Kamis, 05 September 2013

“KELUARGA YANG BERAKAR PADA SABDA ALLAH : KELUARGA ZAKHARIA DAN ELISABET”

Bahan Refeksi Minggu II
BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2013

Menghargai anak
Sabda Tuhan menunjukkan kepada kita pentingnya seorang anak. Apakah sebagai suami-istri, kita benar-benar mendambakan dan menghargai anak sebagai anugerah istimewa dari Tuhan? Bagaimana pandangan kita dengan sikap orang yang menikah tctapi tidak mau mempunyai anak? Bagaimana sikap kita terhadap aborsi, terhadap kasus bayi yang dibuang begitu saja olgh-orang yang melahirkannya?
Bagaimana sikap kita terhadap orang yang mandul? Apa yang kita buat bila sebagai suami-istri kita belum juga dikaruniai keturunan? Usaha-usaha apa saja yang kita buat dan apakah usaha itu sesuai dengan iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan? Bila sudah begitu lama kita menantikannya, masih beranikah kita berharap dan percaya bahwa "tiada yang mustahil bagi Tuhan"?

Sunat
Sunat dalam Perjanjian Lama pertama-tama merupakan tanda lahiriah perjanjian Israel dengan Allah. Namun, sunat tidak boleh terbatas sebagai tanda lahiriah, melainkan juga tanda rohani. Sunat berkaitan erat dengan ketaatan, menjadi tanda jawaban manusia atas kasih karunia Allah yang memilih dan menandai umat milik-Nya. Jawaban itu berupa penyerahan diri kepada Allah dan kesetiaan dalam menaati hukum-Nya. "Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela". Darah yang tumpah dalam sunat menunjukkan tuntutan yang mahal yang harus dibayar oleh manusia yang hidup dalam perjanjian dengan Tuhan.
Perjanjian Lama sebenarnya sudah menekankan pentingnya sunat hati, sunat rohani. "Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk" (Ul. 10:16); "Allahmu, akan menyunatkan hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN" (Ul. 30:6). Yeremia mengajak orang Yehuda bertobat dengan berkata, "Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu" (Yer. 4:4). Namun, Perjanjian Baru lebih tegas lagi dalam menandaskan pentingnya sunat rohani, terutama ketika hukum sunat hendak dijadikan sebagai syarat untuk keselamatan. Paulus dengan keras menentang kewajiban sunat jasmani, "Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah" (1Kor. 7:19); "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih (Gal. 5:6). Keselamatan diperoleh bukan karena sunat, melainkan karena Kristus, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17).
Sunat dalam Perjanjian Baru bukan lagi sunat lahiriah, melainkan sunat dalam Kristus, yaitu terpisah, putus hubungan dengan dosa. "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa" (Kol. 2:11). Sunat yang sejati adalah sunat "di dalam hati, secara rohani, bukan secara harfiah" (Rm. 2:29). Seperti alat kelamin laki-laki, hati dalam arti tertentu juga merupakan tempat bertumbuhnya benih, baik benih-benih kasih maupun benih-benih kejahatan. Pembungkus hati yang menodai hati kita harus dibuang agar kita terbuka dan bersih, bebas dari perbuatan-perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, kedengkian, bermabuk-mabukan, pesta pora, dan sebagainya (Gal. 5:19-21). Sunat baru yang menandai kita masuk menjadi umat perjanjian ialah sakramen baptis. Dengan dibaptis kita dibersihkan dari dosa-dosa kita oleh Kristus dan mulai menjalani hidup baru yang dipimpin Roh.
Bagaimana sikap saya terhadap sunat dan baptis? Apakah saya inelihatnya hanya sebagai upacara formal, lahiriah, ataukah sudah saya hayati nilai-nilai rohaninya dengan hidup dalam kekudusan?

Hidup dalam janji
Kelahiran anak laki-lakinya dan berakhirnya kebisuan menunjukkan kepada Zakharia bahwa Allah pasti menepati janji-Nya dan tidak ada yang mustahil bagi Dia (Luk. 1:37). Dia harus membayar mahal ketidakpercayaannya, namun ketidakpercayaannya itu sendiri tidak dapat menghalangi Allah dalam melaksanakan rencana-Nya.
Kita pun umat perjanjian, umat yang hidup dalam janji. Hidup dalam janji tidaklah mudah apalagi kalau apa yang dijanjikan itu seakan mustahil dan lama tidak terpenuhi. Pengalaman Zakharia menyadarkan kita bahwa Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Janji Allah bisa dipercaya dan kita tidak perlu meragukannya karena Allah tidak mungkin berdusta (Ibr. 6:18). Tapi, bagaimana dengan janji kita yang menyebut diri anak-anak Allah? Masih pantaskah kita disebut anak Allah bila janji kita tidak bisa dipercaya lagi?
Ketaatan pada firman mendatangkan berkat
Belajar dari pengalaman, Zakharia dan Elisabet berusaha sebisa mungkin menaati firman Tuhan. Mereka menyunatkan anak mereka pada hari kedelapan dan menamainya Yohanes. Dalam memberi nama ini, mereka lebih memilih taat kepada firman Tuhan daripada kepada tradisi yang berlaku. Akibatnya, mereka menjadi orang yang terberkati dan Allah menyertai anak mereka. Betapa banyak Iradisi dan peraturan-peraturan duniawi yang sepertinya kurang scsuai bahkan bertentangan dengan firman Tuhan. Bagaimana kita mcnyikapinya?

Nama menunjukkan identitas diri
Nama merupakan pembeda identitas dan menggambarkan siapa saya, juga apa yang Tuhan dan orang lain harapkan dari saya. Betapa sering kita memilih nama secara sembarangan, atau menyebut nama orang lain secara tidak benar. Nama atau sebutan yang diberikan kepada kita menunjukkan dan menggambarkan identitas kita. Sebuah pepatah Cina berbunyi, "Awal kebijaksanaan adalah memanggil sesuatu dengan namanya yang benar". Apakah kita menghargai nama? Ataukah kita menyepelekannya seperti Shakespeare, pujangga besar Inggris, yang mengatakan, "Apalah arti sebuah nama? Setangkai mawar tetap harum entah ia bernama rose atau rosa"?

Memuji
Ketika bisa berbicara kembali seperti sediakala, hal pertama yang dilakukan oleh Zakharia ialah memuji Allah (ayat 64b). Apakah kita termasuk orang yang bisu seperti Zakharia yang sedang menjalani hukuman, ataukah orang yang memujiTuhan? Berapa lama kita membisu? Apakah kita sedang menunggu karya ajaib supaya bisa melepaskan kebisuan kita? Ataukah kita sudah dijiwai oleh pesan Paulus untuk selalu memuji dan bersyukur kepada Allah dalam situasi apapun?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini