Cari Blog Ini

Jumat, 28 Desember 2012

KELUARGA BAHAGIA HADAPI TANTANGAN BERSAMA-SAMA


 













Pesta Keluarga Kudus
1Sam.1:20-22, 24-28; 1Yoh. 3:1-2, 21-24; Luk. 2:41-52



 oleh Pastor Sani Saliwardaya, MSC


Dalam suatu kunjungan keluarga, sepasang suami-istri mengungkapkan isi hatinya berkaitan dengan ke tiga anak-anak mereka. “Pastor, mengapa anak-anak sekarang sangat sulit mendengarkan kata-kata orang tua?, keluh sang istri. “Pada zaman kami dulu”, sambung sang suami, “ketika papa sudah melotot matanya, kami sudah ketakutan. Tetapi, anak sekarang, kita pelototi malah ganti ikut melotot”. “Masih syukur  kalau hanya ikut melotot, “sahut istrinya, “kita malah dikatai, ‘Apa! Melotot !’, sambungnya. Mendengarkan semua itu, saya hanya tertawa kecil. “Betul, Pastor!, kata istrinya lagi, “Repot sekali mempunyai anak pada zaman sekarang ini. Anak pergi belajar ke sekolah, kita juga sepertinya ikuti pelajaran sekolah mereka. Kita seperti sekolah lagi. Sudah begitu, anak-anak tidak lagi mau bantu pekerjaan di rumah!. “Tetapi bapa ibu, tidak putus asa khan mendampingi mereka? Tetap mencintai mereka juga to?, tanyaku kepada mereka. “Pastilah begitu!, sahut sang istri. “tapi, kadang-kadang juga ada rasa putus asa dan rasa tidak mampu lagi”. “Meskipun kadang-kadang mereka kami beri hukuman”, kata sang suami, “kami tetap mencoba memberikan yang terbaik bagi mereka”.
Ketika sedang merenungkan kisah Keluarga Kudus dari Nasaret, saya teringat dialog sengan suami-istri di atas. Saya yakin, ada banyak pasangan suami-istri yang mempunyai pengalaman serupa, karena keluhan-keluhan seperti itu juga pernah saya dengar ketika saya masih bertugas di Jepang. Peralihan generasi (orang tua – anak) yang dipicu oleh perubahan zaman akan membawa dampak pada cara berpikir, dan perubahan cara berpikir membawa dampak pada pola tingkah laku, perubahan tingkah laku tersebut akhirnya akan memberi dampak pada relasi antar generasi. Pada lagi, pada zaman ultra-modern ini di mana perubahan begitu cepat terjadi sehingga relasi antar generasi pun mendapatkan imbas yang tidak kecil.
Bagaimana dengan keluarga Kudus dari Nasaret?. Apakah relasi antar generasi, Yosep dan Maria di satu pihak dan Yesus di pihak lain, tidak pernah menghadapi tantangan? Sebagai satu keluarga di mana ada perbedaan generasi, saya yakin pasti ada tantangan dalam relasi antar generasi tersebut.
Kitab Suci tidak secara jelas mengatakan adanya tantangan tersebut karena Kitab Suci bukanlah suatu buku biografi tentang keluarga Nasaret. Kitab Suci adalah buku iman, sehingga semua peristiwa dihadapi dengan kacamata iman. Meskipun demikian, kita bisa sedikit melihat peristiwa yang dihadapi keluarga Kudus yang tercatat dalam Kitab Suci, dan melihatnya dengan kacamata manusia biasa untuk mendapatkan makna di dalamnya.
    Injil hari ini berbicara tentang Yesus pada umur 12 tahun berada di Bait Allah dan berdiskusi dengan para alim ulama (ay. 46b). “Ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau!” (ay.48). Kecemasan ibu-Nya bukan tanpa alasan. Yosep dan Maria cemas mencari Yesus, anaknya, karena Yesus menghilang dari rombongan ketika mereka pulang dari Yerusalem setelah mengikuti perayaan Hari Raya Paska (ay.41-45). Mereka menemukan Yesus setelah tiga hari sejak diketahui bahwa Yesus menghilang (ay.46). Semua orang tua, khususnya ibu, akan seperasaan dengan kecemasan Maria ketika anaknya menghilang, apalagi anak satu-satunya. Tetapi, kecemasan orang tua-Nya, ditanggapi dengan dingin oleh Yesus. “Mengapa kamu mencari Aku?. Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay.49). Jawaban yang bisa menyakitkan orang tua secara manusiawi. Kecemasan dan kelelahan mereka untuk mencari dan menemukan anaknya sepertinya tidak dihargai. Injil Lukas memang tidak menuliskan, bahkan melukiskan rasa sakit hati itu. Lukas hanya menuliskan, “Tetapi, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka” (ay.50). Apa arti kata mengerti? Kata mengerti, menurut Kitab Suci, pertama-tama bukan dimengerti sebagai suatu aktivita akal-budi, tetapi suatu aktivita seluruh indra. Dalam pengertian ini, mengerti berarti memahami, memasukan dalam hati & rasa sehingga mendorongnya untuk melakukan tindakan yang sesuai. Sehingga, “mereka tidak mengerti” dalam teks kita ini bisa diberi makna bahwa mereka tidak memasukkan jawaban Yesus dalam hati & rasa mereka. Dengan kata lain, mereka tidak sakit hati dengan jawaban Yesus.
Ada beberapa peristiwa lain yang dicatat dalam Kitab Suci yang semestinya bisa menimbulkan rasa sakit hati manusiawi Maria menghadapi sikap Yesus. Misalnya. Pada suatu saat, ibu dan saudara-Nya mencari Yesus (bdk. Mrk.31-32), karena orang menyangka Dia kerasukan setan (bdk. Mrk.3:30). Dan ketika mereka menemukan-Nya, Yesus malahan berkata, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” (Mrk. 3:33). Mengapa mereka bisa tidak sakit hati dengan kata-kata yang agak pedas seperti itu?
Karena baik Yosep, dan terutama Maria sangat menyadari bahwa Yesus bukan hanya sekedar anak lahiriah belaka, tetapi titipan Tuhan (bdk. Kisah Kelahiran Yesus, Luk. 1:26-56). Tuhan telah menitipkan Yesus kepada Maria dan Yosep, dan mereka setuju untuk menerima-Nya; karena itulah mereka mendidik-Nya bukan hanya sekedar secara manusiawi tetapi juga secara rohani. “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin disukai oleh Allah dan manusia (Luk. 2:52).
    Di situlah letak kekudusan Keluarga Nasaret. Mereka tidak pernah sakit hati, apalagi putus asa mendidik Anaknya. Mereka, Yosep dan Maria, tetap kompak dan saling mendukung mendidik Yesus, meskipun secara manausiawi, sikap Yesus bisa menimbulkan rasa sakit hati. Rasa sakit hati itu mereka tutup dengan kesadaran bahwa Yesus adalah titipan Allah yang harus diperhatikan dengan utuh dan dididik dengan benar. Tantangan menjadi terasa lebih ringan ketika dihadapi bersama dalam kekompakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar