Selasa, 09 April 2013

Membagi-bagi Tugas Pelayanan bagi Tuhan

“Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.” (Gal 2:9)

Saya cukup sedih ketika melihat cukup banyak hamba-hamba Tuhan yang mencoba melakukan segala pelayanannya seorang diri. Mungkin memang ia memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melakukan segala macam pelayanannya, mulai dari berkhotbah, memberitakan Injil, mengajar, melakukan kunjungan ke rumah-rumah, membuat buku, menjadi pemimpin pujian, dan lain sebagainya. Memang seakan-akan ia terlihat sebagai seseorang yang hebat, multi tasking, dan apalah istilah lainnya. Akan tetapi sikap one man show ini akan menyulitkan kita di masa yang akan datang.


Salah satu contoh hamba Tuhan yang luar biasa dalam Alkitab adalah Paulus. Sejak ia bertobat, ia memberikan waktunya kepada Tuhan dengan cara memberitakan Injil dan menulis surat-surat kepada jemaat-jemaat. Sekitar setengah dari isi kitab Perjanjian Baru ditulis oleh Paulus. Doktrin-doktrin kekristenan yang mendasar salah satunya juga adalah karya Paulus. Banyak orang menunjuk Paulus sebagai hamba Tuhan yang mengerjakan segala sesuatunya sendirian, dan mereka pun mencoba mencontoh Paulus, sehingga seluruh pelayanan mereka coba lakukan sendiri.


Tetapi hari ini kita mau belajar bahwa Paulus pun tidak serta merta mengambil alih jatah pelayanan orang lain. Paulus misalnya, sadar bahwa selama ini ia telah dipercayakan Tuhan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi, yaitu orang-orang yang tak bersunat (ay. 7a). Sebaliknya, Paulus sadar bahwa awalnya, Injil memang ditujukan kepada orang-orang Yahudi, karena itulah yang telah dilakukan Petrus dan rasul-rasul lainnya, bahkan sebelum Saulus bertobat (ay. 7b).


Paulus sadar bahwa walaupun orang-orang yang Paulus dan Petrus layani berbeda, yang satu melayani orang-orang tak bersunat dan yang satunya lagi melayani orang-orang bersunat, tetapi Firman Tuhan yang mereka sampaikan adalah sama. Tuhan yang mereka beritakan juga adalah sama. Yesus yang mereka beritakan juga adalah sama (ay. 8). Oleh karena itu, Paulus tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu perbedaan yang harus diperdebatkan. Semua pelayanan yang Paulus dan Petrus lakukan justru sama. Semua hanya dapat mereka lakukan di dalam kasih karunia Tuhan (ay. 9).


Ketika Paulus membagi segmen pelayanan mereka sepert ini, mereka bukan membuat pelayanan itu menjadi terpecah-pecah. Apa yang mereka lakukan justru membuat jangkauan pelayanan mereka semakin bertambah luas, dan semakin banyak jiwa yang bisa dimenangkan bagi kerajaan Tuhan. Mereka tidak mementingkan ego dan harga diri mereka. Mereka siap mengalah, asal nama Tuhan semakin ditiinggikan. Walaupun mereka melayani segmen jemaat yang berbeda, tetapi mereka tetap ingat visi yang Tuhan berikan kepada mereka, yaitu untuk mengingat dan melayani orang-orang miskin, entah dari golongan bersunat maupun dari golongan tidak bersunat (ay. 10).


Mungkin banyak orang yang tidak sependapat dengan saya. Mungkin ada yang bilang “Ya, kalau hamba Tuhan itu memang mampu melakukan banyak hal sekaligus, mengapa harus dilarang?”. Menurut pendapat saya, hal tersebut bisa dilihat dari dampaknya. Jika hamba Tuhan itu dapat membagi-bagi pelayanannya kepada orang lain (tentunya dengan standar yang harus dijaga juga), maka hamba Tuhan itu mendapatkan banyak keuntungan. Ia bisa lebih fokus lagi melayani pekerjaan Tuhan yang benar-benar penting atau benar-benar merupakan panggilannya. Ia juga bisa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melayani. Menurut saya jauh lebih banyak manfaatnya jika seorang hamba Tuhan mendelegasikan pelayanan-pelayanannya kepada orang lain. Jangan sampai hamba Tuhan itu menjadi hamba Tuhan yang one man show. Ia bisa berkhotbah di gereja A jam 07.00, lalu di gereja B jam 08.00, dan begitu seterusnya hingga satu hari ia bisa berkhotbah di mana-mana. Ingat bahwa ketika kita melayani Tuhan, bukan nama Tuhan yang kita tinggikan, bukan kepentingan kita yang kita utamakan, tetapi kita harus meninggikan Tuhan dan mengutamakan kepentingan Tuhan dalam segala-galanya, termasuk dalam pelayanan kita.

Bacaan Alkitab: Galatia 2:7-10
2:7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat
2:8 -- karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat.
2:9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;
2:10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.
Sumber: Renungan Randite Herawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini