Jumat, 02 November 2012

PENSIL KASIH


HARI MINGGU BIASA XXXI
Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inpirasi Bacaan: 
Ul. 6:2-6; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34
 
Dalam pandangan popular (menurut anggapan banyak orang pada umumnya), agama Islam sering disebut agama Hukum karena gerak dan kehidupan manusia dikaitkan dengan Hukum (islam); sedangkan agama Kristen sering disebut agama Kasih karena gerak dan kehidupan manusia diarahkan pada kasih. Agama Kristen sangat sering berbicara tentang kasih. Masalahnya ialah apakah orang Kristen sungguh-sungguh memahami apa itu kasih dan apakah sungguh-sungguh melaksanakan kasih dengan tulus juga?


Ada satu cerita tentang pensil yang bisa menjadi ilustrasi (gambaran) dan inspirasi bagi kita untuk sedikit memahami apa itu kualitas kasih dan serentak bagaimana kasih itu dilaksanakan. Ceritanya begini:

Ada seorang anak kecil yang bertanya kepada neneknya yang sedang menulis surat, “ Nenek sedang menulis pengalaman kita, ya? Atau tentang aku?”. Nenek berhenti menulis dan menjawab pertanyaan cucunya, “ Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tetapi ada yang lebih penting daripara isi tulisan ini, yakni pensil yang nenek pakai”. Anak kecil itu memperhatikan pensil yang ditunjukkan neneknya, “Nenek harap kamu akan menjadi seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi. “ Tapi, nek, apa keisitmewaan pensil ini?” tanya cucunya. “ Pensil ini tidak ada bedanya dengan pensil-pensil lainnya”, ujarnya lagi. Si nenek menjawab, “ Itu semua tergantung bagaimana kita melihat pensil ini. Pensil ini sebenarnya memiliki 5 kualitas yang bisa membuat kita tenang dalam menjalani hidup ini bila kita tetap berpegang pada kualitas itu”. Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas sebuah pensil. 

“ Kualitas pertama, pensil tidak akan bisa menulis kalau tidak ada tangan yang memegangnya. Hal ini mengingatkan kamu agar jangan pernah lupa bahwa kamu bisa berbuat hal yang hebat-hebat dalam hidup ini karena ada tangan yang selalu membimbing langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya”

“Kualitas kedua, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah luarnya, melainkan arang di dalamnya. Oleh karena itu, sadarilah segala sesuatu dalam dirimu dan perkuatlah kehidupan batinmu”.

“Kualitas ketiga, dalam menulis, nenek beberapa kali harus berhenti dan menggunakan serutan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Serutan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tetapi setelah proses serutan itu selesai, pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu. Dalam hidup ini kamu harus berani menerima kesulitan, tantangan, penderitaan, karena hal-hal itulah yang akan mengasah hidupmu menjadi lebih tajam untuk melihat segala persoalan sehingga membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”.

“Kualitas keempat, pensil selalu memberi kita kesempatan mempergunakan karet penghapus untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Dalam menjalani hidup ini, kita kadang melakukan kesalahan-kesalahan. Memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini bukanlah hal yang jelek atau memalukan. Justru hal Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”

“Kualitas kelima, sebuah pensil selalu meinggalkan tanda atau goresan. Seperti juga dirimu. Kamu harus sadar bahwa apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu, berhati-hatilah selalu dan sadarilah semua tindakanmu agar kamu tidak meninggalkan kesan jelek”. (disadur dan diubah seperlunya dari 100 Touching Stories)

Kualitas kasih mestinya seperti kualitas sebuah pensil dari kisah di atas.

1. Kasih sejati berasal dari Allah dan mengarah pada kehendak Allah 
( Rm. 5:5; 1 Yoh. 4:8,16 )
2. Kasih semestinya muncul dan berakar pada kehidupan batin yang kuat sehingga bercorak tulus 
( Rm. 13:10; 2Kor.8:8)
3. Kasih senantiasa membutuhkan pengorbanan 
( Yoh. 3:16; 15:13; 1Kor. 13:4)
4. Kasih senantiasa memberi kesempatan untuk pengampunan (Mat. 7:1-5; 18:21-35)
5. Kasih senantiasa menumbuhkan kebaikan 
(Luk.11:34; Mat. 13:1-23)

Kualitas kasih seperti itulah yang memampukan kita untuk mencintai Tuhan dan sesama dengan tulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini