Cari Blog Ini

Jumat, 07 Desember 2012

Menerima Kristus dengan kegembiraan

HARI  MINGGU ADVEN II
Pastor Paulus Tongi, Pr
Inspirasi dari Luk. 3:1-6


Seorang pastor yang baru saja ditahbiskan ditugaskan untuk menjadi pastor bantu pada seorang pastor tua. Iman yang baru itu datang kepada imam tua itu untuk meminta petunjuk dan nasihat. “Apa yang sebaiknya saya kotbahkan?” tanya imam muda itu. Jawaban yang ia terima adalah, “Berkotbahlah sekitar 10 menit.” 

Beberapa tahun yang lalu saya bertugas untuk mengganti seorang pastor di sebuah paroki di Jerman selama liburan musim panas. Satu-satunya petunjuk yang diberikan oleh pastor itu sebelum berangkat libur adalah agar saya berkotbah dan merayakan ekaristi sesingkat mungkin, karena semua umat hanya memiliki waktu yang singkat untuk ikut misa. Sibuk! Saya agak protes. Tetapi saya kaget ketika datang sebuah koor yang digabungkan dengan konser musik dari London dan menampilkan karya Haendel yang terkenal “Messiah”. 

Pertunjukan itu mengambil tempat di dalam gedung gereja yang sama, dan setelah 3 jam orang masih tetap duduk dengan tenang mendengarkan koor. Saya belum pernah melihat orang segembira dan setenang dan penuh entusiasme seperti ini di dalam gereja ini. Kemudian, ketika imam yang saya gantikan datang, dan saya berceritera tentang konser tersebut, saya bertanya kepadanya, “apa yang menyebabkan orang dapat betah duduk di suatu tempat selama 3 jam atau lebih dan mendengarkan konser dengan penuh kegembiraan tetapi mereka tidak dapat melakukan hal yang sama ketika mereka datang untuk mendengarkan sabda Allah pada perayaan ekaristi?” Imam itu hanya mengangkat bahu, tanda tidak bias menjawab. 

Tetapi saya mendapatkan jawaban bertahun-tahun kemudian dari seorang teman, seorang katekis. Dalam suatu pelajaran katekumenat atas pertanyaan mengapa orang tidak mendengarkan sabda Allah dengan kegembiraan. Apa yang dikatakannya sangat mencerahkan. Ia mengatakan bahwa orang perlu memiliki pengalaman pribadi dengan Allah di dalam hidupnya sebelum ia dapat mendengar sabda Allah dengan gembira. Ia mengatakan bahwa pewartaan sabda Allah kepada orang yang tidak mengenal Allah dengan cara personal, dan siapa yang tidak menjalin hubungan pribadi dengan Allah, adalah seperti membaca puisi kepada orang yang sama sekali tidak mengenal puisi. Mereka akan dengan cepat bosan dan akan dengan cepat-cepat meninggalkan tempat. Bagaimana orang-orang itu dapat beralih dari situasi bosan mendengarkan sabda Allah menjadi pendengar sabda yang penuh kegembiraan dan entusiasme? Di sini Yohanes Pembaptis memberikan sebuah contoh. 

Kita baca dalam kutipan injil hari ini, “… datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Luk 3:2-3). Di dalam kutipan singkat ini kita menemukan 3 langkah perubahan yang dibutuhkan. Ketiga langkah itu adalah (a) Yohanes pergi ke padang gurun, (b) sabda Allah datang kepadanya, dan (c) Yohanes meninggalkan padang gurun dan pergi mewartakan iman. Kita pun harus melalui 3 langkah ini untuk dapat sampai pada tahap di mana kita dapat memulai hidup di dalam kegembiraan iman yang penuh. 

Tahap 1 – kita pergi ke padang gurun. Padang gurun adalah tempat di mana kita sendirian dengan Allah. Kita pergi ke padang gurun ketika kita menyisihkan di tengah kesibukan kita sehari-hari untuk dapat sendirian bersama dengan Tuhan di gereja, di dalam doa, di dalam membaca sabda Allah. Padang gurun adalah tempat di mana kita dapat bertatap muka dan berwawan hati dengan Allah. Kita haruslah pertama-tama mengambil langkah pertama untuk pergi ke padang gurun untuk mengulurkan tangan kepada Allah, untuk mencari Allah. 

Tahap 2 – Sabda Allah datang kepada kita. Sekali kita membuka hati kepada Allah di padang gurun, Allah sendiri akan mendatangi dan memenuhi kita. Seorang kudus pernah mengatakan bahwa bila kita melangkahkan kaki satu langkah ke pada Tuhan, Allah mengambil 2 langkah ke arah kita. Pada tahap ini Allah mengambil inisiatif untuk mendatangi kita, untuk memenuhi kita, untuk membaharui kita, untuk mengubah kita, untuk membaharui kembali citra Allah di dalam diri kita sebagaimana kita diciptakan Allah. itulah saat kelahiran kembali, istilah orang-orang karismatik: dibaptis di dalam roh. Bila hal ini terjadi atas kita, kita tidak akan menyayangkan lagi waktu kita untuk tinggal sepanjang hari bersama dengan Allah di dalam gereja, di dalam doa, atau di dalam membaca kitab suci. Tetapi sebagaimana Yohanes, kita pun harus melanjutkan hidup kita dengan melaksanakan tugas-tugas kita di tengah keluarga, pekerjaan dan masyarakat kita. 

Tahap 3 - Kita pergi dan mewartakan iman kita. Dengan mengalami kebaikan Allah di dalam hidup kita, maka hasrat kita selanjutnya adalah membagikan pengalaman ini kepada orang lain. Bayangkanlah anda menggunakan baju kaos dengan tulisan “Allah itu luar biasa!” Orang-orang akan memandang anda dan akan merasakan kegembiraan dan damai yang anda pancarkan. Dan mereka akan termotivasi untuk menjadi seperti anda. Mereka dengan senang hati menjadi sahabatmu. Anda lalu dapat menolong mereka dengan menunjukkan jalan ke padang gurun, tempat di mana anda telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah. pengalaman akan Allah adalah seperti pengalaman akan cinta. Anda dapat menceriterakannya kepada orang lain, tetapi mereka tidak akan dapat mengertinya hingga mereka sendiri mengalaminya. 

Di dalam doa-doa kita pada minggu kedua dalam masa Adven ini, kita hendaknya berseru, “bukalah hati kami ya Allah dan singkirkanlah dari dalam hati kami semua hal yang dapat menghalangi kami untuk menerima Kristus dengan gembira.” Untuk itu merilah kita mengambil langkah pertama dalam masa Adven ini, meluangkan tempat di dalam hati untuk Allah, meluangkan waktu untuk ke gereja dan untuk berdoa dan untuk mendengarkan sabda Allah. Itulah cara kita mengikuti Yohanes Pembaptis, pergi ke padang gurun untuk sendirian bersama dengan Allah. Maukah anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar