Minggu, 12 Mei 2013

SEMOGA MEREKA MENJADI SATU.


Hari Minggu Paskah VII
Hari Komunikasi Sedunia
by: Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Kis. 7:55-60; Why. 22:12-14, 16-17, 20; Yoh. 17:20-26

Hari ini merupakan hari Komunikasi Sedunia. Hari Komunikasi Sedunia oleh Gereja selalu diletakan pada Hari Minggu Paskah VII. Dan secara “kebetulan” bacaan Injil hari ini merupakan bagian dari Doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Doa juga merupakan suatu komunikasi.
Apa makna kata komunikasi? Komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio. Kata latin communicatio berasal dari dua kata, yakni cum yang berarti bersama, dengan, dan unio yang berarti persatuan, kesatuan. Makna kata communicatio atau komunikasi adalah suatu proses atau suatu cara berproses yang dengannya hendak dicapai suatu kesatuan atau persatuan. Dengan kata lain, komunikasi adalah keseluruhan proses dan cara bertindak yang mengarah pada terbangunnya suatu kesatuan atau persatuan. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya sekedar berbicara menggunakan mulut saja, tetapi juga seluruh diri manusia: mulut, mata, telinga, otak (akal budi), perasaan dan perhatian (hati), sikap tubuh (dalam bentuk gerakan-gerakan tangan, kepala, mata, dll.). Karena itulah ketika seseorang berkomunikasi sering juga dikatakan bahwa dia sedang mengkomunikasikan dirinya, dia sedang berbicara tentang dirinya. Agar komunikasi diri ini bisa semakin ditangkap lawan bicara atau orang lain maka tidak jarang orang tersebut menggunakan sarana bantu fisik (kelihatan) yang bisa membantu mengungkapkan situasi dirinya dan bisa diterima oleh orang lain. Misalnya, seorang cowok mengkomunikasikan cintanya kepada seorang cewek yang ditaksirnya dengan memberikan sekuntum bunga mawar merah atau pink sambil mengatakan, “Will you marry me?” (seperti acara TV ‘Will you marry me’  hehehe….). Bunga mawar merah atau pink tersebut merupakan sarana bantu agar ungkapan cintanya bisa lebih dipahami karena bunga tersebut memang merupakan lambang cinta, suatu simbol yang dipahami secara umum. Sangatlah tidak tepat apabila si cowok itu mengungkapkan cintanya sambil membawa rangkaian bunga kamboja putih karena bunga kamboja putih tidak bisa membantu orang lain memahami simbol cinta selain simbol kematian.
Doa adalah komunikasi.
Ketika kita mengakui bahwa doa merupakan suatu komunikasi, maka bagi kita doa merupakan keseluruhan proses dan cara bertindak untuk membangun kesatuan dan persatuan dengan Tuhan dan sesama (bdk. hukum yang terutama, Mrk.12:28-34). Sebagaimana halnya komunikasi, sebagai suatu proses, doa semestinya semakin lama akan semakin bertumbuh dan berkembang meskipun pada awalnya mengalami banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan. Ketika kita mengenali doa sebagai suatu proses maka semestinya tidak ada kata menyerah dan putus asa untuk berdoa jika kita ingin bertumbuh dan berkembang dalam kesatuan dan persatuan dengan Tuhan dan sesama; yang ada hanyalah kata berjuang, berjuang, dan berjuang.
Dan sebagai keseluruhan proses komunikasi dengan Tuhan, doa juga semestinya melibatkan seluruh diri kita. Kita diajak untuk berdoa bukan hanya berbicara dengan mulut saja, tetapi juga dengan telinga, mata, akal budi. perasaan dan perhatian, dengan sikap tubuh yang benar dan baik. Dengan demikian, kita berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan bukan hanya mengatakan dan menyatakan keinginan-keinginan kita saja, tetapi juga mengungkapkan kepada-Nya pengalaman-pengalaman kehidupan kita kepada-Nya, yakni apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan perhatikan, apa yang kita pikirkan dan harapkan. Demikianlah, doa menjadi komunikasi kehidupan antara kita dengan Tuhan. Dalam Doa Yesus tampaklah dengan jelas komunikasi kehidupan antara Dia sebagai Anak dan Allah sebagai Bapa. Komunikasi kehidupan inilah yang memberi kekuatan kepada Yesus untuk senantiasa berani mentaati keseluruhan kehendak Bapa-Nya. Komunikasi kehidupan inilah yang menjadi pokok kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya; dan kesatuan-Nya dengan Bapa inilah yang pada akhirnya mendorong Yesus untuk mengajar dan mewariskannya kepada para murid-Nya (bdk. Yoh.17: 9-19). Dan bukan hanya untuk para murid yang dikenali-Nya saja, tetapi Yesus juga berdoa, mengkomunikasikan dan mewariskan kesatuan dengan Bapa-Nya itu kepada kita semua, para murid yang tidak mengenal-Nya secara langsung (bdk. ay. 20-26).
          Pada Hari Komunikasi Sedunia dan pada hari di mana Yesus berdoa untuk kita ini, marilah kita membuat suatu refleksi. Apakah aku mau berkomunikasi dengan benar melalui keseluruhan diriku untuk membangun kesatuan dan persatuan? Apakah aku mau berjuang dan berproses dalam berdoa agar kesatuanku dengan Tuhan dan sesama semakin berkembang?
“Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku” (ay. 24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini