Cari Blog Ini

Minggu, 06 Mei 2012

Sebuah Timun

Dwi (anak jalanan di grogol). Dwi adalah salah satu anak bimbingan belajar saya ketika saya masih pelayanan di kolong grogol setiap hari minggu. Nah, pada satu waktu, ketika setelah waktu belajar selesai, saya melihat dia sedang duduk, di tangannya terdapat sepotong timun sayur (timun yang biasa dijadikan lalap) dan dia sedang asik makan timun tersebut (Saudara pernah makan timun sayur mentah dengan kulitnya?)

Kemudian dengan bercanda saya memanggil dia “Dwi, sedang makan apa? Wah...sombong ya, makan sendiri nih ceritanya, kakaknya ndak ditawarin..” Si Dwi cuma cengegesan saja, lalu saya kembali sibuk membantu mengajar anak-anak yang belum menyelesaikan pelajarannya. Tetapi selang beberapa waktu kemudian, tahu2 saya dicolek dari belakang, dan ternyata kali ini di tangannya si Dwi membawa 2 buah timun sayur, kemudian sambil menyerahkan salah satunya dia berkata “Ini buat kakak.”.

Saya sedikit kaget, dan saya tanya “ Dwi, kamu beli timun ini dimana?” Dengan santainya dia menjawab “Di tukang sayur belakang terminal grogol kak.”. Saat itu saya cukup shock karena ternyata demi membelikan saya sebuah timun sayur, anak kecil tersebut berjalan kurang lebih 2 km bolak balik dari kolong grogol ke tukang sayur di belakang terminal, hanya untuk memberikan saya sebuah timun! Lalu saya tanya kembali,” Dwi, kamu belum makan siang ya?”

Jawabnya,” Belum kak” Lalu saya katakan,” Dwi, kita ke Citraland aja yuk, kita makan disana, Dwi mau kan makan McDonald?” Dia menggelengkan kepalanya,” Gak mau kak” Saya tetap bersikeras mengajak dia makan,dan sejujurnya saya sudah bertekad apa pun yang dia mau makan, mau McDonald sampai Sizzler saya rela tukar sama timun sayur tersebut, tetapi dia tetap tidak mau dan dia berkata “Udah kak, Dwi pokoknya gak mau makan di Citraland, Dwi maunya duduk disini saja sambil ngobrol sama kakak” Saat itu saya pribadi merasa sangat tersanjung dan terharu saudara, karena anak ini tidak melihat saya sebagai “Kakak berduit yang bisa memberikan McDonald” , tetapi dia tidak perduli dengan McDonald maupun segala macam makanan mahal yang bisa saya belikan,tetapi dia tukar semua hal tersebut dengan duduk-duduk di kolong sambil ngobrol bersama saya. 

Entah kenapa sepertinya saya merasa Tuhan sedang mengajar saya suatu hal, Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, dan dia adalah Tuhan yang sanggup memberikan apa saja kepada kita, dan dalam kejadian tersebut seakan2 Tuhan menunjukkann”Carlo, begini lho perasaan kalau seseorang mengasihi engkau BUKAN karena apa yang engkau bisa berikan padanya, BUKAN karena apa yang kau miliki, tetapi sungguh2 mengasihi engkau sebagai satu pribadi “ Karena kejadian tersebut, si Dwi menjadi salah satu anak kesayangan saya di grogol, bahkan sampai sekarang. Dan dalam kejadian tadi saya menjadi mengerti tentang arti sebuah persembahan, karena walau hanya dengan sebuah timun yang seharga lima ratus rupiah, apabila diberikan dengan hati yang tulus, timun itu lebih berharga daripada McDonalds, Sizzler maupun makanan2 yang teramat sangat mahal! Saudara ingin menjadi anak kesayangannya Tuhan? Persembahkanlah apapun dari yang engkau miliki dengan tulus, bukan karena Kristus adalah Tuhan yang sanggup memberkati engkau berlipat-lipat kali dari persembahanmu, Tuhan yang sanggup mengangkat sakit penyakitmu dan memulihkan keluargamu, tapi cukup berikan persembahanmu dengan tulus kepada Tuhan karena engkau mengasihi Dia, walau persembahanmu itu tdk akan pernah kembali seumur hidupmu,walau sakit penyakitmu tdk kunjung sembuh,walau keluargamu tidak kunjung dipulihkan!

Saat itu tanpa ia sadari, Dwi telah mengajar saya tentang hubungan dengan Tuhan, tentang bagaimana kita harus mengasihi Tuhan bukan karena Ia adalah Tuhan yang kaya,Tuhan yang bisa melakukan hal-hal yang mustahil, dan seterusnya, dan seterusnya, tetapi kita harus mengasihi Tuhan karena Ia adalah Tuhan! Titik.

Dia akan memberkati walaupun engkau tidak diberkati, mengasihi walaupun engkau tidak dikasihi, mengampuni walaupun semua orang menolak engkau*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar