Cari Blog Ini

Minggu, 07 Oktober 2012

KERAS HATI – KA’DORO

HARI MINGGU BIASA XXVII
Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inpirasi Bacaan: Kej. 1:18-24; Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-12

Dalam Injil Minggu ini, Yesus mengajarkan tentang sikap terhadap kasus perceraian. Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi tentang aturan perceraian, Yesus mengajak mereka untuk mengacu pada perintah Musa. “Apa perintah Musa kepada kamu?” (ay.3). Mereka menjawab bahwa Musa memberi izin perceraian dengan membuat surat cerai. (ay. 4). Menanggapi jawaban mereka, Yesus menjawab, “ Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu” (ay. 6).

Ketegaran hati atau sikap tegar hati dalam bahasa Indonesia sebenarnya menunjuk pada sikap yang lebih positip, yakni sikap teguh pada pandangan dan pendirian yang baik, sikap tak tergoyahkan oleh pelbagai macam godaan, tantangan, dan kesulitan. Berbeda dengan sikap keras hati yang mempunyai arti lebih negatip, yakni bertahan dalam pandangan dan pendirian tertentu demi kepentingan sendiri. Dalam Kitab Suci bahasa Inggris (The New Jerusalem Bible), jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi menpergunakan ungkapan yang berbeda, “ It was because you were so hard hearted that he wrote this commandment for you “. So hard hearted semestinya diterjemahkan dengan ungkapan sedemikian berkeras hati, atau ka’doro dalam bahasa Makassar, dan bukan ketegaran hati.

Mengapa Yesus mengatakan bahwa mereka ka’doro atau berkeras hati terkait dengan perceraian? 

Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa sejak awal dunia Allah menciptakan laki-laki dan wanita agar terjalin di antara laki-laki dan wanita tersebut suatu kesatuan dan persatuan, satu daging (ay.6-7). 

Bacaan I Minggu ini, Kej. 2:18-24, memberi dasar pada ajaran Yesus tentang larangan melakukan perceraian bagi suami – istri. 

Diawali dari inisiatip Allah untuk mencarikan penolong yang sepadan bagi manusia laki-laki ciptaan-Nya (ay. 18). Untuk itulah, Allah menciptakan dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara (ay.19). Proses penciptaan binatang-binatang ini memakai bahan dasar yang sama dengan manusia, yakni tanah (bdk. Kej. 2:7). Setelah itu, Allah membawa semua binatang itu kepada manusia untuk diberinya nama kepada masing-masing. Ternyata, manusia tidak menemukan penolong yang sepadan di antara binatang-binatang itu (Kej. 2:20) meskipun mereka, manusia dan binatang diciptakan dari bahan dasar yang sama; dari tanah. Karena itulah, Allah membuat manusia tertidur, lalu mengambil salah satu rusuknya, dan dari rusuk itu “dibangun-Nyalah seorang perempuan” (ay.22). 

Penolong sepadan laki-laki, yakni perempuan tidak diciptakan dari bahan dasar yang sama, melainkan dibangun dari bagian laki-laki itu sendiri yang diambil oleh Allah. Kenyataan ini diakui oleh manusia, laki-laki. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (ay. 23). Karena itu, “seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (ay.24). “Menjadi satu daging” bukan dalam arti suatu kesatuan fisik belaka, tetapi juga dalam arti bahwa keduanya saling “diutuhkan kembali”. Bagian dari laki-laki yang diambil oleh Allah “dikembalikan” sehingga keduanya saling mengutuhkan. Karena itu, kesatuan dan persatuan antara seorang laki-laki dan seorang wanita bukanlah sekedar perkara natural-naluriah belaka. Pengutuhan laki-laki dan perempuan ini merupakan tindakan Allah. Karena itulah, Yesus menegaskan bahwa “apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Yoh.10:9)

Musa, sebagai pemimpin bangsa Israel yang dipilih Tuhan sendiri, tentunya mengetahui dengan jelas ajaran tersebut karena semuanya sudah tertulis dalam kitab Kejadian, yakni salah satu dari ke lima kitab yang membentuk kitab hukum Taurat atau disebut pula kitab Taurat atau Pentateuch. Kitab Taurat tersebut merupakan kitab kenangan asal muasal terbentuknya bangsa terpilih, umat Allah, Israel. Dan karena terbentuknya bangsa Israel tidak bisa dipisahkan dari peranan Musa, maka kitab Taurat juga seringkali disebut kitab Taurat Musa atau hukum Musa (bdk. Yoh. 1:17). Sebagai orang yang menerima langsung 10 hukum Allah di gunung Sinai (bdk. Kel. 20:1-17; 31:8) dan menjabarkannya, mustahillah Musa mengubah sendiri aturan Tuhan bila tidak karena desakan bangsanya. Atas dasar itulah Yesus mengatakan mereka keras hati, ka’doro. 

Kalau kita memerhatikan dengan agak teliti bacaan I Minggu ini, ada satu alasan dasar lainnya yang menjadi pemicu dari perceraian, selain ka’doro di atas.

Ketika berinisiatip mencarikan penolong yang sepadan dengan manusia laki-laki, Allah menciptakan segala jenis binatang baik yang ada di daratan maupun di udara. Allah kemudian menyerahkannya kepada manusia laki-laki untuk diberinya nama kepada masing-masing (bdk. Ay.19). Memberi nama, menurut pemahaman Kitab Suci adalah sama dengan menguasai. Artinya, Allah menyerahkan segala jenis binatang kepada manusia untuk dikuasainya, diatur, diperintah, dipakai. Tetapi, ketika Allah membangun seorang perempuan dari salah satu bagian manusia laki-laki dan membawanya kepadanya, Allah tidak meminta manusia laki-laki untuk memberinya nama. Artinya, Allah tidak meminta manusia laki-laki itu untuk menguasai, mengatur, memerintah, dan memakai perempuan itu. Manusia laki-laki itu berkata, “ Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (ay.23). Perempuan itu tidak memberi nama oleh manusia laki-laki , tetapi ia sepertinya sudah dinamai lebih dahulu. Meskipun manusia laki-laki itu tidak memberinya nama, namun dia mengakuinya sebagai bagian dari dirinya. Manusia laki-laki memberi nama kepada perempuan itu Hawa, setelah kejatuhan mereka dalam dosa (bdk. Kej.3:20). Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sikap mau menguasai, mengatur, memerintah, memakai pasangannya itu muncul karena akibat keberdosaan. Sikap demikianlah yang memicu perselisihan dan nantinya memuncak pada perceraian bila pasangan tidak mau dan tidak mampu menyelesaikan perselisihan itu.

Sikap mau menguasai, mengatur, memerintah, dan memakai pasangan sesuai dengan keinginan diri sendiri juga berakar pada ka’doro. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar