Cari Blog Ini

Minggu, 06 Mei 2012

GEMBALA YANG BAIK

Hari Minggu Paskah IV
Hari Minggu Panggilan Sedunia Ke-49
P. Sani Saliwardaya, MSC
Sumber Inspirasi: Kis. 4:8-12; 1 Yoh. 3:1-2; Yoh. 10:11-18
Gereja mempersembahkan hari Minggu Paskah IV sebagai hari MInggu Panggilan. Dan yang dimaksudkan dengan panggilan di sini adalah panggilan dalam arti khusus, yakni penggilan menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Dengan demikian, pada hari MInggu ini secara khusus, Gereja mengajak seluruh umatnya untuk berdoa bagi pertumbuhan dan perkembangan panggilan khusus tersebut, yakni panggilan untuk menjadi imam, biarawan, dan biarawati, tetapi juga mendoakan semua orang yang telah mempersembahkan hidupnya dengan menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Mengapa hari Minggu Panggilan menjadi penting? Atau mengapa berdoa bagi panggilan khusus dan mendoakan para imam, biarawan, dan biarawati dianggap penting? Mau tidak mau, diakui atau tidak diakui, disadari atau tidak disadari, dalam Gereja kita, Gereja Katolik, mereka (para imam, biarawan, dan biarawati) adalah kelompok khusus yang sering disebut sebagai kelompok inti atau tulang punggung kehidupan Gereja. Sejak tahap awal karya kerasulan Gereja (evangelisasi), merekalah yang telah berjasa besar dalam penyebarluasan iman dan pembentukan Gereja-gereja baru. (Katekismus Gereja Katolik, no. 927)


Para Imam adalah para pilihan Allah yang ditahbiskan, direstui oleh Gereja untuk menjadi penghadir Kristus, alter Christi, melalui pelayanannya, khususnya pelayanan-pelayanan Perayaan Sakramental. Para biarawan dan biarawati, melalui cara dan corak hidup membiaranya, menjadi tanda kehadiran Kerajaan Sorga di dunia ini (Katekismus Gereja Katolik, no. 916). Melalui kaul-kaul yang diikrarkannya, kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian, mereka membaktikan diri dan hidupnya untuk memberi kesaksian tentang Kerajaan Sorga.

Sebagai kelompok khusus, para imam, biarawan, dan biarawati, sering kali juga mendapatkan perlakuan khusus atau diperlakukan secara khusus oleh Gereja. Ada satu pengalaman menarik. Ketika masih belajar di Roma, aku membiasakan diri mengikuti perayaan Ekaristi setiap Sabtu sore di Basilika St. Petrus, di Vatikan. Aku pergi misa dengan pakaian biasa kesukaanku, yakni celana jeans dan baju kaos. Pada suatu hari, saya ikut perayaan Ekaristi di Basilika St. Petrus seperti biasa, tetapi kali ini saya memakai baju imam yang disebut Roman Collar. Ketika saya melewati pintu gerbang, Swiss-guard, pasukan penjaga Negara Vatikan yang biasa berdiri di pintu-pintu gerbang, memberikan sikap hormat kepada saya. Saya agak kaget karena baru pertama kali menerima penghormatan seperti itu.

Memperlakukan para imam, biarawan, dan biarawati secara khusus sebenarnya tidaklah keliru karena memang mereka dianggap memiliki relasi kedekatan yang khusus dengan Kristus sendiri. Tetapi adakalanya, dan inilah sikap kemanusiaan yang ada pada setiap orang, perlakauan khusus itu membuat orang menjadi lupa diri. Karena itulah, bagi saya secara pribadi, hari MInggu Panggilan juga menjadi hari refleksi dan mawas diri.

Bacaan Injil hari ini tentang Gembala Yang Baik, menjadi bahan refleksi dan mawas diri terus menerus bagiku. Gambaran tentang seorang gembala mungkin cukup sulit dibayangkan bagi kita orang modern yang tinggal di kota-kota. Ketika masih di SMP, saya pernah pergi berlibur ke rumah seorang teman yang tinggal di desa. Saya tinggal selama 1 minggu bersama keluarga teman tersebut. Mereka memiliki sekitar 15 ekor kambing, dan setiap hari dibawa ke lapangan yang banyak rumputnya agar mereka mencari makan di sana. Induknya diikat, tetapi anak-anaknya dibiarkan lepas. Selama liburan di sana, dua hari saya mencoba ikut teman itu menggembalakan kambing-kambingnya. Ketika sore hari tiba, kami mengumpulkan kembali kambing-kambing itu untuk dibawa pulang ke rumah. Ternyata mengumpulkan kambing-kambing dan menggiringnya kembali pulang ke rumah bukanlah pekerjaan yang mudah. Anak-anak kambing itu rupanya masih suka bermain-main dan berlari-larian, sehingga setiap kali harus dikejar agar kembali ke kelompoknya atau dilempari batu di sekitarnya supaya tidak menjauh dari kelompoknya. 

Dalam Injil Minggu ini dikatakan bahwa Yesus, sebagai gembala, mengenal domba-domba-Nya, dan domba-domba-Nya mengenali Dia, gembalanya. Karena saling mengenal itulah, Yesus tidak perlu mengejar-ngejar domba yang nakal, apalagi melemparinya dengan batu. Yesus bukan hanya mengenali domba-domba-Nya, tetapi menjaga domba-domba itu dari serangan serigala. Untuk itulah, Dia rela mempertaruhkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya. Yesus menggembalakan domba bukan demi upah; DIa menggembalakan domba karena DIa memang seorang gembala dan serentak pemilik domba. Yesus juga menggembalakan bukan hanya domba-domba milik-Nya sendiri saja, tetapi juga domba dari kandang lain, yang bukan menjadi milik-Nya. Domba-domba inipun, Dia beri makanan dan minuman, dituntun untuk mendengarkan suara-Nya. Saya membayangkan betapa banyaknya domba yang harus digembalakan oleh Yesus, tetapi Dia tetap baik karena mengenali mereka satu persatu.

Perumpamaan tentang Gembala Yang Baik hendak mengatakan dua hal penting:

1. Gembala yang memiliki hati, dalam arti mau mengenali domba-domba yang dipercayakan kepadanya agar dapat menuntunnya kepada kehidupan yang benar. Dengan demikian, mengenali domba berarti juga menjalin relasi yang benar untuk mengenali suara dan bahasa kebutuhan domba-domba.

2. Gembala yang mau berkorban demi keselamatan domba-domba yang dipercayakan kepadanya. Dalam arti ini, gembala yang baik adalah gembala yang rela dan mau melepaskan kepentingan dan kebutuhan pribadinya dan mendahulukan kehidupan dan keselamatan dombanya.

Dua hal tersebut saling berkaitan. Gembala yang memiliki hati dan mau berkorban adalah gembala yang ketika menggembalakan domba-dombanya, di satu pihak, berjuang dan berusaha mengenali kebutuhan domba-domba, tetapi di pihak lain, tidak hanya sekedar mengikuti kebutuhan mereka melainkan menuntun mereka kepada kehidupan yang benar dan keselamatan mereka meskipun gembala itu sendiri harus melepaskan kepentingan & kebutuhan pribadinya. 

Sikap sedemikian ini hanya mungkin bila sang gembala memiliki relasi yang akrab dan mengenali kehendak sang pemilik domba, yakni Kristus sendiri.

“Yesus, Gembala Yang Baik, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar