Cari Blog Ini

Jumat, 20 September 2013

KELUARGA SEBAGAI SARANA MENUJU KESUCIAN (Ef 5:21-6:4)

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2013 : 
KELUARGA BERSEKUTU DALAM SABDA

REFLEKSI MINGGU KE 4

Nasihat Paulus agar istri tunduk kepada suami sepertinya tidak relevan bahkan bertentangan dengan gagasan kesetaraan yang didengung-dengungkan dewasa ini dan oleh Paulus sendiri dalam Gal. 3:28. Namun, bila disimak lebih dalam, kesamaan dan kesetaraan yang diwartakan oleh Paulus dalam Gal. 3:28 tidak bermaksud menyangkal perbedaan gender, etnis, maupun sosial, melainkan menekankan kesatuan dan kesamaan orang Yahudi dan non-Yahudi di hadapan Allah. Semuanya memperoleh pembenaran dan keanggotaan yang penuh dalam umat Allah melalui iman akan Kristus. Kesatuan dan kesamaan keluhuran kita dalam Kristus tidak menghapus perbedaan. Sebaliknya perbedaan perlu untuk saling melengkapi (1Kor. 12:12-28).

Bila kita baca teks Ef. 5:2-10:32 secara keseluruhan, tentu tidak sulit menerima perintah "tunduk" kepada suami, karena konteksnya suami mengasihi istri. Selain itu, suami juga harus merendahkan diri dan melayani istri, bukan bersikap main kuasa. Apalagi dalam ayat 21 dianjurkan agar setiap orang saling merendahkan diri. Tapi bagaimana kita bisa menghubungkan kesamaan dan tunduk?

Gagasan kesamaan dan tunduk perlu dilihat dalam terang relasi yang terdapat dalam pribadi-pribadi Allah Tritunggal, khususnya antara Bapa (Allah) dan Putra (Kristus). Dalam 1Kor. 11:3, Paulus menggambarkan hubungan perempuan dan laki-Iaki seperti hubungan Kristus dan Allah, "Kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah". Gambaran kepala di sini jelas menunjukkan tunduknya Kristus pada Allah, seperti nyata pula dalam 1Kor. 15:28, "Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia". Tunduknya Kristus pada Allah hanyalah untuk menunjukkan perbedaan peranan yang terdapat dalam Allah Tritunggal dan perbedaan relasi di antara mereka, sedangkan masing-masing pribadi itu memiliki kodrat yang sama. Perbedaan, bahkan takluk-Nya Putra kepada Bapa, sama sekali tidak meniadakan kesamaan fundamental mereka. Oleh karena itu, persekutuan Allah Tritunggal patut menjadi model persekutuan semua anggota Gereja, khususnya persekutuan antara suami dan istri dalam perkawinan. Suami dan istri tetap sama dan sederajat, meskipun suami adalah kepala istri.




Perbedaan istri dan suami

Paulus meminta istri untuk tunduk (ayat 21) dan hormat (ayat 33) kepada suami, sedangkan para suami diminta untuk mengasuh (memberi makan) dan merawat istri (ayat 29). Mengapa ada perbedaan seperti itu, apakah tidak cukup bahwa relasi mereka dibangun atas dasar saling merendahkan diri? Perbedaan ini mungkin merefleksikan perbedaan kebutuhan laki-Iaki dan perempuan. Laki-laki lebih membutuhkan hormat, sedangkan perempuan lebih membutuhkan perhatian dan kehangatan. Suami merasa nyaman dan bahagia ketika istrinya menunjukkan rasa hormat kepadanya, percaya dan mengandalkan dia. Sebaliknya istri merasa bahagia ketika suaminya menempatkan kebutuhannya sendiri sesudah kebutuhan istrinya. Apakah memang demikian?




Kewajiban dan bukan hak

Ketika membahas hubungan suami-istri, Paulus hanya menunjukkan tanggung jawab masing-masing pihak dan bukan hak-hak mereka. Hal ini tidak berarti bahwa ia tidak peduli dengan hak masing-masing pasangan. Yang mau dia tekankan ialah agar masing-masing pihak melakukan tanggung jawabnya masing-masing tanpa syarat. Dia tidak meminta suami mencintai istrinya jika si istri menghormati dan tunduk kepadanya. Ia juga tidak menyuruh istri-istri untuk tunduk kepada suami mereka jika suami mereka mengasihi dan mengurbankan dirinya untuk mereka. Bagaimana dengan relasi dalam keluarga kita? Apakah masing-masing pihak lebih memikirkan kewajiban orang lain daripada tanggung jawabnya sendiri? Menuntut orang lain berubah, dan bukan dirinya sendiri?




Kuasa dan kerendahan hati

Dalam keluarga perlu ada tata susunan relasi. Ada yang menjadi kepala dan ada yang menjadi tubuh. Tidak bisa semuanya menjadi kepala. Namun, meskipun ada perbedaan itu, pusat perhatian masing-masing anggota keluarga, khususnya suami, bukanlah menunjukkan otoritasnya, melainkan merendahkan diri, melihat kepentingan orang lain lebih dari kepentingannya sendiri.




Kewajiban orangtua mendidik anak

Perubahan-perubahan nilai dalam budaya modern cenderung mendorong anak kurang menghargai dan menghormati orangtuanya. Selain itu, tanggung jawab orangtua untuk mendidik anak di dalam Tuhan juga menjadi tugas yang sulit dijalankan, padahal itu sangat vital. Ketika dunia dan media massa menawarkan nilai-nilai yang berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai kristiani, orangtua diharapkan mampu memberi pengarahan agar anak tidak bingung dalam memilih jalannya. Adanya sekolah Katolik dan katekese di paroki tidak menggantikan peran orangtua sebagai yang pertama mendidik anak-anaknya dalam hal keagamaan.

Banyak orangtua telah menyadari tanggung jawab mereka memperkenalkan liturgi, sakramen, katekismus, dan rosario kepada anak-anaknya, tetapi mengapa begitu sedikit yang sudah memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anaknya? Orangtua dapat belajar berbicara tentang firman Tuhan dengan anak-anak mereka dan membangun keluarga yang mempunyai kebiasaan mengakui pentingnya dan kudusnya Kitab Suci, misalnya dengan membiasakan diri membuat ibadat keluarga memakai buku yang sudah diterbitkan oleh LBI. Orangtua dapat memakai kesempatan-kesempatan atau perayaan-perayaan khusus, seperti Natal, Paskah, dan Pentakosta untuk menerangkan iman Katolik dari Kitab Suci.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar