Minggu, 28 Juli 2013

Penyelidikan kanonik

Penyelidikan kanonik adalah kesempatan seorang pastor berjumpa dengan calon pengantin. Pada kesempatan tersebut pastor akan menanyakan dengan teliti persyaratan-persyaratan demi sahnya sebuah perkawinan secara Katolik. Maka calon pengantin akan disumpah dan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan secara jujur. Kejujuran itu penting sekali. Jangan sampai calon menipu dalam menjawab pertanyaan atau menipu data. Karena kalau terjadi penipuan data, akan sangat berbahaya.
Proses penyelidikan kanonik itu penting sekali. Saat seorang pastor berpastoral untuk mempersiapkan sepasang calon pengantin yang mau membangun keluarga agar kelak mereka bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan berkeluarga. Sejauh mana penyelidikan kanonik bisa dijadikan dasar sebuah perkawinan katolik dibatalkan? Prinsip perkawian katolik adalah tak terceraikan. Namun bisa terjadi bahwa sebuah perkawinan katolik dianulasi. Saya tidak akan berbicara tentang anulasi panjang lebar dalam tulisan ini. Anulasi adalah pembatalan perkawinan katolik oleh pengadilan Gereja ( Tribunal ), setelah dilakukan penelitian secara cermat dan seksama, bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan batal demi hukum.
Dalam proses anulasi selain mencari saksi-saksi, bisa terjadi bahwa dokumen/berkas penyelidikan kanonik diperlukan dan akan dibuka untuk mencari data yang ada. Apakah ada catatan-catatan khusus dalam berkas tersebut pada waktu kanonik dilakukan. Apakah syarat-syarat demi sahnya sebuah pernikahan terpenuhi atau tidak. Atau apakah terjadi kebohongan atau pengingkaran janji atau tidak dan sebagainya.
Apabila terjadi penipuan dalam dokumen maka hal ini sangat membantu untuk membatalkan sebuah pernikahan. Misalnya Kanon 1085 & 1 dikatakan, “Adalah tidak sah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawian sebelumnya.” Contoh sebuah penipuan data. Ada seorang pria sudah nikah di Papua secara katolik. Ia pindah ke Jawa ikut katekumen, lalu dibaptis. Setelah dibaptis, ia menikah dengan seorang wanita. Pada waktu penyelidikan kanonik ketika ditanya belum pernah menikah dengan siapa pun sebelum dibaptis. Setelah perkawinan diberkati baru ketahuan bahwa ia sudah punya isteri dan anak di Papua. Pada suatu hari isterinya menggugat setelah tahu suaminya yang mengaku jejaka itu ternyata sudah menikah di tempat lain. Maka perkawinan yang telah diberkati tersebut batal demi hukum, karena terjadi penipuan. Karena pastor yang melakukan penyelidikan kanonik menerima data surat baptis dalam status liber. Sehingga seorang pastor yang melakukan kanonik harus memahami halangan-halangan demi sahnya sebuah perkawinan.
Selama proses penyelidikan kanonik seorang pastor juga harus jeli apa yang terjadi dalam relasi calon pengantin selama berpacaran. Misalnya selama pacaran calon pengantin selalu ribut, dan pastor tidak yakin bahwa pria dan wanita ini akan mampu membangun keluarga dengan baik. Maka pastor bisa memberi catatan tentang keraguan tersebut, dengan alasan-alasannya. Bisa saja apa yang diragukan oleh pastor tidak terjadi. Dan memang itu yang diharapkan. Namun kalau hal itu terjadi, catatan yang kecil tersebut akan sangat berguna. Sehingga kalau pada suatu saat terjadi gonjang-ganjing dalam keluarga dan perkawinan tersebut diajukan untuk dianulasi, maka catatan pastor ini penting sekali.
Pada dasarnya seorang pastor yang melakukan penyelidikan kanonik selalu berharap dan berdoa agar perkawinan sepasang pria dan wanita tersebut langgeng dan bahagia. Dan pastor ikut merasa bahagia kalau pasangan yang diberkati hidupnya damai dan rukun. Namun kenyataannya sering terjadi juga hambatan untuk membangun keluarga yang harmonis dan bahagia. Sehingga catatan-catatan selama kanonik itu menjadi penting sekali, apabila diperlukan dikemudian hari. Itulah pentingnya tertib administrasi, juga dalam hal penyimpanan dokumen-dokumen.
Penyelidikan kanonik mempunyai peranan besar dalam proses mempersiapkan pasangan yang mau melangsungkan pernikahan. Maka kerja sama antara pastor dan calon pengantin sangatlah penting. Dalam hal ini dituntut keterbukaan dari kedua belah pihak. Sehingga penyelidikan kanonik tidak boleh dilakukan asal-asalan, seolah-olah hanya mengisi data-data semata. Catatan-catatan khusus perlu diarsipkan bersama berkas-berkas kanonik lainnya, kalau pada suatu ketika diperlukan bisa membantu. Maka penyelidikan kanonik bisa membantu apabila sebuah perkawinan akan dianulasi.  
*(Pst. A. Sudarno, OSC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini