Jumat, 21 Desember 2012

BERSUKACITA : INDAHNYA HIDUP BERBAGI


HARI  MINGGU ADVEN III
Pastor Sani Saliwardaya, MSC
Inspirasi dari Zef. 3:14-18a; Flp. 4:4-7; Luk. 3:10-18


Hari Minggu Adven III sering disebut dengan Hari Minggu Sukacita. Bacaan I dan II memberi alasan mengapa kita harus bersukacita, dan bacaan Injil mengajak kita bagaimana mewujudkan sukacita itu.

Nabi Zefanya adalah salah seorang nabi yang muncul di Kerajaan Yehuda sebelum terjadinya pembaharuan hidup keagamaan yang dilaksanakan oleh Raja Yosia. Pada masa itu, kehidupan keagamaan di Kerajaan Yehuda dipenuhi dengan ibadat penyembahan berhala; sedangkan di kehidupan politik dan kemasyarakatan dipenuhi dengan ketidak adilan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Para pemuka masyarakat menjalankan tugasnya dengan penuh kekerasan dan peniputan, sedangkan para nabi melakukan tindakan-tindakan ceroboh, para iman menajiskan yang kudus, dan para ahli Taurat melakukan pengkhianatan terhadap Taurat demi keuntungan sendiri. Pada masa yang kacau ini tampillah Nabi Zefanya yang mengkritik segala tindakan kejahatan yang tidak bisa dibenarkan di hadapan Allah itu. Zefanya tampil untuk mewartakan datangnya Hari Tuhan yang akan menghukum segala bentuk kejahatan tersebut. Pada masa  penghukuman itu akan tertinggal “sisa kecil” yang akan diselamatkan, yakni mereka yang tetap setia pada sabda Allah dan hukum-Nya. “SIsa kecil” ini adalah merek yang senantiasa berlindung dan berharap pada kekuatan Allah. Mereka inilah yang akan menjadi umat yang sejati di hadapan Allah. Mereka inilah yang akan disebut “Putri Sion”, “Puteri Yerusalem”. Mereka inilah yang akan “bersorak-sorai dan bersukacita, karena mereka tidak takut kepada malapetaka”.

Paulus, dalam nasehat-nasehat terakhirnya kepada umat di Filipi, mengajak mereka untuk bersukacita karena “Tuhan sudah dekat”. Masa “Parousia”, kedatangan Tuhan kembali -setelah kenaikan-Nya ke Sorga-, yang selama ini dinanti-nantikan sudah di ambang pintu. Karena itulah, Paulus mengajak agar mereka tidak perlu lagi hidup dalam kekhawatiran tetapi dalam suatu ucapan syukur dan menyatakan syukur itu dalam tindakan kebaikan dan kebajikan.

Setelah menyerukan pertobatan dan ajakan untuk dibaptis kepada banyak orang (Luk. 3:1-3), Yohanes Pemandi, sambil mengutip seruan Nabi Yesaya (ay.4-6), menyerukan kabar Keselamatan. Bagi Yohanes Pemandi, Keselamatan pertama-tama didasarkan pada pelaksanaan buah-buah pertobatan, dan bukannya pada “warisan iman” sebagai anak Abraham (bdk. ay.  7-9. Melaksanakan buah-buah pertobatan secara umum berarti hidup berbagi kebutuhan pokok dengan mereka yang membutuhkan. “barangsiapa mempunyai dua helai baju hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Ay.11) 

Yohanes Pemandi bukan hanya memberikan pedoman umum, tetapi juga panduan khusus tentang pelaksanaan hidup berbagi.
Kepada para pemungut cukai, yang sering “dicap” sebagai koruptor, Yohanes mengajak agar mereka mencukupi hidupnya dengan apa yang mereka seharusnya dapat, “jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu” (ay.13); dan kepada para prajurit yang sering “dicap” sebagai perampok dan pemeras, Yohanes mengajak mereka agar mencukupi hidupnya dengan gajinya (bdk. ay.14) dan tidak melakukan perampasan harta milik orang lain meskipun hal itu diperbolehkan.

Pesan bacaan-bacaan hari Minggu Adven III:
Sikap bertobat dan penyesalan atas dosa-dosa, sebagai persiapan diri masing-masing pribadi untuk menyambut datangnya Sang Messias, haruslah didasarkan pada cinta akan Allah dan sesama (penyesalan yang sempurna).  Pertobatan dan penyesalan sempurna akan mendatangkan sukacita.

Sukacita sebagai buah pertobatan dan penyesalan pribadi yang sempurna hendaknya tidak “dinikmati dan dialami” secara pribadi – sendirian saja, tetapi harus dibagikan kepada orang lain.

Hidup berbagi sukacita pertobatan dan penyesalan sempurna bisa dilaksanakan dua model atau cara, yakni membagikan materi: membagikan sesuatu dari kelebihan  dan  membagikan kebaikan : mencukupi diri secara jujur dan adil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini