Kamis, 23 Agustus 2012

SEBELUM DUDUK, UMAT BERLUTUT KE ARAH ALTAR ATAU TABERNAKEL?


Ada umat bertanya ” Pada saat masuk ke gereja dan sebelum duduk, umat berlutut. Kemana arahnya, 
apakah ke Altar atau Tabelnakel.

PENCERAHAN DARI BP. AGUS SYAWAL YUDHISTIRA :
Jika di panti imam ada Altar dan Tabernakel yang didalamnya disemayamkan Sakramen Mahakudus, atau jika di dekat Altar ada Tabernakel yang kelihatan dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya: Umat berlutut dengan satu kaki (kaki kanan menyentuh tanah) ketika melewati Altar/Tabernakel. Tidak perlu dua kali jika Altar/Tabernakel agak terpisah.
Juga ketika hendak duduk, ini kebiasaan yang baik.
Jika tidak ada Tabernakel di panti imam (hanya ada Altar), umat membungkuk dalam ke arah Altar ketika melewati Altar, juga ketika hendak duduk.
Jika hanya ada Tabernakel, umat berlutut satu kaki.
Jika Sakramen ditahtakan dalam Monstrans atau Pixis, umat berlutut. Aturan pasca Konsili Vatikan II tidak secara spesifik memberi perbedaan dengan dua lutut menyentuh tanah atau satu lutut kanan saja. Keduanya boleh dilakukan. Aturan sebelum Konsili Vatikan II mewajibkan berlutut dengan kedua lutut menyentuh tanah (double genuflection).
Petugas Liturgi yang melayani dalam Misa diwajibkan untuk berlutut ke arah Altar jika ada Tabernakel dengan Sakramen di dalamnya, hanya pada dua kesempatan: sebelum naik ke panti imam dan setelah perayan selesai. Tidak perlu berlutut setiap kali lewat. Jika tidak ada Sakramen, membungkuk yang dalam ke arah Altar.
Pada Jumat Agung ada kekhususan, selain terhadap Sakramen Mahakudus, umat juga berlutut ke arah Salib. Umumnya Salib utama pada perayaan Jumat Agung.

PENCERAHAN dari Pastor Liberius Sihombing
Bagaimana pun kita mesti tahu apa yg menjadi central (pusat) dari sebuah bangunan gereja. Yang menjadi pusat dalam gereja adalah Altar (bukan tabernakel). Dalam gereja bisa tdk ada tabernakal tetapi mesti ada Altar. Itu mesti dipahami. Maka menurut paham liturgi, kita memberi hormat entah berlutut entah membungkuk di dalam gereja bukan terutama karena ada tabernakel yang adalah tempat penyimpanan hosti kudus. Tetapi karena adanya Altar tempat dimana Yesus Kristus hadir secara riil. Jadi bukan berarti kalau tidak ada tabernakel, maka cara penghormatan kita di dalam gereja menjadi berkurang. 
Di banyak tempat (stasi) tdk tersedia tabernakel, jd bukan berarti kita tidak perlu berlutut di sana. Memperlakukan gereja mesti sama entah tanpa tabernakel atau dengan tabernakel. Pernah sy agak tersinggung melihat umat menghias gereja (kebetulan tdk ada tabernakel) untuk memasang hiasan natal di plafon mereka menggeser altar dan menginjaknya. Mereka memperlakukan altar seperti meja biasa dan dipakai jdi pijakan pengganti tangga. Bukankah altar itu ‘piring’ kita yg dari dalamnya kita langsung menerima Kristus? Maka untuk saya (bukan menyangkal pendapat teman yg pertama) altar itu menjadi lebih tinggi dari tabernakel. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini