Cari Blog Ini

Sabtu, 06 April 2013

SILIH


      HARI MINGGU PALMA
Tahun C
oleh : Pastor Sani Saliwardaya, MSC
 Inspirasi Bacaan dari : 
Yes. 50:4-7; Flp. 2:6-11; Luk. 22:14 - 23:56

Alkisah, di sebuah desa ada seorang ibu yang sudah tua. Ia hidup bersama dengan putra tunggalnya. Suaminya sudah lama meninggal dunia karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, menyabung ayam, dan banyak lagi kebiasaan buruknya. Sang ibu sering meratapi dan menangisi nasibnya yang malang, ia sering berdoa memohon kepada Tuhan, “Tuhan, tolong sadarkanlah anakku yang kusayangi itu supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”. 

Anaknya sudah sangat sering keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari, dia tertangkap setelah melakukan suatu pencurian di suatu desa. Kemudian, dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili. Karena kesalahannya yang sudah berulang-ulang, akhirnya dia dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman penghukumannya dilakukan ke seluruh desa. Hukuman itu akan dilaksanakan di depan rakyat dua hari setelah pengumuman itu tepat saat linceng berdentang pada pukul enam pagi.

Berita hukuman pancung itu sampai juga ke telinga sang ibu. Ia menangis meratapi nasib malang anak tunggalnya yang amat disayanginya. Sambil berlutut, ia berdoa, “Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba yang sudah tua nini yang menanggung dosanya.” Dengan tertatih-tatih, sang ibu mendatangi raja untuk mohon belas kasih dan pengampunan bagi anaknya. Tetapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukumannya. Dengan hati hancur pulanglah sang ibu ke rumahnya. Tak hentinya dia berdoa mohon pertolongan Tuhan supaya anaknya diampuni. Dalam kelelahannya menangis dan meratap, sang ibu pun tertidur.
Pada hari pelaksanaan hukuman pancung, di tempat yang sudah ditentukan, penduduk berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman itu. Sang algojo pun sudah siap dengan golok besar di tangannya. Si anak itu juga sudah berada di tempatnya, dan tampak pasrah dengan nasibnya. Terbayang wajah sang ibu yang sudah tua. Tanpa terasa dia menangis menyesali segala perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dari waktu yang ditentukan, dan suasana mulai berisik karena orang-orang saling bertanya, “Mengapa lonceng belum berbunyi?.” Akhirnya petugas penarik lonceng datang. Ia mengaku merasa heran karena sudah berkali-kali ia menarik tali lonceng, tetapi suara dentangnya tidak ada. 

Saat mereka sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas untuk menyelidiki sumber darah. Ternyata, dalam lonceng itu ditemui tubuh sang ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Ia memeluk bandul lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi. Akibatnya kepalanya hancur terbentur dinding lonceng. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Ia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. 
Ternyata, malam sebelum pelaksanaan hukuman pancung anaknya, sang ibu dengan sudah payah memanjat ke atas menara dan mengikatkan dirinya di lonceng. Ia memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya. Sang ibu rela menjadi silih bagi anaknya. Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. 

(diambil dan diringkas dari buku, 100 Touching Stories, kayra Xavier Quentin Pranata)
Menjadi silih bagi anaknya. Itulah cinta kasih sejati sang ibu dalam kisah di atas. “Menjadi silih”, “membuat / melakukan silih” adalah melakukan suatu tindakan pengganti, melakukan suatu tindakan pengorbanan dengan tujuan agar yang digantikan itu selamat / terhindar dari bahaya. Tindakan silih harus disertai dengan sikap sukarela atau cinta kasih Tanpa sikap sukarela dan cinta kasih maka tindakan silih akan berumah makna menjadi “tumbal” atau sering disebut dengan istilah popular “korban kambing hitam”, mengorbankan yang lain agar dirinya sendiri selamat.

Kematian Yesus di atas kayu salib yang kita rayakan & kenangkan dalam Liturgi Hari Minggu Palma adalah suatu tindakan silih terbesar dalam sejarah umat beriman. Yesus yang tak bersalah, karena cinta-Nya kepada manusia, merelakan Diri-Nya dihina, disiksa, dan dibunuh di atas kayu salib (bdk. 1Kor.15:3; 2Kor.5:21; Gal. 1:4; Ibr. 9:26; 1Yoh. 4:10).

Dewasa ini, di dunia modern di mana kita hidup sekarang ini, orang lebih suka mencari “tumbal” dari pada “rela menjadi silih”. Orang lebih suka mengorbankan orang lain dari pada sendiri mau dan rela berkorban untuk orang lain. Kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib mengajarkan kepada kita suatu tindakan silih. Doa St. Fransiskus Asisi, “Jadikanlah aku pembawa damai” (MB. 221) merupakan salah satu bentuk doa silih. 
Semoga perayaan Liturgis Hari Minggu Palma membuka hati kita untuk berani melakukan tindakan silih. Dan seandainya kita belum berani melakukan tindakan silih, marilah kita mohon bantuan Ilahi agar kita sekurang-kurangnya tidak melakukan tindakan “mencari tumbal”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar