Jumat, 03 Agustus 2012

Roti Hidup

Hari Minggu Biasa XVIII
Tahun B
oleh Pastor Paulus Tongli, Pr
Bacaan Inspirasi :  Ef. 4,17.20-24; Yoh. 6,24-35





“Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya” merupakan pepatah yang sangatlah lazim digunakan di dalam masyarakat untuk menunjukkan bahwa kebiasaan bisa berbeda-beda di dalam kelompok atau masyarakat yang berbeda pula. 

Pernah saya berbincang-bincang dengan seorang pelancong dari salah satu negara Eropa, yang heran melihat orang Indonesia. Pagi makan nasi, siang makan nasi, malam makan nasi lagi. Bahkan meskipun sudah makan kue-kue banyak sekali, tetapi kalau belum makan nasi, masih tetap merasa belum makan. Ia bertanya, „Bagaimana kalian di Indonesia ini berdoa Bapa Kami?” semula saya tidak mengerti maksud pertanyaannya, tetapi ketika ia melanjutkan, „kalian tidak mengenal roti sebagai makanan pokok, kalian membutuhkan nasi, bagaimana kalian bisa berdoa ‚give us today our daily bread‘?” Untuk apa orang meminta apa yang tidak dibutuhkannya? Pertanyaan ini lucu tetapi benar. Itulah sebabnya kita di dalam wilayah berbahasa Indonesia tidak berdoa, „berilah kami roti hari ini”. Kata „roti” kita ganti menjadi „rejeki”, suatu kata yang mengungkapkan semua yang kita butuhkan. Semula saya sendiri tidak begitu menyadari, apa arti bagian ini. Hanya merupakan sebuah kalimat yang sangat pendek, tetapi sungguh memuat suatu makna teologis yang dalam. 

Bila kita berdoa Bapa Kami, „give us today our daily bread”, atau „berilah kami rejeki pada hari ini”, yang kita maksudkan bukan hanya roti yang dapat kita beli di Toko Roti, atau nasi bungkus yang dapat dibeli di Rumah Makan Nyoto, melainkan semua yang kita butuhkan untuk hidup. Dalam hal ini doa kita di Indonesia terumuskan lebih baik. Rejeki bukan hanya menyangkut hal yang membuat perut kita kenyang. Karena kalau demikian, maka pastilah orang yang selalu bisa dan dapat makan banyak adalah orang yang paling senang dan paling bahagia. Banyak orang meski dapat makan kenyang, tetapi kekurangan rejeki yang lain. 

Banyak orang dewasa ini yang mengalami 3 macam penderitaan: penderitaan karena tergusur dari ruang hidupnya, penderitaan karena keterasingan dari sesamanya, dan penderitaan kehampaan makna hidup. Banyak orang yang lapar dan haus bukan hanya akan makanan dan minuman. Mereka juga mengalami kelaparan dan kehausan akan pengakuan, akan cinta, akan rasa aman, akan rasa diterima dan dihargai; kelaparan dan kehausan akan seseorang, yang mempercayai dan mengandalkannya. Itu semua adalah roti yang memberi kita hidup. 




Kristus, sumber hidup kita

Kristus bersabda dalam kutipan injil hari ini: „Akulah roti hidup”. Dengan itu Ia memaksudkan: Akulah yang memberi kamu hidup. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose mengatakan: „di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi” (Kol 1,16). 

Bila seorang anak lahir ke dunia ini, anak itu bukanlah hasil karya orangtuanya. Mereka ikut berkarya, tetapi Allahlah yang menciptakan keajaiban hidup. Selalu tetap merupakan sesuatu yang mengagumkan untuk menyaksikan proses yang dialami oleh manusia: lahir dalam wujud seorang bayi tidak berdaya, kemudian bertumbuh dan berubah menjadi dewasa dan semakin matang, mengemban berbagai macam fungsi dan tanggung jawab, menjadi sumber kegembiraan dan cinta, dsb. Itulah hidup, yang oleh Allah dianugerahkan dan diciptakan „melalui Dia”, Kristus. 

Allah pun tidak acuh tak acuh terhadap hidup yang telah diciptakannya. Ia memelihara hidup ini di dalam setiap tarikan nafas. Ia menentukan awal dan akhir. Ia menuntun dan menyertainya dengan cinta-Nya, „sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Selalu dan di mana pun, kita berada di dalam tangan Tuhan. Hal ini pun terjadi „di dalam Dia”, Kristus. 

Tetapi terutama kita hidup dari Kristus, karena Ia menjadi manusia dan datang ke dunia ini dari Bapa, agar Ia mengambil alih kematian kita dan membuatnya tidak berdaya di dalam kematianNya sendiri; dan dengan demikian membukakan bagi kita pintu kepada masa depan yang baru, kepada hidup yang kekal, kepada kepenuhan hidup di dalam kemuliaan Allah. Ia mati agar kita hidup. Dari Dialah kita hidup. Ialah „roti hidup”. 




Menjadi konkrit di dalam Ekaristi

Di dalam Ekaristi, Roti Hidup ini menjadi sangat konkrit, dapat kita raba dan rasakan, bagi kita. Kristus memberikan diri di dalam wujud roti untuk kita santap, agar kita dapat memahami, betapa kita memperoleh hidup dari-Nya. Dulu di Kafarnaum para murid belum mampu untuk memahami sabda Yesus ketika Yesus untuk pertama kalinya memenuhi janji-Nya. Namun sejak saat itu Gereja selama berabad-abad hingga sekarang merayakan Ekaristi, saat di mana kita berkumpul bersama dan di sekitar Kristus. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, Allah setiap kali pula menganugerahkan roti hidup secara baru. Tentu hal mendasar yang memungkinkan hal ini terjadi haruslah ada, yakni kepercayaan. Yesus menyatakannya di dalam kutipan injil hari ini atas pertanyaan para murid, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29).

Bilamana kita merayakan Ekaristi dan menerima komuni kudus, kita maju ke depan altar, bukan untuk mengambil sesuatu, tetapi untuk menerima Kristus masuk ke dalam hati, ke dalam hidup kita, dan dengan itu kita menerima hidup dari-Nya. Kita harus maju dengan penuh keyakinan. Percaya tidak sekedar memegang dan mematuhi ajaran atau dogma. percaya berkaitan erat dengan sikap mencintai, hormat dan takwa. Di dalam bahasa kitab suci, percaya itu berarti mengikatkan diri dengan Allah. 

Oleh karena itu di dalam perayaan Ekaristi, kita ingin datang ke hadapan Yesus, sang Roti Hidup, dan menerima Dia ke dalam hidup kita. Kita ingin mempersekutukan diri kita dengan-Nya, lebih mengembangkan sikap cinta, hormat dan takwa kepada-Nya, menggantungkan hati dan mengikatkan diri kepada-Nya, Sang Sumber Hidup kita. Hanya dengan itu kita dapat menghidupi hidup yang penuh dan sempurna. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini