Cari Blog Ini

Jumat, 23 Agustus 2013

Renungan Mingguan : “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu”

Hari Minggu Biasa ke XXI /Tahun C
Oleh P. Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 13:22-30

Pernah saya menguping percakapan sekelompok anak muda di pendopo gereja. Mereka berdebat tentang dimana jiwa mantan presiden Suharto kini berada. Ada yang dengan spontan mengatakan bahwa ia kini berada di neraka. Yang lain menimpalinya, bahwa Suharto pada dasarnya adalah orang baik, pemimpin yang baik, dan bahkan sekarang ini banyak orang mengimpikan kembali sosok pemimpin seperti mendiang Presiden Suharto. Orang itu kemudian menambahkan, bahwa pasti Tuhan menyelamatkan orang yang demikian. Ketika saya menghampiri kelompok tersebut, mereka berbalik kepada saya dan menanyakan pendapat saya. Saya hanya mengatakan: saya tidak tahu.

Seandainya Yesus hidup di zaman kita, bagaimana kira-kira Yesus akan menjawab pertanyaan tersebut? Saya menduga, Yesus hanya akan memandang orang yang bertanya kepada-Nya dan berkata: “Berusahalah dan selamatkanlah jiwamu sendiri selama engkau masih memiliki kemungkinan untuk itu.” 

Hal inilah yang persis terjadi di dalam kutipan injil hari ini. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Seseorang mencegat-Nya dalam perjalanan-Nya itu dengan pertanyaan, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk 13:33). Apa jawab Yesus? “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu; Sebab Aku berkata kepadamu, banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (ay. 24). Lihatlah, Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan orang itu: “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Sebaliknya ia memberikan jawaban atas pertanyaan yang agak sedikit berbeda, namun lebih penting, “Bagaimana saya dapat diselamatkan?” 

Menyangkut keselamatan kita, ada dua jenis pertanyaan yang dapat kita ajukan. Kita dapat melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu, yang bertujuan untuk memperoleh informasi, fakta-fakta dan gambaran-gambaran, tetapi yang sama sekali tidak berdampak pada keselamatan kita. Atau kita dapat melontarkan pertanyaan yang penting, sebagai suatu ungkapan pencaharian yang tulus akan kebenaran yang akan menuntun kita kepada keselamatan. Dalam Kitab Suci sangat tampak bahwa Yesus tidak mau membuang waktu untuk melayani pertanyaan-pertanyaan yang sekedar ingin memuaskan rasa ingin tahu. Bilamana orang mengajukan pertanyaan demikian, Ia tidak menjawabnya, tetapi Ia menggunakan kesempatan itu untuk menjawab pertanyaan yang lebih relevan , yang seharusnya orang tanyakan. “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” merupakan salah satu dari pertanyaan sekedar ingin tahu itu. Bila orang mengetahui jawabannya, apakah gunanya itu untuk keselamatannya? Maka Yesus memberikan jawaban yang lebih relevan untuk keselamatan orang yang bertanya tersebut, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!” 

Pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu akan sangat menarik bagi media massa dan bagi imaginasi publik. Kapan dunia akan berakhir? Kapan hari kiamat akan tiba? Siapa yang dimaksud dengan Antikristus? Apa itu 666, tanda dari Antikristus? Apa yang akan memberikan kebahagiaan kepada manusia? Ini semua pertanyaan informatif, dan hanya bermaksud untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Yesus tidak menjawab pertanyaan itu. Sesaat sebelum terangkat-Nya ke surga, Yesus ditanya oleh para murid-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Apa jawab Yesus? “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:6-8).

Kini tampaklah bahwa tidak ada gunanya bertanya, “di mana kini jiwa dari mendiang mantan presiden Suharto berada”. Itulah contoh yang tepat untuk pertanyaan yang sekedar ingin tahu. Lebih baik kita bertanya tentang hal yang penting untuk diri kita seperti, “apa yang harus kuperbuat agar aku dapat diselamatkan? Bagaimana aku dapat melayani Tuhan lebih baik di dalam situasi harianku? Bagaimana aku dapat memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan kepadaku di sini saat ini untuk keselamatan kekal? Marilah kita sejenak mengambil waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar