Cari Blog Ini

Jumat, 03 Mei 2013

KACAMATA


Opa John menyukai lelucon, terutama bila ia dapat membuat lelucon pada orang lain. Bila ia berhasil, ia akan tertawa terbahak-bahak. Tapi pada suatu sore yang dingin di Chicago, Opa merasa Tuhan telah membuat lelucon padanya dan ia tidak dapat tertawa. Pada hari itu, Opa yang seorang tukang kayu sedang membuat peti untuk pakaian yang akan dikirimkan umat gerejanya ke sebuah rumah yatim piatu China.
Dalam perjalanan pulang, ia merogoh saku celana dan bajunya untuk mencari kacamatanya, namun tidak ditemukannya. Ia ingat bahwa ia masih membawanya tadi pagi, maka ia kembali ke gereja untuk mencari kacamatanya, namun tidak membawa hasil.
Setelah ia mengingat ingat kembali kejadian hari itu, ia menyadari apa yang terjadi. Kacamata itu ada dalam salah satu peti yang telah dipaku rapat. Ternyata kacamata yang baru dibelinya kemarin sedang mengadakan perjalanannya ke China.
Saat itu sedang terjadi krisis ekonomi, bagi Opa John yang mempunyai enam orang anak, sungguh sulit membayangkan bila ia harus kembali membeli kacamata baru seharga 20 dollar. “Ini tidak adil,” katanya pada Tuhan. “Aku sudah memberikan waktu dan uangku, mengapa sekarang hal ini terjadi padaku?”
Beberapa bulan kemudian, direktur rumah yatim piatu di China tersebut datang ke Amerika untuk mengunjungi seluruh gereja yang telah mendukung pelayanannya di China. Sampai pada akhirnya ia datang mengunjungi gereja  Opa yang kecil itu.
Sang direktur berterima kasih untuk semua perhatian dan kesetiaan mereka dalam mendukung rumah yatim piatu yang ia pimpin. “Tetapi diatas segalanya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk kacamata yang saudara kirimkan tahun lalu,” katanya bercerita, “pihak pemerintah komunis baru saja melakukan kunjungan biasa ke rumah yatim piatu kami, menghancurkan segala sesuatu, termasuk kacamata saya, saya sungguh putus asa...”
“Bahkan bila saya punya uang, mustahil bagi saya untuk membeli kacamata baru. Tidak saya tidak dapat membaca, hal ini membuat saya sakit kepala. Lalu kami berdoa memohon bantuan Tuhan dalam hal ini. Kemudian peti anda tiba, ketika pekerja saya membuka peti tersebut, ia menemukan sebuah kacamata, dan... Sungguh heran, kacamata itu begitu pas untuk mata saya, seakan akan kacamata memang dibuat khusus untuk saya. Saya mengucapkan terima kasih karena anda sekalian telah menjadi bagian dari keajaiban tersebut” katanya penuh rasa haru.
Umat merasa bahagia dan gembira mendengar cerita ini. Tetapi pasti sang direktur mengucapkan terima kasih pada gereja yang salah, karena kacamata tidak ada dalam daftar barang yang dikirimkan ke China. Tetapi, duduk di bangku belakang, dengan air mata yang membanjir, seorang tukan kayu biasa menyadari, bahwa Sang Tukang Kayu yang Agung telah memakai dirinya dengan cara yang amat luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar