Selasa, 13 November 2012

SITUASI BARU DI AKHIR ZAMAN


Hari Minggu Biasa XXXIII 
Oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan: Dan. 12:1-3; Ibr. 10:11-14, 18; Mrk. 13:24-32

Hari ini adalah Hari MInggu Biasa XXXIII. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Biasa XXXIII pada umum berkisah tentang Akhir Zaman. Banyak diskusi dan penafsiran berkaitan dengan Akhir Zaman. Dalam bacaan Injil hari ini Yesus juga berkata tentang Akhir Zaman, tetapi tetap dalam “kekaburan”. Di satu pihak Yesus mengatakan bahwa Akhir Zaman pasti akan datang (ay.24-28), bahkan dikatakan-Nya, “bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu” (ay.29). Di lain pihak, Yesus juga mengatakan bahwa tidak seorangpun yang tahu kapan Akhir Zaman tiba kecuali Bapa di Sorga (ay.32). Hal ini sering dirumuskan dalam suatu istilah membingungkan, bahwa berita tentang AkhirZaman merupakan suatu berita “kepastian kedatangannya, tetapi masih dalam ketidak-pastian waktunya”. Yang jelas ialah bahwa masa Akhir Zaman adalah masa pembaharuan; segala-galanya akan diperbaharui oleh Allah.
Ada satu cerita yang bisa memberi ilustrasi suka dukanya terhadap pembaharuan.
Ada seorang Oma yang tinggal bersama anak laki-lakinya, menantunya, dan ke tiga cucunya. Relasi tiga generasi yang tinggal dalam satu atap ini sangat harmonis. Oma yang pintar dan suka memasak ini sangat membanggakan keluarga anak laki-lakinya. Sebaliknya, mereka semua sangat menyayangi Oma, karena selain masakannya selalu enak, Oma juga tipe seorang yang sangat periang, tidak pernah banyak menuntut. Pokoknya, relasi tiga generasi itu senantiasa menjadi buah bibir kebaikan. Mereka tinggal di satu rumah tua tetapi cukup besar dan luas. Rumah tua ini memiliki tiga kamar yang cukup besar tetapi tanpa perlengkapan modern; satu kamar untuk Oma, satu kamar untuk anak dan istrinya, dan satu kamar untuk ketiga cucu Oma. Semua perabotan rumah tangganya adalah perabotan lama yang cukup antik tetapi terpelihara sangat apik. Perabotan modern yang ada hanya 1 lemari es cukup besar di dapur untuk menyimpan bahan-bahan dapur milik Oma. Sedangkan di ruang tamu ada 1 TV agak besar, 1 lemari es untuk menyimpan minuman dan makanan, dan 1 perangkat komputer untuk kerja anak laki-lakinya..
Pada suatu hari, mereka berkumpul di ruang tamu seperti biasanya. Anak laki-lakinya mengeluarkan ide untuk merenovasi rumah tua ini agar menjadi lebih modern dan lebih nyaman didiami. Tetapi Oma sangat keberatan, katanya, “Aku sudah puluhan tahun tinggal di rumah ini dan tetap merasa nyaman. Apakah yang baru-baru itu selalu memberikan kenyamanan? Apakah kalian merasa kurang nyaman dengan rumah tua ini? Aku sudah terbiasa dengan rumah ini.” “Bukan begitu, mami. Anak-anak khan sudah semakin dewasa. Mereka butuh kamar sendiri-sendiri agar bisa belajar lebih baik. Juga suhu udara sudah semakin panas, dan kita butuh AC bukan hanya kipas angin.” Begitulah, mereka berdiskusi sampai cukup lama. Akhirnya terjadi suatu kompromi. “Baiklah kita renovasi rumah tua ini”, kata Oma, “tapi aku mohon agar dapur yang aku pakai tetap dalam situasi lama. Aku lebih suka pakai kompor minyak daripada kompor gas. Kalian bisa buat dapur sendiri yang pakai kompor gas. Aku juga tidak mau kamarku diberi AC, biarlah aku tetap pakai kipas angin. Lemari-lemari antik akan tetap kita pakai.”. Setelah terjadi kesepakatan seperti itu, maka mereka mulai membahas segala persiapan untuk renovasi.
Singkat cerita, setelah 10 bulan berlalu, rumah tua itu sudah berubah menjadi rumah yang lebih modern. Interior rumahpun tampak lebih cerah dan terang. Sekarang cucu-cucu Oma sudah mendapatkan kamar sendiri-sendiri meskipun lebih kecil dari kamar sebelumnya. Dan yang tampak berbeda sekali ialah sekarang ada 2 dapur; dapur yang dipakai Oma yang masih menggunakan kompor minyak, dan dapur yang ada di dekat ruang makan yang menggunakan peralatan dapur lebih modern, yakni kompor gas untuk memasak dan kompor listrik untuk memanaskan makanan serta oven.
Dengan adanya rumah model baru ini, relasi antar mereka tetap tidak berubah. Mereka tetap harmonis, tetap punya waktu untuk bercerita di ruang tamu, tetap ada waktu untuk makan bersama.
Pada suatu ketika, Oma tiba-tiba mendatangi menantunya dan berkata, “Bisakah aku pakai dapur yang di dekat ruang makan?”. “Boleh, mami, “jawab menantunya. “Kenapa dengan dapur yang mami biasa pakai?” tanya menantunya. “Komporku tidak bisa dipakai. Sepertinya sumbunya sudah harus diganti. Aku sudah minta dibelikan yang baru tetapi belum dapat sampai sekarang”, jawab Oma. Setelah selesai memasak, Oma berkata lagi, “Nyaman juga ya pakai kompor gas. Tidak susah-susah isi minyak, dan tangan tetap bersih. Waktu memasakku juga terasa lebih pendek”. Menantunya tersenyum mendengarkan apa yang Oma katakan. Setelah suaminya pulang kerja, dia menceritakan apa yang terjadi dengan Oma ketika memasak di dapur baru. Ketika duduk-duduk bercerita di ruang tamu, anaknya berkata kepada Oma, “Mami, dapur mami kita isi dengan kompor gas saja biar tidak kerepotan mencari sumbu dan minyak”. Oma tersenyum, dan menjawab, “ Sepertinya lebih baik begitu”.
          Pembaharuan, pada awalnya sering membawa kegalauan, ketidak-nyamanan, ketidak-pastian. Terlebih bila kita sudah sangat terbiasa dengan “gaya lama”, kita sudah nyaman & aman dengan “yang lama”. Karena itu, pembaharuan sering ditolak; dan kalau tokh diterima, akan muncul banyak syarat dan permintaan. Pembaharuan akan dipahami dan diterima setelah melihat dan merasakan “kenyamanan dan keamanan” yang baru, seperti kisah si Oma di atas.
Berkaitan dengan Pembaharuan di Akhir Zaman yang bercorak final, manusia tidak memiliki lagi kesempatan kedua, seperti si Oma yang bisa merombak lagi dapurnya agar lebih nyaman. Maka, keputusan harus dibuat segera. Itulah kemendesakannya. Pembaharuan yang ditawarkan Akhir Zaman bukan Pembaharuan Fisik semata, tetapi Pembaharuan Rohani. Hidup Baru Dalam Roh yang sejati. Suatu Pembaharuan yang juga harus dimulai ketika kita masih hidup di dunia ini. Suatu proses Pembaharuan terus menerus selama hidup dan akan disempurnakan dalam masa Akhir Zaman,
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini