Cari Blog Ini

Kamis, 15 Agustus 2013

MAU IKUT PERAYAAN EKARISTI, TAPI TERLAMBAT DATANG KE GEREJA ?

Sampai pada bagian mana dalam suatu Perayaan Ekaristi, seseorang (umat) masih boleh terlambat datang ke gereja dan kemudian boleh menerima komuni kudus .” Terkadang seseorang BENAR BENAR terpaksa terlambat menghadiri Misa Kudus karena berbagai factor yg sering di luar kehendaknya atau di luar kemampuannya untuk mengatasinya. Mis: mau berangkat pergi ke gereja, tiba-tiba ada tamu dari jauh datang, atau tiba-tiba ada anggota keluarga yg sakit perut. Atau lalu lintas macet total .
Pada prinsipnya, Perayaan Ekaristi merupakan satu kesatuan perayaan yang utuh dari Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi hingga Ritus Penutup. Hal ini berdasarkan ajaran Konsili Vatikan II sendiri yang menyatakan dalam Sacrosanctum Concilium artikel 56: “Misa Suci dapat dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat. Maka Konsili suci dengan sangat mengajak para gembala jiwa, supaya mereka dalam menyelenggarakan katekese dengan tekun mengajarkan agar umat beriman menghadiri seluruh Misa, terutama pada hari Minggu dan hari raya wajib”.
Ungkapan “satu tindakan ibadat” jelas menunjuk kesatuan utuh seluruh Perayaan Ekaristi kita. Maka apabila pertanyaannya berbunyi: sampai kapan seseorang masih boleh terlambat, jawabannya ya: tidak ada tempat untuk terlambat. Artinya, menilik makna kesatuan utuh perayaan Ekaristi, seseorang jangan terlambat datang dalam Perayaan Ekaristi dan apalagi pulang duluan sebelum perayaan Ekaristi tersebut selesai.

Nah, bagaimana kalau seseorang terlambat karena faktor-faktor seperti ini? Dalam kasus seperti ini, yakni terlambat Misa karena faktor-faktor di luar dirinya, seseorang harus bertanya pada diri sendiri: apakah ia merasa pantas untuk menerima komuni suci!
Apabila perayaan Ekaristi yang dihadirinya ini merupakan satu-satunya Misa Kudus yang ada di parokinya atau Misa yang terakhir dari hari Minggu itu, kiranya dapat dimengerti dan diterima bahwa orang itu tetap menyambut komuni, meskipun terlambat. Akan tetapi apabila orang tersebut lalu sungguh merasa tidak pantas untuk menerima komuni, dan apalagi ada perayaan Ekaristi berikutnya pada hari Minggu tersebut, sangat baik jika orang itu tidak menerima komuni pada perayaan Ekaristi yang ia ikuti secara terlambat itu dan kemudian ikut secara penuh pada perayaan Ekaristi yang berikutnya sejak awal.

Yang sama sekali tidak baik ialah bahwa seseorang memang sengaja untuk datang terlambat, entah karena malas atau karena ogah mendengarkan homili pastor parokinya, tetapi lalu ikut maju menyambut komuni pada saatnya. Orang ini, meski sangat menghormati dan mendambakan komuni, tetap berlaku tidak pantas terhadap perayaan Ekaristi dan terhadap Tuhan yang hadir dalam Ekaristi.

Di sinilah perlunya katekese yang tidak ada habisnya dari para pastor ataupun Komisi Liturgi untuk seluruh umat. Sangat penting ditekankan kepada umat akan kekudusan dan keagungan Misteri Ekaristi yang perlu disambut dan dirayakan secara utuh dengan pantas, khidmat dan penuh iman.
(Sumber MAJALAH LITURGI VOL 3, 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar