Minggu, 04 Agustus 2013

SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Oleh P. Paulus Tongli, Pr
Hari Raya SP. Maria Diangkat Ke Surga
Inspirasi Bacaan dari :
Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; 1Kor. 15:20-26;  Luk. 1:39-56

Hari ini kita merayakan suatu pesta yang sangat khas. Maria diangkat ke surga, demikian ungkapan yang lazim untuk perayaan ini, apa yang mungkin sebagian dari antara kita hanya dapat terima secara skeptis. Mungkin kita membayangkan: Maria pada akhir hidupnya terangkat ke surga seperti piring terbang tanpa tunduk kepada hukum massa. 
Bayangan demikian sangat sulit untuk saya dan mungkin juga anda sekalian terima. Dan memang bukanlah begitu yang dimaksudkan. Ungkapan yang benar untuk pesta ini adalah: „Maria diterima ke dalam surga”. Di dalam ungkapan ini tampak bahwa Maria bukanlah pelaku yang aktif, melainkan Allahlah yang aktif melakukan sesuatu terhadap Maria, menerima dia ke dalam surga. 
Sebagian orang mungkin akan mengatakan: hal itu tidak terdapat di dalam kitab suci! Bagaimana mungkin kita dapat sampai kepada ajaran yang demikian? Inilah yang sering menjadi serangan terhadap orang-orang dan Gereja Katolik. Meskipun tanpa petunjuk biblis, gereja timur telah merayakan pesta „Maria diterima ke dalam surga” segera setelah Konsili Efesus (431). Dalam abad ke-6 bahkan pesta ini telah dinyatakan sebagai perayaan nasional dalam lingkup gereja timur. 
Di dalam gereja barat pesta ini barulah mulai dirayakan di dalam abad ke-7. Meskipun tanpa kewajiban untuk mengimaninya, hal ini sudah mulai diajarkan sejak abad ke-10. Di dalam Konsili Vatikan I (1870) sudah mulai muncul desakan untuk menjadikan ajaran „Maria diterima ke dalam surga” menjadi sebuah dogma. Pada tanggal 1 November 1950 akhirnya oleh Paus Pius XII hal ini didogmakan sebagai berikut: „ ... adalah merupakan kebenaran iman yang diwahyukan Allah, bahwa Maria Bunda Allah yang tak bernoda dan selalu perawan, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diterima ke dalam kemuliaan surgawi dengan tubuh dan jiwanya”.
Rumusan ini memang sangat bisa menimbulkan pemahaman yang keliru. Haruskah kita membayangkan bahwa di surga duduklah seorang ibu tua (yakni Maria), dan akan tetap seperti itu untuk selama-lamanya? 
Dulu teologi menjelaskan bahwa tubuh Maria yang diangkat ke surga adalah tubuh mulia, yang telah dibebaskan dari penderitaan dan secara total berbeda dari tubuh material kita yang terdiri dari lemak, protein, dll. Tubuh kita terdiri dari bahan yang dapat berubah-ubah dan karena itu tidak mungkin luput dari proses menjadi tua dan bahkan mati dan berubah menjadi unsur atau bahan lain. Pastilah bukan tubuh itu, yang dimaksud dalam ungkapan Maria dengan raga/tubuhnya diterima ke dalam surga. Sulitlah untuk membayangkan sebuah surga, yang di dalamnya kelemahan dan ketergantungan kita dilanjutkan. „Surga” yang demikian hanyalah merupakan pengabadian penderitaan duniawi, bertentangan dengan gambaran surga yang kita miliki. 
Juga gambaran akan surga sebagai suatu tempat bukanlah yang dimaksudkan di sini. Karena gambaran tempat, menuntut juga penentuan batas dan situasinya, hal yang juga tidak mungkin kita buat untuk surga abadi tahta ilahi. Surga bukanlah sebuah obyek kosmologis geografis, melainkan sebuah keadaan, yakni keadaan mulia dan aman, yang sempurna di dalam Allah. 
Tetapi mengapa dirumuskan di dalam dogma „diterima dengan tubuh dan jiwanya masuk ke dalam kemuliaan surgawi”? Rumusan ini sebenarnya mau mengatakan, Maria secara sempurna masuk ke dalam kemuliaan surgawi. Bukankah dalam bahasa sehari-hari kita juga sering mengungkapkan bila mana seseorang dengan penuh perhatian dan konsentrasi melakukan sesuatu: ia melaksanakannya dengan jiwa dan raganya”. Ada sebuah kesinambungan dan kesamaan yang rohaniah dan tidak material antara Maria, yang telah mempersembahkan hidupnya di dalam pelayanan kepada Allah, dan Maria, yang hidupnya sempurna dan dimuliakan di dalam Allah. Maria „diterima dengan jiwa dan raganya ke dalam kemuliaan surgawi” berarti: pada diri manusia ini Allah telah melaksanakan karya penyelamatanNya. Ibu historis dan ibu Yesus ini, kini dalam keabadian dengan cara yang sempurna, kudus dan aman berada dalam hadirat Allah. Dan akhirnya dogma itu mau mengungkapkan apa yang kita pun semua harapkan, apa yang kini telah dialami oleh Bunda Maria: „Kita menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat” (Syahadat yang panjang). Bahwa Maria telah sempurna, hal ini telah dipercayai oleh Gereja sejak awal, juga sebelum dogma ini muncul. 
Di hadapan misteri Allah yang tak terselami dan rahmat keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita, kita hanya dapat, dengan sangat tidak sempurna lewat dogma-dogma, mengungkapkan paham kita yang sangat terbatas. Tetapi kita semua dapat mengecap secara terbatas kebijaksanaan dan kebaikan Allah melampaui segala keterbatasan pandangan dan pemahaman kita. **pt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini