Cari Blog Ini

Minggu, 04 Agustus 2013

GEREJA KATOLIK BANGGA MEMILIKI BUNDA MARIA

Gereja Katolik mestinya bangga memiliki seorang ibu rohani yang siap menolong dan mendampinginya, yakni Bunda Maria. Semangat dan teladan hidup Bunda Maria menjiwai putera-puterinya untuk tampil memperjuangkan damai dan kasih dalam kehidupan bersama. Orang Katolik, jangan menjadi fanatik dan mulai mencela atau menghakimi kelompok lain apalagi melakukan kekerasan atas-nama agama. Kita harus memiliki juga hati seorang ibu, di tengah dunia yang makin keras dan bengis ini. Hari Raya “Santa Perawan Maria  Diangkat Ke Surga dengan Jiwa dan Raganya”. Ketika merayakan pesta ini, dua pertanyaan perlu kita tampilkan: pertama BENARKAH itu (realitanya)? Yang kedua SALAHKAH itu (ajarannya)? Pada hari raya “SP Maria diangkat ke Surga”, kitab Wahyu berbicara tentang seorang perempuan yang berselubungkan matahari, seorang anak dan naga”. Apakah perempuan itu adalah Bunda Maria? Pikiran P. William Saunders, saya kutip untuk menjelaskan gagasan yang hebat ini.
Sejak zaman Bapa Gereja Perdana, gambaran perempuan berselubungkan matahari ini mengandung tiga lambang: Bangsa Israel kuno, Gereja dan Bunda Maria.
  Nabi Yesaya menulis tentang Israel kuno,
“Seperti perempuan yang mengandung sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikian tadinya keadaan kami di hadapanMu, ya Tuhan.”
  Dalam Kitab Wahyu kita baca,
 “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” - keturunannya adalah anak-anak Allah yang sudah dibaptis / para anggota gereja.
  Kesaksian orang kudus tentang Bunda Maria,
“Adalah tepat apabila Maria digambarkan sebagai perempuan yang berselubungkan matahari, sebab ia masuk dalam kebijaksanan Allah jauh lebih dalam daripada kemungkinan yang dipahami manusia.”
Maka benar kalau gereja memahami perempuan yang berselubungkan matahari itu adalah Bunda Maria.  Gambaran ini juga menunjukkan kemuliaannya yang digenapi saat ia diangkat ke surga. Melalui Hawa yang pertama, datanglah maut dan pintu gerbang surga ditutup; melalui Maria -Hawa Baru- datanglah kehidupan kekal yang dimenangkan oleh Yesus Kristus. Hawa pertama, disebut “ibu semua yang hidup”, Maria -Hawa Baru- adalah sungguh ibu bagi semua yang hidup secara rohani dalam keadaan rahmat.
Dogma “Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raga” menjadi fokus kritik dan perbantahan dari kaum fundamentalis yang menafsir Kitab Suci secara harafiah. Kata “diangkat ke surga” tidak tertulis di dalam Kitab Suci. Lalu atas dasar apa, Gereja Katolik berani menetapkan ini sebagai sebuah kebenaran iman? Apa tidak salah dan menyesatkan iman jemaat?  Apalagi ada banyak kisah lisan tentang dan seputar akhir kehidupan Bunda Maria. Misalnya kisah tentang “tertidurnya Maria”, kisah tentang Bunda Maria yang meninggal di hadapan para rasul, dll.
Gereja tidak menetapkan dogma ini berdasarkan kisah-kisah lisan tersebut, tetapi lebih berdasarkan keyakinan bahwa Bunda Maria ikut serta secara istimewa dalam kehidupan Yesus Kristus PutraNya. Sejak dari awal mula sampai akhir kehidupannya, Bunda Maria menunjukkan kesetiaan yang luar biasa sebagai seorang hamba Allah. Kalau Allah berkuasa memilih dia untuk tugas mulia itu, pasti Allah juga bisa melakukan sesuatu yang luar biasa di luar daya tangkap manusia.
HARI RAYA INI mengingatkan kita agar kita menyadari sungguh bahwa Bunda Maria menggerakkan setiap kita agar BERTUMBUH dan BERKEMBANG dalam iman. Iman kita tidak boleh mati apalagi hilang, karena tanpa iman kita tidak sanggup merasakan kehadiran dan kuasa Tuhan.
HARI RAYA INI mengajak kita untuk selalu berserah diri kepada Tuhan dan berani MENGUBAH HIDUP KITA, karena tanpa itu,  manusia lama kita selalu dan akan tetap mengalahkan manusia baru dalam diri kita. Semoga Tuhan memberkatimu; jiwa maupun raga, agar engkau mampu tampil bukan hanya sebagai orang yang baik, tetapi lebih lagi sebagai seorang Kristen yang baik dan benar di mata Tuhan dan sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar