Kamis, 16 Mei 2013

Hari Raya Pentakosta


Pentakosta merupakan salah satu pesta terbesar dalam penanggalan Yahudi. Pesta ini asalinya adalah pesta pertanian, kemudian pada masa Perjanjian Lama menjadi perayaan syukur atas pemberian Hukum Musa di atas gunung Sinai. Pada kesempatan ini, sama seperti hari raya Paskah Yahudi, banyak orang Yahudi yang tinggal di sekitar Timur Tengah berziarah ke Yerusalem.

Selama Perayaan Paskah Yahudi itulah, yang memperingati pembebasan dari perbudakan Mesir, Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberi kebebasan kepada dunia dari kematian dan dosa. Inilah saat yang tepat untuk merayakan pemberian Hukum di Sinai, hari di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat pilihan-Nya, bahwa Allah sekarang mengaruniakan Roh-Nya kepada Israel yang baru, yaitu Gereja. (Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. - Gal 6:16)

Pada saat yang sama pula, pembaptisan dengan api diwartakan oleh Yohanes (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16). Allah mengutus Roh Putra-Nya dan dengan ini, lahirlah Gereja. Gereja bukanlah suatu lembaga manusiawi atau hasil karya dari sekelompok orang beriman, ia berasal dari inisiatif Allah, dan Allah berkehendak agar setiap orang dari setiap bangsa menjadi saksi atas peristiwa ini.

Tiupan angin keras adalah suatu tanda, karena Roh berarti napas dan angin dalam budaya Ibrani. Dijiwai oleh Roh Kudus, Petrus berbicara. Ia sekarang mengetahui kebenaran dan percaya, dan itulah sebabnya ia dengan berani mewartakannya (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. - Yoh 15:26 ; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Yoh 16:13)

Apa yang terjadi pada Pentakosta sama uniknya dengan peristiwa kebangkitan. Namun, peristiwa ini mengikuti pola campur tangan Allah dalam sejarah. Di satu pihak, Roh Kudus selalu membawa pembaruan bagi karya kerasulan kita, membangkitkan semangat keagamaan kita dan membangun komunitas Kristen yang dinamis yang menjadi darah baru bagi Gereja. Gereja menjadi semakin tua dan memerlukan pembaruan terus menerus.

Roh Kudus datang untuk memberikan kehidupan bagi Gereja. Ia juga datang untuk memberi peneguhan dan kekuatan bagi orang-orang beriman. Pembaptisan dengan api yang diterima para rasul, diberikan pula kepada kita melalui Sakramen Penguatan/Krisma (Luk 3:16).

“Setiap orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa mereka (orang yang mendengar) sendiri” Ayat ini diulang sebanyak tiga kali, (Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. - Kis 2:6 ; Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: - Kis 2:8 ; baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." - Kis 2:11), yang menunjukkan kepada kita, bahwa ini merupakan kunci untuk memahami teks ini. Mukjizat Pentakosta bukanlah suatu kenyataan bahwa para rasul, yang semua penduduk asli Palestina, mulai berbicara dalam bahasa asing, melainkan suatu kenyataan, bahwa semua orang asing mendengar pewartaan tentang perbuatan ajaib Allah dalam bahasa mereka sendiri, inilah mukjizat Pentakosta.

Banyak teks Perjanjian Baru yang lain, yang mengacu kepada “karunia lidah” (sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah - Kis 10:46 ; Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. – Kis 19:6 ; 1 Kor 12; 14:2-19), tetapi dalam teks Pentakosta ini Allah menggariskan dasar bagi semua pewartaan, mereka yang dipanggil untuk beriman kepada Yesus, dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, tidak diwajibkan untuk meninggalkan bahasa dan budaya mereka, seperti yang diharapkan orang Yahudi Proselit zaman dahulu. 

Di lain pihak Allah bahkan menghendaki agar umat manusia dari segala bangsa, bahasa dan kebudayaan turut memuji dan memuliakan-Nya melalui cara ini, dengan keaneka-ragaman dalam Tubuh Kristus (Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Kor 12:12-13), akan tampak bagi semua orang seperti berkumpulnya kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai melalui Yesus dan Roh-Nya. (dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. - Yoh 11:52).
Dalam sejarahnya, Gereja cenderung melupakan mukjizat Pentakosta ketika menekankan bahasa dan kebudayaannya saat mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang baru. Melalui sejarahnya juga, Roh Kudus memperingatkan Gereja, agar melawan cobaan-cobaan seperti itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh para rasul yang hidup berdasarkan semangat Pentakosta pada waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini