Minggu, 14 Juli 2013

Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia

Hidup bukan tentang mencari uang agar kita dapat membiayai kebiasaan belanja kita, atau membeli rumah besar dan kehidupan yang lebih mewah. Kita hidup bukan untuk mendukung perusahaan besar sebagai konsumen. Namun itulah yang sedang terjadi.
Waktu kecil kita dihabiskan di sekolah yang mempersiapkan kita agar punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan nanti. Setelah itu kita didorong untuk melanjutkan ke perguruan tinggi (dan mulai menumpuk hutang kita) agar kita mempunyai kesempatan yang terbaik untuk memperoleh pekerjaan yang berpendapatan tinggi. Lalu kita saling mencakar untuk mendapatkan pekerjaan bagus yang sangat terbatas itu, dan yang berhasil akan mendapat imbalan rumah mewah, mobil besar dan pakaian yang bagus (dan dalam prosesnya meningkatkan lagi hutang kita dengan pihak bank). Yang kalah akan terjebak dalam pekerjaan-pekerjaan yang mereka benci sambil merasa iri dengan kehidupan orang lain yang mereka lihat di televisi atau baca di koran.
Kita hidup sebagai konsumen. Saat kita stres, kita belanja. Saat kita perlu penghiburan kita membeli penghiburan. Saat kita ingin sehat, kita membeli pakaian olah raga, alat olahraga atau keanggotaan di klub fitness.
Kita menyelesaikan segala persoalan sebagai konsumen.

Apa alternatifnya?
Sebetulnya terdapat jutaan alternatif. Tapi kita sudah begitu terpola bahwa hanya ada satu alternatif, kita tak terpikir bahwa akan ada pilihan yang lain.
Seperti apa kehidupan tanpa iklan, mal, shopping, bekerja untuk perusahaan besar, memiliki alat komunikasi yang canggih, membeli setiap produk keluaran Apple, menonton film dan televisi yang dikembangkan oleh perusahaan besar dan ditujukan untuk orang banyak?
Hidup kita akan lebih tenang, lebih banyak waktu luang. Tanpa perlu membeli terlalu banyak, kita tidak begitu sibuk bekerja dan mencari uang. Suatu konsep yang revolusioner dan yang tak terpikir oleh kita! Namun itulah kenyataannya: sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perkembangan di dalam teknologi bukannya mengurangkan pekerjaan kita malah menambahnya.
Tanpa perlu memiliki dan memperoleh lebih banyak, kita bisa terfokus pada manusia dan bukannya barang-barang. Kita akan menjadi lebih sehat, karena kita akan lebih banyak beraktivitas dan berolahraga, punya waktu untuk menyediakan makanan yang lebih sehat dan bukannya makan di luar atau mengkosumsi makanan instan yang yang tak bergizi dan penuh lemak. Kita akan punya lebih banyak waktu untuk keluarga, anak-anak dan juga memberikan perhatian pada apa yang penting di dalam hidup.
Tentu saja semuanya ini sepertinya idealisasi, namun suatu alternatif yang bisa saja terjadi. Tapi kita harus terlebih dulu membongkar pola pikir konsumeris.
Pertama, kita harus sadar apa yang telah mempengaruhi pola pikir kita. Saat kita menonton iklan di TV, di filem, di Internet, dorongan apa yang timbul? Mengapa kita membuka diri pada perusahaan-perusahaan besar yang terus mendorong kita untuk berbelanja, membeli dan mengikuti tren teknologi yang terbaru. Mengapakah perusahan besar terus meluncurkan produk baru? Karena mereka tahu bahwa para konsumer mudah "ditipu".

Dapatkah kita menghindarinya?
Kurangilah jam nonton TV. Hindarilah mal dan pusat perbelanjaan. Jangan menonton iklan. Kita tidak perlu tahu apa produk terbaru atau model terbaru di pasaran. Janganlah mudah terpancing dengan semangat konsumerisme. Janganlah ditipu oleh iklan-iklan yang menberitahu kita bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik jika kita memliki produk yang lebih baru, lebih canggih dan lebih mahal. Hidup bukan tentang berapa banyak barang yang kita miliki. Hidup kita juga tidak akan menjadi lebih baik seiring dengan bertambahnya barang-barang yang kita miliki.
Jangan terlalu mudah membeli sesuatu. Saat Anda mempunyai dorongan untuk membeli, pertimbangkan apakah memang benda itu merupakan suatu kebutuhan atau hanya sekadar keinginan kita. Belajarlah untuk puas dengan hidup apa adanya.
Bebaskanlah diri kita dari dibelenggu oleh komsumerisme. Kita adalah manusia dan bukannya konsumer.
Rasul Paulus berpesan pada kita bahwa kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Tim 6.7,8)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini