Rabu, 17 Oktober 2012

Mari dan ikutilah Aku



Minggu Biasa XXVIII
Sumber inspirasi: Mrk. 10,17-27)
Oleh: Pastor Paulus Tongli, Pr
Saudara-i dalam Tuhan, mungkin kita heran mendengar kisah dari kutipan injil hari ini. Perjumpaan Yesus dengan orang kaya dalam kutipan ini sangat unik, tidak seperti yang biasanya terjadi. Biasanya seorang yang berada di dalam kesulitan datang kepada Yesus meminta pertolongan, misalnya seorang buta, orang lumpuh atau orang kusta. Yesus menolongnya, dan orang  yang disembuhkan itu bersorak dengan gembira: „Ia menjadikan segalanya baik!“ Awalnya ada penderitaan dan pada akhirnya pujian.

Kali ini persis terbalik. Kepada Yesus datanglah seorang yang baik keadaannya. Ia adalah orang yang kaya, dapat dipercaya, dan mengharapkan kehidupan kekal. Dengan penuh kepercayaan ia datang kepada Yesus dan mengakuinya sebagai guru kebijaksanaan ilahi. Namun pada akhirnya ia pergi dengan sedih. Yesus memperingatkan dengan tegas akan bahaya kekayaan, dan para muridnya menjadi sedih.

Marilah kita mencoba untuk mengerti, apa yang sesungguhnya Yesus ingin ajarkan. Orang kaya itu tentu orang yang juga hidup jujur. Ia telah mengikuti semua perintah. Dan di dalam pemahaman perjanjian lama kedua situasi ini sangat berdekatan satu sama lain. Kekayaan adalah buah dari kekudusan. Jadi menurut pemahaman perjanjian lama, seorang kaya pastilah juga orang yang hidupnya benar dan baik. karena itu ia pun pasti diselamatkan dan sebaliknya orang miskin pastilah karena kesalahannya, sehingga ia pasti tidak diselamatkan. Demikianlah dikatakan dalam Mzm 112:3 “Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya“. Bagi orang muda yang datang kepada Yesus itu, bukanlahkebetulan bahwa ia kaya. Di dalam perjanjian lama, harta kekayaan dan kesehatan merupakan tanda rahmat dan kedekatan dengan Allah. Demikianlah ia dapat memandang kekayaannya sebagai upah dari Allah akan hidupnya yang benar selama ini.

Namun demikian, sudah di dalam perjanjian lama sendiri sudah ada keraguan akan pandangan demikian. Orang tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa ada juga orang-orang benar yang menderita dan ada pula penghojat Allah yang hidup makmur. Dan kini datanglah Yesus dan mewartakan Kerajaan Allah. Dan Ia mengatakan bahwa bagi Allah berlaku hukum yang lain, bagiNya berlaku ukuran yang berbeda. Hidup serba berkecukupan bahkan berlebihan bukanlah ukuran akan kedekatan dengan Allah dan bukan pula tanda keselamatan. Siapa yang mengikuti Yesus, siapa yang menjadi milikNya, dialah yang memiliki hidup yang kekal. Hal mengikuti Yesus adalah ukuran bagi Yesus. Karena itu Yesus meminta orang muda itu: juallah semua milikmu dan ikutilah Aku!

Hal mengikuti Yesus jauh lebih penting daripada hal menjual harta milik. Hidup yang kekal dapat diperoleh bukan dengan menjual harta, tetapi dengan berada bersama dengan Yesus. Karena Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, pembawa keselamatan, penyelamat; tidak ada orang dapat sampai kepada Bapa selain melalui Dia. Itulah kabar gembira dari keseluruhan injil dan juga dari kutipan injil yang hari ini kita baca dan renungkan.

Pada zaman Yesus hal itu merupakan suatu ajaran yang baru, dan karenanya para murid pun sulit untuk mengertinya. Mereka mengeluh kepada Yesus. Mereka berkata: „Kalau begitu siapa yang dapat diselamatkan?“ Atas pertanyaan itu Yesus menjawab: „Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi tidak demikian bagi Allah, sebab bagi Allah segala sesuatu mungkin“. Inilah kalimat kunci yang menjelaskan, dari mana sumber keselamatan kita.

Bagi manusia tidaklah mungkin untuk menyelamatkan diri sendiri. Orang dapat saja menjual banyak hartanya dan menyumbang orang miskin, atau dengan setia menepati hukum sejak usia muda dan melakukan banyak tindakan atau karya yang dianggap baik dan suci, namun hidup kekal tidaklah diperoleh dengan jasa itu. Penyelamatan kita tidaklah dapat dibeli, kita tidak bisa menuntutnya karena jasa atau kebaikan kita. Keselamatan adalah melulu rahmat Allah. „Bagi Allah segalanya mungkin“.
Oleh karena itu kutipan injil hari ini menuntut kita untuk menguji iman kita akan Allah, untuk memeriksa batin kita, seberapa jauh kita menjalin hubungan pribadi dengan Yesus Kristus:
n Dari mana kita mengharapkan kehirupan kekal? Dari „jasa baik kita“ atau dari Allah yang Mahakuasa dan Mahabaik?
n Apakah kita memasrahkan jaminan masa depan kita kepada Bapa di surga?
n Bagaimana peran Yesus Kristus di dalam hidup kita? Apakah kita berpikir dan bertindak seturut teladan dan pengajaranNya?

Peringatan akan bahaya kekayaan juga merupakan bagian dari kabar gembira Kristus. Mungkin ada yang berpikir: ah itu tidak menyangkut saya, saya toh tidak memiliki banyak harta. Kekayaan yang dimaksudkan Yesus sama sekali tidak diukur pada jumlah deposito di bank atau pada kepemilikan benda-benda material. Yang paling penting adalah seberapa jauh pikiran dan hati serta kehendak kita dikuasai oleh milik. Dapat terjadi bahwa sekalipun seseorang hanya memiliki sedikit harta namun sangat dikuasai oleh hartanya itu. Marilah kita merenungkan sabda Yesus ini dan meneliti sikap kita berdasarkan sabda ini. Semoga kita tidak mengacaukan antara sarana (harta, milik) dengan tujuan (hidup lebih dekat dengan Allah) di dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini