Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 24 Oktober 2014

BAHASA ANEH -- DONGENG DARI NEGERI SWISS

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - BAHASA ANEH -- DONGENG DARI NEGERI SWISSDahulu kala hiduplah di Negri Swiss sebuah keluarga bangsawan. Mereka hanya memiliki seorang putra tunggal. Tapi, Putranya itu bodoh dan malas belajar. Lalu berkatalah Ayahandanya kepadanya,“ Putraku yang terkasih, Engkau harus pergi dari sini. Aku akan mengirim Engkau ke seorang guru yang akan memberimu pelajaran. Aku menginginkan seorang putra yang pandai. “ Lalu pergilah Putra Bangsawan itu ke sebuah kota lain dan tinggal selama satu tahun dengan guru tersebut. Setelah itu, kembalilah Putra Bangsawan itu ke istananya. Tanya Ayahandanya,“ Putraku, Engkau telah pergi selama satu tahun. Ayo, katakan apa yang telah Kau pelajari ?“ Jawab putranya,“ Baik Ayahanda, sekarang aku sudah bisa menggonggong seperti anjing, saya telah mengerti bahasa mereka. “ Apa…. ?? “ teriak Ayahandanya dengan marah, “Kamu tidak belajar sedikit pun ? Pergi dari sini, Kamu bukan Putraku lagi Aku tidak ingin melihat kamu lagi di istana ini “ Lalu Putra Bangsawan itu meninggalkan istana ayahnya dan pergi mengembara berhari hari bahkan berminggu minggu lamanya. Suatu ketika tibalah ia di sebuah puri. Waktu itu sudah malam dan ia ingin menginap di puri tersebut. Tuan pemilik puri pun mengijinkannya. “ Di bawah sana, di sebuah menara itu kamu boleh tidur. Tentu saja tempat itu sangat berbahaya. Tiga anjing liar tinggal di sana. Anjing anjing tersebut juga memakan manusia. Semua orang sangat takut dengan mereka.“ Tetapi, Pemuda Bangsawan itu tidak memiliki rasa takut sedikit pu....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 19 Oktober 2014

HARGA SEBUAH MUJIZAT

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - HARGA SEBUAH MUJIZATSally baru berumur 8 thn ketika dia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang kakaknya Georgi. Kakaknya sakit dan mereka telah melakukan semuanya untuk menyelamatkan nyawanya. Hanya pengobatan yang sangat mahal yang dapat menolongnya sekarang tapi itu tidak mungkin karena kesulitan keuangan keluarga tersebut. Sally mendengar ayahnya berkata, hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya sekarang. Sally masuk kekamarnya dan mengambil celengan yang disimpannya, menjatuhkannya ke lantai dan menghitungnya dengan hati-hati. 3 kali dihitungnya hingga benar-benar yakin tidak salah hitung. Dia memasukkan uang koin tsb kedalam saku sweaternya dan menyelinap meninggalkan rumahnya untuk menuju ke sebuah toko obat. Dengan penuh kesabaran, ditunggunya si apoteker yang tengah sibuk berbicara dengan seorang pria. Si apoteker tidak melihatnya karena dia begitu kecil. Hal itu membuat Sally bosan dan dia menghentak-hentakan kakinya ke lantai untuk membuat kebisingan. Si apoteker melongokkan kepalanya tapi juga tidak melihat si Sally kecil. Akhirnya dia keluar dan menemui Sally. "Apa yang kau mau?" tanya si apoteker dengan keras. "Saya sedang berbicara dengan saudara saya." "Baik, saya ingin berbicara ttg kakak saya," Sally menjawab dengan nada yang sama "Dia sakit, dan saya ingin membeli suatu mujizat." "Maaf, apa yang kamu katakan ?," kata si apoteker. "Ayah saya berkata hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya, nah sekarang berapa harga mujizat itu ?" "Kami tidak menjual mujizat disin....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 15 Oktober 2014

KELEDAI TUA

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - KELEDAI TUASuatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, si petani memutuskan bahwa hewan itu sudah tua, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Sementara sumur itu juga perlu ditimbun (ditutup) karena berbahaya. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri! Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 14 Oktober 2014

Pesta Kedelapan Martir Kanada

Sekitar pertengahan abad ke-17, Amerika Utara, yang kini lazim disebut Kanada, menjadi salah satu wilayah misi imam-imam misionaris Serikat Yesus. Ketika itu penduduk asli Indian yang masih kafir dan liar bertebaran mendiami tepi beberapa danau besar yang ada di sana. Wilayah itu sangat luas dan menakutkan karena lebat sekali hutannya. Di situlah enam orang misionaris Yesuit didampingi dua rasul awam asal Prancis merintis karya pewartaan iman Kristen. Mereka itu ialah P. Jean de Brebeuf SJ, P. Gabriel Lalement SJ, P. Charles Garnier SJ, P. Anto nine Daniel SJ, P. Noel Chabanel SJ, P: Isak Joques SJ, Rene Goupil dan Jean de la Lande.

Kedelapan misionaris ini berkarya di antara orang-orang suku Huron yang mendiami wilayah sekitar danau Huron. Orang-orang Huron ini sering kejangkitan wabah pes, menderita kelaparan dan terus-menerus mendapat serangan dari orang-orang suku Irokes yang sangat ganas dan suka berperang. Mulanya orang-orang Huron berencana jahat terhadap Pater de Brebeuf. Ketika beliau mengunjungi rnereka, para dukun menghasut orang-orang Huron lainnya supaya membunuh Pater de Brebeuf. Maksud jahat mereka diketahui oleh Pater de Brebeuf. Maka beliau justru mengundang mereka untuk makan bersama. Ia tidak gentar, malah sebaliknya berterimakasih karena mereka segera ingin mengirimnya dengan cepat ke surga. Karena keberanian dan kebaikan hatinya, Pater de Brebeuf tidak jadi dibunuh. Ia sebaliknya dibantu dalam karyanya, antara lain membangun 'Benteng Santa Maria', gereja dan rumah sakit. Ia dianggap sebagai bapa dan guru mereka.

Orang-orang suku Irokes merasa irihati dan marah melihat kemajuan orang-orang suku Huron. Mereka mencari kesempatan baik untuk melenyapkan nyawa misionaris-misionaris itu. Kesempatan baik itu datang pada suatu hari di bulan Maret 1649. Pater de Brebeuf bersama Pater Gabriel Lalement ditangkap oleh orang-orang Irokes yang sedang berpatroli. Mereka dipukul sampai pingsan dan kuku-kuku jari mereka dicabut. Kedua imam ini tidak mengeluh, bahkan sebaliknya berdoa dan menguatkan hati orang-orang Huron yang ditangkap bersama mereka. Ketika salah seorang Irokes mendengar kata-kata doa kedua imam itu, ia mengambil air yang telah mendidih dan menuangkannya ke atas kepala Pater de Brebeuf sambil mengolok-oloknya: "Cepatlah ke surga! Sekarang kamu telah saya baptis baik-baik." Seorang Irokes lain mengambil obor dan membakar ketiak kedua imam itu. Karena Pater de Brebeuf terus-menerus menegur para penyiksa supaya ingat akan pengadilan ilahi, mereka malah semakin bengis dan beramai-ramai memotong lidahnya, mengiris daging dari tubuhnya, memanggang dan memakannya. Mereka berteriak-teriak: "Kami temanmu, karena itu kami menyiksamu supaya masuk surgamu!" Mereka mengambil lagi jantungnya untuk dimakan dan meminum darahnya supaya menjadi berani seperti imam itu.

Bulan Desember tahun 1649, kepala Pater Charles Garnier SJ dipecahkan dengan Tomahawk ketika ia sedang membantu orang Huron yang hampir mati. Demikian juga Pater Antonine Daniel SJ mati sebagai martir pada tahun 1648 oleh anak panah orang-orang suku Irokes. Sedangkan Pater Noel Chabanel SJ dibunuh di benteng pengungsian Santo Yosef oleh seorang suku Huron yang murtad.
Pater Isaiz Joques SJ bersama dua orang awam pembantunya, yaitu Rene Goupil dan Jean de la Lande dibunuh di tempat yang sekarang di kenal sebagai tempat ziarah Santa Maria di Auriesville, New York, Amerika Serikat. Mulanya Pater Isak didampingi oleh Rene Goupil, seorang bekas frater Yesuit, dan sekarang menjadi sukarelawan awam di tanah misi sebagai dokter. Rene Goupil dibunuh pada tahun 1642 karena memberkati anak-anak suku Huron dengan tanda salib. Ketika itu pun Pater Isak ditangkap. Kuku mereka dicabut dan darah yang mengucur dari jari mereka dihisap oleh penyiksa Indian itu. Anak-anak menusuk-nusukkan potongan kayu membara ke tubuh dua misionaris itu. Yang dibunuh pada waktu itu hanyalah Rene Goupil, sedangkan Pater Isak dipaksa menjadi budak mereka selama 13 bulan. Pater Isak kemudian berhasil meloloskan diri. Melalui New York, ia pulang ke Prancis. Setengah tahun kemudian, ia kembali ke Kanada bersama Jean de la Lande. Tapi nasib sial telah menanti mereka. Keduanya dibunuh oleh orang-orang Indian pada bulan September 1464 karena dianggap sebagai pembawa sial kegagalan panen tahun itu.

Pater Isak adalah imam Katolik pertama yang masuk Amsterdam Baru (kini New York). Dialah yang menemukan danau George dan dikenal sebagai orang pertama yang melayari seluruh sungai Hudson. Pada tahun 1939, negara bagian New York mendirikan sebuah patung besar di tepi danau George untuk menghormati Isak Joques.

Cermati Perkawinan Katolik, Para Hakim Gerejani Berkumpul untuk Diskusi

DI Kota Anging Mamiri Makassar tanggal 1-4 Oktober 2014 lalu baru saja berlangsung pertemuan tribunal perkawinan gerejawi. Dimulai pada hari peringatan St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan ditutup pada hari peringatan St. Fransiskus dari Asisi. Sungguh merupakan pertemuan yang diberkati karena diapit oleh dua pesta orang-orang kudus yang sangat menonjol dalam Gereja katolik.

St. Theresia dari Liseaux hanya berusia 26 tahun di dunia ini, demikian pula St. Fransiskus Asisi hanya berumur 46 di dunia ini. Hidup mereka yang singkat di dunia ini telah meninggalkan warisan rohani dan iman yang tetap hidup dan berkembang terus di hati umat Gereja sampai sekarang. Itulah misteri seorang pribadi manusia.

Di mata Allah, setiap manusia sungguh-sungguh mulia dan besar. Misteri kehidupan orang-orang suci menyingkapkan misteri panggilan hidup manusia yang sejati. Mereka menjadi begitu mirip dengan Yesus, Putera Allah yang sudah sudi menjadi manusia sebagai saudara kita. Putera Allah sudah rela menjadi serupa dengan manusia, maka St. Theresia dan St. Fransiskus bisa menjadi begitu mirip dengan Yesus Sang Putera Allah.

Mengikuti sidang tribunal perkawinan dari 13 keuskupan di Indonesia bagian Tengah dan Timur, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa karena setiap orang itu bernilai dan berharga, maka perkawinan yang dilakukan oleh mereka itu juga luhur dan mulia. Perkawinan antara pria dan wanita sebagai pribadi manusia, kalau mengalami masalah, misalnya mempertanyakan keabsahan perkawinan itu dan mengajukan permohonan pembatalan nikah, maka permohonan itu diperiksa dengan teliti.


Kasus itu diselidiki dengan saksama dan dipertimbangkan dengan hati-hati dan dengan doa mohon bimbingan Roh Kudus, supaya benar-benar ada kepastian moral dan yuridis bagi keputusan yang akan diambil.

Dua kali dalam setahun

Sidang rutin dua kali setahun untuk tribunal tingkat ke II regio Indonesia Timur di ikuti oleh anggota tribunal dari keuskupan: Amboina, Atambua, Denpasar, Ende, Jayapura, Larantuka, Makassar, Manado, Maumere, Merauke, Ruten, Weetebula, dan Samarinda.

Dalam menangani permohonan-permohonan pembatalan nikah yang masuk, para hakim Gerejani itu belajar tentang sebab-sebab atau akar masalahnya. Ditemukan bahwa kebanyakan kasus yang masuk adalah perkawinan yang memang tidak lama berlangsung, umumnya usia perkawinan balita (bawah lima tahun).

Tahap perkawinan itu rupanya cukup rawan karena mereka masih dalam tahap penyesuian diri antara kedua pribadi yang berbeda dan juga kesulitan ekonomi, dan kesulitan-kesulitan lainnya biasanya dihadapi oleh keluarga baru. Para hakim Gereja menyadari bahwa tribunal perkawinan itu adalah jalan negatif (via negativa) yang sebaiknya dihindari dan tidak usah dianjurkan. Yang harus ditekankan sebagai jalan positif (via positiva) adalah persiapan perkawinan yang mantap dan kemudian pendampingan pastoral keluarga yang serius.


Tribunal Gereja bisa diumpamakan hanya sebagai tempat pembuangan sampah atau tempat penampungan limbah yang menerima akibat dari bagian hulu yang kurang dipersiapkan dengan baik. Persiapan perkawinan yang kurang baik dan pendampingan pastoral keluarga yang kurang memadahi bisa berujung pada pengajuan memohonan pembatalan nikah dalam Gereja.

Tetapi ironisnya, untuk bagian pembuangan sampah yang sebenarnya tidak perlu ini, ahli hukumnya begitu diperhatikan oleh para uskup dan mereka distudikan sampai S-2 dan S-3 di Roma dan di tempat-tempat lainnya. Namun untuk bagian Persiapan Perkawinan dan Pastoral Keluarga tidak dirasa perlu untuk menjediakan ahli-ahli sampai studi S-2 dan S-3 di Roma dan di tempat lainnya untuk menjadi doktor pemberi persiapan perkawinan dan doktor pendampingan keluaga.

Untuk kedua bidang pelayanan keluarga itu diserahkan saja kepada tim ala kadarnya yang terdiri dari imam atau awam yang rela, masih punya waktu, dan bisa memberikan materi secukupnya. Atau ilmu bidang persiapan perkawinan dan pastoral keluarga memang belum berkembang seperti ilmu pembatalan nikah menurut hukum kanonik? Ini adalah suatu ironi yang perlu disadari dan dicari solusinya bagi semua pihak yang berkepentingan. Semoga Sinode tentang keluarga yang sedang berlangsung di Roma juga melihat masalah ini.

Kesulitan persiapan perkawinan dan pendampingan keluarga bertambah karena pengaruh-pengaruh media komunikasi. Mobilitas manusia dan komunikasi dengan alat-alat yang canggih menyebabkan relasi calon pasangan nikah bahkan yang sudah menikah juga rawan gangguan dan godaan. Alat komunikasi yang seharusnya menjadi sarana ampuh untuk selalu mempererat relasi suami-isteri, justru bisa merusak rumah tangga mereka, bahkan merusah relasi pacaran mereka.

Menyiapkan perkawinan katolik
Mengingat pentingnya persiapan perkawinan yang baik dan benar bagi sahnya nikah katolik, para hakim gereja mengusulkan dibuat pedoman pastoral untuk membuat persiapan perkawinan jauh – dekat – langsung (remota – proxima – immediate). Persiapan jauh itu adalah pendidikan anak-anak sejak usia dini sampai masa sekolah dan kuliah untuk berperilaku moral yang baik dalam kehidupan sebagai seorang pribadi pria dan wanita.

Perisapan dekat dimulai ketika muda-muda sudah menemukan colon pasangan hidupnya dan mulai berpacaran dan bertungan. Kalau mereka dapat menjalankan masa pacaran dan pertunangan yang baik dan benar, sopan dan hormat, maka relasi cinta meraka akan lebih matang, kuat dan jujur. Masa pacaran sering diisi dengan tidak benar sehingga banyak perkawinan “terpaksa” harus dilakukan karena pihak wanita sudah mengandung. Nikah yang “terpaksa” adalah tidak sah menurut hukum kanonik.


Tidak perlu disebutkan kanonnya di sini. Sebab ada 12 halangan nikah yang bisa membatalkan perkawinan katolik kalau halangan itu ada dan tidak dihilangkan sebelum perkawinan diteguhkan.

Romo Dr. Moses Komela Avan Pr dari Keuskupan Agung Samarinda, yang hadir juga dalam pertemuan itu, sudah menguraikannya dalam bukunya tentang Pembatalan Perkawinan, terbitan Kanisius tahun 2014.

Untuk persiapan langsung atau preparatio immediata yang secara konkret berarti KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) dan penyeledikan kanonik, para pastor peneguh nikah perlu benar-benar mendapatkan jaminan dari kedua calon mempelai tentang tidak adanya halangan satupun yang bisa membuat nikah tidak sah. Mereka harus mendapatkan penjelasan tentang semua jenis halangan nikah dan tidak ada satupun yang boleh disembunyikan dan dikecualikan.

Tidaklah cukup hanya dibacakan dalam pengumuman nikah di Gereja kelimat ini: “Barangsiapa mengetahui halangan-halangannya bagi sahnya nikah yang akan diteguhkan ini, mohon segera membaritahukan pastor paroki…”.


Pastor peneguh nikah sendiri harus berusaha mendapatkan kepastian bahwa tidak ada satupun halangan yang bisa menyebabkan nikah itu nantinya tidak sah. Dan itulah perlunya penyelidikan kanonik dan juga kKP yang dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Perhatian kepada keluarga katolik yang bermasalah dan mengajukan kasus perkawinannya kepada Gereja, menurut Pastor Jan van Paassen, MSC (misionaris Belanda yang sudah berusia 83 tahun) adalah bagaikan “domba yang ke-100”. Namun untuk domba yang ke-100 itulah Yesus meninggalkan yang 99 ekor, dan pergi mencari domba yang hilang itu. Setelah ditemukan, Yesus memanggulnya di atas pundak-Nya.

Kredit foto: Dok. Romo Albertus Sujoko MSC (Seminari Pineleng, Manado, Sulut)

Hari Minggu Evangelisasi 2014


Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Minggu Evangelisasi Sedunia 

ke 88 – 19 Oktober 2014

Saudara saudari yang terkasih,

Saat ini, masih banyak masyarakat yang belum benar-benar mengenal Yesus Kristus. Untuk alasan inilah, misi Ad Gentes menjadi demikian penting. Semua anggota Gereja dipanggil untuk turut serta berpartisipasi dalam misi ini, mengingat pada dasarnya Gereja adalah missioner : Ia lahir ”untuk mewartakan keluar”. Hari Minggu Evangelisasi sedunia merupakan sebuah momen istimewa ketika seluruh Gereja dari seluruh belahan benua terlibat dalam doa dan gerakan nyata demi kesetiakawanan dalam mendukung Gereja-gereja muda di tanah misi. Peristiwa ini merupakan sebuat perayaan rahmat dan sukacita. Sebuah perayaan rahmat, karena Roh Kudus yang diutus oleh Bapa menawarkan kebijaksanaan dan kekuatan kepada orang-orang yang taat pada tindakan-Nya. Sebuah perayaan suka cita, karena Yesus Kristus, Putera Bapa, telah diutus untuk mewarta ke seluruh dunia, mendukung dan selalu mendampingi perjuangan missioner kita. Suka cita Yesus dan para murid misionaris ini menuntun saya untuk menawarkan sebuah ayat alkitab, yang dapat kita temukan dalam Injil Lukas (bdk 10:21-23).
Diceritakan oleh penginjil bahwa Tuhan mengutus tujuh puluh dua murid untuk pergi berdua-dua ke kota-kota dank e desa-desa untuk memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, dan mempersiapkan orang-orang untuk bertemu Yesus. Setelah melakukan misi pewartaan tersebut, para murid kembali dengan penuh suka cita : yang mana sukacita ditekankan di awal tema dan merupakan pengalaman missioner pertama yang tak terlupakan. Namun tetap Sang Guru Agung mengatakan kepada mereka: “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” (Bdk Luk 10:20-21,23)

Lukas menyajikan tiga skema. Pertama, Yesus berbicara kepada murid-muridnya, kemudian kepada Bapa, dan kembali berbicara kepada murid-murid. Yesus bermaksud agar murid-murid dapat merasakan sukacita-Nya, dengan cara yang berbeda dan lebih agung dari apa yang pernah para murid alami sebelumnya.
Para murid dipenuhi dangan sukacita, kegairahan akan adanya kuasa pada mereka untuk membebaskan orang-orang dari setan. Tetapi Yesus memperingati mereka agar sukacita para murid bukan ditujukan karena kuasa yang telah mereka terima, melainkan lebih kepada sukacita karena kasih yang telah mereka terima, “…. karena namamu ada terdaftar di sorga.”(Luk 10:20). Para murid telah diberi pengalaman akan kasih Allah, dan juga kemampuan untuk membagikannya. Maka pengalaman ini adalah sebuah alasan untuk bersyukur dan bersukacita kepada kasih Yesus. Penginjil Lukas melihat bahwa kegirangan (para rasul) ini dalam sisi pandang komunitas Tritunggal: “Yesus bersukacita dalam Roh Kudus”, berpaling pada Bapa-Nya dan memuji Dia. Momen sukacita yang mendalam ini timbul dari luasnya kasih dan pengabdian Yesus kepada Bapa-Nya, Tuhan atas langit dan bumi, yang bersembunyi dari orang-orang yang bijak dan pandai, dan yang menujukkan diri pada orang-orang yang miskin dan lemah. (Bdk Luk 10:21). Allah bersembunyi sekaligus menyatakan diri, dan dalam doa pujian hal ini merupakan hal yang selalu ditonjolkan. Apa yang telah Allah nyatakan, dan apa yang Allah sembunyikan? Misteri Kerajaan-Nya, perwujudan ke-ilahian dalam diri Yesus, dan kemenangan-Nya atas setan.

Allah menyembunyikan diri dari orang-orang yang terlalu percaya akan kemampuan diri sendiri dan mengaku telah mengetahui segalanya. Mereka telah dibutakan oleh kelancangan mereka sehingga hati mereka tidak bisa menyediakan ruang untuk Allah. Kita dapat mengacu pada kisah-kisah jaman Yesus, dimana Yesus berulang kali menegur orang-orang pada jaman itu, dan patut disadari juga bahwa teguran tersebut selalu ada, berlaku juga bagi kita di jaman ini dan hendaknya menjadi perhatian kita. “Orang-orang kecil” – dalam hal ini – adalah orang-orang sederhana, miskin, terpinggirkan, tidak didengarkan, mereka yang lelah dan dibebanilah yang disebut Yesus “berbahagia.” Mereka-mereka itu adalah seperti Maria, Yusuf, nelayan-nelayan Galilea dan murid-murid yang dipanggil Yesus pada saat Ia berkotbah.
“Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Luk 10:21) Harus dipahami, perkataan Yesus ini mengacu pada kegembiraan batin-Nya. Kata “berkenaan” menggambarkan rencana keselamatan dan kebajikan bagi seluruh umat manusia. Keberkenanaan ilahi inilah yang membuat Yesus bersukacita, karena keinginan Allah untuk mengasihi manuasia dengan kasih yang sama sebagaimana yang telah Ia berikan bagi Putera-Nya. Penginjil Lukas juga menyinggung kegembiraan serupa dari Bunda Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:47). Ini adalah kabar baik yang mengarah kepada keselamatan. Bunda Maria, yang sedang mengandung bayi Yesus, bertemu Elisabet dan bersukacita dalam Roh Kudus saat ia melantunkan Kidung Maria (Magnificat). Yesus, yang melihat keberhasilan misi para murid dan sukacita yang mereka peroleh, bersuka cita dalam Roh Kudus dan ditujukan dalam Doa kepada Bapa-Nya. Baik sukacita Maria dan sukacita Yesus tersebut adalah sukacita seiring dengan misi keselamatan, untuk cinta Bapa kepada putera-Nya yang turun kepada kita, dan melalui Roh Kudus memenuhi kita dan menganugerahkan kehidupan Tritunggal kepada kita

Bapa adalah sumber sukacita, Putera-Nya adalah perwujudannya, dan Roh Kudus yang memenuhinya. Segera setelah memuji Bapa – Penginjil Matius Memberitahu kita – “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30). “Sukacita Injil memenuhi hati dan kehidupan semua orang yang berjumpa dengan Yesus. Mereka yang menerima tawaran keselamatan-Nya dibebaskan dari dosa, kesedihan, kekosongan dan kesepian batin. Bersama Kristus sukacita selalu lahir.” (Evangelii Gaundium, 1[1])

Bnda Maria sendiri mengalami perjumpaannya dengan Yesus melalui cara yang unik, yang mana perjumpaan Bunda Maria tersebut menjadi “causa nostrae laetitiae “(=penyebab sukacita kita). Para murid, dalam kisah mereka, menerima panggilan mereka untuk mengikuti Yesus dan diutus oleh-Nya untuk memberitakan Injil. (Bdk Mrk 3:14), maka mereka dipenuhi dengan sukacita. Jadi, mengapa kita tidak ikut serta dalam kelimpahan sukacita tersebut?
“Bahaya besar dunia saat ini, adalah merasuknya pola kehidupan masyarakat yang sangat konsumtif, menyebabkan kebinasaan dan penderitaan yang dilahirkan dari hati yang berpuas diri, hati yang terpaut untuk mengejar kesenangan-kesenangan yang dangkal, dan hati nurani yang tumpul.” (Evangelii Gaundiu, 2[2]). Sangatlah perlu bagi umat manusia untuk meraih keselamatan yang dibawa Yesus. Murid-murid-Nya, adalah mereka yang membiarkan hidup mereka untuk semakin dirampas oleh kasih Yesus dan ditandai dengan kobaran semangat (membangun) Kerajaan Allah dan pewartaan sukacita Injil. Seluruh murid Tuhan dipanggil untuk memelihara sukacita evengelisasi. Para uskup, sebagai yang paling bertanggungjawab atas tugas ini, memiliki tugas untuk meningkatkan persatuan gereja-gereja di keuskupannya dalam misinya memelihara sukacita evangelisasi ini. Mereka dipanggil untuk menyadari bahwa sukacita yang disampaikan Yesus diungkapkan dengan kesediaan diri untuk mewartakan ke tempat-tempat yang jauh dan juga yang belum terjangkau yang ada di wilayah mereka, tempat dimana sejumlah besar masyarakat miskin menanti-nantikan kabar sukacita ini.

Di berbagai belahan dunia sedang terjadi krisis panggilan imamat dan hidup bakti. Hal ini seringkali terjadi karena tidak adanya penularan semangat kerasulan di dalam komunitas-komunitas yang tidak memiliki semangat kerasulan ini, sehingga upaya untuk menggalakkan penggilan ini sering gagal. Sukacita Injil lahir dari perjumpaan dengan Yesus dan dari berbagi dengan orang miskin, Maka dengan alasan inlah saya mendorong paroki-paroki, lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok untuk menggalang kehidupan persaudaraan yang kental, berlandaskan cinta kepada Yesus dan kepedulian terhadap kebutuhan orang-orang yang kurang beruntung. Dimana ada sukacita, semanga, dan hasrat untuk mewartakan Kristus pada orang lain, maka panggilan yang tulus akan muncul. Diantara panggilan-panggilan yang akan bermunculan ini, tidak seharusnya kita mengabaikan kaum awam untuk turut serta dalam misi ini. Telah terjadi peningkatan kesadaran akan jati diri dan keinginan untuk mewartakan di kalangan umat awam Gereja, kesadaran bahwa mereka dipanggil untuk membawakan peran yang penting dalam mengabarkan sukacita Injil. Seiring dengan kesadaran tersebut, maka mereka harus dibekali pemahaman yang memadai agar dapat menghasilkan kegiatan kerasulan yang efektif.
“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7). Hari Minggu Evangelisasi sedunia juga merupakan kesempatan untuk mengobarkan kembali hasrat dan kewajiban moral dalam ambil bagian mewartakan sukacita seperti yang tertera dalam dokumen Ad Gentes. Kontribusi-kontribusi pribadi yang berupa sumbangan finansial adalah bukti persembahan dir, pertama untuk Tuhan, dan kemudian untuk orang lain; dengan cara ini, kurban materi akan menjadi sarana evangelisasi manusiawi yang dilandaskan cinta kasih.

Saudara saudari terkasih, pada Hari minggu Evangelisasi Sedunia ini pikiran saya tertuju pada semua gereja di daerah-daerah. Jangan sampai kita kehilangan sukacita evangelisasi! Saya mengundang saudara/i sekalian untuk melibatkan diri dalam sukacita Injil dan memelihara kasih yang dapat mengobarkan panggilan dan misi Anda. Saya menghimbau masing-masing Anda untuk mengulang kemabali, seolah-olah Anda sedang membuat pendalaman atas ziarah Anda, bahwa “cinta pertama” anda dengan Tuhan Yesus Kristus menghangatkan hati Anda, bukan hanya sekedar untuk megenang, melainkan lebih kepada untuk bertekun dalam sukacita. Para murid bertekun dalam sukacita saat mereka merasakan kehadiran-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan berbagi dengan orang lain walaupun berbeda iman, dengan harapan dan kasih Injili.

Mari kita bermohon dengan perantaraan Bunda Maria, yang merupakan sosok panutan pewarta Injil yang rendah hati dan penuh sukacita, sehingga Gereja dapat menjadi keluarga yang menyambut, laksana seorang ibu bagi semua orang dan sumber kelahiran kembali bagi dunia kita.

Dari Vatikan, 8 Juni 2014, Hari Raya Pentakosta

Fransiskus

———————–

[1] “The joy of the Gospel fills the hearts and lives of all who encounter Jesus. Those who accept his offer of salvation are set free from sin, sorrow, inner emptiness and loneliness. With Christ joy is constantly born anew” (Evangelii Gaudium, 1)

[2] “The great danger in today’s world, pervaded as it is by consumerism, is the desolation and anguish born of a complacent yet covetous heart, the feverish pursuit of frivolous pleasures, and a blunted conscience” (Evangelii Gaudium, 2)

Sabtu, 11 Oktober 2014

BATANG GELAGAH

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - BATANG GELAGAHSebatang gelagah di bibir sebuah telaga bening. Ia bergoyang meliuk ke sana ke mari menuruti irama hembusan angin sepoi. Ia cuman sebatang saja. Yang lain telah lama layu dan mati, sedangkan yang baru belum lagi muncul. Namun dalam kesendiriannya ia bergerak, ia meliuk tanpa keluh dan kesah. Ketika ia menunduk, ia melihat bayangan dirinya di beningnya telaga biru, dirinya yang berada dalam hening namun tak merasa sepi. Ia melihat dirinya yang sedang menari penuh senyum bersama hembusan angin segar. Tak ada penonton yang memberikan tepukan meriah, tak ada suara sorakan gempita. Tak ada aku dan anda yang memperhatikannya. Namun ia tetap meliuk. Ia tetap menari. Ia menari untuk mensyukuri hadiah hari ini dan hari kemarin. Ia mempersembahkan tariannya hari ini buat hari esok. Betapa sering aku menantikan orang lain memberikan kata-kata peneguhan yang tak pernah muncul. Betapa sering aku melimpahkan semua masyalahku pada sesuatu di luar diriku. Betapa aku sering lupa, kalau aku harus mengerti diriku sendiri lebih dari pada dimengerti oleh orang lain, bahwa aku harus mencintai diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku dicintai orang lain. Aku harus belajar menari - seperti batang gelagah di bibir telaga itu - walau tak seorangpun bertepuk tangan memberikan sorakan. Terima kasih batang gelagah yang gemulai, yang hidup dalam jangka yang cuman sebentar. Namun engkau telah mengajarkan aku untuk mencintai hidupku. ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1