Jumat, 26 April 2013

Gereja Katolik yang Satu, =Sebuah Mimpi Utopis=

(Parocus Paroki Bokin)

Kita sering mendengar kata-kata dalam katekese atau pendalaman iman: Gereja yg satu, kudus, katolik, dan apostolik. Mungkin kita hafal dan tahu menjelaskan semua kata kata tersebut, tetapi menghayati dan mempraktekkannya rasa saya kayaknya belum. Lebih konyol dan tragis lagi kalau kita sendiri tidak atau belum tahu sama sekali, maka bagaimana mungin kita bisa menghayati dan mempraktekkannya. Akan berlaku pepata Latin, "Nemo dat quod non habet", saya tidak bisa memberkan apa yang saya tidak punyai.

Kali ini saya tidak akan mengurainya satu per satu. Saya hanya ingin mengambil kata "Gereja yg satu". Gereja Katolik adalah Gereja yang satu, yakni Gereja Kristus sendiri, yang oleh Vatikan II dibahasakan dgn "Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus", di mana anggota-anggotanya tersebar di banyak tempat. Saya katakan "rasa saya" kita tidak mengerti dengan baik dan benar karena dalam praktek memang kita seperti itulah adanya. Lihatlah saja ketika pertemuan Paroki, masing-masing utusan rukun atau stasi berusaha berbicara dan memperjuangkan rukun atau stasinya sendiri. Lihatlah di satu paroki berdiri gedung gereja yang megah tetapi dalam paroki yang sama juga berdiri gedung gereja bagai kandang kerbau dengan atap nipa atau seng yang sudah bocor dan dengan dinding dan bangku bambu serta berlantai tanah. Lihatlah bagaimana terjadi gap yang sangat besar antara satu stasi atau paroki dengan stasi atau paroki yang lainnya. Ada paroki yang menyimpan uang milliaran sementara ada paroki yang pusing bagaimana berhemat supaya solar genset tidak habis hari itu dan masih cukup untuk hari esok. Inikah arti Gereja yang satu? Entahlah,...!!! Kita selalu lupa akan "Perintah" Yesus Kristus, "Pergilah, jadikanlah SEGALA bangsa menjadi muridKu,..." Yesus memerintahkan untuk menjadikan SEGALA BANGSA menjadi muridNya dan bukan suku atau kampung. Karenanya Vatikan II tidak mengenal kata "Gereja Katolik Toraja, atau Gereja Katolik Sangalla', atau Gereja Katolik Jawa, dst", tetapi menggunakan istilah "Gereja Kristus", untuk tidak mengkotak-kotakkan para murid Kristus di berbagai tempat di bumi ini di bawah satu pimpinan yang disebut pemimpin Gereja semesta yakni Sri Paus. Maka sekali lagi, mimpi Vatikan II dan khususnya mimpi Yesus Kristus untuk menjadikan "Gereja yg satu" kiranya akan menjadi mimpi utopis atau mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Karena masing-masing Gereja berpir untuk dirinya sendiri. 

Padahal Gereja yang satu itu menjadi Gereja yang hidup ketika masing-masing anggotanya saling memperhatikan berkat kesadarannya sebagai Gereja yang satu tersebut. Dan perhatikanlah ketika kita berbuat sesuatu dengan Gereja di luar wilayah Paroki kita. Kita seperti berbuat baik kepada tetangga kita (kalaupun rela) dan sama sekali tidak merasa berbuat untuk diri sendiri, karenanya kita tanpa sadar berhitung untung-rugi. Perhatikanlah bagaimana kita masih memposisikan diri sebagai yang lain dari sesama anggota Tubuh Mistik Yesus Kristus sendiri. Ketika hal itu yang terjadi maka Gereja tidak ubahnya dengan satu LSM raksasa yang peduli dengan sesamanya bukan karena kesadarannya dalam kesatuan Tubuh Mistik Kristus tetapi semata karena alasan kemanusiaan. Dan itu sungguh konyol dan tragis. Tetapi coba bayangkan ketika Anda keluar dari paroki Anda dan bergabung dengan umat setempat, apakah Anda pernah membayar uang pembangunan di tempat baru tersebut? Atau apakah Anda merasa sebagai orang asing dan diskriminasi pelayanan Sakramen dari imam setempat? Lalu mengapa kita memelihara Gereja yang terkotak-kotak? Atau mengapa kita seolah-olah mau berbuat kasih dengan model LSM?

Pengalaman saya minggu terakhir membuat saya semakin yakin dengan kecurigaan saya selama ini sebagai Gereja yang "belum" satu, orang lain tetap menjadi yang lain dan bukan sebagai bagian dari diri yang kita sebut "sesama". Ketika saya menelpon satu paroki untuk datang Misa dalam rangka penggalangan dana untuk paroki pedalaman, jawaban yang saya terima adalah "tidak bisa". Bahkan ada yang memang dengan nada guyon berkomentar, "Bagaimana kau bisa edit foto itu ya, mengambil foto longsor dan menempel foto pastoranmua,..." Dalam hati kecil saya terbayang betapa kata-kata suci dalam Kitab Suci sungguh-sungguh suci dalam budi dan hati. Dan kalau mau jujur dan mau berpikir pijik untuk apa saya mau capek-capek ke sana-ke mari yang bukan tidak mungkin dicap sebagai "pengamen" dan tukang minta-minta karena toh saya tidak akan selamanya tinggal di paroki yang satu? Tetapi sekali lagi aku hanya ingin menyadarkan umat tentang Gereja yang satu, yang harus memperhatikan antara yang satu dengan yang lainnya supaya cita-cita Gereja Vatikan II (tahun 1965) sebagai Tubuh Mistik Kristus sungguh-sungguh menjadi kenyataan dan bukan sekedar cita-cita, dan supaya Gereja Katolik sungguh-sungguh katolik bukan hanya dalam. Liturgi dan sakramen-sakramennya. Sudah saatnya dan tidak ada kata terlambat untuk meneriakkan dengan keras-keras apa yang mrnjadi tugas kita sebagai murid Kristus, yakni menjadi saksi dan terang di tengah-tengah dunia sesuai dengan fungsi dan kapasitas masing-masing. Dan kalau mau dilanjutkan pada refleksi yang panjang, tugas kemuridan kita bukan saja terbatas dalam lingkup Gereja, tetapi mencakup segala bangsa. Hanya saja semoga kita tidak salah mengerti kata "menjadikan segala bangsa muridKu", bukan berarti membaptis semua orang. 

Wou saya mulai terpancing untuk keluar dari renungan Gereja yang satu. Karenanya saya cukupkan sampai di sini dulu, lain kesempatan saya akan berbicara tentang tema yang lain. Mari menjadi Gereja yang satu dengan tidak menjadi yang lain bagi sesama.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini