; (2) Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’: Budaya sampah sudah membuat manusia tidak peka dengan memboroskan dan membuang sisa makanan. Sementara, di setiap bagian dunia masih sekian banyak orang dan keluarga yang menderita kelaparan dan gizi buruk. Gerakan ‘Bersih dan Sehat Lingkungan’ dapat menjadi cara untuk menghormati dan merawat ciptaan, untuk memperhatikan setiap orang, untuk melawan budaya menyampah dan membuang-buang makanan, serta memajukan budaya solidaritas dan perjumpaan; (3) Gerakan ‘Bank Benih Petani’: Alam ciptaan adalah anugerah Allah untuk umat manusia. Dalam penggunaannya, manusia mempunyai tanggung jawab terhadap kaum miskin, generasi mendatang, dan umat manusia sebagai keseluruhan. Gerakan ‘Bank Benih Petani’: dari, oleh, dan untuk petani bagi keberlanjutan kehidupan akan bercirikan bela rasa dan keadilan antar generasi.
Penutup 
Selamat menjalani Masa Prapaskah, yang berfokus pada upaya membangun “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”, dengan berlandas dan meneladani hidup dan karya Yesus Kristus, Citra Allah yang sempurna, yang telah memulihkan dan menyempurnakan fitrah asali manusia. Makna sejati puasa dan pantang serta Aksi Puasa Pembangunan (APP) harus kita gali dari hidup dan karya Yesus sendiri. Dengan berpuasa 40 hari, Yesus mau mengajar kita untuk senantiasa mengendalikan nafsu jasmani kita manusia sebagai makhluk rohani-jasmani. Dengan APP kita ingin meneladani Dia yang telah rela menjadi sama dengan kita, makhluk sosial yang berkewajiban berbela rasa dengan saudari-saudaranya yang menderita kemiskinan. Selanjutnya, sejalan dengan pusat keprihatinan Paus kita, hendaknya gerakan “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan” kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Paus Fransiskus tampaknya mempunyai keyakinan yang sama dengan pendahulu beliau, Paus Yohannes Paulus II. Paus Yohannes Paulus II pernah menegaskan, “Jika keluarga-keluarga Katolik baik, maka Gereja akan baik”. Paus Fransiskus telah memutuskan mengadakan dua sinode para Uskup berturut-turut (2014 dan 2015) menyangkut tema yang sama: pastoral keluarga. KWI dan PGI menyambut antusias keprihatinan Paus itu: Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2014 mengambil tema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Sementara untuk Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2015 sengaja dipilih tema yang sama, mengenai KELUARGA. Semoga keluarga-keluarga Katolik semakin mencerminkan Keluarga Kudus Nazaret.
Tuhan memberkati kita!                     
  
       Makassar, 26 Januari 2015


              +John Liku-Ada
                          Uskup Agung Makassar   

Kamis, 08 Januari 2015

Belajar Pada Semut

Belajar Pada Semut Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Abd Basid

Semut. Ketika terlintas kata semut, mungkin yang muncul di benak kita adalah citranya yang selalu mengganggu. Sering gula kita yang disimpan di dapur dihinggapinya dan bahkan menggigit kita ketika kita sedang enak-enaknya duduk atau tidur. Padahal pada hakikatnya, semut merupakan makhluk yang sangat terampil, sosial, dan cerdas. Makhluk mungil ini, yang (mungkin) tidak pernah dianggap penting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tuhan dalam menciptakan sesuatu pasti tidak rasianya. Namun, kadang kita tidak mengetahuinya. Seperti itu juga semut. Semut secara sekilas memang tidak ada gunanya hidup di sekeliling kita—mungkin karena semut merupakan makhluk kecil dan tak tenar. Namun, kalau kita mau berfikir dan merenungi akan kebaradaannya, maka kita akan menemukan pelajaran berharga darinya.

Dalam al-Quran, mereka yang berpikir tentang alam sehingga mengenali kemahakuasaan Allah, dipuji sebagai teladan bagi orang beriman. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih ber-gantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan la
... baca selengkapnya di Belajar Pada Semut Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 24 Desember 2014

Miracle Of Giving Fool

Miracle Of Giving Fool Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kota Kami memiliki sebuah desa bodoh. Seperti orang bodoh. Ia tersenyum dalam keadaan baik atau buruk. Senyumnya adalah cahaya. Dan semua orang yang melihat akan tersenyum juga. Sekarang adik cantik juga tersenyum saat teringat dia.

Meski mereka terus berlalu lalang dihadapannya tapi langkah dia tak pernah belok sedikitpun. Walau harus tertabrak dan terjatuh kemudian terinjak-injak. Saat ada kesempatan untuk bangun. Ya dia kembali bangun. Melanjutkan setiap langkah untuk mencapai apa yang dia mau.
Dan kali ini seperti tertampar kulit buaya. Meski kembali terjatuh dengan ratusan tetes air mata dan luka yang bertambah lagi satu demi satu, dia tidak akan pernah berbelok. Tak apa langkahnya makin pelan yang penting tidak berjalan ditempat. Dia yakin suatu saat nanti bisa berada ditempat yang dia mau. Meski tiada yang ingin membantunya.

Mereka bilang dirinya berbeda! Dengan keterbatasannya dia tidak mengerti apa yang berbeda dari dirinya. Dia sempat mempunyai kehidupan yang normal dengan sebuah keluarga yang utuh. Memiliki Ayah dan Ibu juga satu orang adik yang cantik. Dia juga terlahir dengan kondisi normal. Walaupun kini mungkin dia telah lupa bagaimana menjadi lelaki yang normal dan dia tidak menyadari itu.

Saat terbangun setiap paginya yang dia lihat hanya secarik kertas yang sengaja dia tempelkan di atas atap kamar. Sebuah pesan yang harus selalu dia ingat. Pesan yang tertuju untuk adiknya. Dia akan sangat bahagia bila melihat a
... baca selengkapnya di Miracle Of Giving Fool Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Cari Blog Ini

Memuat...