Cari Blog Ini

Minggu, 12 Mei 2013

Wasiat Yesus Kekuatan Para Murid


Hari Minggu Paskah VII
Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke - 47
By: Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh 17:20-26

Bila kita berdiri di samping tempat tidur seseorang yang dekat dengan kita dan tampaknya sudah sedang berada dalam sakrat maut, kita akan mengamati bagaimana ia melepaskan diri dan pergi. Kita pun akan sangat awas terhadap kata-kata yang diucapkannya, khususnya kalau itu merupakan ucapannya yang terakhir. Ambillah contoh kata-kata terakhir dari orang tua kita. Kata-kata itu mungkin akan dicatat dan dibagikan kepada anak-anaknya yang lain. kata-kata itu mungkin bermaksud untuk menyadarkan anak-anak akan apa yang hendaknya mereka buat atau pelihara. Kata-kata yang terakhir akan selalu diingat. Pada momen seperti itu tidak ada hal yang masih harus didiskusikan, kata-kata itu diterima begitu saja, bahkan dianggap sebagai petuah yang berharga. Apa pun yang dikatakan oleh yang menjelang ajal itu, akan diusahakan untuk dibuat atau dilaksanakan oleh mereka yang dituju oleh kata-kata itu. Itulah yang paling penting, khususnya kalau hal itu menyangkut keinginan terakhirnya. 

Hari ini pun kita telah mendengarkan kata-kata wasiat Yesus. Di dalam injil Yohanes dalam pasal yang ke-17 yang kita bacakan hari ini, Yesus berdoa untuk para muridnya dan untuk semua yang percaya kepada-Nya oleh pemberitaan mereka. Ia meminta kepada Bapa, agar Bapa melindunginya dari segala kejahatan dan agar mereka senantiasa bersatu. Inilah doa  yang terakhir sebelum peristiwa penyaliban-Nya. Doa itu adalah sebuah hadiah untuk para murid-Nya, dan juga bagi kita pada masa ini. 

St. Yohanes selalu menggunakan kata “murid” untuk menunjuk kepada semua yang percaya kepada pemberitaan tentang Yesus. Orang-orang yang percaya membentuk persekutuan yang menghadirkan Kristus, khususnya di dalam pembacaan sabda, di dalam sakramen-sakramen dan di dalam iman akan Dia. Ketika para murid itu berkumpul, di situlah Kristus hadir.

Persahabatan yang intim dengan Allah tidak mengesampingkan relasi dengan dunia. Yesus berdoa kepada Bapa agar para murid dilindungi dari kejahatan dan agar mereka dimurnikan di dalam kebenaran. Meskipun persekutuan orang yang percaya itu kadang-kadang berbenturan bahkan menderita karena dunia; tetapi persekutuan itu tidak akan dikalahkan oleh dunia. Para murid membekali diri untuk senantiasa siap sedia memberikan kesaksian yang harus mereka berikan kepada dunia, artinya kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Melalui kesaksian mereka dunia juga akan dikuduskan. 

Selama masa penganiayaan di Roma, banyak orang Kristen dijadikan bahan pertunjukan di dalam Colosseum, di mana mereka dicabik-cabik oleh binatang buas. Mereka bangga dapat menderita demi iman mereka. Penganiayaan dan penderitaan itu dimaknai sebagai kesaksian dan dihayati sebagai pemurnian jiwa mereka dan pemurnian dunia. Mereka inilah yang dipuji di dalam kitab Wahyu: “berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya” (bacaan kedua). Inilah pula yang ditunjukkan Stefanus dalam bacaan pertama. Dengan menjadi martir ia memberikan kesaksian akan iman dan keyakinannya. Jalan kesetiaan itu menjanjikan kemuliaan Allah yang memberinya kekuatan untuk bertahan.
Dalam perjalanan terakhirnya dari Antiokia ke Roma, St. Ignatius dari Antiokia menggunakan kesempatan di dalam perahu untuk menulis beberapa surat. Kala itu ia telah berumur 80 tahun. Di dalam salah satu suratnya ia menulis: terimalah irama Allah. Dengan demikian pengorbanan jiwa kalian akan menjadi paduan suara di dalam kesatuan dan cinta yang akan menggema menjadi menjadi nyanyian Kristus. Suaramu akan didengar oleh Bapa dan karena itu kalian akan dipadukan kembali sebagai milik berharga Kristus. **pt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar