Cari Blog Ini

Jumat, 03 Mei 2013

kasih sebagai kebijaksanaan kristiani

Hari Minggu Paskah VI
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 15:1-2.22-29; Why. 21:10-14.22-23; Yoh 14:23-29


Di Antiokia terjadi pertentangan. Pertentangan bermula dari pengajaran orang-orang dari Yerusalem kepada orang-orang Yunani di Antiokia: “… jikalau kau tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Mereka sebelumnya adalah orang-orang beragama Yahudi yang fanatik.

Orang-orang Yunani dianggap bukanlah orang Kristen sejati, karena menurut mereka siapa  pun yang ingin menjadi orang Kristen sejati haruslah menjadi orang Yahudi dan melaksanakan hukum Musa: aturan-aturan tentang makanan, tentang pembaptisan, tentang hari sabat, dan tentang ziarah ke baid Allah di Yerusalem. Pengajaran ini menimbulkan pertentangan di Antiokia. Paulus dan Barnabas dengan gigih menentang ajaran itu dan berdebat dengan mereka. Maka Paulus dan Barnabas ditunjuk untuk pergi ke Yerusalem. Demikianlah terjadi konsili yang pertama, yang juga disebut konsili para rasul di Yerusalem, yang terjadi sekitar tahun 49 M. 

Pertanyaan yang muncul di dalam gereja muda yang mulai tersebar melintasi batas Palestina adalah: apakah gereja itu hanya merupakan bagian atau sebuah gerakan baru di dalam agama Yahudi, ataukah gereja itu merupakan sebuah gerakan yang sama sekali baru dan terpisah dari agama Yahudi? Apakah pelaksanaan hukum Musa merupakan hal yang menentukan untuk keselamatan ataukah kita itu diselamatkan karena penyelamatan Kristus? Persoalan ini dibawa ke Yerusalem untuk dibicarakan bersama di kalangan para pemimpin gerakan kristianitas kala itu. Terjadilah Konsili pertama (lih Gal 2:1-10). Petrus meneguhkan prinsip, bahwa iman telah mencukupi untuk keselamatan. Sebaliknya Yakobus membela beberapa praktek untuk mempermudah kontak-kontak sosial antara orang Yahudi dengan orang Yunani. 

Di dalam konsili itulah persoalan itu diputuskan: kami telah mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka. Mereka bertindak tanpa mendapatkan pesan dari kami… Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati lemas dan dari percabulan. Bila kamu berpantang dalam hal-hal ini, kamu berbuat baik. Dengan demikian orang-orang bukan Yahudi tidak perlu menjadi orang Yahudi. Konsili memutuskan suatu kompromi antara pandangan Petrus dan pandangan Yakobus itu. 

Jadi di dalam jemaat perdana, juga tidak selalu terdapat harmoni dan kesatuan. Ada konflik antara kelompok tradisional dan kelompok moderat, antara kelompok fanatik dan kelompok liberal, antara St. Paulus dan St. Petrus. Ada juga konflik antara suami dan istri. Jadi tidaklah mengherankan bilamana di dalam institusi internasional seperti gereja juga terdapat pandangan-pandangan yang tidak selalu satu dan sama. Yesus berkata: di dalam rumah Bapaku ada banyak tempat tinggal. Allah sungguh sadar akan pluralisme yang terdapat di dalam alam ciptaanNya. Para uskup Asia pernah bermohon ke Roma beberapa tahun yang lalu agar dimungkinkan untuk lebih berintegrasi dengan adat kebiasaan dan budaya yang beragam di Asia. 

Kita masih dapat belajar sesuatu yang lain dari konsili pertama. Kadang-kadang terjadi bahwa sesuatu yang semula sangat disakralkan dapat berubah begitu cepat dan kemudian tidak dipedulikan lagi. Tidak lama setelah konsili, kompromi St. Yakobus tidak lagi berlaku. Siapa yang peduli akan daging persembahan di Athena dan Roma? Di dalam adat kebudayaan yang berbeda terdapat masalah yang berbeda pula.  

Ingatlah apa yang terjadi pada konsili Vatikan II 45 tahun yang lalu. Terdapat perdebatan yang sengit tentang liturgi yang berkisar pada persoalan menerima komuni di tangan, masalah bangku di gereja. Doa Syukur Agung di dalam bahasa daerah/bahasa suku, misdinar putri, lagu-lagu karismatik, dll. Dan kini pertanyaan itu sudah menghilang dan tidak pernah diajukan lagi.  

Allah tidak cemas. Juga tidak kuatir akan adanya kesulitan-kesulitan dan krisis iman di mana-mana. Beberapa orang katolik tua pernah menganggap bahwa krisis sekitar konsili Vatikan II akan menjadi akhir dari gereja. Kehendak Allah tidak selalu dapat dibaca dengan mudah. Telah terbukti bahwa krisis justru membawa kepada kesadaran baru yang akan memperkokoh orang atau institusi yang mengalaminya. Sangat mengesankan doa yang ditulis oleh Fredrich Christoph Oetinger 200 tahun yang lalu: Tuhan, anugerahkanlah kepadaku sikap yang tenang dan kepala yang dingin untuk menerima apa yang tidak dapat aku ubah; berikanlah kepadaku keberanian untuk mengubah apa yang dapat aku ubah; dan anugerahkanlah kepadaku kebijaksanaan untuk membedakan keduanya. Amin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar