Kamis, 31 Mei 2012

Misteri Allah – Misteri Manusia


Hari Raya Tritunggal Mahakudus
P. Paulus Tongli, Pr

Pesta hari ini – Hari Raya Tritunggal Mahakudus – agak istimewa dibandingkan dengan hari-hari besar gereja lainnya. Semua hari besar adalah hari peringatan akan suatu peristiwa sejarah. Kita merayakan kelahiran Yesus, kematianNya, kebangkitanNya, kenaikanNya ke Surga, pencurahan Roh Kudus. Namun pada perayaan hari ini kita tidak memperingati suatu kejadian dalam sejarah. Kita merayakan, apa yang dapat dikatakan sebagai refleksi akan kejadian, merayakan suatu inti iman atau dogma yang sulit dipahami oleh banyak orang. Itulah yang terungkap dalam bacaan injil hari ini: “… tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Oleh karena itu marilah kita mencoba menyelami misteri ini berpangkal pada kutipan injil hari ini. Kutipan ini juga menyangkut para murid, dan karenanya juga kita. Kalau intinya adalah misteri, maka juga merupakan misteri kita sendiri.

Misteri Allah
Marilah kita mulai dengan Yesus. Ia kini kembali berada di Galilea. Di sini segalanya telah mulai (bdk. Mat. 4:12st.). Di sini Ia telah mengumpulkan para muridNya (bdk. Mat 4:18-22). Di sini, di atas bukit, Ia telah mewartakan hukum dasar kehidupan kristiani (bdk. Mat 5:1-7:29). Di sini Ia telah mengajar untuk berdoa (bdk. Mat. 6:5-15). Di sini Ia memisahkan diri dari para muridNya. Dan sekali lagi Ia mengutus para muridNya seperti dahulu dilakukannya (bdk. Mat. 9:35st). Ia meminta mereka untuk melakukan semua yang telah dikatakannya, dan untuk mengajar semua orang untuk melakukan perintahNya. 
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”, demikian Ia memulai pembicaraanNya. Inti utama dari warta Yesus adalah selalu warta akan Bapa. Namun di sini Ia menambahkan unsur baru: Bapa yang dipercayaNya tidak meninggalkan Dia di dalam kematian. Bapa telah mengangkat Dia menjadi anakNya (bdk Rom. 1:4), memberikan kepadaNya segala kuasa di Surga dan di Bumi. Oleh karena itu pantaslah bahwa para muridNya tersungkur di hadapanNya: Allah dari allah, terang dari terang, Allah yang benar dari Allah yang benar.
Siapakah Allah itu? Allah adalah Dia yang telah memberikan kepada Yesus semua kuasa di Surga dan di bumi. Itulah warta pertama dari injil hari ini. Dan Ia mengutus muridnya untuk membaptis. Dan kemudian menyusul rumusan trinitaris dari baptisan – bukan hanya dalam nama Yesus Kristus (bdk. Kis. 2:38) – “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Di mana ada baptisan, di situ hadirlah Roh Kudus. Demikianlah sudah terjadi pada baptisan Yesus. Pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (bdk. Mat. 3:16). Dan juga pada rumusan baptisan sekarang ini: “dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus”, demikianlah selalu kembali terulang pada saat pembaptisan. Doa Bapa Kami pada saat Perayaan Ekaristi kadang-kadang diawali dengan ungkapan: “Kita telah menerima Roh Kudus, yang telah menjadikan kita anak-anak Allah …”.
Roh Kudus sekali lagi disebut secara tidak langsung di dalam injil pada kata-kata penutupan: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Dan bagaimana Ia hadir? Bukan lagi secara badani, sebagaimana pada saat hidupNya sebagai manusia. RohNyalah yang seharusnya menjiwai kita. Kekuatan dari atas. Penghibur. Pendamping. Pendamping yang lain. Roh Kudus.
Membaptis dalam nama Yesus Kristus adalah membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus: di mana Yesus ada, di situ hadirlah Allah Tritunggal. Itulah yang harus ditekankan pada pesta Tritunggal Mahakudus ini. Itulah yang kita rayakan.


Misteri Manusia
Tema injil hari ini tidak hanya berkisar pada Allah Tritunggal. Tema tentang para murid, tentang kita manusia, juga muncul di sini. Para murid tinggallah sebelas orang, tidak lagi duabelas. Ia memanggil duabelas orang, duabelas inilah yang dulu diutusnya (bdk. Mat 10:2.5). Kenyataan itu bagaikan sebuah luka, yang muncul karena pengkianatan dan kejatuhan Yudas. Sebuah luka yang memperingatkan akan kesombongan. Sebuah luka yang mengingatkan mereka, bahwa kesetiaan mereka kepada Yesus tergoyahkan. Mereka semua telah melukai kemuridan mereka, mereka pernah melarikan diri, mengambil jarak dari Yesus dan meninggalkan Yesus sendirian dalam derita dan wafatNya.
Itulah manusia. Demikian juga kita. Masing-masing dari antara kita membawa luka-luka kita. Namun Yesus menyembuhkan luka itu. Ia tidak mengganti mereka dan memanggil murid yang baru; Ia membaharui panggilan mereka yang pernah tidak setia, yang bukan tanpa salah. Dan mereka datang apa adanya; membawa serta sejarah hidupnya masing-masing, termasuk luka-luka mereka. Meski demikian mereka tidak mendengar satu tuduhan pun dari mulut Yesus. Demikianlah juga yang terungkap di dalam perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Luk 15:11st. Di sana juga tidak terdapat tuduhan apalagi hukuman.
“Tetapi beberapa orang ragu-ragu”, demikian terungkap lebih lanjut di dalam kutipan injil kita. Demikianlah juga kita. Kita terus mencari, bertanya, dan juga ragu-ragu. Mungkin juga kita gagal – seperti para murid – pada saat derita dan sengsara. “…tetapi beberapa orang ragu-ragu”, juga ragu-ragu akan diri sendiri: apakah aku terpanggil dan diutus? Dengan segala luka karena kelemahan, keraguan dan pengkhianatanku? “Dan ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”, demikianlah bunyi keseluruhan kalimat. Menyembah pada satu sisi – ragu-ragu pada sisi yang lain. Apakah itu merupakan suatu pilihan? Itulah yang terjadi dalam masyarakat kita juga. “Tuhan, barangkali juga kami terlalu banyak berbicara tentang Engkau, dan terlalu sedikit berbicara dengan Engkau!”

Senantiasa – sampai akhir jaman
“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, dengan kalimat ini berakhirlah bukan hanya kutipan injil hari ini, tetapi sekaligus keseluruhan Injil Matius. 
“Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham”, demikian Matius memulai injilnya. “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”, demikian ia menutupnya.
Sejarah Yesus Kristus, putera Daud, putera Abraham, berakhir bukan dengan kematianNya pada salib, bukan dengan kebangkitanNya, juga bukan dengan kenaikanNya ke Surga, dengan peninggianNya. SejarahNya adalah sejarah untuk semua bangsa senantiasa sampai akhir jaman. Akan hal inilah kita harus menjadi saksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini