Jumat, 28 Desember 2012

Meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret

    Orang Kristen mendiami tanah airnya sendiri, tetapi seperti orang asing yang bertempat tinggal tetap. Mereka mengambil bagian dalam segala sesuatu sebagai warganegara, tetapi mereka menanggung segala sesuatu seperti orang asing. Mereka taat kepada hukum yang dikeluarkan, tetapi dengan cara hidup mereka sendiri mereka melebihi hukum itu. Allah telah menempatkan mereka di suatu tugas yang begitu penting dan mereka tidak diperbolehkan menarik diri dari sana. (Surat Diogenet 5.5. KGK 2240)
    Secara liturgis, sehabis merayakan Hari Raya Natal umat Katolik merayakan "Pesta Keluarga Kudus, Jesus, Maria dan Yusuf" (lazim disebut Keluarga Kudus dari Nazaret). Implementasinya, merayakan Natal tidak hanya berhenti hanya sampai mengadakan ritual di gereja, melakukan silaturahmi dengan para sahabat, dan pesta-pesta saja; Pesan Natal harus dilaksanakan dalam masyarakat dari hari ke hari bersama anggota masyarakat luas.
    Dalam memperingati Keluarga Kudus, tokoh Yesus, Maria dan Yusuf menjadi teladan bagi kita semua. Kita tampilkan lebih dulu teladan Yusuf. Segenap sikap dasar hidupnya berlandasan pada kehendak dan sabda Allah. Kepentingan Allah selalu dilihat dan dilaksanakan secara mutlak. Di samping itu, kepentingan sesama manusia pun, justru sebagai konsekuensinya, harus dihayati apabila kita sungguh ingin menjadi orang beriman kristiani sejati. Kejujuran dan ketulusan hati sungguh mutlak sebagai syarat keselamatan. Yusuf adalah teladan orang yang tulus! Meskipun hanya tukang kayu, ia telah berperan sebagai bapak yang menyertai kehidupan Yesus. Memang, Yusuf tidak banyak ditulis dalam Kitab Suci. Dalam kehidupan Gereja pun keteladanan Yusuf tidak banyak mendapat perhatian umat. Padahal, justru dalam kesederhanannya dan dalam kurangnya dikenal serta kurangnya mendapat perhatian itulah letak kebesaran Yusuf. Oleh karena itu, dalam usaha kita meneladan Keluarga Kudus, sungguh bergunalah bagi kita untuk menyadari bahwa kehidupan kita sebagai orang beriman katolik sejati harus juga disertai dengan kejujuran dan ketulusan hati seperti Yusuf.
    Sudah siapkah kita berperilaku dengan tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum? Memiliki ketulusan hati berarti suci, bersih dan tiada dosa sedikitpun. Nampaknya hal itu sungguh berat bagi kita semua. Namun demikian, marilah kita saling membantu dan mengingatkan untuk hidup dan bertindak dengan tulus hati di mana pun dan kapan pun. Tulus hati juga berarti jujur, yaitu sikap dan perilaku yang berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran, dan. tidak suka berbohong dan tidak suka berbuat curang.
    Salah satu bentuk konkret ketulusan hati adalah tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum kapan saja dan di mana saja. Banyak di antara kita suka ngrasani atau ngrumpi yang pada umumnya berisi menjelek-jelekan orang lain atau membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Dengan demikian, kekurangan atau kelemahan orang yang bersangkutan dieber-eber dan dibesar-besarkan. Hal yang dermikian itu termasuk melanggar hak asasi manusia dan melanggar cintakasih: demikian juga membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain untuk bercanda.
    Kita dapat meneladan Maria dari kasihnya, ketaatannya dan kepasrahannya kepada Tuhan, yang terungkap dalam jawabannya, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu".
    Kita dapat meneladan Yesus dari segi kerendahan hati-Nya. Walaupun dalam rupa Allah, Yesus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
    Sebagai warga Nazaret ketiga anggota keluarga Kudus itu hidup seperti orang Nazaret dengan segala hak dan kewajibannya, namun di sana mereka seperti orang asing. Sebab, Tanah Air mereka yang sesungguhnya di surga. Keluhuran hati dan perilaku mereka melebihi apa yang digariskan dalam peraturan yang berlaku di sana. Bagaimana dengan Anda dan kita? Apakah "Surat kepada Diogenet" yang mengawali tulisan ini juga berlaku bagi kita? Selamat Natal 2010 dan Selamat Tahun Baru 2011. (Mbah Harto T.O.Carm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini