Cari Blog Ini

Jumat, 20 September 2013

Merencanakan Masa Depan

RD. Paulus Tongli
Hari Minggu Biasa ke XXV
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 16: 1 - 13

Saudara-i terkasih, kekuatiran akan masa depan merupakan kekuatiran setiap orang. Tentang kekuatiran inilah yang dibicarakan oleh injil hari ini. “Apa yang hendak kulakukan?” demikian tanya bendahara itu dengan tidak berdaya. Tampaknya baginya tidak banyak pilihan: pekerjaan yang halal tetapi jujur tidaklah mungkin dilakukannya. Sedangkan untuk mengemis ia malu. 

Di dalam situasi seperti ini ia merencanakan suatu tindakan tidak jujur lainnya atas harta milik tuannya, yang pada saat itu masih ada di dalam kuasanya. Tindakan tidak jujur yang lain baginya dapat menjadi jalan keluar dari situasi yang mendesak itu. Ia memanggil orang-orang yang berutang kepada tuannya, mencoret sebagian kewajiban yang harus mereka bayar, dan mengurangi secara drastis kewajiban para kreditur itu. Dengan tindakan itu ia berharap agar mereka karena rasa terima kasih mereka, mereka mau membuka pintu rumah mereka untuknya bila mana tuannya memecatnya. Dengan itu orang masih dapat menerima dia ke dalam rumahnya.

Tetapi tidak ada sesuatu yang lain yang terjadi. 
Perumpamaan itu, sebagaimana Yesus menceriterakannya kepada para pendengarnya, berakhir dengan ungkapan: dan tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak cerdik” tuan di dalam perumpamaan itu adalah tuan dari bendahara itu. Memang mengherankan karena bendahara itu tidak menerima hukuman; malahan pujian. 

Di dalam konteks injil Lukas, tuan yang telah memuji bendahara itu, adalah Tuhan Yesus sendiri. Yesus memuji bendahara itu, dan tentu hal itu menghadapkan kita pada beberapa persoalan. Apakah penipuan dapat menjadi alternatif atas pekerjaan? Penipuan ganda dapat menjadi jalan keluar dari krisis? Pastilah Yesus tidak menganjurkan hal itu. Tetapi inti dari perumpamaan itu terletak pada pokok yang lainnya. Dua hal dapat menjadi titik tolak pemahaman. Di satu pihak bendahara itu merencanakan masa depannya; ia memikirkan bagaimana ia harus menghadapi masa depannya. 

Di lain pihak ia melakukan sesuatu yang baik meskipun dengan cara yang sangat meragukan: ia melepaskan utang; ia meringankan orang yang berbeban berat. 

Bahwa kita mencari pesan teks ini ke arah ini, diteguhkan oleh ungkapan Yesus: „Aku berkata kepadamu, ikatlah persahabatan dengan menggunakan mamon yang tidak jujur supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”. Kedua pemikiran itu dapat kita temukan di sini. 

Perencanaan akan masa depan: perencanaan itu tetaplah sangat sempit bila tidak menjangkau ujung hidup ini dan dari sana memikirkan akhir hidup ini. Menabung untuk masa depan tentulah harus dilakukan, tetapi kita tidak hanya membutuhkan tempat tinggal di bumi ini, kita juga membutuhkan tempat tinggal abadi di surga, tempat tinggal yang juga sudah harus mulai di bangun saat ini. Yang kedua berkaitan erat dengan yang pertama ini. Menjalin persaudaraan dengan menggunakan uang dan harta milik. Kegembiraan seperti ini dihasilkan orang dengan cara bantuan yang murah hati, di mana orang menjangkau orang yang menderita dan miskin. Teman-teman yang demikian dapat tampil menjadi pembela di depan pengadilan, atau kebaikan akan berbicara sendiri dan untuk kita. 

Pepatah mengatakan: pakaian orang mati tidak memiliki saku, tidak ada sesuatu yang dapat kita bawa serta ke dalam kubur. 

“Apa yang akan aku lakukan?” tanya bendahara itu di dalam perumpamaan, dan Yesus memberikan jawaban yang jelas. Pertanyaan serupa sudah sering kita ungkapkan, entah dengan sadar atau tidak. Jawaban Yesus karena itu juga berlaku untuk kita: memikirkan masa depan, pasti, tetapi jangan terlalu membatasi pada hal duniawi saja. Jaminan terakhir tidaklah datang dari harta duniawi, melainkan dari Allah. Bila kita bertindak demikian, dapatlah kita berharap akan janji Yesus: „Di dalam rumah bapaku ada banya tempat tinggal. Aku pergi ke sana untuk mempersiapkan rumah kediaman abadi bagi kalian” (Yoh 14:2).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar