Senin, 27 Mei 2013

HIDUP EKARISTIS HIDUP BERBAGI

Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan –Tahun C

Oleh: Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspisari Bacaan:
Kej. 14:18-20; 1Kor.11:23-26; 
Luk. 9:11b-17

Pada hari raya Tubuh dan Darah Tuhan, kita diajak untuk merenungkan tentang makna Ekaristi dalam kehidupan harian kita. Kita akan merenungkannya melalui bacaan II dan Injil hari ini.

            Korintus adalah sebuah kota pelabuhan besar dan ternama serta memiliki banyak jumlah penduduk. Di kota pelabuhan ini, yang menjadi sarang kebudayaan Yunani, banyak terdapat aliran-aliran filsafah dan agama. Tetapi di lain pihak, di kota ini juga banyak ditemui kebejatan susila yang membuat nama kota Korintus menjadi kurang baik. Motivasi Paulus menyebarkan kekristenan ke Korintus berkaitan dengan situasi kota tersebut. Paulus berharap, orang-orang dari pelbagai wilayah yang singgah di kota ini dapat mendengarkan berita tentang Kristus sehingga mereka dapat memberitakannya kembali di wilayah mereka masing-masing (bdk. 2Kor.1:1, 9:2). Di Korintus, Paulus menghadapi pelbagai tantangan. Selain berhadapan dengan pelbagai Dia memang berhasil mendirikan jemaat Kristen tetapi kebanyakan dan terutama di kalangan masyarakat rendahan (bdk. 1Kor. 1:26-28).  Karena itulah, Paulus banyak sekali memberikan petunjuk-petunjuk praktis bagi mereka (bdk. !kor. 5-11).

            Bacaan II hari ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam. Suatu kebiasaan baik yang terjadi dalam jemaat Korintus ialah bahwa pertemuan-pertemuan berjemaat mereka seringkali dilanjutkan dengan perjamuan makan bersama. Masing-masing orang membawa makanannya kemudian dikumpulkan untuk disantap bersama. Seperti dikatakan di atas, bahwa kebanyakan jemaat Korintus berasal dari masyarakat rendahan dan miskin sehingga tidak setiap kali mereka bisa membawa makanan untuk perjamuan makan bersama. Karena itulah mulai muncul konflik-konflik di antara mereka (bdk. 1Kor. 11:18), antara yang membawa makanan dan yang tidak membawa makanan (ay. 21), antara yang kaya dan yang miskin (ay.22). Paulus melihat bahwa pertemuan semacam itu tidak akan mendatangkan kebaikan, tetapi sebaliknya keburukan (ay,17). Paulus mengajak mereka untuk memusatkan perhatian mereka bukan pada hal makan dan minum lahiriah, melainkan pada perjamuan Tuhan (ay.23-26); setidak-tidaknya Paulus mengajak mereka agar perjamuan Tuhan menjadi model dari perjamuan makan dan minum lahiriah mereka (ay.27). Paulus mengajak mereka untuk mawas diri, menguji diri sendiri bukannya saling menilai (ay.28-30), agar tidak terjerumus dalam kepentingan duniawi (ay.31-32) melainkan tetap mengarahkan diri pada kepentingan saudara-saudari yang lebih membutuhkan (ay.33-34). Paulus mengajak agar pertemuan-pertemuan jemaat Korintus dijiwai oleh semangat berbagi.

            Semangat berbagi juga dikisahkan dalam Injil hari ini. Kisah perbanyakan roti ini diceritakan oleh semua penginjil (Mat. 14:13-21; Mrk. 6:30-44; Yoh. 6:1-14) dengan beberapa perbedaan yang dapat saling melengkapi. Persamaan di antaranya yang menarik perhatian saya ialah jumlah asal mula makanan yang digandakan, yakni “yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan” (Luk. 9:13; Mrk. 6:38b; Mat. 14:17; Yoh. 6:9). Dan Injil Yohanes menambahkan, “tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (ay. 9b). Persamaan yang berikutnya yang menarik untuk dicermati adalah rasa syukur atas makanan yang sedikit itu. “Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikan kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak” (Luk. 9:16; bdk.Mrk. 6:41; Mat. 14:19; Yoh. 9:11).

            Ada satu penafsiran terhadap kisah penggandaan roti ini yang bisa kita renungkan. Ada kebiasaan bagi orang Yahudi untuk selalu membawa bekal ketika melakukan perjalanan. Demikian pula, ketika mereka pergi untuk mendengarkan kotbah Yesus. Pada saat itu terkumpul banyak orang, “ada kira-kira lima ribu orang laki-laki” (bdk. Luk. 9:14). Ketika pada saat hendak makan malam tampaknya belum ada seorang pun yang berani memulai menunjukkan dan membuka bekalnya untuk makan. Mereka saling menunggu. Sampai akhirnya, ada seorang anak kecil yang memulai membuka bekalnya. “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan” (Yoh. 9:9). Termotivasi oleh sikap anak kecil itulah, maka mereka pun mulai membuka bekal masing-masing, mengumpulkannya dan memakannya bersama-sama, sehingga orang-orang yang “lupa” membawa bekalpun dapat ikut menikmatinya sampai kenyang; bahkan ada sisa sebanyak “dua belas bakul penuh”.

            Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan merupakan perayaan liturgis yang diarahkan untuk merenungkan makna Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi kita menerima Tubuh Kristus dalam rupa roti yang telah diberkati, Hosti Kudus. Memang, tidak terjadi peristiwa perbanyakan roti dalam setiap Perayaan Ekaristi, tetapi tindakan yang terjadi sama: yakni Yesus mengucap syukur atas roti, memberkati, dan membagi-bagikan kepada semua yang hadir. Dalam Perayaan Ekaristi hadirin tidak mengalami kekenyangan lahiriah, tetapi kepuasan rohani, bersatu secara mistik dengan Kristus. Kesatuan dan kepuasan rohani inilah yang menjadi kekuatan hidup kita. Hidup yang dijiwai oleh Perayaan Ekaristi, yakni Hidup Ekaristis. Dan sebagaimana roti yang dibagi-bagikan, Hidup Ekaristis semestinya juga menjadi Hidup Berbagi.

            Kita tidak usah menjadi sempurna terlebih dahulu agar bisa hidup berbagi. Sekecil apapun milik kita, jika kita syukuri sebagai berkat Tuhan dan kita rela bagikan kepada orang lain maka akan mendatangkan kepuasan bagi orang  yang menerimanya. Ada satu ungkapan dalam bahasa latin, non multa sed multum, yang berarti, bukan masalah jumlahnya atau kwantitasnya, tetapi mutunya atau kwalitasnya yang lebih penting. Demikian pula jika kita hidup berbagi. Bukan masalah berapa banyak yang bisa kita bagikan kepada orang lain, tetapi seberapa tulus dan iklhasnya kita mau dan rela berbagi, itulah yang menentukan semangat Hidup Ekaristis, semangat Hidup Berbagi.



Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus & Sejarah Paroki Katedral Makassar

Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus
Setiap tahun Gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Maha Kudus. Pestanya jatuh pada hari Jumat sesudah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.
Mengapa kita menghormati Hati Yesus? Mengapa tidak mata-Nya atau lidah-Nya? Pernahkah kamu merasakan suatu emosi yang kuat, seperti rasa takut, tegang atau cinta? Jika emosimu cukup kuat, maka perasaanmu itu akan mempengaruhi hatimu. Hatimu akan berdebar lebih kencang dari biasanya, tergantung dari kuatnya emosimu.
Yesus menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa besar kepada kita ketika Ia wafat di kayu salib. Hati-Nya pastilah berdebar amat kencang saat itu. Kita merayakan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus karena Hati Yesus melambangkan kasih-Nya yang begitu besar bagi umat manusia.

Sejarah  Berdirinya Paroki Katedral Makassar
Pada awalnya keberadaan umat Katolik di Sulawesi Selatan ditandai dengan dipermandikannya dua putera Makassar pada tahun 1537. Akan tetapi belum ada pastor yang menetap di Sulawesi
Barulah pada tahun 1545 tibalah seorang Pastor dan menetap selama 3 tahun dan seringkali melakukan perjalanan ke pedalaman, nama Pastor tersebut adalah Vicente Viegas.
Daerah Sulsera yang merupakan taman yang begitu luas dan subur, dan bersedia menerima bibit sabda Tuhan, tidak jadi dikerjakan karena kekurangan pekerja-pekerjanya. Maka tidak heranlah pada tahun1603, raja Gowa beserta rakyatnya masuk agama Islam, dan diikuti daerah Tello dan Soppeng. Walaupun raja Gowa telah memeluk agama Islam namun ia bersikap toleran sekali terhadap agama Katolik.
Kendala yang dihadapi datang dari pihak kompeni Belanda yang pada 19 Agustus 1660 Makassar terpaksa meletakkan senjata dan dipaksa menandatangani persetujuan di Batavia. Salah satu syaratnya yaitu dalam waktu satu tahun semua orang portugis harus telah meninggalkan Makassar. Dan Di bawah kekuasaan VOC, orang-orang Katolik dipaksa memeluk agama Protestan dan Pastor-Pastornya diusir.
Baru pada tahun 1806 ketika Napoleon mengangkat saudaranya Louis menjadi raja Belanda, Agama Katolik mendapatkan saat kebebasannya di Indonesia. Tidak lama kemudian, pada 10 april 1808, tibalah dua orang pastor di Batavia yang menjadi imam-imam pertama yang diizinkan masuk di Indonesia di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Pada tahun 1852 Makassar telah dikunjungi oleh seorang pastor dari Batavia, tetapi baru tahun 1892 datanglah seorang pastor untuk menetap di Makassar. Pastor A.Asselberg SJ ditunjuk menjadi pastor Makassar. Inilah awal berdirinya Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Katedral Makassar.
01 Februai 1899 di bangunlah Fondasi Gereja Katedral, pembangunan yang memakan waktu satu tahun dan akhirnya selesai dan mulai di pergunakan pada 06 April 1900. dan Pastor Timmers, SJ memepersembahakan  Misa bagi Umat untuk pertama kalinya pada 08 April 1900. umat sangat sedikit jumlahnya. 
Sampai Tahun 1915 Gereja Katedral belum di berkati walau sudah dipergunakan akhirnya pada 10 Juni 1915, dengan izin dari  Vikaris Apostolik, Pastor Wintjes, SJ meresmikan dengan berkat, karena waktu itu menjelang Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, maka Gereja Katedral Makassar di Beri Pelindung HATI YESUS YANG MAHAKUDUS. selain Hati Yesus Yang Mahakudus, Gereja Katedral Juga memiliki pelindung lain yaitu Santo Antonius dari Padua.

Hari Raya Tubuh dan darah kristus

Secara tradisonal, pada awalnya sebutan yang tepat untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah Sollemnitas Sanctissimi Corporis Christi ) yang kemudian dalam penggunaan populer digunakan frasa “Corpus Christi”. Pada awalnya memang tidak ada kata “Darah” walaupun dalam teks Misa dan Ibadat Harian (brevir) ada rujukan mengenai kata “Darah”

Perubahan yang terjadi adalah konsekuensi perubahan terhadap Festum Sanguinis Christi (Pesta Darah Mulia).Pesta Darah Mulia adalah salah satu Pesta “devosional” terhadap kemanusiaan Kristus. (Dalam Gereja Katolik ada tiga tingkatan hari-hari istimewa, yaitu Hari Raya/Solemnitas, Pesta/Festum, dan Peringatan/Memoraria).Pesta ini merupakan bagian dari “Pesta-pesta Sengsara” yang diadakan di hari-hari Jumat dalam Masa Prapaska di banyak tempat. 

Pesta-pesta ini dirayakan seturut penanggalan gerejawi lokal, dan pada awal abad ke-20 hanya diadakan terutama di tempat-tempat di mana (t)radisi ini berawal.

 Pada 1849, Paus Pius IX menyatakan hari Minggu pertama bulan Juli sebagai Pesta Darah Mulia dan wajib dirayakan secara universal.Namun demikian beliau tidak menghapuskan hari-hari Jumat “Pesta sengsara” yang masih dipraktikan pada berbagai penanggalan gerejawi lokal.

Ketika Paus Pius X melakukan pembaruan penanggalan liturgi, Pesta Darah Mulia dipindahkan menjadi tanggal 1 Juli, dan sejalan dengan kerangka liturgis yang ditetapkan pada hari itu, maka banyak keuskupan dan ordo tidak mempraktikan lagi “Pesta-pesta Sengsara”.Namun pesta-pesta ini tetap dipertahankan seperti yang tertulis pada appendiks buku pedoman misa (missal) dengan judul “Pro Aliquibus Locis” (di banyak tempat).

Pada 1961, semua pesta-pesta sengsara termasuk Pesta Darah Mulia yang tercantum dalam appendix, dihapuskan, kecuali apabila ada permintaan dengan alasan yang masuk akal oleh ordo/kongregasi atau Keuskupan yang memiliki keterkaitan istimewa dengan pesta-pesta tersebut, misalnya kongregasi yang kemudian dikenal di Indonesia dengan nama Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia (ADM).

Kebijakan gerejawi berubah pada masa kepemimpinan Paus Yohanes XXIII.Beliau adalah seorang yang berdevosi pada Darah Mulia. Beliau menambahkan frasa “Terpujilah darahNya yang mahaindah” (PS No.205), mempromulgasikan (mengumumkan secara resmi) Litani Darah Mulia yang disertai dengan indulgensi, dan mempromosikan devosi terhadap Darah Mulia melalui ensiklik “Inde a Primis”.

Pada tahun 60-an ada perubahan penanggalan liturgi Gereja universal.Diputuskan bahwa pesta-pesta devosional harus dipindahkan atau paling tidak diturunkan tingkatannya.Pesta Darah Mulia yang dirayakan pada 1 Juli juga turut dihapuskan, walaupun tidak lama setelah keputusan ini dikeluarkan, banyak petisi dari para Uskup yang meminta agar Pesta Darah Mulia tetap dilestarikan.Namun demikian Konsili menolak petisi-petisi tersebut dan memutuskan untuk menambahkan kata “Darah” sehingga Hari Raya yang kita rayakan secara resmi hari ini dinamakan “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus” (Sollemnitas Sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi) atau boleh juga disebut “Corpus Sanguinisque Christi”. Walaupun demikian, di banyak tempat, secara tradisional umat Katolik sudah telanjur terbiasa dengan penyebutan “Corpus Christi” dan kita pun saat ini tetap boleh menyebut Hari Raya ini sebagai “Corpus Christi” karena toh kita mengimani bahwa Hosti yang kita terima (apabila komuni hanya diterimakan dengan satu rupa), tidak pernah hanya Tubuh Kristus saja, melainkan sekaligus adalah Tubuh, Darah, Jiwa dan Keallahan Kristus, pendek kata SELURUH KRISTUS YANG TELAH WAFAT DAN BANGKIT, DAN KINI BERTAKHTA DI SISI BAPA. Hal ini sesuai juga dengan teks Kitab Suci, Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti ATAU minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap Tubuh DAN Darah Tuhan..(1 Kor 11:27)  .

 Walaupun kita tidak lagi mempraktikkan Pesta Darah Mulia dalam penanggalan liturgi Gereja Universal, namun secara tradisional, Gereja Katolik mendedikasikan BULAN JULI demi penghormatan pada Darah Mulia Kristus.

 Selamat merayakan “Sollemnitas Sanctissimi Corporis et Sanguinis Christi”!

PENGUMUMAN PERKAWINAN (01-02 Juni 2013)

Akan saling menerimakan 
Sakramen Perkawinan

*  Wicky Stenly Tumedia & Friska Hosal
( Pengumuman III )

*  Schendy Erland Limowa & Lydia Leonardo
( Pengumuman III )

*  Heryanto  &  Lili Kusuma
( Pengumuman II )

*  Willyanto & Jeane Olivia Lie
( Pengumuman II )
        

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Santo Kevin, Pengaku Iman

Puing-puing biara Glendalough di wilayah Wicklow, Irlandia, mengingatkan kita akan santo Kevin, seorang rahib abad keenam. Konon beliaulah yang mendirikan biara Glendalough yang terkenal itu. 

Umurnya kurang lebih 120 tahun (498-618). Ada berbagai versi cerita tentang santo Kevin, namun semuanya tidak memiliki nilai sejarah yang kokoh karena tidak ada suatu tanggal pasti tentang masa hidupnya sendiri. 

Kemungkinan Kevin dididik oleh rahib-rahib kemudian ditabhiskan menjadi imam. Ketika meninjak usia dewasanya, ia memilih hidup sebagai pertapa di Glendalough, salah satu tempat paling indah di Irlandia. Menurut tradisi, ia tinggal disebuah gua sempit di gunung lugduf. 

Gua itu, yang masih ada sampai sekarang, dapat dicapai dengan sebuah perahu menyusuri sebuah danau yang ada disitu. Kevin hidup akrab dengan alam, makan ikan dan hasil-hasil hutan dan bersahabat dengan binatang-binatang liar. 

Kehidupan Kevin yang keras sebagai pertapa berakhir ketika sekelompok orang mengetahui tentang keberadaannya dan mulai menyebarkan berita-berita tentang hidupnya di gua itu. Semenjak itu, banyak orang datang untuk berguru padanya dan hidup bersamanya. Akhirnya lahirlah sebuah komunitas pertapaan di tempat  itu. 

Demi kehidupan yang lebih baik, Kevin bersama murid-muridnya pindah dari gua itu dan mendirikan sebuah biara di lembah gunung Lugduf. Setelah kematian Kevin, Glendalough tetap merupakan pusat keagamaan dan pendidikan yang terkenal selama berabad-abad. Semenjak itu seorang uskup di tempatkan di Glendalough sampai tahun 1214, ketika Glendalough disatukan dengan tahkta keuskupan Dublin. 

Dewasa ini banyak wisatawan datang ke Glendalough untuk melihat bekas biara Kevin berupa sebuah bekas bangunan biara, sebuah katedral dan beberapa buah gereja. Glendalough merupakan salah satu tempat ziarah ramai di Irlandia.

Kamis, 23 Mei 2013

Gambaran Allah menjadi pola citra diri manusia


Hari Raya Tritunggal Mahakudus /Tahun C
Inspirasi Bacaan dari :
Ams. 8:22-31; Rm. 5:1-5; Yoh. 16:12-15.


Ada ceritera tentang St. Agustinus dari Hippo, seorang filosof dan teolog yang besar. Ia begitu dipenuhi oleh keingintahuan akan Allah Tritunggal. Ia sangat ingin untuk memahami ajaran tentang satu Allah di dalam tiga pribadi dan ingin menjelaskannya secara logis.

Suatu hari ia sedang berjalan sepanjang pantai untuk merenungkan tentang hal ini. Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil sendirian sedang bermain-main di pantai. Anak itu menggali sebuah lubang di pasir, berlari ke laut mengambil air laut dengan sebuah mangkuk kecil dan berlari lagi menuju lubang yang telah dibuatnya dan mengosongkan mangkuknya ke dalam lubang itu. 

Demikian ia berlari pulang pergi dari laut ke lubang yang dibuatnya. Agustinus berhenti sejenak memperhatikan anak itu, lalu bertanya, “Anak kecil, apa yang sedang engkau lakukan?” Ia menjawab, “Saya mencoba memindahkan air laut ke dalam lubang ini”. “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Agustinus, “engkau tidak akan mungkin dapat mengosongkan laut yang tidak terbatas ini ke dalam lubangmu yang kecil itu”. Dia menjawab: “Dan Bapak? Bagaimana mungkin kepala bapak yang kecil itu akan dapat menampung pemahaman akan Allah yang Mahabesar itu?” Dengan seruan itu anak kecil itu  menghilang.

Ajaran tentang Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam relasi satu sama lain sedemikian sehingga masing-masing pribadi ini sama-sama dan sungguh-sungguh Allah, namun hanya terdapat satu Allah dan bukan tiga.  Faham ini sulit untuk untuk sungguh dapat dipahami oleh pemikiran manusia. Itulah yang disebut misteri Allah. 
Bilamana kita mengharapkan bahwa bacaan-bacaan hari ini akan memberikan kepada kita pemahaman yang jelas tentang ajaran Allah Tritunggal, akan tampak juga bahwa tidaklah demikian. Ajaran atau dogma tentang tiga pribadi di dalam satu “ke-Allah-an”, sama dalam hal hakekat keilahian, namun tetap terbedakan di dalam pribadinya, tidak langsung dapat diturunkan dari Kitab Suci. Kata “trinitas” tidak ditemukan di dalam Kitab Suci. 

Umat kristiani awal sampai kepada ajaran ini melulu berdasarkan pengalaman akan pemberian diri Allah di dalam pewahyuan yang telah mereka terima di dalam iman. Yesus berbicara tentan Bapa yang telah mengutusNya (Putera) dan tentang Roh Kudus yang akan Ia utus. Ia bersabda bahwa Allah telah memberi-Nya (Putera) segala yang dimiliki-Nya dan Ia sendiri telah menyerahkan kepada Roh Kudus semua yang telah Ia terima dari Bapa. Di dalam pemahaman ini tampaklah tujuan yang sama di antara ketiga pribadi dalam Trinitas tersebut. 

Di dalam sejarah penyelamatan, kita biasanya menerapkan penciptaan kepada Bapa, penyelamatan kepada Putera dan penyucian kepada Roh Kudus. Namun, meskipun keallahan ini dapat dibedakan di dalam ketiga pribadi, namun baik Bapa maupun Putera dan Roh Kudus tidak pernah berada dan bertindak terpisah satu sama lain. Dalam hakekat, ketiga pribadi ini sama dan tidak saling mengatasi satu sama lain.
Seperti Agustinus kita mungkin tidak mampu untuk memahami sepenuhnya “bagaimana” persisnya Trinitas itu, tetapi sangatlah penting untuk memahami “mengapa” kita mempercayai Trinitas. Pentingnya doktrin ini terletak pada hal ini: kita tercipta seturut citra Allah, oleh karena itu semakin kita memahami Allah, semakin kita mengerti diri kita sendiri. Para ahli agama mengungkapkan kepada kita bahwa manusia selalu berusaha untuk menjadi seperti “allah” yang mereka sembah. 

Orang yang menyembah “allah” sebagai pahlawan cenderung untuk menyulut api peperangan, orang yang menyembah “allah” kenikmatan cenderung menjadi orang yang senantiasa mencari kesenangan dan kenikmatan, orang yang menyembah “allah” yang selalu mengawasi dan menghukum akan cenderung untuk menjadi orang yang penuh dendam, dan orang yang menyembah “allah” yang mencintai cenderung untuk mengasihi dan mencintai. Sebagaimana Allah demikian juga para penyembah-Nya. Oleh karena itu pertanyaan yang lebih mendesak bagi kita saat ini adalah: Allah seperti apa yang disampaikan kepada kita melalui ajaran “Tritunggal Mahakudus”, dan sebagai penyembah Allah Tritunggal Mahakudus, kita seharusnya menjadi orang yang seperti apa? Tentang hal ini saya ingin mengungkapkan dua hal. 

(1) Allah tampil tidak pernah di dalam ketertutupan individualism tetapi di dalam sebuah komunitas “sharing” dan cinta kasih. Allah bukanlah “single fighter”. Hal ini berarti bahwa seorang Kristen yang berusaha untuk mencari keilahian (lih Mat 5:48) haruslah menghindari kecenderungan untuk menutup diri satu dari yang lain. Spiritualitas kristiani yang ideal bukanlah terbang ke angkasa menghindari dunia, melainkan tinggal di dalam dan berjuang bersama dengan seluruh dunia demi pengudusan seluruh ciptaan. 

(2) Cinta yang sejati terdiri dari tiga partner. Trinitas menunjukkan kepada kita bahwa tiga adalah persekutuan, tiga adalah cinta di dalam kepenuhannya.  Kita mengambil contoh dari hidup manusia. Ketika seorang laki-laki A mencintai seorang wanita B, cinta itu berbuah secara utuh terwujud di dalam bayi C. Bapa, ibu dan anak – cinta itu bila disempurnakan menjadi trinitas. 

Kita diciptakan di dalam citra dan keserupaan dengan Allah. Allah hanya Allah di dalam relasi Trinitarian, demikian pun kita hanya dapat menjadi manusia yang utuh di dalam relasi tiga partner. Diri kita membutuhkan relasi horisontal dengan sesama kita dan relasi vertikal dengan Allah. Dengan cara seperti itu, hidup kita pun ada di dalam relasi trinitarian sebagaimana Allah. Maka prinsip “aku dan aku” di dalam masyarakat modern, di mana masing-masing individu dipandang otonom dan terpisah satu dari yang lain bukanlah cara pandang kristiani yang tepat. Ajaran tentang Tritunggal Mahakudus menantang kita untuk lebih menerapkan prinsip “aku-dan-Allah-dan-sesama”. Aku adalah seorang kristiani sejauh saya hidup di dalam relasi cinta dengan Allah dan dengan sesama. Semoga rahmat Allah Tritunggal Mahakudus membantu kita untuk menyingkirkan semua kecenderungan egoisme di dalam hidup kita dan menolong kita untuk hidup di dalam cinta akan Allah dan cinta akan sesama. **pt

Serumpun Bambu


Seorang tukang kebun memiliki serumpun bambu di sudut kebunnya. Setiap tahun bambu-bambu itu bertambah tinggi dan kuat. Kemudian suatu hari tukang kebun itu berkata, “Sobat, saya membutuhkan engkau”. Kata bambu itu: “Tuan, pakailah saya, saya siap”. Kemudian suara tukang kebun itu menjadi agak serius dan berkata., “Agar saya bisa memakaimu, engkau harus ditebang”. Tentu saja bambu itu kaget. 

“Menebang saya? Mengapa? Saya adalah bambu yang paling baik di kebun ini, Jangan lakukan itu. Pakailah saya sekehendak tuan, tapi janganlah menebang saya”. “Begini, jika saya tidak menebang kamu, saya tidak bisa memakaimu”. 

Seluruh isi kebun itu terdiam; angin pun menahan nafasnya. Bambu yang anggun itu perlahan-lahan menundukkan kepalanya dan berbisik, “Tuan, jika itu adalah satu-satunya jalan untuk menggunakan saya, maka tebanglah saya!” 

“Tapi bukan itu saja” kata tukang kebun itu. “Saya masih akan memangkas semua cabang dan daunmu”. “Ya Tuhan, semoga itu tidak terjadi pada diri saya!” Kata bambu itu. “Hal itu akan merusak keindahanku. Tuan, kalau bisa janganlah pangkas cabang dan daun saya”. “Jika saya tidak memangkas cabang dan daunmu saya tidak bisa memakaimu”. 

Matahari pun menyembunyikan wajahnya. Seekor kupu-kupu terbang dengan gelisah di sekitar itu. Bambu itu, yang merasa sangat terpukul, kemudian menyerah. “Tuan, pangkaslah semua cabang dan daun-daunku!”. “Bambuku tersayang, saya masih harus lebih menyakitimu lagi. Saya harus membelah dan mengambil hati bagian dalammu; jika tidak maka saya tidak bisa memakaimu”. Bambu itu semakin menundukkan kepalanya dan berkata: “Tuan, pangkaslah, potonglah, belahlah dan lakukanlah apa saja pada diriku sesuka tuan”. 

Maka tukang kebun itu memotong bambu itu, memangkas cabang-cabang dan daun-daunnya, membelahnya dan mengosongkan semua bagian dalamnya. Lalu dia membawa bambu itu melalui sebidang tanah kering menuju sumber air. Dia menghubungkan bambu itu dengan sumber air itu dan air pun mengalir ke tanah kering itu sehingga membuatnya menjadi subur. Demikianlah, hanya bila bambu itu dipotong, dipangkas, dan dibelah, dia bisa menjadi sumber dan penyalur berkat yang melimpah bagi tanah gersang, dan tentu saja akhirnya bagi manusia. (Willi Hoffsuemmer)

PENGUMUMAN PERKAWINAN (25-26 Mei 2013)



                  Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan

   *  Wicky Stenly Tumedia & Friska Hosal                 
( Pengumuman II )

 *  Schendy Erland Limowa & Lydia Leonardo      
( Pengumuman II )

*  Heryanto  &  Lili Kusuma   
( Pengumuman I )

  *  Willyanto & Jeane Olivia Lie                                      
( Pengumuman I )

Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Hari Raya tritunggal mahakudus


Hari Raya Tritunggal Mahakudus dirayakan hari ini, tepat seminggu sesudah Hari Raya Pentakosta. Hari ini, kita umat beriman bersama-sama mencoba merenungkan dan meresapi akan misteri Allah yang paling agung ini.

Memang bukan hal yang tabu lagi, kita para umat beriman masih kebingungan bila dihadapkan akan pertanyaan-pertanyaan bersoal Tritunggal Mahakudus. Bahkan para imam yang akan membawakan khotbah dalam misa ini pun terkadang juga harus membuka materi-materi seminarinya yang mengajarkan tentang Tritunggal Mahakudus. Kenapa membingungkan? JELAS! Bagaimana mungkin Allah bisa ada 3? Jika Tritunggal Mahakudus, maka berarti kalau dianalogikan dalam Matematika adalah 1+1+1=3?

Aku bisa menjawab , TIDAK!
Tritunggal Mahakudus adalah misteri Allah yang paling agung, jauh melampaui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Tak bisa dianalogikan dengan apapun, bahkan dalam rumus Matematika sekalipun. Lalu, bagaimana kita bisa menjelaskan hal ini?
Jujur karena aku bukan pakarnya, aku berikan link ini pada kalian semua, di sini. Di sini dijelaskan secara gamblang tentang Tritunggal Mahakudus. Aku berani mengatakan bahwa aku bukan pakarnya, karena memang, daya otakku sangat terbatas untuk memahami tentang misteri keagungan Allah tersebut. Sama halnya dengan kalian yang membaca artikel ku ini. Otak kita semua terlalu kecil, tidak sebanding dengan Allah yang begitu besarNya, bahkan jauh lebih besar daripada alam semesta ini

Hari Raya Tritunggal Mahakudus dilatarbelakangi oleh bidaah (ajaran sesat) Arian pada abad ke-4.  Arius percaya bahwa Kristus adalah makhluk ciptaan, dan dengan menyangkal keilahian Kristus, dia menyangkal pula bahwa ada Tiga Pribadi dalam satu Hakikat Allah. Penentang Arius adalah St. Athanasius yang tetap memegang ortodoksi iman dengan menuliskan suatu Syahadat Iman yang sampai saat ini tetap diakui oleh Gereja Katolik. (Walaupun banyak opini yang menyatakan bahwa Syahadat ini sebenarnya bukan ditulis oleh St. Athanasius). Hari Raya Tritunggal Mahakudus dipopulerkan di Inggris oleh St. Thomas Becket (1118-1170) setelah mendapat izin otoritas gerejawi. Hari Raya Tritunggal Mahakudus diresmikan menjadi hari raya Gereja universal oleh Paus Yohanes XXII (1316-1334).

Ada sebuah kisah menarik yang dialami sendiri oleh St. Agustinus. Semasa mudanya, dia adalah seorang atheis yang selalu menyela segala hal tentang Allah dengan logikanya.

Dikisahkan, ketika St. Agustinus sedang berjalan-jalan di pantai sambil merenungkan Misteri Tritunggal, ia melihat seorang anak yang telah menggali lubang kecil di pasir dan bolak balik ke dan dari laut membawa air yang dituangkan ke dalam lubang itu. St. Agustinus bertanya kepadanya: “apa yang sedang engkau kerjakan?”

“Saya akan menuangkan seluruh isi lautan ke dalam lubang ini,” jawab anak itu.

“Itu tidak mungkin, seluruh isi lautan tidak akan tertampung di dalam lubang kecil yang kaugali,” kata St. Agustinus.

Anak itu menjawab: “Dan Engkau tidak akan dapat menampung Misteri Tritunggal di dalam otakmu yang kecil.” Kisah ini berakhir dengan hilangnya anak itu seakan St. Agustinus telah berbicara dengan seorang malaikat.

Kisah tersebut menceritakan tentang ketidakmampuan akal budi manusia untuk memahami Misteri Tritunggal. Tritunggal Mahakudus bukanlah suatu doktrin akademis, tetapi suatu realitas terdalam  kehidupan iman kita. Itulah realitas hidup Ilahi, yakni Allah beserta kita, Allah di dalam kita yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang aktif di dalam diri kita. Kita mengambil bagian dalam hidup Ilahi itu, yang memberi perspektif hidup beriman kita di dunia.

Dengan demikian, pada hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, kita diundang untuk merenungkan dan menimba kekayaan Tritunggal Mahakudus. Ada dua hal pokok yang perlu kita renungkan yakni: pertama, kita disadarkan akan rahmat baptisan yang telah kita terima. Sakramen Permandian menandai kita sebagai seorang anggota Gereja dan terutama karena kita telah diangkat menjadi “anak Allah”. Dengan menjadi “anak Allah”, dosa asal kita pun telah dihapuskan oleh rahmat baptisan itu. Inilah identitas penting bagi setiap orang Katolik/Kristiani. Tentu saja hal ini membawa konsekuensi bagi hidup kita, yakni hidup selaras dengan panggilan itu. Kedua, setelah kita disatukan dengan Allah Tritunggal lewat Sakramen Permandian, kita diutus untuk mewartakan Kabar Gembira Kerajaan Allah. Pewartaan itu telah menjadi bagian dalam hidup kita sendiri. Kita diutus untuk menjadi Nabi-Nabi Cinta Kasih, menjadi saksi akan Kasih Allah kepada dunia. Kita membaptis dunia ini lewat kesaksian hidup kita di tengah dunia yang sedang bergolak ini. Kesatuan kita dengan Allah Tritunggal itulah yang harus selalu kita mantapkan dengan selalu membuka hati bagi karunia Allah yang tak kunjung henti itu. Memang tidak mudah untuk mengerti Misteri Agung Tritunggal Mahakudus itu, namun yang dibutuhkan adalah Kerendahan Hati untuk menyadari keterbatasan kita dan keagungan Allah. Siapkah kita untuk menjadi pewarta kasih di jaman sekarang ini?

BUNDA MARIA DARI GUNUNG KARMEL


Bunda Maria menampakkan diri kepada Santo Simon Stock dalam tahun 1251 dan menjadikan skapulir coklat tradisi karmelit sebagai tanda kasihNya yang istimewa dan ikrar perlindungan keibuannya. 
Bunda waktu itu mengatakan : “benda ini akan menjadi bagimu dan semua karmelit suatu hak istimewa tidak akan menderita api abadi dan akan diselamatkan, bagi mereka yang meninggal mengenakannya.”
Bunda Maria berjanji melepaskan jiwa-jiwa dari api penyucian segera sesudah meninggal bagi orang-orang yang memakai skapulir coklat dan menghayati kemurnian selaras panggilan hidupnya dan berdoa persembahan kecil dan rosario setiap harinya, ditambah satu kali Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan untuk intensi-intensi Bapa Paus. 
Untuk mendapatkan pemenuhan janji, seseorang dapat meminta berkat dari seorang imam karmelit atau imam yang diberi kuasa untuk memperolehkan bagi seseorang pemenuhan janji itu.
Untuk mendapat indulgensi penuh (pemotongan hukuman total), seseorang dapat melakukan sakramen pengakuan dosa dan ekaristi pada pesta orang kudus di salah satu hari : Bunda Maria dari Gunung Karmel (16 Juli), St. Simon Stock (16 Mei), St. Elias (20 Juli), St. Theresia dari Lisieux (1 Oktober), St. Theresia Avila (15 Oktober), para orang kudus dari keluarga karmel (14 November), dan St. Yohanes dari Salib (14 Desember) dan merayakannya di gereja-gereja karmelit dan daraskan sebagai tambahan lagi 1 x syahadat para rasul dan 1 x Bapa Kami pada hari itu.
Skapulir coklat adalah bentuk miniatur dari skapulir coklat (mantel Bunda Maria yang dipakai di sekeliling leher bergantung di pundak dengan satu potong kain bergantung di dada dan satu lagi di punggung) yang dipakai para imam, biarawan, biarawati dari keluarga karmel. Memakai skapulir coklat adalah sebagai tanda dari penyerahan diri kita kepada Bunda Maria dan juga adalah sebagai tanda perlindungan dan cinta dari Bunda Maria. Tanpa mengatakan bahwa kita menghormati, percaya, mencintainya, kita menyatakan hal-hal tersebut kepadanya hanya dengan memakainya, dan Bunda Maria menarik kita kepada hati PutraNya yang ilahi. Tapi terlebih kita diingatkan untuk hidup selaras dengan teladan Bunda Maria dengan mengenakan kebajikan-kebajikannya serta mengamalkannya. Bunda Maria tidak ingin kita memakainya dengan motivasi kesombongan dan juga tidak menganggapnya jimat.

Santo Germanus dari Paris, Pengaku Iman


Germanus atau Germain dikenal luas karena cinta kasihnya yang besar kepada orang-orang miskin dan gelandangan, karena kesederhanaan hidupnya. Ia lahir di Autun, Perancis pada tahun 496. 

Setelah menjadi imam, ia diangkat menjadi Abbas biara Santo Symphorianus, yang terletak tak jauh dari Autun. Disini ia menjalani suatu kehidupan asketik yang keras dan giat membantu orang-orang miskin; kadang-kadang ia mengundang pengemis-pengemis untuk makan bersamanya di biara. Ketika raja Prancis. Childebert I (511-558), menunjuk dia sebagai Uskup Paris, ia tidak mengubah kebiasaan hidupnya yang keras dan perhatiannya kepada orang-orang miskin dan gelandangan. 

Menyaksikan teladan hidup Germanus, raja Childebert sendiri akhrinya menjadi dermawan: senang membantu orang miskin, membangun biara-biara dan gereja-gereja. Salah satu gereja yang terkenal adalah gereja santo Germanus yang didirikannya sesudah kematian santo Germanus.

Salah satu usaha utama Germanus ialah mendesak penghayatan cara hidup Kristen yang lebih baik di kalangan kaum bangsawan Prancis. Ia tidak henti-hentinya mengutuk orang-orang yang bejat cara hidupnya dan tidak tanggung-tanggung mengekskomunikasikan Charibert, raja Frank yang hidupnya penuh dosa. Germanus meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 576.

Kamis, 16 Mei 2013

ROH PEMBAHARU KEHIDUPAN


Hari Minggu Pentakosta/ Tahun C
Oleh: Pastor  Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 2:1-11; 1Kor. 12:3b-7, 12-13; Yoh. 14:15-16, 23B-26

Lima puluh hari sesudah Kebangkitan Yesus dan sepuluh hari sesudah Kenaikan-Nya ke Sorga, Gereja merayakan hari Raya Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas Para Rasul. 

Peristiwa Pentakosta menjadi titik awal dan titik balik karya perutusan Gereja Purba. Disebut titik awal karena sejak peristiwa Pentakosta itulah, Para Rasul secara terbuka memberikan kesaksian tentang komunitas mereka serta perutusannya. Dan disebut titik balik, karena sejak peristiwa Pentakosta itu pula, mereka secara berani dan terus terang mewartakan Kristus, yang telah dibunuh namun dibangkitkan Allah, sebagai Juru Selamat umat manusia. Peristiwa Pentakosta telah mengubah dan memperbaharui Para Rasul, hidup dan perutusan mereka. Mengapa mereka bisa berubah dan diperbaharui? 

Setelah kematian Yesus di atas kayu salib, para murid nampaknya mulai kehilangan semangat dan harapan mereka (bdk. Luk. 24:20-21). Jumlah mereka yang tadinya begitu banyak (bdk. Luk. 9: 10-17, Kisah perbanyakan roti) menjadi tercerai berai. Hanya tinggal sekelompok kecil saja yang masih berusaha setia untuk berkumpul dan berdoa, yakni “seratus dua puluh orang” (Kis. 1:13-15). Kelompok kecil ini pun tidak berani tampil terang-terangan, karena takut kepada orang-orang Yahudi yang lain (bdk. Yoh. 20:19).

Lima puluh hari setelah Perayaan Paskah Yahudi, kembali kota Yerusalem dipenuhi oleh para peziarah untuk merayakan hari Pentakosta, yakni perayaan akhir panen gandum (bdk. Im. 23:15-21). Perayaan musim panen gandum ini sekaligus dirangkaikan dengan perayaan untuk mengenangkan peristiwa perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel yang terjadi di Gunung Sinai dengan perantaraan Musa (Kel. 19-20). Para peziarah adalah orang-orang Yahudi dan/atau keturunan Yahudi; dan mereka datang dari pelbagai tempat, bahkan ada yang datang dari negeri-negeri lain (bdk. Kis. 2:5, 9). 

Sebagai orang Yahudi, para murid Yesus pun berkumpul di Yerusalem untuk mengikuti dan mengenangkan Hari Raya Pentakosta tersebut. Pada hari itu, setelah mereka berdoa bersama (Kis. 1:12-14) dan memilih Matias (Kis. 1:15-26), tumbuhlah keberanian dalam diri mereka untuk tampil mewartakan kisah Yesus. Rasa takut yang sebelumnya menghantui mereka tiba-tiba saja lenyap, dan mereka, diwakili oleh Petrus, dengan berani bersaksi di depan para peziarah lainnya mewartakan Yesus Kristus, sebagai Messias yang dijanjikan Allah (Kis. 2:14-40). 

Penulis Kisah Para Rasul, mengkaitkan peristiwa tampilnya para murid yang dengan gagah berani bersaksi demi Kristus ini dengan peristiwa Musa di Gunung Sinai (bdk. Kel.19). Pada saat itu, bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa bersungut-sungut kepada Musa (Kel.17:1-7). Ketika dikunjungi oleh Yitro, mertuanya, Musa menceritakan segala pengalamannya (Kel. 18:1-12); lalu mertuanya memberinya nasehat agar Musa didampingi oleh beberapa orang penasehat yang akan mengadili bangsanya bila berperkara dengan mereka (Kel. 18:13-27). 

Maka Musa membawa bangsanya ke Gunung Sinai untuk menghadap Tuhan mencari persetujuan-Nya. Pada saat itulah terjadi, “ada guruh dan dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan (Kel. 19:16), dan “Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api...(Kel. 19:18). Peristiwa inilah yang membuat Musa dengan berani turun “mendapatkan bangsanya itu dan menyatakan kepada mereka” perjanjian  yang pernah diikatnya dengan Tuhan (Kel. 19:25).

Turunnya Roh Kudus ke atas para murid dalam rupa lidah api adalah tanda bahwa Allah merestui mereka untuk menyatakan kepada bangsa Israel yang berkumpul di Yerusalem bahwa Yesus adalah Messias yang telah dijanjikan; Yesus adalah tanda perjanjian keselamatan antara Allah dengan manusia. 

Sebagaimana peristiwa “lidah api di Gunung Sinai” telah memberanikan Musa tampil di hadapan bangsanya, demikian pula peristiwa “lidah api di Yerusalem” telah mendorong para murid untuk berani tampil memberi kesaksian tentang Yesus di hadapan para peziarah. Mereka bisa memahami bahasa para murid, karena para peziarah adalah orang-orang Yahudi dan/atau keturunan Yahudi yang tinggal di pelbagai tempat dan yang masih memahami bahasa Aram, yang saat itu menjadi “bahasa internasional” suku Yehuda tersebut. 

Penulis Kisah Para Rasul menggambarkan pemahaman bahasa ini sebagai “mukjizat bahasa” (bdk. Kis. 2:6-13)
Peristiwa Pentakosta telah mengubah dan membaharui cara hidup para murid Yesus: 
1. dari menutup dan mengurung diri dalam ruangan sendiri menjadi tampil ke luar menemui orang banyak
2. dari rasa ketakutan menjadi berani tampil untuk bersaksi tentang Kristus Tuhan

Peristiwa Pentakosta, turunnya Roh Kudus telah membahwa pembaharuan dari keterkurungan kepada keterbukaan; dari ketakutan & berdiam diri kepada keberanian & bersaksi.

Semoga perayaan Pentakosta Gerejani juga membahwa pembaharuan kehidupan di antara kita, baik sebagai manusia maupun sebagai orang-orang beriman, dan terutama sebagai manusia beriman Kristiani.

PENGUMUMAN PERKAWINAN (18-19 Mei 2013)


                  Akan saling menerimakan 
Sakramen Perkawinan
                
               *  Wicky Stenly Tumedia & Friska Hosal                  
                      ( Pengumuman I )

               *  Schendy Erland Limoa & Lydia Leonard                 
                      ( Pengumuman I )
          
  Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

Santa Rita dari Cascia, Biarawati (22 Mei)


Rita lahir di Roccaporena, Italia pada tahun 1381.Beliau adalah seorang biarawati ordo Agustinus. Ia diangkat sebagai pelindung orang-orang yang mengalami masalah-masalah yang berat dan penasehat orang putus asa. 

Menurut cerita, keinginannya untuk menjadi biarawati ordo itu sudah bersemi dalam hatinya semenjak kecil. Tetapi karena hormat dan ketaatan kepada orangtuanya, ia menikah dengan seorang pemuda yang disenangi orangtuanya. Tetapi setelah menjalani hidup perkawinan selama 18 tahun, ia pun memutuskan untuk masuk biara. Hal ini ditempuhnya setelah suaminya mati dibunuh orang. 

Permohonannya menjadi biarawati Ordo Santo Agustinus tidak cepat dikabulkan oleh pemimpin ordo, mengingat statusnya sebagai orang yang sudah menikah. Melalui suatu proses pertimbangan yang sangat lama, akhirnya aturan-aturan biara yang sangat keras itu diperlonggar. Dan Rita diterima sebagai seorang anggota dalam ordo ini. Kehidupan sebagai seorang biarawati dijalaninya dengan sepenuh hati. Ia benar-benar menghayati kehidupan biara dengan sungguh-sungguh: taat, disiplin diri dan ramah terhadap semua orang. Ia merawat semua biarawati rekannya yang jatuh sakit dan berdoa bagi semua orang Kristen yang telah lama meninggalkan Gereja. Cara hidup ini dipertahankannya hingga kematiannya pada tanggal 22 Mei 1457 di biara Cascia

SANTA PERAWAN MARIA BERDUKACITA / BUNDA DUKACITA / MATER DOLOROSA / dan RATU PARA MARTIR


Tanggal 15 September adalah hari Santa Perawan Maria Berdukacita. Banyak sekali penderitaan yang dialami Maria sepanjang hidupnya bersama Yesus sampai di bawah kaki salib. Oleh karena itu, Gereja menamai Maria Mater Dolo-rosa, Bunda 

Duka-cita dan Ratu Para Martir. Seluruh penderitaan Maria diringkas Gereja dalam tujuh jenis kedukaan yang diambil dari tujuh perstiwa berikut ini yaitu kedukaan yang dialami Maria sewaktu pengungsian di Mesir, kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah dan Simeon meramalkan apa yang akan terjadi pada diri Yesus (Luk 2 : 21-40), kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mencari Yesus yang hilang di Yerusalem sewaktu Yesus berusia 12 tahun (Luk 2 : 41-51), kedukaan sewaktu bertemu dengan Yesus di jalan salib, kedukaan sewaktu Yesus disalib dan wafat, kedukaan sewaktu lambung Yesus ditusuk oleh tombak dan kemudian Yesus dibaringkan di pangkuanNya, kedukaan sewaktu Yesus dimakamkan

Tasbih Ordo Servorum merupakan salah satu pe-nerapan dari nama Maria Bunda Dukacita. Ordo Servorum adalah serikat biarawan imam atau disebut pengabdi Maria. Tasbih ini terdiri dari 49 butir atau 7x7 kali Salam Maria. Setiap 7 x Salam Maria, lalu diselingi dengan 1 x Bapa Kami. Dasar hitungan 7 x adalah ketujuh dukacita Maria.

RATU DAMAI / RATU PENCINTA DAMAI / REGINA PACIS

Bunda Maria adalah Ratu Damai. Banyak peristiwa dunia seperti berakhirnya perang, penandata-nganan perjanjian perdamaian, atau peristiwa keselamatan terjadi pada hari pesta gelar Bunda Maria. 

Peristiwa-peristiwa berikut ini adalah beberapa di antaranya Italia menye-rah pada sekutu pada tanggal 8 September (hari pesta kelahiran Santa Perawan Maria) tahun 1943, Jepang menyerah pada perang dunia II tanggal 15 Agustus (hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga) tahun 1945.

Paus Yohanes Paulus II ditembak dengan 5 butir peluru oleh Memet Ali Agca, orang Turki pada tanggal 13 Mei (hari pesta Maria Fatima) tahun 1981 dan Bunda Maria menyelamatkan jiwa Paus, penandata-nganan traktat jarak jauh senjata nuklir di Washington antara Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan dilakukan tanggal 8 Desember, hari raya Santa Maria Immaculata) tahun 1987, tembok Berlin diruntuhkan pada tanggal 1 Januari (hari raya Santa Perawan Maria Bunda Allah) tahun 1990, Partai Komunis di Rusia dibubarkan pada tanggal 22 Agustus (hari pesta Santa Perawan Maria Ratu) tahun 1991, para pemimpin Rusia, Ukraina, dan Belarusia mengumumkan pecahnya Uni Soviet. 

Hal ini terjadi pada tanggal 8 Desember (hari raya Santa Maria immaculata) tahun 1991

PELAJARAN KEHIDUPAN


1. Pelajaran Penting ke-1 – Segala sesuatu adalah penting
Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah? Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak. “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!!! Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “hallo”! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

2. Pelajaran Penting ke-2 - Penumpang yang Kehujanan
Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televise set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim ke rumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda dating dan menolong saya.Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat..hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” - Tertanda Ny. Nat King Cole –
*) Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

Hari Raya Pentakosta


Pentakosta merupakan salah satu pesta terbesar dalam penanggalan Yahudi. Pesta ini asalinya adalah pesta pertanian, kemudian pada masa Perjanjian Lama menjadi perayaan syukur atas pemberian Hukum Musa di atas gunung Sinai. Pada kesempatan ini, sama seperti hari raya Paskah Yahudi, banyak orang Yahudi yang tinggal di sekitar Timur Tengah berziarah ke Yerusalem.

Selama Perayaan Paskah Yahudi itulah, yang memperingati pembebasan dari perbudakan Mesir, Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberi kebebasan kepada dunia dari kematian dan dosa. Inilah saat yang tepat untuk merayakan pemberian Hukum di Sinai, hari di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat pilihan-Nya, bahwa Allah sekarang mengaruniakan Roh-Nya kepada Israel yang baru, yaitu Gereja. (Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. - Gal 6:16)

Pada saat yang sama pula, pembaptisan dengan api diwartakan oleh Yohanes (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16). Allah mengutus Roh Putra-Nya dan dengan ini, lahirlah Gereja. Gereja bukanlah suatu lembaga manusiawi atau hasil karya dari sekelompok orang beriman, ia berasal dari inisiatif Allah, dan Allah berkehendak agar setiap orang dari setiap bangsa menjadi saksi atas peristiwa ini.

Tiupan angin keras adalah suatu tanda, karena Roh berarti napas dan angin dalam budaya Ibrani. Dijiwai oleh Roh Kudus, Petrus berbicara. Ia sekarang mengetahui kebenaran dan percaya, dan itulah sebabnya ia dengan berani mewartakannya (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. - Yoh 15:26 ; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Yoh 16:13)

Apa yang terjadi pada Pentakosta sama uniknya dengan peristiwa kebangkitan. Namun, peristiwa ini mengikuti pola campur tangan Allah dalam sejarah. Di satu pihak, Roh Kudus selalu membawa pembaruan bagi karya kerasulan kita, membangkitkan semangat keagamaan kita dan membangun komunitas Kristen yang dinamis yang menjadi darah baru bagi Gereja. Gereja menjadi semakin tua dan memerlukan pembaruan terus menerus.

Roh Kudus datang untuk memberikan kehidupan bagi Gereja. Ia juga datang untuk memberi peneguhan dan kekuatan bagi orang-orang beriman. Pembaptisan dengan api yang diterima para rasul, diberikan pula kepada kita melalui Sakramen Penguatan/Krisma (Luk 3:16).

“Setiap orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa mereka (orang yang mendengar) sendiri” Ayat ini diulang sebanyak tiga kali, (Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. - Kis 2:6 ; Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: - Kis 2:8 ; baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." - Kis 2:11), yang menunjukkan kepada kita, bahwa ini merupakan kunci untuk memahami teks ini. Mukjizat Pentakosta bukanlah suatu kenyataan bahwa para rasul, yang semua penduduk asli Palestina, mulai berbicara dalam bahasa asing, melainkan suatu kenyataan, bahwa semua orang asing mendengar pewartaan tentang perbuatan ajaib Allah dalam bahasa mereka sendiri, inilah mukjizat Pentakosta.

Banyak teks Perjanjian Baru yang lain, yang mengacu kepada “karunia lidah” (sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah - Kis 10:46 ; Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. – Kis 19:6 ; 1 Kor 12; 14:2-19), tetapi dalam teks Pentakosta ini Allah menggariskan dasar bagi semua pewartaan, mereka yang dipanggil untuk beriman kepada Yesus, dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, tidak diwajibkan untuk meninggalkan bahasa dan budaya mereka, seperti yang diharapkan orang Yahudi Proselit zaman dahulu. 

Di lain pihak Allah bahkan menghendaki agar umat manusia dari segala bangsa, bahasa dan kebudayaan turut memuji dan memuliakan-Nya melalui cara ini, dengan keaneka-ragaman dalam Tubuh Kristus (Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Kor 12:12-13), akan tampak bagi semua orang seperti berkumpulnya kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai melalui Yesus dan Roh-Nya. (dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. - Yoh 11:52).
Dalam sejarahnya, Gereja cenderung melupakan mukjizat Pentakosta ketika menekankan bahasa dan kebudayaannya saat mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang baru. Melalui sejarahnya juga, Roh Kudus memperingatkan Gereja, agar melawan cobaan-cobaan seperti itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh para rasul yang hidup berdasarkan semangat Pentakosta pada waktu itu.

Minggu, 12 Mei 2013

PENGUMUMAN PERKAWINAN (11-12 Mei 2013)



                  Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan
                
               *  David Wirawan & Viany Jauhari                     ( Pengumuman III )
               *  Carlo C.F. Counrier & Yoko Musajaya              ( Pengumuman III )
               *   Nicksen Alexander Wijaya  & Elva Regina   ( Pengumuman III )
               *   Zainal & Fanni Heran                                               ( Pengumuman III )

              Barangsiapa mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut, wajib melaporkannya kepada pastor paroki.

SEMOGA MEREKA MENJADI SATU.


Hari Minggu Paskah VII
Hari Komunikasi Sedunia
by: Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Kis. 7:55-60; Why. 22:12-14, 16-17, 20; Yoh. 17:20-26

Hari ini merupakan hari Komunikasi Sedunia. Hari Komunikasi Sedunia oleh Gereja selalu diletakan pada Hari Minggu Paskah VII. Dan secara “kebetulan” bacaan Injil hari ini merupakan bagian dari Doa Yesus untuk murid-murid-Nya. Doa juga merupakan suatu komunikasi.
Apa makna kata komunikasi? Komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio. Kata latin communicatio berasal dari dua kata, yakni cum yang berarti bersama, dengan, dan unio yang berarti persatuan, kesatuan. Makna kata communicatio atau komunikasi adalah suatu proses atau suatu cara berproses yang dengannya hendak dicapai suatu kesatuan atau persatuan. Dengan kata lain, komunikasi adalah keseluruhan proses dan cara bertindak yang mengarah pada terbangunnya suatu kesatuan atau persatuan. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya sekedar berbicara menggunakan mulut saja, tetapi juga seluruh diri manusia: mulut, mata, telinga, otak (akal budi), perasaan dan perhatian (hati), sikap tubuh (dalam bentuk gerakan-gerakan tangan, kepala, mata, dll.). Karena itulah ketika seseorang berkomunikasi sering juga dikatakan bahwa dia sedang mengkomunikasikan dirinya, dia sedang berbicara tentang dirinya. Agar komunikasi diri ini bisa semakin ditangkap lawan bicara atau orang lain maka tidak jarang orang tersebut menggunakan sarana bantu fisik (kelihatan) yang bisa membantu mengungkapkan situasi dirinya dan bisa diterima oleh orang lain. Misalnya, seorang cowok mengkomunikasikan cintanya kepada seorang cewek yang ditaksirnya dengan memberikan sekuntum bunga mawar merah atau pink sambil mengatakan, “Will you marry me?” (seperti acara TV ‘Will you marry me’  hehehe….). Bunga mawar merah atau pink tersebut merupakan sarana bantu agar ungkapan cintanya bisa lebih dipahami karena bunga tersebut memang merupakan lambang cinta, suatu simbol yang dipahami secara umum. Sangatlah tidak tepat apabila si cowok itu mengungkapkan cintanya sambil membawa rangkaian bunga kamboja putih karena bunga kamboja putih tidak bisa membantu orang lain memahami simbol cinta selain simbol kematian.
Doa adalah komunikasi.
Ketika kita mengakui bahwa doa merupakan suatu komunikasi, maka bagi kita doa merupakan keseluruhan proses dan cara bertindak untuk membangun kesatuan dan persatuan dengan Tuhan dan sesama (bdk. hukum yang terutama, Mrk.12:28-34). Sebagaimana halnya komunikasi, sebagai suatu proses, doa semestinya semakin lama akan semakin bertumbuh dan berkembang meskipun pada awalnya mengalami banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan. Ketika kita mengenali doa sebagai suatu proses maka semestinya tidak ada kata menyerah dan putus asa untuk berdoa jika kita ingin bertumbuh dan berkembang dalam kesatuan dan persatuan dengan Tuhan dan sesama; yang ada hanyalah kata berjuang, berjuang, dan berjuang.
Dan sebagai keseluruhan proses komunikasi dengan Tuhan, doa juga semestinya melibatkan seluruh diri kita. Kita diajak untuk berdoa bukan hanya berbicara dengan mulut saja, tetapi juga dengan telinga, mata, akal budi. perasaan dan perhatian, dengan sikap tubuh yang benar dan baik. Dengan demikian, kita berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan bukan hanya mengatakan dan menyatakan keinginan-keinginan kita saja, tetapi juga mengungkapkan kepada-Nya pengalaman-pengalaman kehidupan kita kepada-Nya, yakni apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan dan perhatikan, apa yang kita pikirkan dan harapkan. Demikianlah, doa menjadi komunikasi kehidupan antara kita dengan Tuhan. Dalam Doa Yesus tampaklah dengan jelas komunikasi kehidupan antara Dia sebagai Anak dan Allah sebagai Bapa. Komunikasi kehidupan inilah yang memberi kekuatan kepada Yesus untuk senantiasa berani mentaati keseluruhan kehendak Bapa-Nya. Komunikasi kehidupan inilah yang menjadi pokok kesatuan-Nya dengan Bapa-Nya; dan kesatuan-Nya dengan Bapa inilah yang pada akhirnya mendorong Yesus untuk mengajar dan mewariskannya kepada para murid-Nya (bdk. Yoh.17: 9-19). Dan bukan hanya untuk para murid yang dikenali-Nya saja, tetapi Yesus juga berdoa, mengkomunikasikan dan mewariskan kesatuan dengan Bapa-Nya itu kepada kita semua, para murid yang tidak mengenal-Nya secara langsung (bdk. ay. 20-26).
          Pada Hari Komunikasi Sedunia dan pada hari di mana Yesus berdoa untuk kita ini, marilah kita membuat suatu refleksi. Apakah aku mau berkomunikasi dengan benar melalui keseluruhan diriku untuk membangun kesatuan dan persatuan? Apakah aku mau berjuang dan berproses dalam berdoa agar kesatuanku dengan Tuhan dan sesama semakin berkembang?
“Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku” (ay. 24)

Wasiat Yesus Kekuatan Para Murid


Hari Minggu Paskah VII
Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke - 47
By: Paulus Tongli, Pr
Inspirasi Bacaan dari :
Kis. 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh 17:20-26

Bila kita berdiri di samping tempat tidur seseorang yang dekat dengan kita dan tampaknya sudah sedang berada dalam sakrat maut, kita akan mengamati bagaimana ia melepaskan diri dan pergi. Kita pun akan sangat awas terhadap kata-kata yang diucapkannya, khususnya kalau itu merupakan ucapannya yang terakhir. Ambillah contoh kata-kata terakhir dari orang tua kita. Kata-kata itu mungkin akan dicatat dan dibagikan kepada anak-anaknya yang lain. kata-kata itu mungkin bermaksud untuk menyadarkan anak-anak akan apa yang hendaknya mereka buat atau pelihara. Kata-kata yang terakhir akan selalu diingat. Pada momen seperti itu tidak ada hal yang masih harus didiskusikan, kata-kata itu diterima begitu saja, bahkan dianggap sebagai petuah yang berharga. Apa pun yang dikatakan oleh yang menjelang ajal itu, akan diusahakan untuk dibuat atau dilaksanakan oleh mereka yang dituju oleh kata-kata itu. Itulah yang paling penting, khususnya kalau hal itu menyangkut keinginan terakhirnya. 

Hari ini pun kita telah mendengarkan kata-kata wasiat Yesus. Di dalam injil Yohanes dalam pasal yang ke-17 yang kita bacakan hari ini, Yesus berdoa untuk para muridnya dan untuk semua yang percaya kepada-Nya oleh pemberitaan mereka. Ia meminta kepada Bapa, agar Bapa melindunginya dari segala kejahatan dan agar mereka senantiasa bersatu. Inilah doa  yang terakhir sebelum peristiwa penyaliban-Nya. Doa itu adalah sebuah hadiah untuk para murid-Nya, dan juga bagi kita pada masa ini. 

St. Yohanes selalu menggunakan kata “murid” untuk menunjuk kepada semua yang percaya kepada pemberitaan tentang Yesus. Orang-orang yang percaya membentuk persekutuan yang menghadirkan Kristus, khususnya di dalam pembacaan sabda, di dalam sakramen-sakramen dan di dalam iman akan Dia. Ketika para murid itu berkumpul, di situlah Kristus hadir.

Persahabatan yang intim dengan Allah tidak mengesampingkan relasi dengan dunia. Yesus berdoa kepada Bapa agar para murid dilindungi dari kejahatan dan agar mereka dimurnikan di dalam kebenaran. Meskipun persekutuan orang yang percaya itu kadang-kadang berbenturan bahkan menderita karena dunia; tetapi persekutuan itu tidak akan dikalahkan oleh dunia. Para murid membekali diri untuk senantiasa siap sedia memberikan kesaksian yang harus mereka berikan kepada dunia, artinya kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Melalui kesaksian mereka dunia juga akan dikuduskan. 

Selama masa penganiayaan di Roma, banyak orang Kristen dijadikan bahan pertunjukan di dalam Colosseum, di mana mereka dicabik-cabik oleh binatang buas. Mereka bangga dapat menderita demi iman mereka. Penganiayaan dan penderitaan itu dimaknai sebagai kesaksian dan dihayati sebagai pemurnian jiwa mereka dan pemurnian dunia. Mereka inilah yang dipuji di dalam kitab Wahyu: “berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya” (bacaan kedua). Inilah pula yang ditunjukkan Stefanus dalam bacaan pertama. Dengan menjadi martir ia memberikan kesaksian akan iman dan keyakinannya. Jalan kesetiaan itu menjanjikan kemuliaan Allah yang memberinya kekuatan untuk bertahan.
Dalam perjalanan terakhirnya dari Antiokia ke Roma, St. Ignatius dari Antiokia menggunakan kesempatan di dalam perahu untuk menulis beberapa surat. Kala itu ia telah berumur 80 tahun. Di dalam salah satu suratnya ia menulis: terimalah irama Allah. Dengan demikian pengorbanan jiwa kalian akan menjadi paduan suara di dalam kesatuan dan cinta yang akan menggema menjadi menjadi nyanyian Kristus. Suaramu akan didengar oleh Bapa dan karena itu kalian akan dipadukan kembali sebagai milik berharga Kristus. **pt.

MIMPI SI TUKANG RUMPUT


Setiap kali bepergian saya selalu melihat pengalaman yang baru yang berkaitan dengan kenyataan hidup. Dan dari sekian pengalaman itu mata hati saya entah kenapa, lebih berjodoh dengan kemiskinan, kemelaratan, keprihatinan, kesedihan dan jeritan pilu.
Suatu kali saat pulang makan siang dari restoran Jepang bersama dengan teman pastor dalam rangka merayakan Fathers Day, saya melihat sepasang suami isteri berpeluh keringat memotong rumput di sepanjang jalan. Hari begitu panas terik, debu beterbangan, dan asap dari ratusan dan bahkan ribuan mobil menjadi campuran menu hirupan nafas mereka. Dan rumput yang terpotong kadang tercampak ke muka mereka. Kulit mereka hitam legam dan gosong karena sengatan matahari dan itu mencatat bahwa mereka memotong rumput setiap hari di sepanjang jalan yang dilalui oleh ribuan pengendara. Namun tidak satupun dari pengendara itu menoleh, apalagi menyapa si tukang rumput yang sibuk dengan kerjanya. Memang,, pengendara barangkali tidak melihat atau pura-pura tidak melihat. Di tambah lagi kaca mobil yang tertutup dan hitam, mungkin menutup mata dan hati akan terhadap mereka.
Dua kenyataan bertolak belakang antara pengendara mobil dan si tukang rumput:, AC versus sinar matahari, aroma parfum di dalam mobil versus aroma asap mobil, pakayan necis versus pakayan buruh kasar yang bercampur minyak mesin potong rumput, dan jaminan hidup versus kecemasan hidup.

Sejenak saya singgah di toko kecil yang tidak jauh dari tempat mereka memotong rumput. Saya beli empat coca-cola, 2 untuk setiap orang. Saat itu, mereka sedang istirahat sambil santap siang. Saya teringat dengan apa yang baru saja kami nikmati di restoran Jepang. Saya malu menceritakan, tetapi intinya tidak ada titik temu antara apa yang mereka makan dengan apa yang kami nikmati. Saya melihat mereka makan tanpa ada minuman. Barangkali sudah habis mereka minum saat kerja berhubung hari sangat panas. Tetapi kekurangan yang ada tertutupi dengan doa makan mereka yang sangat indah.

Saya berikan coca-cola dingin itu. Dengan penuh suka ria mereka menyambut nya. Itulah awal dari persahabatan kami. Suami isteri ini mengisahkan perjuangan mereka menata hidup dan menyekolahkan dua anak mereka yang kuliah di Universitas terkenal. Mereka digaji oleh pemerintah setempat memotong rumput namun dengan gaji yang sangat, sangat minim, namun, itu mereka syukuri karena mampu membantu mereka menggerakkan bahtera keluarga mereka sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti
Sejenak ku amati suami isteri ini. Tidak ada keluhan, tidak ada rasa pesimis, malah rasa bangga dan ucapan syukur. Anak tukang rumput kuliah di universitas. Namun saya berbisik ke lubuk hati terdalamku, Mereka sangat menderita, terutama isterinya yang harus menerjang badai kehidupan, memotong rumput yang sepantasnya bukan untuk diri dan kaumnya. Mereka bermimpi kalau anak mereka berhasil dan diwisuda mereka akan membeli mesin potong rumput yang baru sehingga mereka bisa kerja lebih cepat dan ringan. Saya terharu mendengar mimpi mereka itu bukannya mengharapkan mobil atau rumah yang mewah atau tabungan melimpah tetapi hanya mesin potong rumput yang baru.

Para sahabatku terkasih, barangkali kamu punya kerja mapan, ekonomi bagus, materi mumpuni, mobil ada, rumah bagus, tabungan melimpah, tetapi apakah kamu punya harapan akan hari esok seperti si tukang rumput? Barangkali kita juga punya keluarga yang mampu dan siap membantu bila anda membutuhkan namun apakah kamu tetap punya rasa optimis dengan lingkaran hidupmu atau kecemasan melanda dirimu. Atau kamu selalu mengeluh kurang banyak, terlalu sedikit. Apakah sering menggerutu kurang puas.

Adakah kita seperti si tukang rumput tetap bersyukur dalam keadaan dan realitas yang mereka alami dan miliki? Mereka bersyukur dalam kekurangan, bergembira dalam keletihan dan menerima apa adanya namun mereka tetap bermimpi indah dan optimis di masa depan. Mungkin kita mempunyai banyak, memiliki banyak, tetapi kita miskin akan rasa syukur. Mungkin kita tidak pernah cemas akan hari esok tetapi apakah kita pernah menysukuri itu? Si tukang rumput, tidak memiliki, tidak mempunyai, tetapi mereka kaya akan ucapan syukur.

Janganlah cemas akan hari esok karena Allah tetap memeliharamu. Bersyukurlah senantiasa dalam segala hal maka Allah akan menambahkan apa yang kamu inginkan. Lihatlah burung-burung di udara, mereka tidak menanam, tidak menuai, tidak juga mengumpulkan hasil tanamannya dalam lumbung. Meskipun begitu BapaMu yang disurga tetap memelihara mereka. Bukankah kalian lebih berharga dari burung-burung di udara (Mateus 6:26).Oleh Pastor: Yos’Ivo OfmCap .

Cari Blog Ini