Jumat, 31 Agustus 2012

Dari penghindaran menjadi keterlibatan


HARI MINGGU BIASA XXII
Oleh Pastor Paulus Tongli, Pr
Inpirasi Bacaan: 
Mrk 7:1-8,14-15, 21-23

Dua orang frater, Frater Frans dan seorang frater yang lain, sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah stasi di sebuah paroki, tempat mereka menjalani tahun orientasi pastoralnya. Saat itu mereka mendapati seorang gadis yang cantik dan berpakaian indah di tepi sebuah sungai yang keruh dan kotor. Gadis itu menyapa kedua frater tersebut dan meminta tolong agar diseberangkan. “Mari” sambut frater Frans dan tanpa berbasa basi panjang lebar, ia langsung membopong gadis itu dan menyeberangkannya. Setelah ia meletakkan gadis itu di seberang, kedua frater itu melanjutkan perjalanannya. Mereka berdua berjalan dalam keheningan hingga mereka mencapai pastoran. Lalu frater yang lain itu tidak tahan lagi untuk berdiam lebih lama, lalu mulai membuka pembicaraan: “Seorang frater tidak boleh dekat-dekat dengan perempuan, apalagi dengan gadis cantik seperti di pinggir kali tadi. Mengapa engkau menggendongnya?” “Frater yang baik” jawab Frater Frans, “saya sudah meninggalkan gadis itu di pinggir kali, mengapa engkau masih membawanya sampai di pastoran?” 
Di dalam pembicaraan kedua frater tadi tampaklah dua pendekatan yang sering bertolak belakang di dalam spiritualitas kristiani, yakni penghindaran dan keterlibatan. Spiritualitas penghindaran menekankan pemenuhan dengan taat semua perintah agama, dan menjauhkan diri dari semua yang dianggap orang berdosa atau dapat menjadi sumber berdosa, karena takut terpengaruh dan ikut berdosa. Tujuannya adalah menjaga orang beriman agar tidak terpengaruh oleh dunia, bukan untuk mengubah dunia dan menjadikannya berbeda dari yang sekarang. Sebaliknya spiritualitas keterlibatan menekankan solidaritas yang aktif dengan para pendosa, yang seringkali disamakan dengan  dunia “najis”. Mereka bukanlah untuk dihindari melainkan kepada mereka orang beriman harus mengulurkan tangan, karena percaya bahwa lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Keseimbangan dalam spiritualitas kristiani terletak pada usaha untuk mendamaikan dua kecenderungan ini dan membawanya kepada harmoni. Rasul Yakobus berkata, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (keterlibatan), dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (penghindaran)” (Yak 1:27).
Dalam kutipan injil hari ini, orang-orang Farisi dan para ahli taurat berbicara tentang spiritualitas penghindaran. Mereka sangat menekankan pelaksanaan yang benar akan ibadat. Keberatan mereka terhadap praktek makan tanpa membasuh tangan tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal higienitas. Mereka menekankan pada praktek ritual pembasuhan tangan yang pada intinya bermaksud untuk menghindarkan kesucian ibadat Yahudi kontak dengan kenajisan. Keyahudian mereka ditandakan oleh ketaatan kepada aturan-aturan tersebut. Dengan tidak memenuhi aturan itu para murid mengaburkan pembedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi yang dianggap kafir. Mereka bertindak seakan-akan keduanya tidak berbeda. Yesus membela tindakan para murid itu dengan menekankan pemahaman soal suci dan najis. “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” Mrk 7:14-15)
Dengan kalimat ini Yesus menghancurkan sekat homophobia yang masih tersisa di dalam agama, yakni ketakutan kepada orang lain yang dipandang berbeda. Bangsa-bangsa lain tidak dapat menajiskan orang Yahudi dan sebaliknya. Tidak ada sesuatu atau seseorang yang ada di luar diri kita yang dapat menajiskan. Bila kehadiran seseorang atau sesuatu dianggap dapat menajiskan, itu pertanda bahwa orang yang merasa dapat dinajiskan itulah yang membawa kenajisan di dalam dirinya. Orang tidak perlu melihat lebih jauh daripada hati dan jiwa sendiri. Seorang yang berhati baik akan juga melihat segala-galanya baik. Dalam arti luas, inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam sabda bahagia bila Ia mengatakan: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).  Inilah penjelasan dari tindakan Yesus yang tidak merasa jijik menjamah orang kusta, tidak merasa najis makan bersama dengan para pendosa, dan membiarkan dirinya disentuh oleh orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat, seperti oleh wanita pelacur atau orang yang kerasukan roh jahat. Karena pergaulannya yang begitu dekat dengan orang-orang yang tersingkirkan ini, Yesus diberi gelar “sahabat para pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:9). 
Hari ini merupakan kesempatan yang baik untuk sejenak melihat orientasi spiritual kita. apakah kita menganut spiritualitas penghindaran seperti salah seorang frater di dalam cerita kita di awal renungan ini, yakni menghindari perjumpaan dengan gadis itu dan membiarkannya di pinggir kali karena ia mau menjaga ketaatan kepada aturan atau karena takut menodai “kesuciannya”? Jika demikian, bacaan injil ini menantang kita untuk menjadi seperti Fr Frans yang berani mengulurkan tangannya kepada orang yang membutuhkan, karena menyadari bahwa tidak ada seseorang atau sesuatu pun yang dapat menajiskan diri kita kecuali kalau kita membawa kenajisan itu di dalam hati kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini