Cari Blog Ini

Kamis, 23 Mei 2013

Serumpun Bambu


Seorang tukang kebun memiliki serumpun bambu di sudut kebunnya. Setiap tahun bambu-bambu itu bertambah tinggi dan kuat. Kemudian suatu hari tukang kebun itu berkata, “Sobat, saya membutuhkan engkau”. Kata bambu itu: “Tuan, pakailah saya, saya siap”. Kemudian suara tukang kebun itu menjadi agak serius dan berkata., “Agar saya bisa memakaimu, engkau harus ditebang”. Tentu saja bambu itu kaget. 

“Menebang saya? Mengapa? Saya adalah bambu yang paling baik di kebun ini, Jangan lakukan itu. Pakailah saya sekehendak tuan, tapi janganlah menebang saya”. “Begini, jika saya tidak menebang kamu, saya tidak bisa memakaimu”. 

Seluruh isi kebun itu terdiam; angin pun menahan nafasnya. Bambu yang anggun itu perlahan-lahan menundukkan kepalanya dan berbisik, “Tuan, jika itu adalah satu-satunya jalan untuk menggunakan saya, maka tebanglah saya!” 

“Tapi bukan itu saja” kata tukang kebun itu. “Saya masih akan memangkas semua cabang dan daunmu”. “Ya Tuhan, semoga itu tidak terjadi pada diri saya!” Kata bambu itu. “Hal itu akan merusak keindahanku. Tuan, kalau bisa janganlah pangkas cabang dan daun saya”. “Jika saya tidak memangkas cabang dan daunmu saya tidak bisa memakaimu”. 

Matahari pun menyembunyikan wajahnya. Seekor kupu-kupu terbang dengan gelisah di sekitar itu. Bambu itu, yang merasa sangat terpukul, kemudian menyerah. “Tuan, pangkaslah semua cabang dan daun-daunku!”. “Bambuku tersayang, saya masih harus lebih menyakitimu lagi. Saya harus membelah dan mengambil hati bagian dalammu; jika tidak maka saya tidak bisa memakaimu”. Bambu itu semakin menundukkan kepalanya dan berkata: “Tuan, pangkaslah, potonglah, belahlah dan lakukanlah apa saja pada diriku sesuka tuan”. 

Maka tukang kebun itu memotong bambu itu, memangkas cabang-cabang dan daun-daunnya, membelahnya dan mengosongkan semua bagian dalamnya. Lalu dia membawa bambu itu melalui sebidang tanah kering menuju sumber air. Dia menghubungkan bambu itu dengan sumber air itu dan air pun mengalir ke tanah kering itu sehingga membuatnya menjadi subur. Demikianlah, hanya bila bambu itu dipotong, dipangkas, dan dibelah, dia bisa menjadi sumber dan penyalur berkat yang melimpah bagi tanah gersang, dan tentu saja akhirnya bagi manusia. (Willi Hoffsuemmer)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar