Kamis, 16 Mei 2013

ROH PEMBAHARU KEHIDUPAN


Hari Minggu Pentakosta/ Tahun C
Oleh: Pastor  Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 2:1-11; 1Kor. 12:3b-7, 12-13; Yoh. 14:15-16, 23B-26

Lima puluh hari sesudah Kebangkitan Yesus dan sepuluh hari sesudah Kenaikan-Nya ke Sorga, Gereja merayakan hari Raya Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas Para Rasul. 

Peristiwa Pentakosta menjadi titik awal dan titik balik karya perutusan Gereja Purba. Disebut titik awal karena sejak peristiwa Pentakosta itulah, Para Rasul secara terbuka memberikan kesaksian tentang komunitas mereka serta perutusannya. Dan disebut titik balik, karena sejak peristiwa Pentakosta itu pula, mereka secara berani dan terus terang mewartakan Kristus, yang telah dibunuh namun dibangkitkan Allah, sebagai Juru Selamat umat manusia. Peristiwa Pentakosta telah mengubah dan memperbaharui Para Rasul, hidup dan perutusan mereka. Mengapa mereka bisa berubah dan diperbaharui? 

Setelah kematian Yesus di atas kayu salib, para murid nampaknya mulai kehilangan semangat dan harapan mereka (bdk. Luk. 24:20-21). Jumlah mereka yang tadinya begitu banyak (bdk. Luk. 9: 10-17, Kisah perbanyakan roti) menjadi tercerai berai. Hanya tinggal sekelompok kecil saja yang masih berusaha setia untuk berkumpul dan berdoa, yakni “seratus dua puluh orang” (Kis. 1:13-15). Kelompok kecil ini pun tidak berani tampil terang-terangan, karena takut kepada orang-orang Yahudi yang lain (bdk. Yoh. 20:19).

Lima puluh hari setelah Perayaan Paskah Yahudi, kembali kota Yerusalem dipenuhi oleh para peziarah untuk merayakan hari Pentakosta, yakni perayaan akhir panen gandum (bdk. Im. 23:15-21). Perayaan musim panen gandum ini sekaligus dirangkaikan dengan perayaan untuk mengenangkan peristiwa perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel yang terjadi di Gunung Sinai dengan perantaraan Musa (Kel. 19-20). Para peziarah adalah orang-orang Yahudi dan/atau keturunan Yahudi; dan mereka datang dari pelbagai tempat, bahkan ada yang datang dari negeri-negeri lain (bdk. Kis. 2:5, 9). 

Sebagai orang Yahudi, para murid Yesus pun berkumpul di Yerusalem untuk mengikuti dan mengenangkan Hari Raya Pentakosta tersebut. Pada hari itu, setelah mereka berdoa bersama (Kis. 1:12-14) dan memilih Matias (Kis. 1:15-26), tumbuhlah keberanian dalam diri mereka untuk tampil mewartakan kisah Yesus. Rasa takut yang sebelumnya menghantui mereka tiba-tiba saja lenyap, dan mereka, diwakili oleh Petrus, dengan berani bersaksi di depan para peziarah lainnya mewartakan Yesus Kristus, sebagai Messias yang dijanjikan Allah (Kis. 2:14-40). 

Penulis Kisah Para Rasul, mengkaitkan peristiwa tampilnya para murid yang dengan gagah berani bersaksi demi Kristus ini dengan peristiwa Musa di Gunung Sinai (bdk. Kel.19). Pada saat itu, bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa bersungut-sungut kepada Musa (Kel.17:1-7). Ketika dikunjungi oleh Yitro, mertuanya, Musa menceritakan segala pengalamannya (Kel. 18:1-12); lalu mertuanya memberinya nasehat agar Musa didampingi oleh beberapa orang penasehat yang akan mengadili bangsanya bila berperkara dengan mereka (Kel. 18:13-27). 

Maka Musa membawa bangsanya ke Gunung Sinai untuk menghadap Tuhan mencari persetujuan-Nya. Pada saat itulah terjadi, “ada guruh dan dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan (Kel. 19:16), dan “Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api...(Kel. 19:18). Peristiwa inilah yang membuat Musa dengan berani turun “mendapatkan bangsanya itu dan menyatakan kepada mereka” perjanjian  yang pernah diikatnya dengan Tuhan (Kel. 19:25).

Turunnya Roh Kudus ke atas para murid dalam rupa lidah api adalah tanda bahwa Allah merestui mereka untuk menyatakan kepada bangsa Israel yang berkumpul di Yerusalem bahwa Yesus adalah Messias yang telah dijanjikan; Yesus adalah tanda perjanjian keselamatan antara Allah dengan manusia. 

Sebagaimana peristiwa “lidah api di Gunung Sinai” telah memberanikan Musa tampil di hadapan bangsanya, demikian pula peristiwa “lidah api di Yerusalem” telah mendorong para murid untuk berani tampil memberi kesaksian tentang Yesus di hadapan para peziarah. Mereka bisa memahami bahasa para murid, karena para peziarah adalah orang-orang Yahudi dan/atau keturunan Yahudi yang tinggal di pelbagai tempat dan yang masih memahami bahasa Aram, yang saat itu menjadi “bahasa internasional” suku Yehuda tersebut. 

Penulis Kisah Para Rasul menggambarkan pemahaman bahasa ini sebagai “mukjizat bahasa” (bdk. Kis. 2:6-13)
Peristiwa Pentakosta telah mengubah dan membaharui cara hidup para murid Yesus: 
1. dari menutup dan mengurung diri dalam ruangan sendiri menjadi tampil ke luar menemui orang banyak
2. dari rasa ketakutan menjadi berani tampil untuk bersaksi tentang Kristus Tuhan

Peristiwa Pentakosta, turunnya Roh Kudus telah membahwa pembaharuan dari keterkurungan kepada keterbukaan; dari ketakutan & berdiam diri kepada keberanian & bersaksi.

Semoga perayaan Pentakosta Gerejani juga membahwa pembaharuan kehidupan di antara kita, baik sebagai manusia maupun sebagai orang-orang beriman, dan terutama sebagai manusia beriman Kristiani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini