Kamis, 08 November 2012

Sikap dan tindakan sebagai pancaran sikap hati


HARI MINGGU BIASA KE-32
Inspirasi dari Markus 12:38-44
Oleh: Paulus Tongli, pr
 
Berhubung karena bacaan injil pada hari Minggu ini hanya mengambil satu bagian kecil dari rangkaian pesan yang ingin disampaikan, maka untuk memahami pesannya, hendaknya kita membaca keseluruhan pasal atau keseluruhan bagian yang dikutip. Bagian yang kita bacakan hari ini ada di bawah judul: Persembahan seorang janda miskin, dan berada di dalam bingkai pasal 11 (Tiga hari terakhir Yesus di Yerusalem) dan 13 (Kotbah tentang akhir jaman). Dari situ sudah tampak bahwa kutipan ini pasti mengenai suatu yang sangat penting. Dan persoalan penting yang dibahas di dalam perikop ini adalah tentang masalah kesucian: kesucian yang sebenarnya dan kesucian yang palsu.
Setiap agama berhubungan erat dengan hal-hal yang menyangkut pengungkapan permenungan manusia tentang perasaan terdalam, kehendak dan keinginannya. Dan kita yakin bahwa di dalam wilayah religius, kita berada di dalam kontak dengan Allah. Tetapi Allah akhirnya adalah sebuah misteri yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah sebabnya semua tanda yang kita gunakan harus memiliki makna yang menunjuk kepada yang ditandakan, yang tidak terungkap dengan bahasa. Di mana dan ketika kita tidak menemukan kata-kata lagi, atau kata-kata yang kita gunakan tidak memadai, hal-hal yang tampak, tindakan dan tanda memuat makna yang mendalam.
Bila kita melihat sejarah agama-agama, sebagaimana juga sejarah kekristenan, akan tampak dengan jelas bahwa semakin banyak bentuk dan tanda yang telah digunakan turun temurun yang menjadi semakin kosong, yang tidak lagi mengungkapkan makna. Namun orang tidak berani menggantikannya dengan bentuk-bentuk yang baru. Orang tetap menggunakannya, meskipun orang tidak lagi menangkap makna pengungkapan atau kebiasaan ini. Contohnya: mungkin kita pernah bahkan mungkin sering mengalami bahwa kita membuat tanda salib, pergi menyambut komuni, berdoa dan tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam hati kita. Kita telah menjadi terbiasa dengan gerakan dan kata-kata seperti itu, sehingga menjadi suatu mekanisme yang dapat berlangsung tanpa banyak disadari maknanya. Kita mungkin tidak merasakan apa-apa, tetapi karena kita bersama dengan yang lain sedang mengikuti perayaan Ekaristi misalnya, kita tetap ikut berdiri atau berlutut, membuat tanda salib dan pergi komuni. Semua tanda dan tindakan suci ikut kita lakukan, tetapi tanpa kesadaran penuh bahwa saya sedang melakukannya. Inti pesan dari kutipan injil hari ini persis mengungkapkan hal ini, yang dapat dirumuskan sbb.: ketika bentuk-bentuk lahiriah dan penghayatan batiniah tidak lagi terhubungkan, agama hanya akan menjadi pertunjukan sakral.
Kita berhadapan dengan kenyataan bahwa agama membutuhkan ungkapan lahiriah, tetapi di lain pihak ungkapan lahiriah dengan mudah dapat menjadi “pertunjukan” sakral. Kita dapat mengungkapkan berbagai macam contoh untuk menunjukkan bagaimana liturgi dengan mudah dapat dipandang hanya sebagai tindakan-tindakan sakral lahiriah tanpa mewakili hubungan yang intim manusia dengan Allah. Hari ini kita mendengar peringatan yang jelas dari Yesus: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat”, artinya hati-hatilah terhadap para pemimpin rohani di dalam masyarakat. Orang tidak boleh mengerti salah kritik ini, apalagi langsung mencari dan menunjuk orang tertentu sebagai alamat kritik ini, meskipun mungkin ada keterarahan ke sana. Yesus mengalamatkan kritik ini kepada Ahli Taurat untuk menjelaskan bahwa status sosial yang diperoleh mereka karena jabatan mereka tidak menambahkan sesuatu ke pada hubungan dengan Allah. Orang kaya dari kelimpahan miliknya menganggap persembahan uang sebagai ungkapan kebaktiannya kepada Allah, dan mereka melakukannya sedemikian agar orang lain melihatnya, namun bagi Allah hal itu sama sekali tidaklah menduduki tempat yang penting.
Kritik Yesus yang keras terhadap para ahli Taurat dan bahaya akan tindakan sakral yang kosong tampak dalam ucapan-ucapan Yesus yang semakin menanjak. Seorang ibu, yang bila dibandingkan dengan para ahli taurat dan orang-orang kaya di dalam lingkungan Timur Tengah, secara sosial tidak berarti apa-apa. Status itu menjadi semakin tidak berarti, karena ia tidak lagi memiliki suami yang dapat memberinya perlindungan. Secara harafiah Yesus menunjukkan apa itu kesucian dan ukuran mana yang harus digunakan untuk menunjukkan hal ini. Dengan menempatkan seorang anggota yang paling lemah di dalam masyarakat, Yesus mau mengoreksi ukuran yang biasanya digunakan. Ukuran yang paling menentukan dari ungkapan kekudusan, adalah sikap hati yang terbuka atau kerinduan yang paling dalam dari manusia akan Allah. Tentu harus ditambahkan bahwa sangat sulitlah untuk mengenakan ukuran ini pada orang lain. Juga harus dikatakan bahwa persembahan atau derma untuk Gereja yang diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan ibadat dan sosial tentu akan sangat mulia. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah jangan sampai kita menggantikan sikap hati kita dengan materi yang dapat kita berikan seberapa banyak pun. Materi ataupun tindakan lahiriah haruslah merupakan ungkapan kerelaan dan keterbukaan hati kepada Allah yang kita yakini begitu dekat dan mencitai kita.
Kriteria baru yang Yesus tunjukkan di sini haruslah menjadi bahan introspeksi diri bagi Gereja dan kita semua akan apa yang kita lakukan dan sikap hati yang kita miliki. Sangatlah penting bahwa kita semua dapat meletakkan ukuran itu bagi diri kita sendiri. Tentu bukan hanya persembahan yang dimaksudkan di sini, tetapi setiap tindakan yang kita lakukan sebagai ungkapan iman kita haruslah secara pribadi kita nilai berdasarkan sikap hati kita. Pertanyaan penuntun yang mungkin dapat membantu kita adalah: apakah doa-doaku, sikapku di hadapan Tuhan dan persembahanku/pengorbananku sungguh merupakan ungkapan syukur dan kerinduanku akan Tuhan, dan tidak sekedar asal dilihat orang? Semoga usaha kita untuk terus menerus berbenah diri semakin lama semakin mempersatukan kita dengan Tuhan dan membuahkan kedamaian di dalam hidup kita.
Semoga ungkapan pemazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah” juga merupakan ungkapan kita. Kerinduan akan Allah itulah yang menjadi motivasi kita dalam setiap tindakan religius kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini