Jumat, 26 April 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN


Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
               
 *  Arief Sosiawan     &  Laura  ( Pengumuman III )
                 
*  Chandra Abadi    &  Veronika Winardy     ( Pengumuman III )
                 
*  Victor Lobo Parinding   & Lusia Lili        ( Pengumuman III )
               
 *  Helmin   &  Shierly Kwenang          ( Pengumuman II )
               
 *  Lauwis Willy   & Junita Toei Duri       ( Pengumuman II )
               
*  David Wirawan & Wiany Jauhari      ( Pengumuman I )
              
 *  Carlo C.F. Counrier & Yoko Musajaya     ( Pengumuman I )
              
 *   Nicksen Alexander Wijaya  & Elva Regina   ( Pengumuman I )
              
 * Zainal & Fanni Heran      ( Pengumuman I )

      Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada 
pastor paroki.


 

Cerita Kehidupan dari India


Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Tuhan, Bapa kita" (Kolose 3 : 17)

 Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja ! 'Kerja menyebalkan' , hidup tak berguna', dan nggak ada sesuatu yang beres!! Tapi semua itu telah berubah. Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk! Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, iamelihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!

Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'so naughty' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!!! Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat ..MENGEMIS.. .!! Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan !! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu... mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan). Terkejut engan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari. Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini! Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25!! 

 Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi,punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!!
Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan anda ? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!! Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki??
"Life is Beautiful"
"for He as made it beautiful for us"

Mari bersyukur atas indahnya hidup. Karena kita tidak pernah tahu apa yang DIA rencanakan untuk kita hari ini dan esok hari…

Gereja Katolik yang Satu, =Sebuah Mimpi Utopis=

(Parocus Paroki Bokin)

Kita sering mendengar kata-kata dalam katekese atau pendalaman iman: Gereja yg satu, kudus, katolik, dan apostolik. Mungkin kita hafal dan tahu menjelaskan semua kata kata tersebut, tetapi menghayati dan mempraktekkannya rasa saya kayaknya belum. Lebih konyol dan tragis lagi kalau kita sendiri tidak atau belum tahu sama sekali, maka bagaimana mungin kita bisa menghayati dan mempraktekkannya. Akan berlaku pepata Latin, "Nemo dat quod non habet", saya tidak bisa memberkan apa yang saya tidak punyai.

Kali ini saya tidak akan mengurainya satu per satu. Saya hanya ingin mengambil kata "Gereja yg satu". Gereja Katolik adalah Gereja yang satu, yakni Gereja Kristus sendiri, yang oleh Vatikan II dibahasakan dgn "Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus", di mana anggota-anggotanya tersebar di banyak tempat. Saya katakan "rasa saya" kita tidak mengerti dengan baik dan benar karena dalam praktek memang kita seperti itulah adanya. Lihatlah saja ketika pertemuan Paroki, masing-masing utusan rukun atau stasi berusaha berbicara dan memperjuangkan rukun atau stasinya sendiri. Lihatlah di satu paroki berdiri gedung gereja yang megah tetapi dalam paroki yang sama juga berdiri gedung gereja bagai kandang kerbau dengan atap nipa atau seng yang sudah bocor dan dengan dinding dan bangku bambu serta berlantai tanah. Lihatlah bagaimana terjadi gap yang sangat besar antara satu stasi atau paroki dengan stasi atau paroki yang lainnya. Ada paroki yang menyimpan uang milliaran sementara ada paroki yang pusing bagaimana berhemat supaya solar genset tidak habis hari itu dan masih cukup untuk hari esok. Inikah arti Gereja yang satu? Entahlah,...!!! Kita selalu lupa akan "Perintah" Yesus Kristus, "Pergilah, jadikanlah SEGALA bangsa menjadi muridKu,..." Yesus memerintahkan untuk menjadikan SEGALA BANGSA menjadi muridNya dan bukan suku atau kampung. Karenanya Vatikan II tidak mengenal kata "Gereja Katolik Toraja, atau Gereja Katolik Sangalla', atau Gereja Katolik Jawa, dst", tetapi menggunakan istilah "Gereja Kristus", untuk tidak mengkotak-kotakkan para murid Kristus di berbagai tempat di bumi ini di bawah satu pimpinan yang disebut pemimpin Gereja semesta yakni Sri Paus. Maka sekali lagi, mimpi Vatikan II dan khususnya mimpi Yesus Kristus untuk menjadikan "Gereja yg satu" kiranya akan menjadi mimpi utopis atau mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Karena masing-masing Gereja berpir untuk dirinya sendiri. 

Padahal Gereja yang satu itu menjadi Gereja yang hidup ketika masing-masing anggotanya saling memperhatikan berkat kesadarannya sebagai Gereja yang satu tersebut. Dan perhatikanlah ketika kita berbuat sesuatu dengan Gereja di luar wilayah Paroki kita. Kita seperti berbuat baik kepada tetangga kita (kalaupun rela) dan sama sekali tidak merasa berbuat untuk diri sendiri, karenanya kita tanpa sadar berhitung untung-rugi. Perhatikanlah bagaimana kita masih memposisikan diri sebagai yang lain dari sesama anggota Tubuh Mistik Yesus Kristus sendiri. Ketika hal itu yang terjadi maka Gereja tidak ubahnya dengan satu LSM raksasa yang peduli dengan sesamanya bukan karena kesadarannya dalam kesatuan Tubuh Mistik Kristus tetapi semata karena alasan kemanusiaan. Dan itu sungguh konyol dan tragis. Tetapi coba bayangkan ketika Anda keluar dari paroki Anda dan bergabung dengan umat setempat, apakah Anda pernah membayar uang pembangunan di tempat baru tersebut? Atau apakah Anda merasa sebagai orang asing dan diskriminasi pelayanan Sakramen dari imam setempat? Lalu mengapa kita memelihara Gereja yang terkotak-kotak? Atau mengapa kita seolah-olah mau berbuat kasih dengan model LSM?

Pengalaman saya minggu terakhir membuat saya semakin yakin dengan kecurigaan saya selama ini sebagai Gereja yang "belum" satu, orang lain tetap menjadi yang lain dan bukan sebagai bagian dari diri yang kita sebut "sesama". Ketika saya menelpon satu paroki untuk datang Misa dalam rangka penggalangan dana untuk paroki pedalaman, jawaban yang saya terima adalah "tidak bisa". Bahkan ada yang memang dengan nada guyon berkomentar, "Bagaimana kau bisa edit foto itu ya, mengambil foto longsor dan menempel foto pastoranmua,..." Dalam hati kecil saya terbayang betapa kata-kata suci dalam Kitab Suci sungguh-sungguh suci dalam budi dan hati. Dan kalau mau jujur dan mau berpikir pijik untuk apa saya mau capek-capek ke sana-ke mari yang bukan tidak mungkin dicap sebagai "pengamen" dan tukang minta-minta karena toh saya tidak akan selamanya tinggal di paroki yang satu? Tetapi sekali lagi aku hanya ingin menyadarkan umat tentang Gereja yang satu, yang harus memperhatikan antara yang satu dengan yang lainnya supaya cita-cita Gereja Vatikan II (tahun 1965) sebagai Tubuh Mistik Kristus sungguh-sungguh menjadi kenyataan dan bukan sekedar cita-cita, dan supaya Gereja Katolik sungguh-sungguh katolik bukan hanya dalam. Liturgi dan sakramen-sakramennya. Sudah saatnya dan tidak ada kata terlambat untuk meneriakkan dengan keras-keras apa yang mrnjadi tugas kita sebagai murid Kristus, yakni menjadi saksi dan terang di tengah-tengah dunia sesuai dengan fungsi dan kapasitas masing-masing. Dan kalau mau dilanjutkan pada refleksi yang panjang, tugas kemuridan kita bukan saja terbatas dalam lingkup Gereja, tetapi mencakup segala bangsa. Hanya saja semoga kita tidak salah mengerti kata "menjadikan segala bangsa muridKu", bukan berarti membaptis semua orang. 

Wou saya mulai terpancing untuk keluar dari renungan Gereja yang satu. Karenanya saya cukupkan sampai di sini dulu, lain kesempatan saya akan berbicara tentang tema yang lain. Mari menjadi Gereja yang satu dengan tidak menjadi yang lain bagi sesama.***


Santo Yusuf Pekerja, Pelindung para Karyawan


Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth. Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. 

Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat. 

Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. 

Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. 

Santo Yosef , doakanlah kami. Amin

SADAR LITURGI (bagian 1)


Memasuki Bulan Mei:
Bulan  Mei  adalah Bulan Liturgi Nasional (BLN).diharapkan supaya selama bulan Mei Liturgi mendapat perhatian lhusus:didalami, dirangcang, dan dilaksanakan dengan lebih baik. selama Bulan  Mei ,Blog Gereja Katedral Makassar akan memberikan beberapa artikel tentang Liturgi. semoga bermanfaat

Perayaan Ekaristi adalah perayaan KEHADIRAN Tuhan Yesus dan seluruh karya penebusanNya secara sakramental dalam Gerejanya (umat beriman). Sebagai perayaan kehadiran Tuhan, kitabisa memahami makna setiap bagian dari Perayaan Ekaristi.

Hal-hal yang perlu dipersiapan sebelum merayakan perayaan Ekaristi : 
Untuk menerima Kristus dalam komuni Ekaristi harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan Dosa.
Sebagai persiapan menyambut Sakramen ini, umat perlu memperhatikan pantang yang
diwajibkan Gereja (puasa 1 jam sebelum misa)
Tingkah laku dan pakaian yang pantas supaya terungkap penghormatan, kekhidmatan dan kegembiraan yang sesuai dengan saat dimana Kristus menjadi tamu kita.

AIR SUCI, Hal pertama yang dilakukan oleh umat Katolik pada saat mereka memasuki gereja : mencelupkan tangan kanan mereka ke dalam AIR SUCI dan membuat tanda salib. Ritual ini bertujuan untuk mengingatkan kita akan Sakramen Baptis. Kita dibaptis dengan air dan ditandai
dengan tanda salib. Juga sebagai simbol pembersihan rohani agar layak merayakan ekaristi.

BERLUTUT : Umat Katolik berlutut untuk menghormati altar dan menghormati kehadiran Kristus
dalam Tabernakel sebelum duduk di bangku gereja. Altar dihormati karena altar melambangkan tempat Yesus sendiri. Yesus yang telah wafat dan bangkit akan hadir di atas altar, Dia akan memberikan diriNYa kepada umat berupa makanan dan minuman. Sebagai lambang salam dan penghormatan kepada Kristus Sang Tuan Rumah,

MUSIK; NYANYIAN amat penting dalam liturgi. MUSIK yang menjadi sarana untuk memuliakan
Allah. NYANYIAN, melalui syair lagu, umat dibantu untuk mendalami misteri Kristus. Umat diajak untuk berpatisipasi aktif untuk bernyanyi dalam perayaan ekaristi.  Pemimpin Upacara: Hanya imam yang ditahbiskan secara sah dapat memimpin upacara Ekaristi dan mengkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus.
Sumber: Iman Katolik.com

MEMILIH NAMA BAPTIS


Sejarah Pemakaian Nama Baptis 
Nama baptis tidak saja memiliki arti religius, terkadang nama itu mempunyai makna simbolik pula. Misalnya, Rasul Petrus (artinya batu karang) sebelumnya bernama Simon. Sejak dulu, pemberian nama telah mendapat tempat penting dalam liturgi pembaptisan. Pada permulaan persiapan sudah didaftarkan nama yang hendak dipilih. Ini dijalankan pada abad ke-5 di Yerusalem, yaitu pada malam sebelum masa puasa dimulai.

Pada abad ke-3, Cyprianus mencatat bahwa sebagian orang Kristen memilih nama seorang rasul. Eusebius juga mencatat tentang lima orang Mesir yang melepaskan nama kafir mereka dan mempergunakan nama nabi dari Perjanjian Lama. Pada permulaan abad ke-4 barulah dimulai kebiasaan untuk memilih nama baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Yohanes Krisostomus dan Ambrosius-lah yang menganjurkan untuk mengambil nama Kristen pada pembaptisan. Maksudnya agar kita meneladani orang kudus yang kita pakai namanya, serta menjadikannya pendoa bagi kita di hadapan Tuhan. Meskipun sudah mendapat nama seorang kudus, sering dalam hidup sehari-hari orang masih menggunakan nama kafirnya.

Sebelum tahun 1000, nama Yohanes Pembaptis jarang dipilih. Nama ini mulai sering dipakai pada abad ke-11. Terutama pada abad ke-14 dan ke-15, orang banyak memilih nama dari Kitab Suci. Dari pihak Gereja, dianjurkan untuk memilih nama seorang santa / santo pelindung pada pembaptisan. Dalam Rituale Romanum 1514 dikeluarkan ketentuan agar imam tidak menerima nama yang tidak pantas atau nama dari seroang dewa / dewi. Sedapatnya, seorang yang dibaptis mengambil nama seorang kudus agar didorong untuk hidup seturut teladan orang kudus yang ia pilih namanya dan menjadikan orang kudus tersebut pendoa baginya di hadapan Tuhan.

Di daerah misi, kadang-kadang pemilihan nama menimbulkan kesulitan. Pada tahun 1704 delegatus kepausan mengunjungi tanah misi Cina dan India. Ia menetapkan agar orang yang masuk agama Katolik (beserta anak-anak mereka) pada saat pembatisan wajib mendapat nama Kristen. Kitab Hukum Kanon (tahun 1983) dengan jelas menyebutkan bahwa tidak wajib memilih nama seorang kudus pada pembaptisan, sepanjang nama yang dipakai memiliki suatu makna kristiani atau martabat kekudusan ilahi, misalnya Fiat, Iman, Suci atau Natalia.

Menurut tradisi Gereja, pada kesempatan-kesempatan lain juga orang diberi nama baru, misalnya pada Penguatan. Sejak abad ke-11, pada saat dipilih seorang Paus juga mengambil nama baru. Tradisi ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh Paus Yohanes II pada tahun 532. Juga, sejak abad ke-6, bila seseorang masuk biara, ia mengambil pula suatu nama baru. Maksudnya agar dalam hidup religius ini terjadi suatu perubahan radikal dalam hidupnya.

Panduan Memilih Nama Baptis.
Pernah ada seorang calon baptis yang biasa dipanggil Mumu, menghadap saya untuk bertanya tentang nama baptisnya. Mumu adalah salah satu katekumen yang menonjol dalam kedalaman hatinya dan kepribadiannya. Semangat untuk memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan dan doa-doa kristiani juga cukup menonjol. Nama sebenarnya sesuai akte lahir adalah Muh***ad. Ketika ditanya hal itu kening saya langsung berkerut, karena mencoba mencocok-cocokkan nama-nama baptis yang saya ingat, ternyata memang tidak ada yang cocok. Terus bagaimana? Dapatkah Anda memberi saya saran tentang Nama Baptis yang cocok baginya? Syukurlah kini ia telah dibaptis dan hidup berbahagia menjadi keluarga Katolik di Jakarta Timur sana. 
Memang ada kalanya beberapa katekumen menjelang penerimaan baptisan bertanya kepada saya tentang nama baptis yang akan mereka sandang, biasanya mereka memiliki beberapa pilihan. Lalu saya mencoba memberikan beberapa pandangan saya untuk membuat emreka dapat memilih sendiri Nama Baptis yang terbaik bagi mereka. 

Memilih Nama Baptis, memang susah-susah mudah. Mungkin akan mudah bagi kita yang telah dibaptis, tapi tetap merupakan pilihan sulit bagi yang baru akan dibaptis (khususnya calon baptis dewasa). Secara mereka telah mengerti dan memahami serta ingin mencari arti nama/makna yang baik bagi diri mereka sendiri.
Untuk memilih Nama baptis dapat dipakai beberapa cara sebagai berikut :
Berdasarkan tanggal/bulan kelahiran atau tanggal pembaptisan dilaksanakan. Misalnya untuk yang lahir dibulan Agustus dapat memilih Agustinus, atau yang dibaptis bulan Desember menjelang hari raya Natal mempergunakan nama baptis Natalia
Dipilih nama orang kudus sebagai pelindung profesi calon bersangkutan atau nama orang kudus yang berprofesi sama dengan calon yang bersangkutan. Misalnya untuk yang bekerja atau memiliki usaha perkayuan, meubel, furnitur dapat mempergunakan nama baptis Yosep / Yusuf (ayah duniawi Yesus, seorang tukang kayu)

Dipilih nama orang kudus yang semangat, spiritualitas dan karyanya menjadi inspirasi dan sumber semangat calon baptis yang bersangkutan. Misalnya bila yang memiliki spiritualitas hidup sederhana yang mendalam dapat memilih nama St. Theresia Lisieux, atau yang punya semangat sosial untuk berbagi kepada sesama dapat memilih nama St. Fransiskus Asisi
Nama-nama orang kudus (Santo/santa) dapat dilihat di Puji Syukur di halaman paling belakang, atau yang lengkap di buku merah Orang Kudus Sepanjang Tahun. Atau bila Anda mau yang gratis dan online dan lengkap dan bisa dilihat setiap saat, Anda dapat melihat dan mencarinya di Indocell.net/yesaya di bagian Kalender Liturgi. Di sana bisa dilihat Nama-nama orang kudus yang dirayakan setiap hari dan langsung dapat melihat kisah hidupnya dengan mengklik link nama orang kudus tersebut.

Metode apapaun yang dipakai, biasanya saya pribadi meminta pada setiap calon baptis untuk menulis kisah hidup santo/santa yang akan dipergunakan namanya untuk nama baptis. Dengan ini paling tidak telah diketahui bahwa yang bersangkutan telah membaca kisah hidupnya dan “berkenalan” dengan spiritualitas santo/santa yang bersangkutan. Harapannya adalah calon baptis tersebut dapat meneladani hidupnya atau hidup sesuai semangat hidup santo/santa pelindungnya atau menjadi sumber inspirasi baginya atau memohon doa kepada santo/santa pelindungnya. Ini saya lakukan karena serng terjadi katekumen (calon baptis) memilih nama baptis yang terlihat / terdengar keren/beken tanpa mengetahui kisah hidupnya. Jangan sampai terjadi karena menganggap suatu nama keren lalu sembarangan sehingga nama obat batuk atau nama suatu penyakit menjadi nama baptis......

Kita semua yang telah dibaptis mempunyai nama baptis, dari seorang martir atau seorang kudus lainnya. Apakah kita mengenal orang kudus yang kita pakai namanya itu? Apakah kita tahu riwayat hidupnya? Jika ya, apakah kita juga sudah berusaha hidup seturut teladannya? Baiklah kita sering mohon bantuan doanya agar ia mendoakan kita di hadapan Tuhan. Dan jangan lupa hari pesta santa / santo pelindungmu.
Sumber: yesaya.indocell.net

Aku menjadikan segalanya baru


HARI MINGGU PASKAH V/C
Oleh: Pastor  Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 14:21b-27; Why. 21:1-5a; Yoh. 13:31-33a,34-35

Mungkin ada di antara kita yang kadang-kadang merasa seakan dunia kita ini diterlantarkan oleh Allah. Bumi seakan berputar tanpa arah. Apalagi kalau kita melihat ke dalam sejarah umat manusia tampak bahwa sejarah manusia itu dipenuhi oleh darah, keringat dan air mata. Tetapi bacaan-bacaan hari ini mengajak kita bertanya: benarkah kita diterlantarkan oleh Allah? Bukankah Allah akan membuat segalanya sempurna dan baik? 

Pasti banyak orang menganggap pertanyaan ini sebagai pertanyaan retorika, pertanyaan basa-basi! Bagi banyak orang, bahkan agama itu merupakan sebuah ilusi, laksana fatamorgana di padang gurun, hanya merupakan suatu tipuan pandangan. Agama dianggap menipu dan membiaskan pandangan kita dari masalah yang nyata. Inilah yang dimaksudkan Lenin, tokoh komunis itu, ketika ia mengatakan: orang-orang Kristen sibuk menatap ke langit tetapi lupa untuk melihat ke bumi. Para pengikut Lenin menganggap bahwa mereka adalah orang-orang realistis. Yang paling penting bagi mereka adalah bekerja, menghasilkan dan menikmati. Pertanyaan akan makna tidak mendapatkan tempat. 

Tetapi pengalaman banyak orang  menunjukkan bahwa kesuksesan materil bukanlah segalanya. Dunia dipandang tidak hanya dipenuhi oleh penderitaan, upaya dan pengorbanan serta penikmatan hasil material. Banyak orang merasakan bahwa masih ada hal-hal lain yang tersembunyi di balik semua yang tampak secara kasat mata itu. Sebagian orang melihat ada kemungkinan untuk membangun masyarakat dan dunia yang baru yang dipersatukan di dalam perdamaian. Mereka mengimpikan suatu dunia yang baru yang diciptakan oleh manusia, di mana tidak akan ada lagi ketidakadilan. Kedamaian akan ada di mana-mana. Tetapi rancangan ini seperti rancangan pembangunan menara Babel, bila mana hanya merupakan rencana manusia saja. Impian yang demikian itu penting. Namun selalu gagal karena hanya dipikirkan dan dirancang oleh manusia sendiri. 

Karena kegagalan dalam usaha bersama seperti itu, maka bagi banyak orang keheningan dan meditasi dianggap sebagai tempat pengungsian. Kita dapat melihat hal ini di dalam banyak gerakan keagamaan sepanjang sejarah. Intinya adalah untuk menemukan kedamaian untuk diri sendiri. Saya hanya tertarik akan ketenteraman diriku sendiri. Kenapa saya harus pusing tentang yang lain, tentang masyarakat, tentang negara dan bangsa? Tetapi bertindak seperti itu tidak akan mungkin untuk mengubah situasi dunia ini. 

Santo Yohanes, pengarang kitab Wahyu, mengungkapkan sesuatu yang sama sekali lain. Ia tidak setuju dengan pandangan-pandangan tadi, dan mengungkapkan dalam bacaan kedua hari ini, bahwa tidak ada gerakan mundur. Perkembangan dunia ini selalu bersifat linear, menuju kepada terciptanya suatu dunia yang baru. “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Allah adalah Allah dari semua ciptaan. Ia adalah awal dan akhir, Alpha dan Omega. Ia ada pada awal hidupku sampai pada akhirnya. Ia memberikan kepada kita ketekunan dan daya tahan dalam proses perkembangan itu. Kita tidak akan pernah dapat takut kepada masa depan, karena Allah sendirilah masa depan itu. Ia begitu dekat dengan kita di dalam Yesus Kristus. Allah adalah cinta. Cinta itu tidak mengenal pengecualian dan batas. Cinta yang sejati tidak berakhir dengan kematian. Allah tidak pernah menelantarkan kita. Itulah yang kita imani. Dan inilah yang kita wartakan kepada dunia, dan berusaha mewujudkannya dengan sepenuh tenaga kita. Karena itu kita haruslah menunjukkan cara hidup alternatif terhadap cara berpikir umum. Kita memang tidak tertutup terhadap dunia dan tidak mengeluarkan diri kita dari dunia, karena dunia juga ada di dalam diri kita. Kita adalah bagian dari dunia itu. Hasrat kita adalah untuk menghidupi cinta ilahi yang telah kita terima dan membawa perdamaian dan cinta itu kepada dunia. Kita tidak dapat mewujudkan hal itu seluruhnya, tetapi sekurang-kurangnya kita dapat ikut berpartisipasi mewujudkannya seturut kemampuan dan tenaga kita. 

Allah telah memberikan suatu tanda kepada dunia di dalam Dia yang tersalib dan dibangkitkan kembali dari antara orang mati. Ia mendekati kita. Ia telah mengalami salib, kesakitan, penderitaan dan kematian. Ia telah mengalami semua ini. Di dalam penderitaanku dan di dalam penderitaan dunia, Allah hadir. Ia menderita karena cintaNya. Dengan mengalahkan kematian, Ia juga telah mengesampingkan semua pikiran negatif manusia. Ia hidup untuk mewartakan bahwa kematian bukanlah kata akhir. Di dalam jaminan iman ini, kita dimampukan untuk menghadapi hidup maupun mati kita. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik (Rom 14:8). **pt

Selasa, 23 April 2013

MEMBERIKAN TANPA BERSUNGUT-SUNGUT

Memberi adalah merelakan apa yang sesungguhnya masih dibutuhkan dan bukan apa yang tidak lagi dipedulikan (Kawasan Wajib Bahagia)
Gereja yang hidup adalah Gereja yang saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Lewat baptisan, semua umat Katolik menjadi Gereja. Dan seperti kita ketahui bahwa Konsili Vatikan II (1965) merumuskan bahwa derita dan kegembiraan Gereja di manapun merupakan derita dan kegembiraan Gereja universal.
Saat ini, dengan tidak bermaksud untuk mengamen, tetapi sekadar mengingatkan tentang peran dan fungsi dan tanggungjawab masing-masing dari kita sebagai Gereja-gereja yang hidup, kami melaporkan kepada Anda yang merasa sebagai saudara dalam Yesus Kristus bahwa peran serta Anda dinantikan dalam pembangunan kembali reruntuhan longsor Pastoran Bokin, Paroki Santa Maria Bokin Tombang Lambe’, Toraja Utara, yang mau tidak mau harus segera dibenahi demi menghindari kerusakan dan resiko yang lebih buruk.
Bagi Anda yang mau berpartisipasi sebagai salah satu murid Kristus, silahkan menyalurkan donasi Anda kepada kami:

KAS PAROKI TOMBANGLAMBE’
QQ YANS PAGANNA’, PR.
BRI Cabang Rantepao – Toraja Utara
No. 0232-01-015420-50-3

Salam, Tuhan Berkati
(Parocus Sta.Maria Bokin)

Catatan: Semoga Anda tidak memberi dengan bersungut-sungut; karena apa yang ditanam itulah yang dituai.***

YANG HIDUP MEMBIARA BUKANLAH ORANG TERBUANG TAPI PEJUANG KARYA PENYELAMATAN KRISTUS

Foto: YANG HIDUP MEMBIARA BUKANLAH ORANG TERBUANG TAPI PEJUANG KARYA PENYELAMATAN KRISTUS 

Ada seorang anak kecil yang senang mengikuti kegiatan di gereja, bahkan setelah dipermandikan ketika masih kelas 5 SD, dia langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjadi imam setelah melihat sosok Pastor Mardi Suwignyo di Klaten yang menjadi idolanya.

Meski sakit atau dalam keadaan apa saja, kalau diminta untuk melayani pastor itu tetap melayani. “Perlahan-lahan benih panggilan tumbuh dalam diri saya” melihat teladan itu, kata Pastor Yohanes Suparto Pr, pamong Seminari Stella Maris Bogor.

Sharing itu diungkapkan oleh Pastor Suparto dalam kotbah Misa Hari Minggu Panggilan yang dirayakan di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, tanggal 21 April 2013. Imam itu datang ke paroki itu bersama 25 murid seminarinya dan empat frater CICM yang semua live-in di sana.

Keinginan masuk seminari sempat “ditolak’ ibunya. “Mungkin mama melihat saya kecil dan mungkin merasa kasihan sedangkan ayah saya mengikuti apa yang menjadi pilihan anaknya,’’ cerita imam itu, yang kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris Bogor.

Setelah ditahbiskan imam di Katedral Bogor, tanggal 18 Juni 2010, Pastor Suparto mendapat tugas satu setengah tahun di Sukabumi, Jawa Barat, dan bulan Januari 2012 dia dikembalikan ke Seminari Stella Maris Bogor sebagai pamong.
 
Baru tiga tahun usia imamatnya, namun pastor yang suka olahraga itu menuturkan bahwa pengalaman hidupnya menyimpan banyak misteri kasih Allah dan cinta Tuhan bertabur dalam seluruh hidupnya. “ Adakalanya Tuhan memberikan apa yang diinginkan bahkan lebih dari apa yang diminta,’’ tuturnya.
 
Dalam Misa yang dimeriahkan dengan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para seminarisnya, imam itu mengajak umat untuk semakin bersemangat dalam hidup menggereja. “Iman umat harus bertumbuh. Dari sana akan tumbuh panggilan yang akan disuburkan oleh Tuhan,” kata Pastor Suparto.
 
Selesai Misa umat diajak mengunjungi stand pameran di halaman gereja, menyaksikan atraksi hiburan yang dipersembahkan oleh umat paroki HSPMTB dan para seminaris yang melakukan live-in di paroki itu sejak 20 April 2013. Hadir juga dalam Misa itu para suster Jesus Maria Josep (JMJ) dan para suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang berkarya di wilayah paroki itu.

Para seminaris dan orang lain yang memilih hidup membiara, tegas imam itu, bukanlah orang-orang yang terbuang “melainkan orang yang sungguh-sungguh berjuang demi karya penyelamatan Kristus.”
 
Imam itu menjelaskan tiga kelompok yang melanjutkan karya keselamatan yakni klerus (para pastor), hidup bakti (suster dan bruder) serta awam yang saling mendukung satu dengan lainnya. “Di antara ketiga kelompok itu yang digolongkan panggilan khusus adalah kaum klerus dan hidup bakti. Artinya Tuhan memanggil mereka secara khusus untuk bekerja secara totalitas melayani Tuhan dalam bidang pelayanan masing-masing.”
 
Keluarga, tegas Pastor Suparto, perlu mendukung panggilan putera-puterinya khususnya untuk menjadi imam, suster atau bruder. “Tuaian memang banyak namun pekerjanya sedikit.” Perikop itu, jelas imam itu, menandakan bahwa semua orang yang telah dibaptis dipanggil untuk meluaskan Kerajaan Allah, dan mewartakan Kabar Suka Cita kepada siapa pun termasuk dalam lingkungan keluarga, pekerjaan dan masyarakat.
 
Menumbuhkan panggilan hidup membiara sesungguhnya tidak lepas dari dukungan orangtua bahkan sangat diperlukan, tegas imam itu.***Ada seorang anak kecil yang senang mengikuti kegiatan di gereja, bahkan setelah dipermandikan ketika masih kelas 5 SD, dia langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjadi imam setelah melihat sosok Pastor Mardi Suwignyo di Klaten yang menjadi idolanya.

Meski sakit atau dalam keadaan apa saja, kalau diminta untuk melayani pastor itu tetap melayani. “Perlahan-lahan benih panggilan tumbuh dalam diri saya” melihat teladan itu, kata Pastor Yohanes Suparto Pr, pamong Seminari Stella Maris Bogor.

Sharing itu diungkapkan oleh Pastor Suparto dalam kotbah Misa Hari Minggu Panggilan yang dirayakan di Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, tanggal 21 April 2013. Imam itu datang ke paroki itu bersama 25 murid seminarinya dan empat frater CICM yang semua live-in di sana.

Keinginan masuk seminari sempat “ditolak’ ibunya. “Mungkin mama melihat saya kecil dan mungkin merasa kasihan sedangkan ayah saya mengikuti apa yang menjadi pilihan anaknya,’’ cerita imam itu, yang kemudian melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Stella Maris Bogor.

Setelah ditahbiskan imam di Katedral Bogor, tanggal 18 Juni 2010, Pastor Suparto mendapat tugas satu setengah tahun di Sukabumi, Jawa Barat, dan bulan Januari 2012 dia dikembalikan ke Seminari Stella Maris Bogor sebagai pamong.

Baru tiga tahun usia imamatnya, namun pastor yang suka olahraga itu menuturkan bahwa pengalaman hidupnya menyimpan banyak misteri kasih Allah dan cinta Tuhan bertabur dalam seluruh hidupnya. “ Adakalanya Tuhan memberikan apa yang diinginkan bahkan lebih dari apa yang diminta,’’ tuturnya.

Dalam Misa yang dimeriahkan dengan lagu-lagu yang dipersembahkan oleh para seminarisnya, imam itu mengajak umat untuk semakin bersemangat dalam hidup menggereja. “Iman umat harus bertumbuh. Dari sana akan tumbuh panggilan yang akan disuburkan oleh Tuhan,” kata Pastor Suparto.

Selesai Misa umat diajak mengunjungi stand pameran di halaman gereja, menyaksikan atraksi hiburan yang dipersembahkan oleh umat paroki HSPMTB dan para seminaris yang melakukan live-in di paroki itu sejak 20 April 2013. Hadir juga dalam Misa itu para suster Jesus Maria Josep (JMJ) dan para suster dari Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) yang berkarya di wilayah paroki itu.

Para seminaris dan orang lain yang memilih hidup membiara, tegas imam itu, bukanlah orang-orang yang terbuang “melainkan orang yang sungguh-sungguh berjuang demi karya penyelamatan Kristus.”

Imam itu menjelaskan tiga kelompok yang melanjutkan karya keselamatan yakni klerus (para pastor), hidup bakti (suster dan bruder) serta awam yang saling mendukung satu dengan lainnya. “Di antara ketiga kelompok itu yang digolongkan panggilan khusus adalah kaum klerus dan hidup bakti. Artinya Tuhan memanggil mereka secara khusus untuk bekerja secara totalitas melayani Tuhan dalam bidang pelayanan masing-masing.”

Keluarga, tegas Pastor Suparto, perlu mendukung panggilan putera-puterinya khususnya untuk menjadi imam, suster atau bruder. “Tuaian memang banyak namun pekerjanya sedikit.” Perikop itu, jelas imam itu, menandakan bahwa semua orang yang telah dibaptis dipanggil untuk meluaskan Kerajaan Allah, dan mewartakan Kabar Suka Cita kepada siapa pun termasuk dalam lingkungan keluarga, pekerjaan dan masyarakat.

Menumbuhkan panggilan hidup membiara sesungguhnya tidak lepas dari dukungan orangtua bahkan sangat diperlukan, tegas imam itu.***

APA ITU SEMINARI?


1. Apakah Seminari itu?
Kata seminari berasal dari kata Latin ‘semen’ yang berarti ‘benih atau bibit’. Seminari berasal dari kata Latin ‘seminarium’ yang berarti ‘tempat pembibitan, tempat pesemaian benih-benih’. Maka, seminari lalu berarti: sebuah tempat [tepatnya sebuah sekolah yang bergabung dengan asrama: tempat belajar dan tempat tinggal] di mana benih-benih panggilan imam yang terdapat dalam diri anak-anak muda, disemaikan, secara khusus, untuk jangka waktu tertentu, dengan tatacara hidup dan pelajaran yang khas, dengan dukungan bantuan para staf pengajar dan pembina, yang biasanya terdiri dari para imam / biarawan. Adapun kata ‘seminaris’ menunjuk pada para siswa yang belajar di seminari tersebut. Dari lintas sejarah gereja, kita mengenal seminari yang klasik, yakni serentak sebagai sebuah sekolah di mana para seminarisnya belajar di dalam kompleks seminari, entah sebagai sebuah SMP atau SMU, dan sekaligus sebagai asrama di mana mereka tinggal dan hidup dari hari ke hari. Namun, seiring perkembangan waktu, demi alasan praktis dan demi juga kehidupan masa remaja yang alamiah, maka ada seminari modern di mana para seminaris mengikuti pendidikan SMP atau SMUnya di sekolah lain di luar kompleks seminari, namun mereka tinggal di dalam seminari sebagai asrama dan mengikuti pelajaran pelajaran dan pembinaan khusus yang dibutuhkan oleh setiap calon imam.

2. Mengapa ada Seminari Menengah dan Seminari Tinggi?  
Wah, bukan hanya seminari menengah dan tinggi saja, ada juga seminari ‘kelas persiapan atas’ bahkan ada juga seminari ‘Tahun Orientasi Rohani’. Apa maksudnya?
Seminari Menengah yang ada di Indonesia masih dibedakan lagi atas: 
Seminari Menengah tingkat SMP  yakni yang menerima para seminaris sesudah mereka menamatkan SD. Di sini mereka belajar selama 3 tahun, mengikuti kurikulum SMP pada umumnya, ditambah dengan beberapa materi pelajaran khas Seminari. Kita masih memiliki beberapa Seminari Menengah tingkat SMP, yakni di Tuke Keuskupan Denpasar, di Maumere untuk Keuskupan Agung Ende, di Kisol untuk Keuskupan Ruteng, di Saumlaki untuk Keuskupan Ambon, dan nanti di Aimas untuk Keuskupan Sorong.
Seminari Menengah untuk tingkat SMU  adalah yang paling umum di Indonesia. Para siswa diterima sesudah mereka menamatkan SMP. Di sini mereka mengikuti 3 tahun pendidikan memenuhi kurikulum pemerintah plus kurikulum Seminari, sekaligus dengan tambahan 1 tahun, entah pada tahun pertama memasuki Seminari [disebut KPB: Kelas Persiapan bawah] atau nanti ditambahkan sesudah melewatkan 3 tahun pendidikan SMUnya [disebut KPA: kelas persiapan akhir].
Seminari Menengah KPA [Kelas Persiapan Atas]  adalah sebuah seminari yang melayani mereka yang disebut mengalami ‘panggilan terlambat’, artinya yang memutuskan menjadi calon imam sesudah menamatkan SMU, bahkan sementara atau sesudah kuliah ataupun bekerja. Mereka mengikuti pembinaan khusus minimal selama 1 tahun dan berdasarkan kebutuhan ada yang sampai 2 tahun.
Seminari Tahun Orientasi Rohani [TOR]  adalah sebuah tempat pembinaan khusus benih-benih panggilan bagi mereka yang telah menamatkan Seminari Menengah tingkat SMU atau Seminari Menengah KPA, dan yang memilih menjadi calon imam diosesan atau imam praja. Selama setahun mereka mengalami pembinaan khusus di bidang kepribadian dan kerohanian sekaligus untuk lebih mengenal dan menghayati seluk beluk imam diosesan.
Seminari Tinggi adalah jenjang pembinaan terakhir dari para calon imam sesudah mereka mengikuti Seminari Tahun Orientasi Rohani. Biasanya pendidikan yang ditempuh di sini selama 6 tahun kuliah ditambah 1 tahun praktek Tahun Orientasi Pastoral.

3. Jadi berapa tahun dibutuhkan untuk menjadi imam?
Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMP, maka ia memerlukan: 3 tahun seminari menengah tingkat SMP, 3 tahun seminari menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 14 tahun. Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat SMU maka ia memerlukan: 4 tahun Seminari Menengah tingkat SMU, 1 tahun seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 12 tahun.
Jika calon imam ini mulai masuk Seminari Menengah tingkat KPA maka ia memerlukan minimal: 1 tahun Seminari Menengah tingkat KPA, 1 tahun Seminari TOR dan 7 tahun Seminari Tinggi: totalnya 9 tahun. Hukum Gereja memberikan kemungkinan bagi mereka yang mau menjadi imam sesudah mengikuti pendidikan akademis yang memadai untuk tidak mengikuti seluruh tuntutan pembinaan mulai dari Seminari Menengah KPA, TOR dan Seminari Tinggi. Uskup dapat memberi dispensasi -sesudah penyelidikan yang matang- untuk mengikuti pendidikan filsafat dan teologi saja, bahkan juga untuk tidak tinggal di seminari sebagaimana lazimnya.

4. Apa saja yang dipelajari di masing-masing tingkatan Seminari tadi?
Secara umum materi yang diprogramkan pemerintah untuk setiap jenjang pendidikan harus dipelajari oleh para seminaris sesuai tingkat masing-masing, entah SMP, SMU, Perguruan Tinggi. Adapun materi binaan tambahan pada umumnya adalah: Pengetahuan Agama Katolik, Sejarah Gereja, Kitab Suci, Liturgi, Kepribadian, Etiket / Pergaulan, Psikologi Perkembangan, Public Speaking, tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Latin dan bahasa pilihan lainnya, Musik / Kesenian Gereja, Kebudayaan, Pastoral, Katekese, Hidup Berkomunitas, Panggilan dan Motivasi, Bina Kepribadian, Bimbingan Rohani, dll. Jadi di sela-sela mengikuti kurikulum pemerintah, para seminaris harus menyisihkan waktu untuk memenuhi kurikulum seminari. Pendidikan di seminari semuanya diterapkan dengan disiplin yang prima, sekaligus tidak kaku dan mematikan, tetap menghormati hak asasi manusia, demokratis dan kristiani. Seluruh pembinaan di Seminari tidak lepas dari 4 kerangka dasar ini yakni membantu peningkatan pemberdayaan dan kemampuan tiap seminaris dalam bidang: kemanusiaan / kepribadiannya, akademi / intelektualnya, kerohanian / spiritualitasnya dan kecakapan serta keterampilan berpastoral.

5. Khusus untuk seminari menengah, apakah anak-anak tidak terlalu kecil untuk dapat memutuskan bahwa ia ingin menjadi seorang imam? Apakah anak bukan korban keinginan orang tua? Jika demikian, apakah dapat disebut sebagai panggilan?
Ketika Mgr. Jose Galvez, Sekretaris Jendral dari Serikat Kepausan untuk Seminari di Roma, mewawancarai seorang siswa seminaris tingkat SMP di Seminari Roh Kudus, Tuke, Denpasar, ia mendapat jawaban ini dari seorang seminaris: Saya ingin sekali sejak usia dini memberikan diri dan cita-cita saya pada imamat. Anak ayam pun masih kecil tetapi ia sudah mulai mencari makanannya sendiri demi masa depannya. Jawaban polos ini dapat menjelaskan mengapa seminari menengah tingkat SMP itu perlu dan penting. Ini juga bukti bahwa panggilan Tuhan mulai terasa pada jenjang usia manapun dan tugas Gereja memberi tempat pada panggilan itu. Manfaat lain dari pendidikan dini ini ialah: motivasi panggilan bisa menjadi lebih kuat, pengenalan akan imamat bisa lebih lama dan mendalam, budaya belajar dan hidup rohani bisa lebih terbina lewat rentang waktu yang lama dan berkontinuitas.
Namun tak dapat disangkal bahwa ada juga catatan kritisnya, yakni anak-anak terlalu cepat dipisahkan dari keakraban keluarga dan dari pergaulan yang alamiah dengan sesama anak remaja puteri, hal mana bisa mengakibatkan ketidakmatangan afeksi mereka di kemudian hari. Adalah tanggung jawab, peran dan tugas gereja dalam hal ini staf seminari untuk menangkal bahaya negatif, sekaligus meningkatkan manfaat positif yang ada. Untuk itulah peranan pembimbing rohani pribadi di seminari sangatlah penting, demikian juga peranan para staf pembina, baik rektor maupun sesama imam lainnnya. Mereka bertugas memurnikan motivasi panggilan para seminaris, membantu mereka menolong dirinya sendiri untuk keluar dari kekurangan yang ada, menolong mereka untuk tiba pada keputusan yang matang dan sendiri mengambil keputusan untuk menjadi imam atau tidak. Peran tak tergantikan tetaplah pada anak itu sendiri dalam penentuan akhir sehingga ia dengan bebas dan tanpa paksaan orang tua / paroki ataupun staf mengambil kata akhir dalam terang dan tuntunan Roh Kudus. Panggilan adalah anugerah dari Tuhan maka tidak dapat dipaksakan oleh manusia. 

dalam rangkah ulang tahun 60 Tahun Seminari Santo Petrus Claver Makassar, diselenggarakan beberapa kegiatan sebagai berikut:

Kamis, 18 April 2013

Menanggapi perayaan 50 tahun hari panggilan sedunia

MInggu Paskah VI – 21 April 2013 diperingati sebagai Hari Minggu Panggilan sedunia ke-50 dengan tema: “Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”, yang kebetulan terjadi pada Tahun Iman, yang menandai tahun ke-50 dimulainya Konsili Vatikan II.Ketika Konsili Vatikan II sedang berlangsung, Hamba Allah, Paus Paulus VI, menyatakan hari itu sebagai hari doa seluruh dunia kepada Allah Bapa, memohon kepada-Nya agar selalu mengutus para pelayan bagi Gereja-Nya(bdk. Mat.9:38).

Apa yang melatar belakangi diadakannya doa untuk memohon panggilan sedunia?
Paus Paulus VI dalam pesan radio tahun 1964 menekankan sedikitnya jumlah pekerja di ladang tuaian, sementara di sisi lain ada banyak kebutuhan pastoral, banyak tantangan dunia yang sedang di hadapi, banyak kebutuhan untuk menerangi jalan-jalan kehidupan dengan pendamping yang terbuka, yang memahami situasi, yang kontekstual serta yang jeli untuk menangkap tanda-tanda zaman beserta dengan permasalahan-permasalahan yang menyertainya.
Hal yang kedua yang ditekankan adalah bahwa manusia, sebagai homo socius, perlu untuk didampingi, dihibur, didengarkan dan dibantu untuk memahami Yesus kristus lewat katekase iman yang benar.
Dipilih hari minggu Paska IV, dengan tema pokok Gembala yang baik, agar kita bersama-sama berkumpul di depan altar dan memohon kepada yang punya tuaian agar berkenan mengirim pekerja-pekerja bagi Gereja-Nya.
Paus emeritus Benediktus XVI pada akhir masa jabatannya juga menekankan hal ini: kehidupan Gereja ada di dalam tangan Allah.

Pada hari minggu panggilan ini, sebenarnya bernama lengkap: hari doa untuk panggilan sedunia. Mengapa ditekankan kata doa?
Pada pesan hari doa untuk panggilan sedunia tahun 2013, ditekankan kembali kata doa ini karena pertama-tama, doa itu membangun komunitas.
Kedua, subyek karya pendampingan untuk panggilan adalah hati manusia. Maka, melihat bahwa hati manusia itu tidak stabil, dan hanya Allah saja yang dapat memenuhi kerinduan-kerinduannya yang terdalam, maka perlu ditekankan doa untuk membangun harapan kita berdasarkan iman. Kita sebagai pendamping hanya bisa membantu proses pematangan panggilan (kalau kita berbicara dalam konteks pendampingan) dan sebagian besar, karya Allah sajalah. Maka di sini, yang kita hidupi sebagai pendamping adalah pengharapan berdasar iman.
Mengapa doa? Hal ketiga adalah dengan doa kita memohon kedatangan Roh Kudus untuk membuka hati anak-anak muda agar mereka berani merencanakan masa depan bersama dengan Allah. Menjadi aktor imam, rahib, suster atau bruder itu berarti menempatkan diri selalu dalam tangan Allah. Bukan rencana-rencanaku, melainkan Kehendak-Mulah yang menjadi pegangan hidupku.

Profil imam bagaimana yang dibutuhkan oleh Gereja?
Secara keseluruhan, Gereja membutuhkan pengikut Yesus Kristus yang setia kepada-Nya di dalam Gereja katolik, sebagai mempelainya. Maka, menjadi tugas dan tuntutan bagi setiap orang katolik untuk bersaksi dengan kesetiaan iman yang dihayatinya. Surat kepada diognetus pada pertengahan abad kedua menyatakan bahwa umat katolik bagi dunia itu seperti jiwa di dalam tubuh fisiknya. Maka, hendaknya dia menjadi garam dan terang bagi dunia.
Berbicara tentang profil para “panggilan” yang dibutuhkan, saya cuplik-kan salah satu pesan Kunjungan Paus Benediktus XVI ke Cyprus, 5 juni 2010: Gereja membutuhkan para imam yang baik, yang kudus dan yang dipersiapkan dengan baik […] Gereja membutuhkan imam – religius yang berserah diri seutuhnya pada Allah dan mengabdikan dirinya untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia. Maka, tentu saja diperlukan para imam, religius, suster dan bruder yang taat pada kehendak Allah, setia kepada Gereja dan tidak mengikuti egoismenya pribadi serta arus-arus tertentu yang sedang meracuni dunia perlahan-lahan dari dalam (seperti egoisme, kebencian, kekerasan, ketidakpedulian pada orang lain, mengabaikan nilai-nilai luhur budaya yang berkarakter injili dst.)


Apa peran Gereja dalam proses panggilan seseorang (misalnya ketika satu anak ingin menjadi pastor)?
Untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan Gereja dan sekaligus tuntutan dunia, diperlukan kehadiran para pendamping dalam setiap proses panggilan. Dalam hal ini, perlu sebuah tim fasilitator panggilan.

Kalau ditanya, apa sih syarat untuk fasilitator panggilan ini?
Pertama-tama adalah mereka yang bahagia dan antusias akan panggilan yang sedang dihidupinya. Baik pastor, suster maupun awam (dengan profesi bermacam-macam, entah sebagai, guru, karyawan, pelayan toko, penyapu jalan, direktur, manager, satpam, pegawai bank, sekretaris dll). Kedua kata sifat di atas mau menekankan sebuah keyakinan bahwa mereka menyadari panggilan Allah dalam hidupnya serta tugas yang diembannya tersebut dihidupi dengan semangat kemuridan.
Kedua, orang yang mendampingi anak-anak yang harus membuat pilihan dengan cara seperti ini akan memberikan sebuah kesaksian yang meyakinkan.. dan dengan demikian kesaksiannya merupakan ungkapan iman yang terpercaya.
Berikutnya, perlu juga sebuah kemampuan untuk berelasi dengan kaum muda, memiliki jiwa yang mampu berbicara dari hati ke hati, terbuka, dekat dan memahami dinamika kehidupan kaum muda.
Ini semua perlu dilakukan dengan satu tujuan saja: agar karya Allah makin terealisasi dalam diri kaum muda dan agar mereka pun terbuka untuk masuk dalam logika memberikan diri secara total dan radikal kepada Allah dalam kehidupan imamat, kehidupan religius, atau kehidupan berkeluarga katolik yang baik.

Apa yang kamu pikirkan tentang kaum muda zaman sekarang? Apakah dalam situasi mereka yang sudah terimbas oleh dunia digital, mereka masih bisa memenuhi tuntutan Gereja?
Setiap orang adalah sebuah misteri rencana Allah bagi dunia. Di dalam misteri itu terkandung sebuah panggilan khusus, yang harus kita singkap masing-masing. Allah tidak berbicara secara langsung untuk mengatakan apa yang harus kita lakukan, melainkan, dengan merefleksikan tanda-tanda yang ada di dalam diri dan situasi-situasi yang terjadi di dunia sekitar, kita bisa melihat kurang lebih arah yang mau dicapai.
Setiap orang itu memiliki sebuah jalan yang khas, yang autentik dan berakar pada pengalaman cinta kasih. Ketika kaum muda mengalami krisis, kemana dia pergi? Kemana dia mengarahkan pikirannya? Apa yang dilakukannya? Apa yang dicarinya? Di sinilah pentingnya pengalaman hidup beriman di dalam keluarga, di dalam lingkungan atau beberapa keluarga yang berkumpul jadi satu untuk berdoa. Keindahan hidup beriman yang sehati dan sejiwa inilah yang akan menguatkan mereka.

Dalam pesan Kunjungan Paus Benediktus XVI ke Cyprus, 5 juni 2010 tadi digarisbawahi tentang Gereja membutuhkan para imam yang baik, yang kudus dan yang dipersiapkan dengan baik […] Gereja membutuhkan imam – religius yang berserah diri seutuhnya pada Allah dan mengabdikan dirinya untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia. Secara konkrit, bagaimanakah cara-cara yang ditempuh untuk mengaktualisasikan proyek hati atau proyek panggilan ini?
Pertama-tama musti kita sadari bahwa kita pun bertanggung jawab akan masa depan Gereja dengan memberikan pendampingan bagi kaum muda yang sedang membuat pilihan secara dewasa. Untuk memutuskan hal seperti ini, tidak bisa hanya dengan main kartu, tapi perlu proses dan pendampingan. Maka, perlu sebuah kerjasama tim antar para fasilitator panggilan dan mereka yang terlibat dalam proses.
Di paroki St. Matius Bintaro, Tim ini terdiri dari seksi panggilan, para guru di sekolah, seksi keluarga, kelompok koor anak-anak Gregorius Agung untuk memfasilitasi pertemuan doa seperti adorasi ekaristi bahkan juga para warga senior pun bisa dilibatkan sebagai kelompok doa. Kita ingat sekali lagi bahwa yang sedang kita kerjakan adalah hati manusia yang masih tidak stabil dan harus memutuskan sebuah pilihan tetap, sekali seumur hidup.
Maka, dalam pendampingan bagi kaum muda ini, di st. Matius Bintaro dibentuk sebuahsekolah panggilan dengan nama Come and See Club, dengan berinspirasi dari undangan Yesus Marilah dan kamu akan melihatnya (Yoh 1,39) atau dari keinginan orang-orang Yunani: kami ingin melihat Yesus (Yoh 12,21).

Apa yang menjadi tujuan dan program dari sekolah panggilan CSC (Come and See Club)ini?
Ada dua tujuan yaitu:
Memfasilitasi kaum muda untuk menemukan panggilan hidup beriman Katolik dan hidup membiara-imamat
Memfasilitasi dan menjaring kaum muda untuk menjalani panggilan hidup membiara – imamat
Mendampingi kaum muda dalam membuat pilihan dan membangun komitmen untuk menjalani hidup membiara / seminari.
Ada banyak program dalam satu tahun yang dibuat sesuai dengan kebutuhan: mulai dari perkenalan, kunjungan melihat berbagai jenis karya yang dilakukan para pastor dan suster, rekoleksi, talk show dengan mereka yang sudah mengambil keputusan dan menjalankan pilihan hidupnya, berziarah ke katedral, kunjungan ke seminari dan ke biara-biara serta retret panggilan untuk mereka yang siap untuk membuat keputusan.


formator xaverian – Bintaro

GEMBALA YANG BAIK


HARI MINGGU PASKAH IV
HARI MINGGU PANGGILAN ke 50
Oleh: Pastor  Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 13:14, 43-52; Why. 7:9, 14b-17; Yoh. 10:27-30;

Hari ini, hari Minggu Paskah IV dipersembahkan sebagai hari Minggu Panggilan. Ada banyak jenis panggilan kehidupan dalam hidup menggereja; tetapi yang dimaksudkan panggilan dalam hari Minggu Panggilan ini adalah panggilan khusus untuk menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Karena maksud itulah, maka bacaan Injil dengan sengaja diambil dari kisah Yesus sebagai Gembala Yang Baik. 
Sebagai Gembala Yang Baik, Yesus sering dilukiskan dalam foto lukisan sedang memeluk mesra seekor anak domba, atau memanggul seekor anak domba sambil tersenyum manis. Melihat gambar lukisan itu, pernah ada umat yang memberi komentar demikian, “seharusnya para gembala kita seperti gambar lukisan itu. Senantiasa memiliki hubungan yang akrab dan mesra dengan domba-dombanya; dan senantiasa mendukung dan memanggul domba-dombanya yang kelelahan dan kecapaian karena kehidupan harian yang tidak ringan”. Mendengarkan komentar seperti itu, saya hanya tersenyum sambil membuat suatu refleksi, “apa artinya memiliki hubungan yang akrab dan mesra dengan domba-dombanya? Apa artinya senantiasa mendukung dan memanggul domba-dombanya yang kecapaian dan kelelahan karena beban kehdiupan?”.
Ketika merenungkan pertanyaan refleksi itu, saya teringat ketika saya masih di SMP. Ketika itu, setiap liburan panjang, saya selalu menikmati liburan dan bermalam di rumah teman-teman saya di kampung-kampung. Pada saat itu, saya lebih menikmati kehidupan pedesaan dari pada suasana perkotaan. Karena itulah, kehidupan pedesaan dengan segala keterbatasannya bukanlah barang asing bagi saya. Teman saya memiliki beberapa ekor domba dan kambing yang harus digembalakan agar dapat makan rerumputan segar. Saya suka sekali ikut menggembalakan domba dan kambing itu. Ternyata, pekerjaan ini tidaklah semudah yang saya bayangkan. Dalam perjalanan ke tempat penggembalaan, teman saya harus sungguh-sungguh menjaga domba dan kambingnya, kalau tidak demikian maka mereka bisa jalan sendiri-sendiri ke arah mana mereka melihat sesuatu yang bisa dimakan. Akibatnya bisa fatal, karena para tetangga bisa marah-marah karena kebun sayurnya dimakan habis oleh domba dan kambing ini. Bukan hanya itu. Di antara mereka juga ada yang nakal dan suka berkelahi. Mereka yang nakal-nakal ini biasanya diikat lehernya dan dituntun agar tidak mengganggu yang lain. Ada juga domba dan kambing yang seperti bingung-bingung. Mereka berjalan, tapi tiba-tiba berhenti dan mengembik. Mereka biasanya dicambuk atau dipukul pantatnya dengan tangan agar jalan kembali. Pendek kata, ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika menggembalakan domba dan kambing. 
Kembali kepada gambar lukisan Gembala Yang Baik. Ada yang mengatakan bahwa domba yang dipeluk atau yang dipanggul itu adalah domba yang tersesat; setelah dicari dan diketemukan kembali, maka dia dipeluk atau dipanggul. Dan sang gembala bergembira karenanya (bdk. Mat. 18:12-14; Luk. 15:3-7). Anak domba itu tersesat, karena mau jalan sendiri;, mau mencari makan sendiri sehingga meninggalkan kelompoknya. Si anak domba dicari oleh sang gembala dan setelah diketemukan, dia dipanggul atau dipeluk dibawa pulang. Dia tidak diberi kesempatan untuk sementara waktu untuk berjalan sendiri, tetapi “dipaksa” dibawa pulang ke kelompoknya. Saya mengatakan “dipaksa” karena menggendong anak domba ternyata tidak mudah; dia suka memberontak dan berteriak menggembik ketika digendong.
Juga digambarkan dalam Kitab Suci bahwa para gembala itu membawa tongkat (bdk. Kej. 32:10; Bil. 7:2). Tongkat merupakan simbol penggembalaan. Tongkat ini berfungsi sebagai penopang perjalanan sang gembala, tetapi juga untuk mengusir anjing-anjing hutan yang menyerang domba-domba (bdk. 1Sam.17:47). Selain itu, tongkat ini juga berfungsi untuk “mendidik” domba-domba yang nakal, domba-domba yang hendak lari meninggalkan kelompoknya (bdk. Ams. 22:15). Karena itulah, para domba akan merasa aman dan terhibur dengan tongkat gembalanya (bdk. Mzm. 23:4)
Dari gambaran-gambaran di atas, maka refleksiku sedikit terjawab.  “Apa artinya memiliki hubungan yang akrab dan mesra dengan domba-dombanya? Apa artinya senantiasa mendukung dan memanggul domba-dombanya yang kecapaian dan kelelahan karena beban kehdiupan?”
Keakraban, kemesraan, dan dukungan kepada domba-domba berarti suatu situasi dan kondisi yang diciptakan bersama, antara gembala dan domba-dombanya, untuk menuntun domba-domba ke tujuan yang sejati, yakni padang rumput yang hijau; suatu keadaan kebahagiaan dan keselamatan sejati yang ditawarkan oleh Allah sendiri. 
Keakraban, kemesraan dan dukungan adalah situasi dan kondisi yang diciptakan bersama. Suatu suasana komunitas sejati. Tetapi tidak hanya berhenti pada suasana komunitas saja, melainkan harus melangkah kepada tujuannya, yakni kebahagiaan dan keselamatan sejati yang ditawarkan oleh Allah, bukan yang ditawarkan oleh dunia atau sebagian domba-domba saja.  Dalam hal inilah, sang gembala harus memiliki tujuan yang jelas. 
Yesus menunjukkan kesejatian-Nya dan kepedulian-Nya sebagai Gembala, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh.10:27), karena itulah, “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku”.
Semoga, domba-domba dan gembalanya saling membuka hati untuk menciptakan suasana komunitas agar kebahagiaan dan keselamatan dapat dinikmati oleh semua orang. 

PESAN BAPA SUCI PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN KE 50

PESAN BAPA SUCI
PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN KE 50
Hari Minggu Paskah IV - 21 April 2013

Tema:
Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman

Saudara-saudari yang terkasih.
Pada kesempatan Hari Doa Sedunia Untuk Panggilan Ke-50, yang dirayakan pada tanggal 21 April 2013, Hari Minggu IV Paskah, saya ingin mengajak Anda semua untuk merenungkan tema: “Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”, yang kebetulan terjadi pada Tahun Iman, yang menandai tahun ke-50 dimulainya Konsili Vatikan II. Ketika Konsili Vatikan II sedang berlangsung, Hamba Allah, Paus Paulus VI, menyatakan hari itu sebagai hari doa seluruh dunia kepada Allah Bapa, memohon kepada-Nya agar selalu mengutus para pelayan bagi Gereja-Nya(bdk. Mat.9:38). “Hal memiliki jumlah imam yang cukup”, demikian pernyataan Paus pada waktu itu, “berdampak langsung pada seluruh umat beriman: bukan semata-mata karena mereka bergantung pada jumlah imam tersebut terkait dengan masalah rohani umat Kristen di masa depan, melainkan karena persoalan ini menjadi indikator yang tepat dan tak dapat dihindari tentang dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap jemaat paroki dan keuskupan, sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati Injil dengan tulus” (Paus Paulus VI, Pesan Radio, 11 April 1964).

Selama beberapa dekade, berbagai jemaat Kristen di seluruh dunia berkumpul setiap tahunnya pada Hari Minggu IV Paskah, mereka bersatu dalam doa, memohon kepada Tuhan anugerah panggilan suci dan minta sekali lagi, sebagai bahan renungan bagi semua orang, betapa mendesak kebutuhan untuk menanggapi panggilan Illahi tersebut. Sungguh, peristiwa tahunan ini begitu penting dan meneguhkan suatu komitmen yang kuat untuk menempatkan betapa semakin pentingnya panggilan imam dan hidup bakti di tengah spiritualitas, doa dan karya pastoral umat beriman.

Harapan adalah penantian terhadap sesuatu yang positif di masa yang akan datang, namun pada saat yang sama harus dapat menopang keberadaan kita saat ini, yang sering kali ditandai oleh aneka ketidak-puasan dan kegagalan. Lantas didasarkan pada apakah harapan tersebut? Kalau menengok sejarah umat Israel, sebagaimana dikisahkan dalam Perjanjian Lama, kita melihat suatu hal yang selalu muncul secara konstan, khususnya pada masa-masa sulit seperti pada Masa Pembuangan, khususnya suatu hal yang ditemukan dalam tulisan-tulisan para Nabi, yaitu kenangan akan janji-janji Allah kepada para bapa bangsa: suatu kenangan yang mengajak kita untuk mengikuti teladan sikap Abraham, sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “percaya, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, bahwa dia akan menjadi ‘bapa banyak bangsa’, menurut apa yang telah dikatakan, ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu’” (Rom.4:18). Suatu kebenaran yang menghibur dan menerangi, yang muncul dalam seluruh sejarah keselamatan, tidak lain adalah kesetiaan Allah terhadap perjanjian yang telah Dia buat, membaharuinya bila manusia melanggarnya melalui ketidak-setiaan dan dosa mereka, sejak jaman Air Bah (bdk. Kej. 8: 21-22)hingga jaman Keluaran dan perjalanan melalui padang gurun (bdk. Bil. 9:7). Kesetiaan yang sama tersebut telah membawa Allah kepada meterai perjanjian baru dan kekal dengan manusia, melalui darah Putera-Nya, yang telah wafat dan bangkit kembali demi keselamatan kita.


Setiap saat, khususnya pada saat-saat yang paling sulit, kesetiaan Tuhan selalu menjadi kekuatan pengendali yang sejati sejarah keselamatan, yang membangkitkan hati pria dan wanita dan meneguhkan mereka dalam harapan bahwa pada suatu hari nanti akan mencapai “tanah terjanji”. Di sinilah kita menemukan dasar yang pasti dari setiap harapan: Allah tidak pernah meninggalkan kita dan Dia selalu benar terhadap Sabda-Nya. Karena alasan inilah, maka dalam setiap situasi, baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan, kita dapat menghidupi suatu harapan yang teguh dan bersama dengan pemazmur berdoa: “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang; sebab dari pada-Nyalah harapanku” (Mzm. 62:6). Oleh karena itu, memiliki harapan berarti sama dengan percaya kepada Tuhan yang adalah setia, yang selalu memelihara perjanjian-Nya. Dengan demikian, iman dan harapan berkaitan erat. “Harapan” adalah sebuah kata kunci dalam iman alkitabiah, sehingga dalam perikop-perikop tertentu, kata “iman” dan “harapan” nampak jelas digunakan secara bergantian. Dengan cara ini pula, maka Surat Ibrani menampilkan hubungan yang langsung antara “pengakuan akan harapan yang teguh” (10:23) dengan “kepenuhan iman” (10:22).Hal yang sama, ketika Surat Pertama Rasul Petrus mendesak orang-orang Kristen agar selalu siap untuk menyambut “logos” – arti dan alasan – harapan mereka (bdk. 3:15), “harapan” adalah sama dengan “iman” (Spe Salvi, 2).

Saudara-saudari yang terkasih, apa sebenarnya kesetiaan Tuhan itu dan kepada siapakah kita meletakkan harapan yang kokoh tak tergoyahkan itu? Tidak lain adalah Kasih-Nya. Dia, Bapa, mencurahkan Kasih-Nya ke dalam lubuk hati kita yang terdalam melalui Roh Kudus (bdk. Rom. 5:5).Dan Kasih Allah tersebut dinyatakan secara penuh dalam diri Yesus Kristus, yang terlibat dalam keberadaan kita dan menuntut suatu jawaban dalam arti apa yang dapat dilakukan oleh setiap individu dalam hidupnya sebagai pria maupun wanita dan apa yang dapat dia persembahkan untuk menghayati Kasih Allah tersebut secara penuh. Kasih Allah kadang-kadang hadir melalui cara-cara yang tidak pernah dibayangkan oleh seseorang sebelumnya, tetapi selalu dapat menjangkau orang-orang yang memang mau dijumpai oleh Kasih Allah tersebut. Harapan semacam itu dipelihara dengan kepastian ini, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan Kasih Allah kepada kita” (1 Yoh. 4:16). Kasih Allah yang begitu dalam dan menuntut ini, Kasih Allah yang meresap secara sempurna di bawah permukaan, memberi kita keberanian. Kasih Allah ini memberi kita harapan dalam peziarahan hidup kita dan di masa yang akan datang. Kasih Allah yang membuat kita percaya dalam diri kita, dalam sejarah dan dalam diri orang-orang lain. Saya ingin berbicara secara khusus kepada kaum muda dan saya katakan sekali lagi kepadamu: “Akan menjadi apakah hidupmu kalau tanpa Kasih Allah? Allah memelihara pria dan wanita sejak penciptaan hingga akhir zaman, ketika Dia akan membawa rencana keselamatan sampai kepada kepenuhannya. Di dalam Tuhan yang bangkit, kita memiliki harapan yang pasti” (Sambutan kepada kaum muda Keuskupan San Marino, Montefeltro, 19 Juni 2011).

Sebagaimana telah Dia lakukan selama hidup-Nya di dunia, demikian juga saat ini Yesus yang telah bangkit berjalan menyusuri lorong-lorong kehidupan kita dan melihat kita yang tenggelam dalam berbagai aktivitas dengan segala keinginan dan kebutuhan kita. Di tengah situasi lingkungan kehidupan kita, Dia terus berbicara kepada kita: Dia memanggil kita agar kita menghayati kehidupan bersama dengan Dia, karena hanya Dia-lah yang mampu memuaskan dahaga akan harapan tersebut. Dia tinggal di tengah komunitas para murid, yaitu Gereja, dan hingga hari ini Dia masih memanggil orang-orang untuk mengikuti Diri-Nya. Panggilan dapat muncul setiap saat. Hari ini juga Yesus terus-menerus berkata: “Datanglah ke mari, ikutilah Aku” (Mrk. 10:21). Menerima undangan-Nya berarti tidak lagi memilih jalan kita sendiri. Mengikuti Dia berarti membenamkan kehendak kita ke dalam kehendak Yesus, sungguh-sungguh mengistiwekan Dia, membanggakan Dia dalam setiap bidang kehidupan: dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kepentingan-kepentingan pribadi dan dalam diri kita sendiri. Ini berarti menyerahkan hidup kita kepada-Nya, hidup dalam kemesraan bersama dengan Dia dan melalui Dia, kita memasuki persekutuan dengan Bapa dalam Roh Kudus, dan dengan demikian juga – konsekuensinya – bersama dengan saudara dan saudari sekalian. Persekutuan hidup bersama Yesus adalah suatu “pengaturan” (setting) istimewa di mana dalam persekutuan tersebut, kita boleh mengalami harapan dan dalam harapan tersebut, hidup kita menjadi penuh dan bebas.

Panggilan imamat dan hidup bakti lahir dari pengalaman personal perjumpaan dengan Kristus, berkat dialog dengan Dia secara rahasia dan tulus, yang berarti memasuki ke dalam kehendak-Nya. Oleh karena itu sangatlah perlu tumbuh dalam pengalaman iman, mengenal suatu relasi yang mendalam dengan Yesus, memberi perhatian secara rohani terhadap suara-Nya yang hanya bisa diperdengarkan dalam lubuk hati kita. Proses ini, yang memungkinkan kita dapat menaggapi panggilan Allah secara positif, sangat mungkin terjadi dalam jemaat-jemaat Kristen di mana iman dihayati secara intens, di mana kesaksian yang baik diberikan oleh mereka yang menyandarkan diri kepada Injil, di sanalah hadir makna perutusan yang kuat, yang menghantar orang untuk mempersembahkan diri secara total demi Kerajaan Allah, yang dihidupi dengan penerimaan sakramen-sakramen, khususnya Sakramen Ekaristi dan hidup doa yang kuat. Poin yang terakhir ini, “di satu sisi harus menjadi sesuatu yang sangat personal, suatu perjumpaan yang mesra antara diriku dengan Allah. Tetapi di sisi lain, harus secara terus-menerus dibimbing dan diterangi oleh doa-doa Gereja dan oleh doa-doa para kudus, dan oleh doa liturgis sebagaimana telah berulang kali Tuhan Yesus ajarkan bagaimana kita harus berdoa secara benar” (Spe Salvi, 34).

Doa yang mendalam dan terus-menerus akan menghasilkan pertumbuhan iman jemaat Kristiani, menghasilkan suatu kepastian yang secara terus-menerus diperbaharui bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, sebaliknya Dia sanantiasa meneguhkan umat-Nya dengan membangkitkan aneka panggilan khusus – panggilan imamat dan hidup bakti – agar mereka menjadi tanda harapan bagi dunia. Sesungguhnya, para imam dan kaum religius dipanggil untuk menyerahkan dirinya secara total tanpa syarat bagi umat Allah, dalam pelayanan kasih demi Injil dan Gereja, suatu pelayanan yang dapat meneguhkan harapan yang berasal hanya dari keterbukaan diri kepada Yang Illahi. Oleh karena itu, dengan bantuan para saksi iman dan semangat kerasulan mereka, mereka dapat memeneruskan, khususnya kepada gererasi muda, suatu keinginan yang kuat untuk menanggapi Kristus yang memanggil mereka secara tulus dan tanpa halangan untuk mengikuti Dia secara lebih erat. Kapan saja seorang murid Yesus menerima panggilan Illahi untuk membaktikan dirinya bagi pelayanan imamat atau hidup bakti, itu berarti dia memberi suatu kesaksian tentang salah satu hasil buah yang paling masak dari jemaat Kristen, yang membantu kita untuk melihat dengan iman dan harapan secara istimewa masa depan Gereja dan komitmennya terhadap tugas pengijilan. Tugas ini memerlukan para pekerja yang baru untuk mewartakan Injil, untuk merayakan Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi. Jadi, semoga ada banyak imam yang komit, yang mengerti bagaimana harus mendampingi anak-anak muda sebagai “sahabat dalam perjalanan”, membantu mereka dalam hidup yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran, membantu mereka mengenal Kristus sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup (bdk. Yoh. 14:6), sembari mengatakan kepada mereka bahwa dengan kekuatan Injil, sungguh betapa indahnya melayani Allah, jemaat Kristiani, dan melayani saudara-saudari. Semoga ada imam-imam yang menghasilkan buah secara melimpah berkat komitmen mereka yang penuh antusias, yang berarti menujukkan kematangan hidup mereka, karena didasarkan pada iman akan Kristus yang lebih dahulu telah mengasihi kita (bdk. 1 Yoh. 4:19).

Demikian juga, saya berharap bahwa anak-nak muda, yang telah dipenuhi oleh pelbagai pilihan remeh dan tidak penting, akan mampu menggali suatu keinginan terhadap apa yang sungguh-sungguh berharga, demi tujuan-tujuan yang mulia, pilihan-pilihan yang radikal, pelayanan demi banyak orang dalam mengikuti Yesus. Yang terkasih anak-anak muda, janganlah takut mengikuti Dia dan berjalan menyusuri jalan-jalan kasih yang menuntut suatu keberanian dan komitmen yang tulus. Dengan cara tersebut, kamu akan senang melayani, kamu akan menjadi saksi suatu suka-cita yang tidak bisa diberikan oleh dunia, kamu akan menjadi nyala yang hidup dari kasih yang kekal-abadi dan tak terpermanai, kamu akan belajar “memberi suatu pengharapan yang ada padamu” (1 Pet. 3:15)!


Dari Vatikan, 6 Oktober 2012
Paus Benediktus XVI

Kamis, 11 April 2013

Apakah Engkau Mengasihi Aku?


Renungan Hari Minggu Paskah III
Bacaan: Yohanes 21:1-19
Oleh: Paulus Tongli, pr

Kristus yang bangkit ditampilkan dengan berbagai ceritera yang berbeda-beda di dalam Injil. Tetapi ceritera-ceritera yang berbeda-beda itu memiliki satu maksut, yakni untuk menjelaskan dan memberi kesaksian: bahwa Yesus yang telah disalibkan kini dengan cara yang baru dan melampaui bayangan manusia hidup di dalam kemuliaan. Ceritera injil hari ini juga memiliki maksud yang sama. Ada 3 poin penting dapat kita simpulkan dari kutipan injil hari ini:
1.   Tempat perjumpaan dengan Dia yang bangkit
2.   Undangan untuk ikut serta di dalam perjamuan paskah bersama
3.   Tuntutan untuk memberikan jawaban

Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit merupakan suatu hadiah, suatu rahmat. Tidak semua orang bisa mengalami perjumpaan itu. Hanya mereka yang terbuka dan percaya yang dapat mengenal Dia di dalam perjumpaan. Yesus menampakkan diri kepada para murid. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-muridnya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Perjumpaan terjadi kala itu di tengah-tengah saat kesibukan sehari-hari, kala para murid berusaha untuk menangkap ikan. Karena kata-kata-Nya, mereka melemparkan jalanya dan mereka menangkap ikan yang sangat banyak. Dari kepercayaan, tumbuhlah di dalam diri mereka pengalaman paskah: mata mereka terbuka dan mereka mengenalnya dan berkata „itu Tuhan“. Keterbukaan dan kepercayaan menjadi unsur penentu. Kepercayaan atau iman memberikan kepekaan, sehingga orang dapat mengenali dalam situasi tertentu sapaan dari Dia yang bangkit, atau mengenal Dia lewat perjumpaan dengan orang yang tak dikenal.
Pengalaman paskah yang terjadi di dalam keseharian ini akan menjadi model sepanjang jaman, bagaimana Yesus Kristus kembali menjumpai kita: di tengah-tengah pengalaman harian di dalam pekerjaan, di dalam perjumpaan dengan orang, tak disadari – namun juga sangat nyata. Syaratnya adalah keterbukaan akan sapaan-Nya dan iman. Ia hanya dapat dikenal dengan kacamata iman dan cinta, karena Ia sering menjumpai kita di dalam diri orang asing.

Poin kedua yang penting di dalam kutipan injil hari ini adalah undangan untuk ikut serta di dalam perjamuan paskah bersama dengan Dia yang bangkit. Undangan untuk makan adalah sesuatu yang sangat berarti, apalagi bila orang sungguh tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Selain itu undangan tersebut sekaligus juga merupakan tanda keakraban dan persahabatan. Jumlah tujuh orang murid yang hadir merupakan suatu jumlah yang penuh atau sempurna, dan mewakili jumlah yang tak terhingga dari orang-orang yang diundang ke perjamuan paskah. Demikian juga dengan jumlah 153 ekor ikan yang ditangkap jala para murid haruslah dipahami secara simbolis. Angka-angka ini menunjukkan ciri universalitas dari gereja, yakni orang-orang yang dipanggil atau diundang untuk turut serta di dalam persekutuan perjamuan paskah. Dia yang bangkit telah menyediakan santapan paskah itu untuk kita. Perjamuan ini mengingatkan kita akan perayaan ekaristi, di mana Ia sendiri menyerahkan tubuh-Nya sebagai santapan.
„Marilah dan sarapanlah“ (ayat 12), undangan Yesus ini untuk turut serta di dalam perjamuan paskah juga berlaku untuk kita sekarang ini. Perayaan ekaristi setiap hari Minggu memungkinkan kita dalam iman dan cinta dapat mengalami lagi dalam wujud roti dan anggur perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan di mana ia memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai santapan.
Apa makna ekaristi untuk hidup kita? Ritus pemecahan roti dapat menunjukkan hal itu. Bahwa Kristus telah membuka diri untuk kita, agar kita semua mendapatkan bagian di dalam Dia. Kita memecahkan roti sebagai peringatan bahwa Kristus membuka diri untuk kita, untuk menyembuhkan semua yang terpecah dan tercabik di dalam diri kita, dan sebagai tanda bahwa kita pun siap sedia membuka diri dan berbagi dengan sesama. Tuhan yang tersalib dan bangkit dengan luka-luka-Nya adalah tempat hidup dan penyembuhan.

Poin yang ketiga adalah tuntutan untuk memberikan jawaban. Perjumpaan dengan Dia yang bangkit dan anugerah paskah yang diberikan-Nya adalah pertanyaan akan iman kita, dan menuntut kita untuk memberikan jawaban. Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali. Dan pertanyaan ini meminta jawaban pribadi. Pertanyaan akan kasih adalah pertanyaan akan keputusan, keputusan pribadi. Dan kasih bukanlah masalah kata-kata, melainkan masalah tindakan. Di dalam kehidupan kristiani kasih berarti, kesiapsediaan untuk mengikuti Yesus, dan mengidentifikasi diri dengan-Nya. Itulah sebabnya Yesus pada akhir kutipan injil hari ini berkata: „Ikutlah Aku“. Bila kita mengikutinya, Ia akan menunjukkan kepada kita, apa yang harus kita lakukan. Bukanlah program dari kita, bukan pula bayangan ideal atau landasan hukum yang kita susun sendiri. Panggilan itu tidak dapat kita munculkan sendiri atau digantikan oleh sekedar semangat yang menggebu-gebu. Semangat yang berasal dari dalam diri kita sendiri suatu saat akan mengalami kejenuhan dan bahkan mungkin berubah menjadi daya yang melawan dirinya sendiri. Pertanyaan yang diajukan: Apakah engkau mengasihi Aku? Hubungan saling mengasihi mengandaikan keterarahan dari kedua belah pihak. Kasih itulah yang menyebabkan suatu yang luar biasa dapat terjadi, semangat yang tak terpadamkan, daya juang yang tak terbendung, bahkan sampai pengorbanan diri. Itulah kasih yang total. Hanya orang yang dapat memberikan jawaban pribadi dalam kasih dapat menjadi pengikut-Nya yang taat dan setia.
Jawaban apa yang dapat aku berikan saat ini? Jawaban harus kita berikan secara pribadi. Kita hanya dapat memohon, semoga jawaban Petrus juga dapat menjadi jawaban kita: „Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau“ (ayat 17). Amin.

Cari Blog Ini