Cari Blog Ini

Selasa, 23 April 2013

YANG HIDUP MEMBIARA BUKANLAH ORANG TERBUANG TAPI PEJUANG KARYA PENYELAMATAN KRISTUS

Foto: YANG HIDUP MEMBIARA BUKANLAH ORANG TERBUANG TAPI PEJUANG KARYA PENYELAMATAN KRISTUS 

Ada seorang anak kecil yang senang mengikuti kegiatan di gereja, bahkan setelah dipermandikan ketika masih kelas 5 SD, dia langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjadi imam setelah melihat sosok Pastor Mardi Suwignyo di Klaten yang menjadi idolanya.

Meski sakit atau dalam keadaan apa saja, kalau diminta untuk melayani pastor itu tetap melayani. “Perlahan-lahan benih panggilan tumbuh dalam diri saya” melihat teladan itu, kata Pastor Yohanes Suparto Pr, pamong Seminari Stella Maris Bogor.

Sharing itu diungkapkan oleh Pastor Suparto dalam kotbah Misa Hari Minggu Panggilan yang dirayakan di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, tanggal 21 April 2013. Imam itu datang ke paroki itu bersama 25 murid seminarinya dan empat frater CICM yang semua live-in di sana.

Keinginan masuk seminari sempat “ditolak’ ibunya. “Mungkin mama melihat saya kecil dan mungkin merasa kasihan sedangkan ayah saya mengikuti apa yang menjadi pilihan anaknya,’’ cerita imam itu, yang kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris Bogor.

Setelah ditahbiskan imam di Katedral Bogor, tanggal 18 Juni 2010, Pastor Suparto mendapat tugas satu setengah tahun di Sukabumi, Jawa Barat, dan bulan Januari 2012 dia dikembalikan ke Seminari Stella Maris Bogor sebagai pamong.
 
Baru tiga tahun usia imamatnya, namun pastor yang suka olahraga itu menuturkan bahwa pengalaman hidupnya menyimpan banyak misteri kasih Allah dan cinta Tuhan bertabur dalam seluruh hidupnya. “ Adakalanya Tuhan memberikan apa yang diinginkan bahkan lebih dari apa yang diminta,’’ tuturnya.
 
Dalam Misa yang dimeriahkan dengan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para seminarisnya, imam itu mengajak umat untuk semakin bersemangat dalam hidup menggereja. “Iman umat harus bertumbuh. Dari sana akan tumbuh panggilan yang akan disuburkan oleh Tuhan,” kata Pastor Suparto.
 
Selesai Misa umat diajak mengunjungi stand pameran di halaman gereja, menyaksikan atraksi hiburan yang dipersembahkan oleh umat paroki HSPMTB dan para seminaris yang melakukan live-in di paroki itu sejak 20 April 2013. Hadir juga dalam Misa itu para suster Jesus Maria Josep (JMJ) dan para suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang berkarya di wilayah paroki itu.

Para seminaris dan orang lain yang memilih hidup membiara, tegas imam itu, bukanlah orang-orang yang terbuang “melainkan orang yang sungguh-sungguh berjuang demi karya penyelamatan Kristus.”
 
Imam itu menjelaskan tiga kelompok yang melanjutkan karya keselamatan yakni klerus (para pastor), hidup bakti (suster dan bruder) serta awam yang saling mendukung satu dengan lainnya. “Di antara ketiga kelompok itu yang digolongkan panggilan khusus adalah kaum klerus dan hidup bakti. Artinya Tuhan memanggil mereka secara khusus untuk bekerja secara totalitas melayani Tuhan dalam bidang pelayanan masing-masing.”
 
Keluarga, tegas Pastor Suparto, perlu mendukung panggilan putera-puterinya khususnya untuk menjadi imam, suster atau bruder. “Tuaian memang banyak namun pekerjanya sedikit.” Perikop itu, jelas imam itu, menandakan bahwa semua orang yang telah dibaptis dipanggil untuk meluaskan Kerajaan Allah, dan mewartakan Kabar Suka Cita kepada siapa pun termasuk dalam lingkungan keluarga, pekerjaan dan masyarakat.
 
Menumbuhkan panggilan hidup membiara sesungguhnya tidak lepas dari dukungan orangtua bahkan sangat diperlukan, tegas imam itu.***Ada seorang anak kecil yang senang mengikuti kegiatan di gereja, bahkan setelah dipermandikan ketika masih kelas 5 SD, dia langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjadi imam setelah melihat sosok Pastor Mardi Suwignyo di Klaten yang menjadi idolanya.

Meski sakit atau dalam keadaan apa saja, kalau diminta untuk melayani pastor itu tetap melayani. “Perlahan-lahan benih panggilan tumbuh dalam diri saya” melihat teladan itu, kata Pastor Yohanes Suparto Pr, pamong Seminari Stella Maris Bogor.

Sharing itu diungkapkan oleh Pastor Suparto dalam kotbah Misa Hari Minggu Panggilan yang dirayakan di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, tanggal 21 April 2013. Imam itu datang ke paroki itu bersama 25 murid seminarinya dan empat frater CICM yang semua live-in di sana.

Keinginan masuk seminari sempat “ditolak’ ibunya. “Mungkin mama melihat saya kecil dan mungkin merasa kasihan sedangkan ayah saya mengikuti apa yang menjadi pilihan anaknya,’’ cerita imam itu, yang kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris Bogor.

Setelah ditahbiskan imam di Katedral Bogor, tanggal 18 Juni 2010, Pastor Suparto mendapat tugas satu setengah tahun di Sukabumi, Jawa Barat, dan bulan Januari 2012 dia dikembalikan ke Seminari Stella Maris Bogor sebagai pamong.

Baru tiga tahun usia imamatnya, namun pastor yang suka olahraga itu menuturkan bahwa pengalaman hidupnya menyimpan banyak misteri kasih Allah dan cinta Tuhan bertabur dalam seluruh hidupnya. “ Adakalanya Tuhan memberikan apa yang diinginkan bahkan lebih dari apa yang diminta,’’ tuturnya.

Dalam Misa yang dimeriahkan dengan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para seminarisnya, imam itu mengajak umat untuk semakin bersemangat dalam hidup menggereja. “Iman umat harus bertumbuh. Dari sana akan tumbuh panggilan yang akan disuburkan oleh Tuhan,” kata Pastor Suparto.

Selesai Misa umat diajak mengunjungi stand pameran di halaman gereja, menyaksikan atraksi hiburan yang dipersembahkan oleh umat paroki HSPMTB dan para seminaris yang melakukan live-in di paroki itu sejak 20 April 2013. Hadir juga dalam Misa itu para suster Jesus Maria Josep (JMJ) dan para suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang berkarya di wilayah paroki itu.

Para seminaris dan orang lain yang memilih hidup membiara, tegas imam itu, bukanlah orang-orang yang terbuang “melainkan orang yang sungguh-sungguh berjuang demi karya penyelamatan Kristus.”

Imam itu menjelaskan tiga kelompok yang melanjutkan karya keselamatan yakni klerus (para pastor), hidup bakti (suster dan bruder) serta awam yang saling mendukung satu dengan lainnya. “Di antara ketiga kelompok itu yang digolongkan panggilan khusus adalah kaum klerus dan hidup bakti. Artinya Tuhan memanggil mereka secara khusus untuk bekerja secara totalitas melayani Tuhan dalam bidang pelayanan masing-masing.”

Keluarga, tegas Pastor Suparto, perlu mendukung panggilan putera-puterinya khususnya untuk menjadi imam, suster atau bruder. “Tuaian memang banyak namun pekerjanya sedikit.” Perikop itu, jelas imam itu, menandakan bahwa semua orang yang telah dibaptis dipanggil untuk meluaskan Kerajaan Allah, dan mewartakan Kabar Suka Cita kepada siapa pun termasuk dalam lingkungan keluarga, pekerjaan dan masyarakat.

Menumbuhkan panggilan hidup membiara sesungguhnya tidak lepas dari dukungan orangtua bahkan sangat diperlukan, tegas imam itu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar