Jumat, 02 November 2012

Seperti Apakah Api Penyucian?


Katekismus Gereja Katolik dengan jelas menegaskan keyakinan Gereja akan api penyucian dan pemurnian jiwa sesudah kematian, “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga. Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium [api penyucian]” (no. 1030-31). Dari ajaran dasar ini, wajib kita camkan bahwa 
(1) masa tinggal seorang di purgatorium adalah sementara, 
(2) purgatorium berbeda dari neraka, dan 
(3) seorang dalam purgatorium menjalani pemurnian atas dosa-dosa ringan dan luka-luka akibat dosa.

Seperti apakah pemurnian ini? Seperti neraka, ada siksa kerinduan dan siksa rasa: tetapi, kedahsyatan siksa ini sungguh amat berbeda antara neraka dan purgatorium. Siksa kerinduan bagi mereka yang di purgatorium adalah dijauhkan sementara dari pandangan yang membahagiakan akan Tuhan [= visio beatifica]. Masing-masing dari kita rindu bersama Tuhan, menatap-Nya dan dilingkupi dalam kasih-Nya. 

Konstitusi Apostolik Benedictus Deus (1336) yang diterbitkan oleh Paus Benediktus XII mendefinisikan bahwa jiwa-jiwa orang benar “… melihat hakekat ilahi dengan suatu pandangan intuitif dan bahkan muka dengan muka, tanpa perantaraan suatu makhluk sebagai obyek pandangan; melainkan, hakekat ilahi segera menyatakan diri-Nya kepada mereka, dengan terang, jelas dan terbuka, dan dalam pandangan ini mereka menikmati hakekat ilahi.” Sebab itu, jiwa-jiwa dalam purgatorium merindukan pandangan ini. Keadaan rindu dan dijauhkan dari pandangan yang membahagiakan inilah yang menyiksa jiwa-jiwa.

Siksa rasa meliputi penderitaan yang dapat dirasa. Walau tidak didefinisikan, secara tradisional siksa rasa ini menyangkut api pemurnian yang mengakibatkan penderitaan. Dalam Kitab Nabi Zakharia, Tuhan bersabda, “Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas” (13:9); Sekolah Rabbi Shammai menafsirkan ayat ini sebagai pemurnian jiwa melalui belas kasihan dan kebaikan Tuhan, mempersiapkan jiwa untuk kehidupan kekal. 

Ayat serupa didapati dalam Kitab Kebijaksanaan (3:1-9), “Tetapi jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka … Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi DiriNya. Laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran.”

Renungkanlah gambaran emas atau perak yang “diuji dalam api”. Ketika logam-logam mulia ini ditambang dari bumi, bahan galian atau bebatuan lainnya menyertai. Dengan api, kotoran ini dipisahkan, sehingga tinggallah emas atau perak murni. Demikian pula, suatu jiwa yang masih kotor karena dosa-dosa ringan atau luka-luka akibat dosa akan harus terlebih dahulu dimurnikan, yaitu “diuji dalam api”. Mungkin suatu versi yang lebih modern adalah gagasan mengenai terapi radiasi yang “membakar” sel-sel kanker; sementara terapi yang demikian sangat menyakitkan, pasien memiliki harapan untuk sehat kembali.

Dalam terang yang lebih positif, St Fransiskus de Sales menulis tentang penderitaan di purgatorium, tetapi dengan diringankan oleh penghiburan-penghiburan yang menyertainya, “Dari pikiran akan purgatorium ini kita dapat lebih menimba penghiburan daripada ketakutan. Sebagian besar dari mereka yang takut akan purgatorium jauh lebih memikirkan kepentingan diri mereka sendiri daripada kepentingan kemuliaan Tuhan; ini berasal dari kenyataan bahwa mereka memikirkan hanya penderitaan tanpa memikirkan damai dan kebahagiaan yang ada, yang dinikmati oleh jiwa-jiwa kudus. 

Memang benar bahwa siksa ini begitu hebat sehingga penderitaan yang paling dahsyat dalam hidup ini tak sebanding dengannya; tetapi kepuasan batin yang ada, yang dinikmati adalah begitu luar biasa sehingga tak ada ketentraman ataupun kepuasan di dunia yang dapat menyamainya. Jiwa-jiwa berada dalam persatuan yang terus-menerus dengan Tuhan” (Espirit de St. Francois de Sales, IX, p. 16, quoted in Purgatory by Rev. F. X. Shouppe, S.J.).

Demikian pula, dalam “Crossing the Threshold of Hope” Paus Yohanes Paulus II menghubungkan “api kasih” Allah yang bernyala-nyala yang disebut-sebut oleh St. Yohanes dari Salib dengan doktrin api penyucian: “Api kasih yang bernyala-nyala” yang dibicarakan oleh St Yohanes, terutama sekali merupakan api yang memurnikan. Malam-malam gelap yang digambarkan oleh Doktor Gereja yang mengagumkan ini berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, serupa, dalam arti tertentu, dengan api penyucian. Tuhan membuat manusia melewati penyucian batin yang demikian dari hawa nafsu dan kodrat rohaninya guna membawanya ke dalam persatuan dengan Diri-Nya Sendiri. 

Di sini, kita tidak mendapati diri kita di hadapan suatu pengadilan belaka. Kita menghadirkan diri di hadapan kuasa kasih itu sendiri. Dan yang terutama, kasihlah yang menghakimi. Tuhan, yang adalah kasih, menghakimi lewat kasih. Kasihlah yang menuntut pemurnian, sebelum manusia menjadi siap untuk bersatu dengan Tuhan yang adalah panggilan dan kodratnya yang utama.”

Sebab itu, sekali lagi, ada pada kita suatu gambaran yang amat positif mengenai purgatorium. Namun demikian, gambaran-gambaran kuno mengenai jiwa-jiwa yang menderita di api purgatorium hendaknya memotivasi kita sekarang untuk secara teratur memeriksa batin, mengaku dosa, dan bermatiraga. Kita membutuhkan rahmat yang datang melalui doa dan teristimewa melalui Ekaristi Kudus. Kita wajib berjuang demi kekudusan sekarang ini dan memelihara persatuan yang kuat dan akrab dengan Tuhan. Sikap yang demikian dan praktek yang demikian akan merupakan persiapan terbaik bagi kita apabila kita meninggalkan dunia ini dan harus mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan.

Sumber:Yesaya.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini