Kamis, 11 April 2013

Apakah Engkau Mengasihi Aku?


Renungan Hari Minggu Paskah III
Bacaan: Yohanes 21:1-19
Oleh: Paulus Tongli, pr

Kristus yang bangkit ditampilkan dengan berbagai ceritera yang berbeda-beda di dalam Injil. Tetapi ceritera-ceritera yang berbeda-beda itu memiliki satu maksut, yakni untuk menjelaskan dan memberi kesaksian: bahwa Yesus yang telah disalibkan kini dengan cara yang baru dan melampaui bayangan manusia hidup di dalam kemuliaan. Ceritera injil hari ini juga memiliki maksud yang sama. Ada 3 poin penting dapat kita simpulkan dari kutipan injil hari ini:
1.   Tempat perjumpaan dengan Dia yang bangkit
2.   Undangan untuk ikut serta di dalam perjamuan paskah bersama
3.   Tuntutan untuk memberikan jawaban

Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit merupakan suatu hadiah, suatu rahmat. Tidak semua orang bisa mengalami perjumpaan itu. Hanya mereka yang terbuka dan percaya yang dapat mengenal Dia di dalam perjumpaan. Yesus menampakkan diri kepada para murid. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-muridnya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Perjumpaan terjadi kala itu di tengah-tengah saat kesibukan sehari-hari, kala para murid berusaha untuk menangkap ikan. Karena kata-kata-Nya, mereka melemparkan jalanya dan mereka menangkap ikan yang sangat banyak. Dari kepercayaan, tumbuhlah di dalam diri mereka pengalaman paskah: mata mereka terbuka dan mereka mengenalnya dan berkata „itu Tuhan“. Keterbukaan dan kepercayaan menjadi unsur penentu. Kepercayaan atau iman memberikan kepekaan, sehingga orang dapat mengenali dalam situasi tertentu sapaan dari Dia yang bangkit, atau mengenal Dia lewat perjumpaan dengan orang yang tak dikenal.
Pengalaman paskah yang terjadi di dalam keseharian ini akan menjadi model sepanjang jaman, bagaimana Yesus Kristus kembali menjumpai kita: di tengah-tengah pengalaman harian di dalam pekerjaan, di dalam perjumpaan dengan orang, tak disadari – namun juga sangat nyata. Syaratnya adalah keterbukaan akan sapaan-Nya dan iman. Ia hanya dapat dikenal dengan kacamata iman dan cinta, karena Ia sering menjumpai kita di dalam diri orang asing.

Poin kedua yang penting di dalam kutipan injil hari ini adalah undangan untuk ikut serta di dalam perjamuan paskah bersama dengan Dia yang bangkit. Undangan untuk makan adalah sesuatu yang sangat berarti, apalagi bila orang sungguh tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Selain itu undangan tersebut sekaligus juga merupakan tanda keakraban dan persahabatan. Jumlah tujuh orang murid yang hadir merupakan suatu jumlah yang penuh atau sempurna, dan mewakili jumlah yang tak terhingga dari orang-orang yang diundang ke perjamuan paskah. Demikian juga dengan jumlah 153 ekor ikan yang ditangkap jala para murid haruslah dipahami secara simbolis. Angka-angka ini menunjukkan ciri universalitas dari gereja, yakni orang-orang yang dipanggil atau diundang untuk turut serta di dalam persekutuan perjamuan paskah. Dia yang bangkit telah menyediakan santapan paskah itu untuk kita. Perjamuan ini mengingatkan kita akan perayaan ekaristi, di mana Ia sendiri menyerahkan tubuh-Nya sebagai santapan.
„Marilah dan sarapanlah“ (ayat 12), undangan Yesus ini untuk turut serta di dalam perjamuan paskah juga berlaku untuk kita sekarang ini. Perayaan ekaristi setiap hari Minggu memungkinkan kita dalam iman dan cinta dapat mengalami lagi dalam wujud roti dan anggur perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan di mana ia memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai santapan.
Apa makna ekaristi untuk hidup kita? Ritus pemecahan roti dapat menunjukkan hal itu. Bahwa Kristus telah membuka diri untuk kita, agar kita semua mendapatkan bagian di dalam Dia. Kita memecahkan roti sebagai peringatan bahwa Kristus membuka diri untuk kita, untuk menyembuhkan semua yang terpecah dan tercabik di dalam diri kita, dan sebagai tanda bahwa kita pun siap sedia membuka diri dan berbagi dengan sesama. Tuhan yang tersalib dan bangkit dengan luka-luka-Nya adalah tempat hidup dan penyembuhan.

Poin yang ketiga adalah tuntutan untuk memberikan jawaban. Perjumpaan dengan Dia yang bangkit dan anugerah paskah yang diberikan-Nya adalah pertanyaan akan iman kita, dan menuntut kita untuk memberikan jawaban. Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali. Dan pertanyaan ini meminta jawaban pribadi. Pertanyaan akan kasih adalah pertanyaan akan keputusan, keputusan pribadi. Dan kasih bukanlah masalah kata-kata, melainkan masalah tindakan. Di dalam kehidupan kristiani kasih berarti, kesiapsediaan untuk mengikuti Yesus, dan mengidentifikasi diri dengan-Nya. Itulah sebabnya Yesus pada akhir kutipan injil hari ini berkata: „Ikutlah Aku“. Bila kita mengikutinya, Ia akan menunjukkan kepada kita, apa yang harus kita lakukan. Bukanlah program dari kita, bukan pula bayangan ideal atau landasan hukum yang kita susun sendiri. Panggilan itu tidak dapat kita munculkan sendiri atau digantikan oleh sekedar semangat yang menggebu-gebu. Semangat yang berasal dari dalam diri kita sendiri suatu saat akan mengalami kejenuhan dan bahkan mungkin berubah menjadi daya yang melawan dirinya sendiri. Pertanyaan yang diajukan: Apakah engkau mengasihi Aku? Hubungan saling mengasihi mengandaikan keterarahan dari kedua belah pihak. Kasih itulah yang menyebabkan suatu yang luar biasa dapat terjadi, semangat yang tak terpadamkan, daya juang yang tak terbendung, bahkan sampai pengorbanan diri. Itulah kasih yang total. Hanya orang yang dapat memberikan jawaban pribadi dalam kasih dapat menjadi pengikut-Nya yang taat dan setia.
Jawaban apa yang dapat aku berikan saat ini? Jawaban harus kita berikan secara pribadi. Kita hanya dapat memohon, semoga jawaban Petrus juga dapat menjadi jawaban kita: „Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau“ (ayat 17). Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini