Kamis, 05 September 2013

Membenci orang yang kita cintai?

Oleh P. Paulus Tongli, Pr
Hari Minggu Biasa ke XXIII/ Tahun C
Inspirasi Bacaan dari : Lukas 14:25-33

Kita kenal perintah yang lama, “hormatilah ayah dan ibumu” (Kel 20:12). Kita tahu perintah baru Yesus, “Kasihilah satu sama lain; seperti Aku telah mengasihi engkau” (Yoh 13:34). Dan saat ini kita mendengarkan kata-kata Yesus: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:26). Bagaimana kita dapat mendamaikan kedua perintah yang tampaknya saling bertentangan ini? Bagaimana mungkin kita membenci orang-orang yang kita cintai? Dan lebih penting lagi, mengapa? 
Saya pernah menyaksikan pertandingan tenis final dalam turnamen US Open antara Venus dan Serena Williams. Mereka berperang satu melawan lainnya dalam pertendingan yang berlangsung sangat ketat. Anda dapat membayangkan apa yang ada di dalam pikiran Venus maupun Serena Williams di dalam pertandingan untuk saling mengalahkan? Mereka harus saling “membenci” satu sama lain sekalipun hanya untuk sementara, karena yang satu menghadang di jalan yang lain untuk menjadi juara. Yang satu menjadi halangan bagi yang lain untuk merealisasikan mimpinya untuk mengenakan mahkota dunia. Dan karena itu mereka harus “membenci” dan berjuang melawan satu sama lain. 
Venus menang. Tetapi kali ini, tidak seperti biasanya, ia tidak melonjak kegirangan merayakan kemenangan itu. Ia berlari ke arah net dan memeluk adiknya seraya berkata “I love you”. Mengapa ia mengatakan hal itu? Karena pertandingan sudah berlalu dan saudarinya bukan lagi halangan baginya untuk menjadi pemenang. Ia berkata, “I am sorry, but I had to do it: I had to fight you so hard” atau dengan kata lain “saya harus membencimu, karena engkau menghadang di jalanku. Tetapi saya tetap mencintaimu”. Itulah satu contoh dari hal “membenci” orang yang kita cintai, dan dari situ kita dapat belajar banyak tentang keputusan untuk “membenci” orang yang kita cintai. 
Dalam keadaan biasa Venus mencintai Serena saudarinya, kecuali ketika Serena menjadi penghambat yang dapat menghalanginya untuk mewujudkan ambisinya merebut mahkota kemenangan. Demikianlah juga kita harus mencintai orang tua atau saudara atau pasangan kita, dan semua orang lain, kecuali bila mereka menjadi panghambat bagi kita untuk memenangkan mahkota kehidupan kekal. Mahkota kemuliaan surgawi yang Bapa berikan kepada kita jauh lebih mulia daripada mahkota yang Venus menangkan ketika ia mengalahkan Serena. Demikianlah kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang tidak mengenakkan bila mana kita harus bersikap tidak kompromi terhadap orang atau sesuatu yang menghadang kita atau yang dapat menyebabkan kita kehilangan mahkota kehidupan kekal itu. Bagi banyak orang, harta atau milih menjadi hambatan yang besar dalam usaha untuk mencapai mahkota keselamatan. Inilah sebabnya Yesus mengakhiri kutipan injil hari ini dengan ungkapan ini: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (ay. 33).
Yesus menunjukkan bahwa untuk menjadi murid-Nya, orang harus menjadikan segala sesuatu di dalam hidupnya relative, atau tidak mutlak: keluarga, kemakmuran hidup, kesehatan, kesenangan, reputasi, dll. maksudnya: di dalam daftar tujuan dan prioritas hidup, hal mencapai kerajaan Allah haruslah berada pada tempat yang pertama dari semua yang lain. Itulah persoalan hidup atau mati. 
Ilustrasi yang diberikan untuk menunjukkan keseriusan ajaran ini diambil dari dunia perang. Ilustrasi pertama adalah tentang seseorang yang bermaksud untuk membangun sebuah menara. Menara dalam dunia masa lampau pada dasarnya merupakan perlengkapan pertahanan sebuah kota di masa perang. Ilustrasi kedua adalah tentang seorang raja yang mau pergi berperang. Perhatikanlah bahwa raja itu hanya memiliki 10.000 anggota pasukan dan musuh yang diperangi memiliki 20.000 anggota pasukan. Dengan mengidentifikasi diri dengan raja dalam perumpamaan, kita dapat melihat bahwa jumlah pasukan musuh dua kali lipat dari jumlah pasukan yang kita miliki. “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Kita pastilah kalah kalau kita tidak memohon pertolongan seorang raja yang lebih kuat. Dan raja yang lebih kuat itu, Sang Raja di atas segala raja, tidak lain adalah Allah sendiri. 
Oleh karena itu injil hari ini menunjukkan betapa absolutnya dan betapa radikalnya tuntutan untuk menjadi murid. Mengikuti Yesus lebih berat daripada memenangkan suatu gelar juara dunia. Namun demikian Yesus juga mengakui kelemahan manusiawi kita: kekuatan kita adalah 10.000 sementara musuh 20.000. Oleh karena itu kita diundang untuk memohon bantuan Allah, karena tanpa Allah kita tidak dapat melakukan apa-apa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini